Loader

Almanak Seorang Iblis

PAK G.M. STEVENS, kepala sekolah Biddenhurst di County of Kent, pada hari Selasa tanggal 17 April 1866, tepatnya jam sembilan pagi, tengah membaca bacaan tentang barometer, termometer, dan hygrometer sambil mencatatnya ke halaman kosong kalender almanak[1] yang dicetak khusus.

Saat ia membungkuk untuk melihat alat pengukur hujan yang ia perhatikan demi kepentingan pengamat burung, seekor burung pipit berotot dan begitu energik terbang keluar dari halaman rumput dan masuk ke pohon willow yang batang telanjangnya baru mau diselimuti daun. Besok, abu khusyuk akan datang, lalu kapur, diikuti oleh pohon maple yang menunjukkan betapa nyatanya saat itu bahwa tahun-tahun terus bergulir, namun tetap begitu-gitu saja.

Ia mendaratkan saputangan di hidungnya untuk membendung banjir—terkadang bercak putih di antara yang berwarna merah, dan bisa saja bercak merah pada yang berwarna putih. Ia disergap pilek (atau pilek yang telah meyergapnya) ketika ia bercucuran keringat akibat menggali di kebun—atau ketika ia membaca bacaannya dua kali dalam sehari: pukul sembilan pagi dan pukul sembilan di malam hari, musim dingin atau musim panas, musim semi atau musim gugur, langit biru atau badai salju sejak kematian istrinya sepuluh tahun yang lalu. Penggalian tanah yang berat membuatnya berkeringat dan lelah. “Masuklah, Gerald,” istrinya akan memanggil saat tiba waktunya buat mandi, andai ia masih hidup. Dan ia memang ingin masuk, tentu saja, untuk menentukan waktu dengan kronometernya dan mencatat lama mandi pada kalender almanaknya. Tapi, sisa tanah terakhir harus kembali ditimbun, jika tidak, mau kapan lagi?

Kau mencatat cuaca ketika tidak ada hal yang baik atau buruk terjadi. Kau mengisi kolom angka setiap hari, membaca dengan gerak cepat dan memasang kuda-kuda pada bulan hangat atau grafik yang berombak—ketika kau tidak menginginkan hal apapun terjadi. Tapi untuk berapa lama hobi repot ini bisa menanggung hidup? Setetes keringat terjun ke alat pengukur hujan, dan setetes lain melabrak tanah.

Ia pendek dan gempal, ditambah botak di usia lima puluh, tapi ia berdiri tegak sambil membuat perhitungan kasar ke dalam buku catatannya. Awan: kumulus. Jumlah: 7. Butuh sebentar saja untuk cuaca yang terik ke berawan ketika musim semi memakan waktu lama. Angin: barat. Kau tidak pernah mempercayai sinar matahari di pagi hari. Itu indah, tapi mengancam. Kau menengok sinar itu dari belakang, udaranya yang hangat bergetar bersama burung yang tiba-tiba saja tahu kenapa mereka ternyata hidup, lalu mengharapkannya tidak akan berakhir padahal mereka tahu yang sebaliknya—kenyataan dari burung yang makan ivy untuk kesenangan mereka, laudanum sinar matahari baginya, rasa kesejahteraan abadi antara bangun untuk menerimanya dan terperosok ke dalam kengeriannya—hiatus yang mematikan dari setiap obat atau minuman atau dari rasa langit biru kemerahmudaan. Barometer: 29.937. Thermometer: 50. Hygrometer (Bulb Kering): 57 lA. (Bulb Basah): 48. Ketinggian: mereka mengatakan 400 kaki, tapi tidak ada peta yang menunjukkannya.

Ia tersenyum, senang terik matahari telah berlalu sehingga ia tak perlu lagi berharap sinar-sinar itu akan tetap ada. Kecemasan adalah bumbu dan kutukan dalam hidupnya. Kucing hitam Lady Dalmonden berkilauan di tengah malam melalui rerumputan tinggi, membuat bulu-bulu punggungnya terlihat. Ia menepuk-nepuk tangan, kucing Dalmonden tidak berlari dan malah menoleh ke arahnya, meskipun ia hanya bisa melihat telinga si kucing, dan bukan mata hijau yang berhasil terlihat begitu tak berdaya dan mengancam pada saat bersamaan. Riak air mengalir ke pagar. Bahkan kucing pun aman di Biddenhurst. Segalanya akan mereda.

Ia melakukan pembacaan terakhir dan masuk ke dalam rumah. Ia melirik ke ruang tamu tempat tubuh putrinya, Emily, berlipatan rapi di atas kursi malas.

Tak ada kebutuhan untuk membaca itu, sampai sekarangpun tak ada. Ia masuk ke ruang kerjanya. Tuhan memenuhi kebutuhan kita, seperti kita memenuhi Tuhan, dan Dia menyediakan perjanjian yang dipelihara oleh semua makhluk-Nya, yang besar dan kecil—dan juga olehNya—kita tak memiliki alasan untuk takut dalam kehidupan ini. Tapi itu membuat Stevens kesal sejenak karena ia terganggu oleh ketakutan—setelah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan begitu. Semoga Tuhan yang baik membuatku mati, ia menghela napas.

Ia tersenyum pada suatu keadaan sulit, tapi keadaan malah jadi mudah seraya ia menyetorkan pengamatan terakhirnya pada pagi hari. Menutup buku catatan resmi yang sepenuhnya terikat dari stasioner di Tunbridge Wells adalah manuver akhir yang indah, awalan untuk membukanya lagi: Di salah satu kompartemen mejanya ada setengah lusin surat dari Lady Delmonden kepada anaknya yang dua minggu lalu memulai resimennya untuk Gibraltar. Sebab ia menyimpannya dengan rapi, kehadiran mereka jadi tidak menakutinya. Perjalanan surat-surat itu berakhir di sini, dari keharusan yang singkat, alih-alih dari mana mereka dikirim—paket-paket ramping berisi permohonan menyedihkan yang tak pernah dipikirkannya akan datang dari perempuan tinggi yang kurus dan jelek itu.

***

Anak lelaki perempuan itu, yang adalah tentara, bertubuh ceking tapi bisa dibilang cukup untuk ukurannya, ditambah lagi, jelek. Bisa dibantah memang, sampai ia memutuskan untuk tersenyum yang, karena sangat jarang, seperti primrose pada bulan November yang suram, memikat orang sembrono atau orang asing.

Emily telah mendengar ayahnya menendang salju dengan sepatu bot ke pengeruk es di luar, sebelum ia masuk dengan surat-surat pos malam hari di tangannya. Asyik menghitung perangko, Emily lupa di sekitar mana jarinya tadi berada di atas surat-surat itu ketika ayahnya meminta beberapa untuk dirinya sendiri. Nah, itu lah kemungkinan terbesar titik bagaimana semuanya mulai terjadi. Dari ruang kerjanya di belakang, ia akan mendengar suara keras dan serak tapi ia terus menghitung suhu rata-rata dan membandingkan tekanan bulanan tahun ini dengan tahun lalu. Apa memang ia sudah di sana dengan kehendak Tuhan yang menciptakannya berbeda? Jika tidak pada hari itu, maka di hari yang lain. Setiap hari selalu sama, kecuali untuk rekaman cuacanya.

Sudut bayangan yang tajam mengiris kebun menjadi terang di satu sisi dan remang-remang di sisi yang lain. Bintik-bintik putih dari bunga aster pada kedua bagian itu di antaranya diberkahi sementara sisanya tidak—tidak ada yang mengatakan kenapa atau apa sebabnya. Mungkin angin akan berubah, membawa kembali matahari untuk menetap, menyuapi daun dan mengeringkan hamparan kerut bulu si kucing yang sekali lagi berjalan melintasi halaman menuju taman dapur, menguntit semua gerak-gerik.

Ia sering datang setelah itu sambil tertawa saat dirinya membeli lebih banyak perangko, lalu secara agak sinting, mengatakan bahwa ia akan jatuh cinta dan perlu mengirim surat-suratnya setiap hari—membuat Emily lengah dari pengamatannya.

Jantung memang suka terasa sakit, tapi tak pernah sampai meledak. Darah meroket seperti tengah membakar parafin. John tidak akan mendapat surat dari ibunya, meskipun ia adalah kepala sekolah di sini, kecuali dengan kebetulan ibunya menjatuhkan surat-surat itu di kota lain—meskipun ibunya adalah tipikal perempuan yang akhir-akhir ini hanya akan bermuram durja di rumah. Ibunya juga tidak akan mendapatkan Royal Mail darinya andai kata ia bisa menghentikan kegiatan murungnya itu. Bagaimanapun, Delmonden, untuk semua perhatian yang ditunjukannya terhadap Emily, ia bukanlah penulis surat yang hanya peduli pada kesenangannya terhadap patah hati orang lain.

Satu surat lagi yang telah dicegatnya, dan kini Ia buka kembali untuk dibaca ulang. Surat itu diposkan untuk ibunya, lembarnya bertuliskan bahwa dia, John Delmonden, setelah menunggu lama demi sebuah kapal yang layak di Weymouth dan cuaca yang pas, mendapatkan pengumuman bahwa penempatan Angkatan Darat berubah, dan resimennya diperintahkan untuk kembali ke Dover – tidak jauh dari Biddenhurst – jadi John akan berpacu dengan Romney Marsh dan datang dari jalur Appledore dan Wittersham untuk menemui Emily Stevens.

“Dan Ibu, apapun yang Ibu katakan soal dirinya yang ada di kelas ekonomi, aku berniat menikahinya, dan tak ada yang akan menghentikanku. Jadi, coba pertimbangkan niatan itu. Seperti Ibu, dan kukira semua orang sekarang tahu, kami berdua sudah hidup bersama—dan sekarang aku bertujuan buat menyempurnakannya, Tuhan menghendaki agar aku tak pergi ke Gibraltar, dan aku tahu bisikanNya adalah bisikin Tuhan – ketika aku mendengarnya. Pokoknya, aku bakal menyandanginya dulu ketika sampai di sana. Biddenhurst.”

Tidak, ia bagai mesin karena tak tahu apa yang dilakukannya. Di waktu yang sama ia merasa dirinya adalah perpaduan antara barometer dan termometer, juga kolaborasi antara hygrometer dan jam dan kalender. Hanya saja, ia tak bertanggung jawab untuk memindahkan ukurannya. Semua orang berperasaan, tapi mereka tak memikirkan efeknya pada orang lain kecuali jika mereka tahu bahwa Tuhan tengah membaca dan merekamnya berjam-jam—dan kemudian ada setan yang sama sekali tak peduli tentangnya.

Sampai kapan akan bertahan? Kolom-kolom bacaannya tak masuk akal. Ia menutup buku itu, dan menancapkan surat Lady Delmonden untuk anak laki-lakinya di tangan kiri, sembari menimbun hasrat untuk memakannya, membakarnya atau melemparkan buntalan itu sampai membelah derasnya hujan pada kucing hitam yang menguntit dengan pita merah muda di lehernya.

Sejak Emily lahir, ia takut kehilangannya, entah itu disebabkan demam atau pola konsumsinya. Setelah ibunya meninggal, mimpi-mimpi kelamnya kerap memutar keran cairan keringatnya sendiri di malam hari. Dengan selimut dan tirai yang ditarik, mimpi-mimpi terus menghantuinya dalam tidur yang paling gelap sampai ia terbangun dengan perasaan senang, karena semuanya tak nyata—tapi sayang ia tetap dibuat lemas karenanya, meski ia masih saja bisa terpogoh-pogoh masuk ke kamar Emily untuk mengintip di mana putrinya itu terbaring lelap dengan wajah yang tak terganggu.

Bumi begitu pelit dalam membagi nafas, karena bumi ingin semua orang berjalan di bawah tanahnya dan memberinya makan. Itulah keserakahan bumi yang membuatnya indah. Hidup adalah gencatan udara yang tipis di setiap tubuh. Apa yang Tuhan sediakan juga akan dirampas lagi oleh-Nya. Tapi, apakah itu yang disebut bumi atau Tuhan?

Tanah secara berlimpah menyedekahi sulur dan daun ivy. Suatu pertumbuhan parasit yang putaran belitannya setebal ular piton di sekitar batang pohon dan menyedot getah pohon itu sampai mati lalu jatuh ke tumpukan debu untuk memberi makan bumi. Sama halnya seperti belitan itu, ivy menggerogoti sebuah rumah. Tumbuhan merambat seperti karpet yang indah di dinding itu sebetulnya adalah sesosok monster bersenjata yang dikirim oleh tanah pendendam yang kaya untuk memboyong segala hal menjadi serata monster ivy.

Lima tetes laudanum tak akan mencukupi—pun bahkan lima puluh tetes. Dia mengambil surat pertama dari bundel itu dan merobeknya menjadi confetti, dan membiarkannya jatuh di wajah Emily. Bibirnya lebih tipis, hidungnya menjadi lebih kecil lagi dan sempit pada batang tulangnya, tak seperti biasa. Tak ketinggalan dahinya yang serupa kertas. Hati-hati dengan apa yang kau takuti, jika memang kau pikul ketakutan itu untuk kau lampaui. Ingatlah saja bahwa yang kau takuti itu hanyalah soal peringatan tentang masa depan yang ada di toko. Tapi, apa benar sampai sejauh itu Tuhan memantau kita?

Wajah dan wujudnya dipenuhi kertas-kertas surat John Delmonden. Ketika ia menekan bantal pada mulut Emily, sebenarnya perlakuan itu hanya untuk menghentikan penderitaannya sendiri atas apa yang telah putrinya katakan kepadanya. Ia mulai membenamkan wajah Emily dengan bantal yang ditekan-tekannya, membabi buta dengan kekuatan maksimal ketika Emily sama sekali belum menyiapkan diri untuk ancaman terhadap nyawanya. Bagai tanpa sabuk pengaman, ia tak terhentikan. sebab ia tak tahan akan ingatan soal putrinya itu kembali, ia tak tahan akan hardikannya sendiri atas apa yang tengah ia buat.

Hujan mengetuk-ngetuk jendela. Mungkin Romney Marsh akan menelan Delmonden atas apa yang telah dilakukannya. Tangannya pucat dan bengkak, keduanya bergemetar ketika ia merobek bulan April dari kalender almanaknya dan membuat kepingan menurun untuk mengubungkannya dengan yang lain. Udara yang terasa manis, gelas yang terjatuh, dan sebuah beban kesakitan yang menggumpal di matanya.

Tulang-tulangnya terasa remuk. Ia memantapkan dirinya di dekat dinding, kali ini kertasnya berwarnakan laudanum, belladonna, gin, seakan menarik kembali bagaimana empat tahun yang lalu Lady Delmonden menyindir duda sepertinya mesti menikah lagi. Sebuah dosa, katanya, untuk tetap tinggal sebagai duda di bumi Tuhan. Bukankah ia kesepian? “Aku punya seorang putri untuk menemaniku,” jawabnya—tapi Delmonden terlihat sangat aneh akan hal itu.

Sebentar lagi pembatu rumah tangga Delmonden akan membutuhkan seorang suami yang, muda, cekatan, dan juga montok. Mungkin ia seharusnya turut serta—ia juga mencabut bulan Maret, dan jahitannya terlepas—tapi beberapa gagasan yang bandel mencengkeramnya, kemudian mulutnya berkata ‘tidak’, menggagalkan maksud pembantu itu. Si pembantu melenggang keluar dengan raut dingin namun sopan dan setelah itu tak pernah mengungkitnya lagi. Tapi ada yang diam-diam memohon mealui mata sedingin es. Enam bulan kemudian, si pembantu yang sama melahirkan anak haram dari perutnya, dan tentang siapa kekasihnya, tak ada yang tahu, terkecuali tentang beberapa petunjuk menyangkut anaknya yang berkeliaran.

Sebuah borok menerobos visinya saat Emily menceritakan yang sebenarnya soal kisah yang telinganya takuti saat Emily kembali, setelah lima hari putrinya itu pergi bersama John Delmonden. Ia merangkai adegan demi adegan dalam pikirannya sendiri—wajah Lady Delmonden yang kaku, kemudian rupa dan senyum anaknya lalu disusul kemarahannya yang baru saja tumbuh, setelahnya ingatan lanjut bergeser pada waktu dimana ia mengambil bantal akibat tak tahan melihat air mata menggenang dan membasahi pipi putrinya. Nah, apa mungkin tadinya ia hanya bermaksud untuk mengelap air mata di pipi?

Februari dan Januari, kembali lagi di gagang pintu tahun ini. Di bulan Januari yang pertama, tak ada awan di langit, biru cerah dan bersih sepanjang hari setelah bulan purnama di malam sebelumnya. Apalah arti cuaca baginya sekarang? Setiap ada perubahan suhu dan langit, ia akan menganalisisnya. Tapi bagaimana dengan dunia di dalam daging dan darahnya sendiri, dan benua di balik mata biru pucat Emily? Semuanya adalah misteri, dan hidupnya merupakan hari yang selalu sama, menantang pembacaan karena ia terkunci di dalamnya seperti orang gila, terkunci oleh ketidaktahuannya sendiri. Semakin kau menyembunyikan jiwamu dari orang lain, semakin bersembunyi jiwa itu dari dirimu sendiri. Tapi kenapa si botak itu tak kunjung sadar juga sampai sekarang?

Ia tahu bahwa putrinya sudah meninggal, selamanya dan tak dapat dibatalkan, termasuk peristiwa ketika ia mengangkat bantal. Ketenangan yang datang dari pemahamannya membuat ia berlindung di bawah ketiak kecemasannya. Tapi seiring berjalannya waktu, ia jadi kurang yakin bahwa ia tak akan pernah berbicara dengan putrinya lagi, dan ketika membaca meteorologi di kebun, ia lupa bahwa putrinya memang tak akan berjalan-jalan di rumah lagi saat ia kembali ke masa lalu.

Ia membungkuk, menempelkan telinganya di atas dada putrinya untuk memastikan apakah ada denyut nadi di sana. Perasaannya soal kenyataan bahwa seseorang tidak akan pernah kembali lagi—yang berarti segalanya—digantikan oleh kepastian bahwa ada, bagaimanapun, hal-hal genting yang akan datang.

Satu persatu ia sobek almanaknya menjadi beberapa sobekkan dan menumpuknya di perapian ruang tamu. Ia merasakan kegembiraan seorang penjahat ketika ia berlutut di atas permadani dan membentuk kertas-kertas itu dengan tangannya sebelum membakarnya. Mungkin api akan mengatakan sesuatu padanya, suhu panas berbicara pada suhu panas dalam dadanya. Emily berpindah—tapi nyatanya itu cuman bola kertas yang berguling ke satu sisi tumpukan utama, dipelintir oleh api yang tak terlihat, menjalar dari bawah menuju arahnya.

Ruangan tertutup, ruangan hangat yang biasa ia gunakan bersama istrinya, dan menghabiskan kehidupan rumah tangganya di sana, nyala semaphoring di dinding seberang, dan Emily yang berbaring dengan tenang di kursi malas, memenuhi dirinya dengan sukacita hidup yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Musik berputar dan menggaung, memberi makan serat-serat tubuhnya dan menghapus memori sehingga seluruh perasaannya terkurung di ruangan dan peristiwa waktu itu.

Jika di sana musik berputar, maka tanah akan lebih menganga lagi dan ia akan menari di dalamnya: gerakan waltz untuk kakinya, gavotte untuk lengannya, minuet untuk bibir dan matanya. Tapi untuk merasakan gelombang harapan yang baru, ia duduk di kursi yang terbuat dari kayu pohon kenari di tengah-tengah antara Emily dan api, keheningan terakhir di mana ia mencicipi makna kehidupan masa lalunya. Keheningan menahan derita di teluk, serigala di luar jendela dan juga angin.

Abu kertas yang menghitam terakhir hancur. Semilir angin turun dari cerobong asap dan mengaduknya. Ketika burung-burung berhenti, ia mendengar suara bisingnya. Itu adalah hari yang adil dan baik. Hari-hari tanpa hujan telah berlalu, berakhir hanya sebagai ancaman. Tirai tidak bertemu, dan sepotong panjang sinar matahari tergantung dari langit-langit.

Ringkikan seekor kuda di luar menghisap kebisingan yang lain. Ia tetap duduk di kursi yang dibuat dari kayu pohon kenari, diam dan diliputi oleh kegamangan di antara berhentinya suara ringkikkan dan derap langkah kaki yang diakhiri oleh ketukan di balik pintu. Ia merangsek pada rak di mana sebuah revolver tersimpan dengan amunisi penuh yang lantas ia selipkan di balik saku jaketnya. Jangan pernah meloloskan seorangpun tahu bahwa kau tengah mencurigainya. Simpan hama terdalam itu yang mungkin malah akan membangunkan genangan culas seseorang. Biarkan siapapun merasa aman, kecuali, jika mereka telah merecoki seekor macan yang tidur. Dan ia telah menyetel jarum barometer dalam beberapa hari untuk cuaca yang bagus.

Ketukan pintu menggema lagi, dan ia masih saja duduk. Ketukan itu terjadi tiga kali, sehemat yang ia pedulikan. Gempuran ketukan di pintu melancarkan jotosan demi jotosan, merayakan fungsi dari kedua buah kepalan tangannya. Ia tak pernah menggebuk dengan sebegitu kerasnya sebagai ayah Emily, ia hanyalah seorang pesakitan yang bisa dunia obati. Dari pelupuk mata tuanya, mengalir deras kepedihan ketika ia menyaksikan putrinya yang terbaring. Orang bilang ia adalah sosok laki-laki yang lemah lembut, padahal sejak dulu ia hanya terlalu takut, itu sebabnya ia sering pergi ke gereja dengan punggung tegap, namun pulang dengan tongkat di tanganya. Kau tak akan pernah mendapatkan giliran untuk balas dendam pada seseorang, sebab merekalah yang memberi pukulan pertama. Lupakanlah, dam hancurkan saja.

Ia senyam-senyum dan lantas berdiri ketika ketukan berubah menjadi gedoran pada kali ketiganya. Melalui ruang kerjanya, ia menarik pintunya hingga terbuka. Gagang pintu berdecit tanda tak ada kerusakan, karena memang segala hal memiliki bunyinya sendiri.

“Apa kau masih waras, Stevens? Kau harus membuka pintu rumah sedari tadi. Atau mungkin kau sedang sakit?” Lady Delmonden menerobos masuk. “Aku tidak mau berdiri di luar.”

Ia merasakan gesekan hangat dari bobot revolver yang berat pada tulangnya. Kepalanya terpecah belah, kepanikan meradang, ketika ia melihat perempuan yang datang. Perempuan itu memegangi payung seakan-akan tubuhnya bersandar di sana. “Katakan,” perawakannya lebih tinggi, dan si perempuan mengacungkan jarinya, “Apa putrimu mendapat suatu kabar dari putraku?”

Ia tahu ia harus bersuara, maka ia menggerakkan lidahnya dengan gigih segigih lengannya ketika sedang berusaha menggali. “Dia tidak mengatakan apa-apa pada saya.”

“Aku kira juga begitu. Tapi, aku mau mengobrol sendiri saja dengannya.”

“Tidak.” Ia memang tak mengharapkan kata yang lain.

“Yang benar? Kau harus membatasi tabiat marahmu, Stevens.”

Jika ia tak segera meluncurkan kalimat, ia akan segera menembak. “Saya bilang tidak.”

“Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?”

Ia menjelajah kata demi kata, karena ia tak pernah berdusta sebelumnya. “Ia pergi naik kereta kuda ke Tunbridge Wells. Saya akan menyuruhnya menemui anda ketika ia sudah pulang.”

“Apa kau baik-baik saja?” Kudanya kembali meringkik di luar, dan seorang bujang yang adalah pelayannya menarik tali kekang si kuda.

“Ya.”

“Kalau begitu, pastikan kau menyuruhnya mendatangiku. Aku tak bisa terus-terusan gelap akan informasi soal mereka berdua. Semoga hari ini baik untukmu.” Kegusaran puncak perempuan itu membuatnya berbalik badan. “Dan lain kali ketika aku datang, kau harus mempersilahkanku masuk ke ruang tamu. Paham?”

“Baik, nyonya.”

Apa yang mata biru dan kulit putih pucat mereka ketahui? Ia terus menatap dalam diam seolah tengah membendung hasrat untuk menembus air terjun dari langit, seolah-olah ia akan ambruk di tempat, berharap perempuan itu akan segera angkat kaki, sebab tangannya kini telah menyentuh pangkal revolver yang dingin. Ketika perempuan itu datang padanya, dan memuja-muji pembantunya yang tengah hamil, ia telah merancang skema lengkap yang menyatakan bahwa perempuan itu ingin ia menikahi pembantunya, dan itu merupakan suatu trik licik si perempuan dalam menguji penyebab mengapa ia harus menikahi pembantunya. Dalam masa-masa mudanya, si pembantu mengalami peristiwa kabur-kaburan, dan juga cerita yang memilukan hati, tapi ia tahu semua itu tak ada apa-apanya dibanding ceritanya jika ia sampai menenggak ide konyol perihal menikahi pembantu itu. Memangnya siapa aku? Tanyanya pada diri sendiri, yang sejak dulupun ia pertanyakan. Pertama kali aku bertemu dengan pembantu itu ketika ia datang bersama ibunya sambil menenteng keranjang berisi kue-kue untuk sekolahan desa.

“Buat dia menemuiku,” titah si perempuan.

Ia lekas menutup pintu, lantas kembali ke ruang duduk.

***

Primrose, sorrel, viola, dan celadine tumbuh di Oldpark Wood, tapi untuk menuju ke sana dan mencari beberapa bunga itu, ia paling-paling hanya mampu mengandalkan langkah dan gerak siputnya. Ia ingin mengumpulkan semua bunga itu, sebagaimana Emily kecil menaruh semuanya di atas meja kerja pada suatu musim semi. Usahanya itu layaknya mesin turbo di pabrik-pabrik yang memaksamu untuk bekerja lebih cepat sepersekian detiknya, hal-hal memilukan yang pada kenyataannya tak akan menghantarkan kenangan-kenangan penuh kasih itu kembali. Ia mencium bau tanah ketika ia menarik bunga-bunga tersebut dari akarnya. Ia merenungkannya dalam kemantapan, bahkan ketika kedua bola matanya tak berpaling, meski sebetulnya ia ingin berpaling. Dengan tangan di atas paha, kedua kaki yang dibuka lebar, sebuah adegan dirancang: kepalanya tak bergerak, dan ia menunggu saat-saat Emily akan membusungkan dadanya lagi, sebagai tanda putrinya itu masih bernafas.

Jam-jam berlalu. Tak ada waktu untuk bertingkah lagi sebab, waktu memang tak ada. Laut tengah berombakan logam cair, tipis, dan tanpa kabut. Gerak dan ketidakberujungannya membuat ia menderita.

Seseorang masuk ke dalam rumah. Matanya bergerak, mengirim celah kehidupan kembali pada jari-jarinya. Segalanya menjadi biasa saja, lalu ia memanggil Emily dengan nada normal, seolah putrinya itu akan berhamburan dalam pelukannya dengan segera. Sebuah kursi berlalu, melintasi pengamatannya. Ia mengharapkan taburan bunga di atas tubuh putrinya, bukan bintik-bintik kertas penyakitan yang dicabiknya.

“Emily!” Delmonden memanggil.

Ia berdiri, menunggu, kemudian terjaga lagi, dan bahkan ia tenang-tenang saja, dengan senyum samar-samar layaknya murid TK yang sedang gugup. Ia sebetulnya ingin terdengar bersahabat dan menyahuti dia, namun ia terlalu licik dengan kecanggihan otak kerdilnya—bersikap layaknya balita agar tahu: jika saja ia bersikap dalam potret kedewasaan anak kemarin sore seperti dia, maka semuanya akan kacau. Untuk pertama kalinya ia menyadari jam yang berdetak di dinding, dan ia pikir seharusnya detakan jam dinding itu berhenti sedari kemarin, dan untuk sebab yang tak dapat dijelaskan, detakan itu mulai menjerit lagi dengan nyaring dan amat menganggunya – seperti tengah menggempur bagian dalam tubuhnya dengan sebuah palu godam.

Perlahan-lahan pintu terbuka dan ubin-ubin berderak seraya kedua kaki Delmonden mendarat di sana untuk kemudian melihat apa yang sebenarnya ada di balik pintu. Ia lantas berbalik menyamping, mengindari pertemuan mata dengan laki-laki yang datang bersama perempuan itu.

“Demi setan gondrong, kenapa kau tak berteriak memberi tahu bahwa kau sedang di sini? Aku tak sudi kalau sampai harus bersafari keliling rumah terkutukmu ini!”

Dia tipikal lelaki jangkung yang memiliki cukup nyali untuk melangkahi harkat dan martabat seseorang, dia bisa saja melenggang masuk ke rumah demi menemui putrinya. Tanpa Emily, hidup hanyalah soal ruang kosong yang disesaki warna hitam mencolok. Dia sama sekali tak gentar olehnya, sebagaimana ketika dia mendengar keseluruhan plot cerita tentangnya namun tetap berusaha meyakinkan diri bahwa otaknya memutar kaset yang salah. Apa pula gunanya hidup jika kau tak lagi punya ketakutan?

“Apa mau anda?” Tanya ia sambil menahan keterkejutan diam-diam akan ketenangan suaranya sendiri. Waktu itu ia tengah berdiri di antara pintu dan kursi santai putrinya.

Delmonden pastilah habis berkuda secara ugal-ugalan, karena jubah yang dikenakan putranya tak cukup menyembunyikan jas berwarna gelap, rompi yang pucat, dan kemeja putihnya yang terkancing hingga leher di sana. Wajahnya pun tak mencerminkan seorang lelaki muda pada umumnya, meski dengan dagu yang telah dicukur tanpa meninggalkan sehelai janggut di permukaan.

“Kenapa kau tak membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam sini? Dan, di mana dia?”

Ia mundur, merapatkan diri pada rak, tangannya telah bersemayam dengan pistol dalam saku. “Putriku sedang meriang.”

Delmonden melangkah. Ia kemudian melihat apa yang ada di depan lelaki tua itu, kubangan air dalam batu karang yang memantulkan potret langit yang tak menentu. Ketukan tapak kuda masih terdengar nyaring dalam pendengarannya. Matanya hampir menyentuh kening perempuan itu. “Akan aku panggil dokter. Astaga, kenapa kau tak membawanya ke dokter?!”

“Putriku mati.”

Ia merasakan jarinya pada lengkungan itu. Rasanya seperti pengait dan gagangnya miring, tersembunyi. Maafkan hamba, Tuhan: Hamba tak tahu apa yang hamba lakukan. Jam dinding di belakangnya tampak akan meledak, satu kebisingan meniup kertas ke udara ketika peluru melesat bagai batu raksasa menembus perut Delmonden.

Dia menjerit, tangan-tangannya menutupi luka tembak. Tadinya dia ingin mengajukan pertanyaan—namun dia tahu itu cukup konyol, maka lebih baik menjerit lagi: “Dasar iblis! Dia membencimu! Aku tahu ….”

Peluru kedua menghajarnya, kali ini seluruh cahaya putih matahari memenuhi pandangannya sebelum dia ambruk.

***

Pak G. M. Stevens, mantan guru besar Biddenhurst, digantung pada pukul delapan pagi pada tanggal enam Juni di Maidstone Gaol, bagian daerah Kent.

Ketika ia mendekati waktu eksekusi, orang banyak melemparkan tanah dan tahi untuknya. Ia melihat gerak-gerik ini hanya ketika bumi mengulurkan tangan, menyambutnya untuk menjadi bagian dari persekutuan yang baik dari tanah dan tahi itu. Orang-orang dibikin geram dengan sikap bodo amatnya, sebab persidangan mengungkapkan kesadisan yang ia lakukan pada tubuh korbannya. Ia padahal bisa menyembunyikan mereka sehari lagi, sebelum penyewa rumah Lady Delmonden masuk dan menemukan mayat-mayat bergeletakan di rumahnya.

Ketika gerombolan itu melemparinya, ia tetap anteng memandangi langit, dan merasakan udara di wajahnya. Itu adalah angin barat daya. Awan: nimbus. Jumlah: 10. Temperatur (sejauh yang ia bisa tahu) 50. Pendeta sudah cukup baik karena telah memberi tahu, sebelum memulai doanya, bahwa barometer menunjukan angka 29.620. Gerimis hujan turun.

Tangan kirinya meraih almanak, dan kerumunan meraung ketika lembar itu mengayun di udara.


Tentang penulis:

Alan Sillitoe lahir pada tahun 1928 di tengah-tengah keluarga kelas buruh, dan mati karena kanker pada 2010 sebagai penulis dari tanah Inggris yang tercatat pernah ikut mendirikan kelompok penulis “The Angry Youngmen” pada tahun 1950an. Dari deretan karyanya, ‘The Loneliness of the Long Distance Runner’ (1959) dan ‘Saturday Night and Saturday Morning’ (1958) berhasil melejitkan namanya di dunia kesusastraan. Salah satu cerpen yang ditulisnya, ‘The Devil’s Almanack’, pertama diterbitkan oleh New Review pada tahun 1975 di London

___

Catatan:.

[1] Almanak merupakan publikasi tahunan yang berisi daftar acara yang akan datang di tahun berikutnya (Kalender). Termasuk informasi seperti ramalan cuaca, tanggal penanaman petani, tabel pasang surut laut, dan data tabel lainnya yang sering disusun menurut kalender.

No Comments

Post A Comment