Metaruang | Amartya Sen: Kekerasan Identitas dan Manusia yang Kerdil
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
71
post-template-default,single,single-post,postid-71,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Amartya Sen: Kekerasan Identitas dan Manusia yang Kerdil

 

Judul: Kekerasan dan Identitas
Penulis: Amartya Sen
Terjemahan: Arif Susanto
Penerbit: Marjin Kiri
ISBN 978-979-1260-54-1
242 + xxii hlm.; 14 x 20,3 cm.

 

Tahun ini, pemerintahan Joko Widodo – JK melalui aparatnya memberikan kejutan. Massa mulai ragu, apakah di kepemimpinan mereka demokrasi bisa lebih hidup atau justru dimatikan. Pasalnya, di banyak toko, ruang baca, hingga kamar pribadi, kalimat “komunis gaya baru tengah bangkit!” diteriakkan tepat di telinga orang-orang, setelahnya ada banyak yang diamankan ke kantor aparat dengan dalih mereka adalah komunis. Dalih komunis yang dituduhkan pun hanya dari bukti-bukti sepele, misalkan saja gambar palu arit dalam kaos, buku yang dibaca sebagai ilmu pengetahuan, atau bahkan ikan lohan yang ada tanda palu aritnya (makhluk ciptaan Tuhan pun membuat pemiliknya ditangkap, jangan-jangan Tuhan pun komunis).

Sesederhana itu, hanya dengan pelabelan identitas “pengamal komunis gaya baru”, aparat dapat menangkap cukup banyak orang di beberapa daerah. Padahal, belum tentu orang yang ditangkapnya itu benar seorang komunis. Kalaupun benar bahwa ia membaca buku dan mempelajari ilmu-ilmu komunisme, identitas dirinya tidaklah tunggal, ia memiliki afiliasi dengan kelompok lain. Misalkan, ia seorang kelas menengah yang senang berbelanja di mall tetapi sedang tertarik baca komunisme untuk mata kuliah pengantar sejarah politik Indonesia. Kalaupun pemerintah merasa bahwa komunisme itu berbahaya karena perspektif sejarah yang diyakininya, pelabelan terhadap identitas seseorang merupakan kesalahan besar.

Tak berhenti di sana, permasalahan ini membuat masyarakat Indonesia saling memisahkan identitas mereka sebagai manusia, menjadi identitas “yang komunis” dan “yang bukan komunis”. Tindakan pemerintah itu pun akhirnya ditanggapi dengan gagap oleh banyak Organisasi Masyarakat (Ormas), termasuk Ormas keagamaan. Spanduk-spanduk mulai dipasang, diskusi mulai dihadang, bahkan mimbar akademik kampus pun berani diganyang. Karena tindakan Ormas islam itu, lahirlah perpecahan baru, “yang muslim itu anti komunis” menghadapi “yang komunis itu bukan muslim”. Hanya karena adanya pelabelan identitas komunis di tahun ini, orang-orang banyak diabaikan dan mengabaikan identitas lainnya. Padahal, yang dimaksud identitas muslim pun tidak bisa dipukul rata, ia bisa saja seorang muslim yang mencintai pluralitas, muslim yang mencintai sains dan teknologi, muslim yang menyukai music underground, muslim yang mencintai sistem demokrasi dibandingkan khalifah, dan seterusnya. Begitupun yang dimaksud dengan seorang komunis, bisa saja seseorang yang mencintai komunis tapi ibadah agamanya tak pernah melempem, seorang komunis yang masih menerima kemudahan yang diberikan oleh perusahaan kapitalis, seorang komunis yang pancasilais, dan seterusnya. Kebohongan besar jika individu dalam hidupnya hanya memiliki satu identitas.

Sayangnya, pemerintah tidak memahami ini dalam banyak persoalan. Hingga di Indonesia banyak kebijakan yang dilahirkan dari pemahaman demikian yang akhirnya menimbulkan kekerasan, misalkan pemisahan identitas antara muslim Syiah dan Sunni di Madura, kekerasan Poso yang berperang antara muslim dan bukan, pembunuhan semena-mena terhadap tertuduh teroris, dan seterusnya. Lucunya, sejak dari awal sebelum jadi aparatur pemerintah pun, politikus kita selalu mengungkapkan identitas tunggal dalam taktik kampanye politiknya. Dari mulai memberikan titel “Putra Daerah Asli”, “Haji”, “Muslim Nahdlatul Ulama”, dan tetek bengek identitas lainnya yang menurut ahli kampanye mereka akan laku di pasaran.

Begitulah kira-kira, jika Amartya Sen, seorang filsuf dan ekonom yang meraih nobel ekonomi pada tahun 1998 mengkritik kondisi Indonesia saat ini. Ia akan mengutuk kondisi di Indonesia saat terjadi pengkerdilan identitas manusia menjadi identitas tertentu saja yang digunakan untuk menguasai percaturan politik. Baginya, identitas manusia itu haruslah dipandang multidimensi, bukan monodimensi. Dengan itulah akan lahir kedamaian, sebagai lawan dari kekerasan yang seringkali lahir hanya karena permusuhan yang terjadi antar identitas yang dipahami salah. Dengan membantai teori Samuel Huttington mengenai clash of civilization yang mengkotak-kotakan identitas di dunia lewat pandangan agama, Sen menghadirkan pandangan baru, bahwa identitas manusia itu berlapis-lapis. Identitas manusia tidak sepicik dan sebiadab pemikiran Huttington dan yang terjadi dewasa ini.

Pemikiran Sen mengenai kekerasan yang terjadi di dunia karena buruknya pemahaman terkait identitas ini dapat dengan mudah kita pahami dalam buku “Identity and Violence: The Illusion of Destiny” (W.W Norton and Company, 2006) yang telah diterjemahkan oleh Arif Susanto dengan judul “Kekerasan dan Identitas” (Marjin Kiri, 2016). Buku ini membahas identitas dengan membaginya ke dalam sembilan bab. Pertama, kita akan diajak merenung bahwa saat ini tengah terjadi ilusi-ilusi yang membahayakan terkait konsep peradaban dunia. Pada pembukaannya, ia langsung menggebrak dengan pernyataan bahwa rasa memiliki suatu identitas bukan hanya bisa menjadi sumber lahirnya kebanggaan dan kebahagiaan, melainkan lahirnya kebahagiaan dan kepercayaan diri…namun demikian, identitas juga bisa memicu pembunuhan dan membuat orang mati sia-sia (hal. 3-4).

Latar belakang utama Sen membuat argumentasi demikian, ialah pengalaman yang paling mengerikan dalam hidupnya saat umur sebelas tahun. Sen yang kecil, hidup dalam peperangan antara Muslim dan Hindu pada tahun 1940. Ia menceritakan suatu kejadian saat Kader Mia berlumuran darah di depan rumahnya. Kader Mia yang merupakan seorang buruh, dibantai oleh kawan buruhnya yang beragama Hindu. Saat ayah Sen mengantar tubuh Kader Mia ke Rumah Sakit, Kader Mia yang muslim itu menceritakan bahwa istrinya tengah melarangnya untuk pergi ke daerah konflik. Karena Kader Mia seorang masyarakat kelas menengah bawah, ia akhirnya terpaksa harus tetap pergi ke daerah konflik untuk mencari pekerjaan guna memberi makan keluarganya. Naas, Kader Mia mati akibat kehabisan darah. Kenangan Sen terus hidup hingga tujuh puluh tahun kemudian. Dalam perkembangan usianya, ia memikirkan bahwa persoalan di India saat itu bukan membunuh identitas manusia di alam raya hanya menjadi identitas muslim versus identitas hindu. Bahkan, identitas kelas bawah yang seharusnya bersatu untuk melawan berbagai bentuk penindasan justru saling membunuh hanya karena muslim versus hindu tersebut (hal. 219-226). Dengan kegeramannya itu, ia menyatakan “Barangkali hal utama yang menjadi sumber kekisruhan adalah pengabaian—serta penampikan—terhadap peran nalar dan pilihan, yang muncul dari pengakuan bahwa identitas kita majemuk” (hal. 24).

Kedua, setelah Sen dengan bernas membongkar pemikiran kita dan membuat kita terkejut karena selama ini kita hidup dalam suatu konsep pemikiran yang ngaco, Sen mengajak kita untuk memahami kembali apa yang dimaksud dengan identitas. Ia menaburi pembahasan ini dengan kasus-kasus kecil yang mengerikan sekaligus menggelikan yang pernah dialaminya. Betapa manusia telah salah mendefinisikan identitas kaumnya. Menurut Sen, ada dua persoalan yang berbeda dari pandangan kita selama ini. Pertama, memahami bahwa identitas itu secara mutlak bersifat majemuk, dan bahwa taraf kepentingan suatu identitas tidak harus meniadakan kepentingan identitas lainnya. Kedua, seseorang harus mengambil pilihan—secara tegas ataupun tidak—mengenai kepentingan relatif manakah yang harus diberikan sesuai konteksnya, di antara berbagai kesetiaan dan prioritas yang mungkin saling berebut untuk diutamakan (hal. 27).

Dalam bab dua ini, Sen sering membongkar dungunya berbagai teori tentang identitas yang memaksa seseorang untuk hidup tanpa pilihan dan seolah identitas itu ialah tunggal. Bahkan, lebih parah lagi, identitas dianggap takdir seseorang. Sen memberikan tamparan, bahwa identitas itu hidup dalam berbagai ruang kultural. Sebagai kultur, individu akan terikat dengan berbagai sisi kehidupan. Tidak hanya agama, tidak hanya politik, tidak hanya seks, tidak hanya kebangsaan, tetapi banyak dimensi yang saling terikat dan seseorang itu sebenarnya mampu memilih secara rasional jika ia diberikan suatu kebebasan. Sen menutup bab ini dengan cerita “Gora” karya gurunya Rabindranath Tagore, bahwa seseorang yang mengagungkan sifat konservatif dengan mendukung identitas tunggal, ia akan merugi. Karena pada akhirnya ia akan sadar bahwa ia hidup sebagai manusia (hal. 52-53).

Amarah Sen tampaknya memuncak pada bab tiga. Di sinilah Sen dengan cerdas dan berani membantai pemikiran Samuel Huttington secara filosofis maupun metodologis. Dalam bab ini, Sen mengungkapkan bahwa peradaban yang dibangun saat ini penuh dengan keegoisan dan kesombongan Barat. Ia menjelaskan bahwa peradaban India yang dinyatakan sebagai peradaban Hindu ialah kesalahan besar. India pun merupakan sebuah negara dengan jumlah penganut muslim terbanyak ketiga di dunia, sebesar 145 juta muslim lebih yang hidup di sana (hal. 62). Sen pun dengan beruntun membantai kesombongan Huttington dengan membahas bahwa nilai barat itu tidaklah khas, tetapi majemuk dari berbagai peradaban dunia yang memengaruhinya (hal. 65-67). Demokrasi yang diagungkan oleh kaum Barat berasal dari mereka pun dikritik Sen dengan membedah sejarah secara baik. Menurutnya, memang benar bahwa demokrasi ditemukan di Yunani, tetapi bukan berarti negara di sekitar Yunani langsung mengamalkannya, justru negara yang jauh di luar Yunani pun ternyata melakukan lompatan menganai konsep demokrasi dan lebih baik darinya (67-73). Sen pun mengungkap, bahwa sains barat itu hanya dilebih-labihkan sebagai sumber awal kemajuan dengan menjabarkan berbagai kemajuan negara di luar Barat pada zaman yang bersamaan. Dengan sinis ia menuliskan bahwa “Gagasan dan pengetahuan yang tumbuh subur di Barat telah mengubah dunia kontemporer secara drastis selama beberapa abad terkahir, namun tetap sulit untuk memahaminya semata-mata sebagai konsepsi Barat” (hal. 75).

Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar, bab empat menjadi motivasi sekaligus otokritik bagi Muslim Indonesia. Dalam bab ini Sen mengungkap bahwa Muslim tidaklah mesti hanya dipandang sebagai teroris, tetapi seorang muslim hidup dalam berbagai afiliasi kelompok lainnya. Selain itu, Sen memberikan suatu gambaran metode untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kekerasan dalam dunia Muslim. Menarik dan cerdas saat Sen menuliskan “Dihadapkan pada keragaman di kalangan Muslim, mereka yang tidak mampu melihat perbedaan antara menjadi seorang Muslim dan memiliki suatu identitas Islam akan terusik dan bertanya ‘Manakah pandangan yang benar menurut Islam? Apakah Islam mendukung toleransi, atau tidak? Manakah yang sesungguhnya benar?’ Persoalan utama yang kita hadapi di sini bukanlah apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas, melainkan apakah pertanyaannya itu sendiri tepat. Menjadi seorang muslim bukanlah suatu identitas mutlak yang menentukan segala keyakinan orang yang bersangkutan.” (hal. 84).

Sebaiknya, FPI merenungkan kritik Sen itu ketika ingin menyeragamkan bentuk identitas Muslim di Indonesia. Sebab, Sen memandang banyak sekali di dalam muslim sendiri identitas yang berbeda-beda, mulai dari gaya hidup hingga gaya kepemimpinan. Ia menutup bab ini dengan kalimat renungan, “Manakala identitas sosial-politik dianggap lebih remeh ketimbang identitas keagamaan, masyarakat sipillah yang justru menjadi korbannya, persis pada saat terdapat kebutuhan besar untuk memperkukuhnya.”

Sen kembali memberangus keegoisan Barat, tempat di mana ia menumbuhkan daya intelektualitasnya. Dalam bab lima dengan judul “Barat dan Anti-Barat”, Sen mengungkap habis kolonialisasi oleh Barat, baik secara historis maupun keadaan saat ini. Sejak dahulu, Barat selalu berhasil membangun konsepsi pengetahuan yang menyudutkan bangsa jajahannya sehingga memengaruhi mental superioritas Barat sebagai bangsa, dan inferioritas bangsa jajahannya. Ia membahas bagaiamana kolonialisme hidup di Asia, Afrika, yang membuat mereka seperti ketergantungan kepada bangsa Barat. Padahal di kedua benua tersebut hidup berbagai kebijaksanaan dalam memandang kehidupan.

Pertanyaan lebih radikal diungkapkan Sen saat membahas kebudayaan dan keterkukungan budaya pada bab berikutnya. Ia menyatakan bahwa memang benar kebudayaan itu penting bagi manusia di dunia. Tetapi ia mempertanyakan bagaimana kebudayaan itu bisa menjadi penting. Sen menuliskan “Pengerangkengan budaya ke dalam kotak-kotak peradaban atau identitas-identitas keagamaan yang kaku dan terpisah-pisah..terlampau sempit dalam memandang berbagai atribut kebudayaan” (hal. 134). Pertanyaan itu menjadi bahan Sen untuk mengungkap bahwa berbagai persoalan di dunia ini tidak melulu hanya dilahirkan oleh kebudayaan, termasuk dalam membahas kemiskinan. Kebudayaan hanya menjadi faktor lain dari dimensi lain, baik sosial, politik, dan ekonomi, seperti dalam kasus perbandingan antara Ghana dan Korea Selatan yang terlihat jelas bagaimana kedua negara berbeda dalam perkembagnan ekonominya. Ia pun menawarkan suatu kebudayaan yang multikultural dan bebas yang dapat diterapkan lewat pendidikan yang menyokong rasionalitas dan kebebasan.

Setelah menebarkan berbagai kritik kepada banyak dimensi peradaban dunia saat ini, Sen mengajarkan kita untuk menghimpun kekuatan global dalam melawan globalisasi yang menurutnya salah kaprah. Sen menggambarkan bagaimana para demonstran mengkritik globalisasi yang dilengkapi bantahan dari pendukung globalisasi, juga kritik atas kedua sikap tersebut: “Mengapa orang-orang dari belahan dunia lain yang mengalami ‘perlakuan timpang’, jika memang benar bahwa tidak ada rasa kebersamaan global dan tidak ada perhatian ketimpangan global? Ketidakpuasan global yang disuarakan oleh gerakan-gerakan protes ini (harus diakui kadang caranya sangat kasar) bisa dipandang sebagai bukti adanya rasa identitas global dan keprihatinan terhadap etika global.” (hal. 159).

Sebelum mengakhiri bukunya, pada bab delapan, ia kembali mempertegas premis bahwa dunia dapat lebih baik dengan menciptakan multikuluralisme dan kebabasan. Bahkan Sen sendiri menyadari bahwa tema buku ini (Identitas dan Kekerasan)—angan-angan mengenai identitas dan hubungannya dengan kekerasan dunia—terkait erat dengan pemahaman tentang sifat, dampak, dan manfaat (atau mudarat) dari multikulturalisme (192-193). Menurutnya, setidaknya ada dua pendekatan berbeda dalam memandang multikulturalisme. Pendekatan pertama memandnag bahwa menggencarkan multikulturalisme itu sudah dengan sendirinya merupakan nilai yang mesti dibela, sementara pendekatan yang lain berfokus pada kebebasan dalam menalar dan mengambil keputusan. Ia terus menggiring pembaca untuk memahami bagaimana manusia semestinya dipahami melalui penggambaran multikulturalisme di Inggris, dan belahan dunia lainnya sebagai pendukung. Sen menutup bab ini dengan pandangan Gandhi, yang mengkritik Inggris dan membangun bagaimana identitas manusia dibangun di India.

Dalam merespons buku ini, Sari Nusseibeh, rektor Universitas Al-Quds, Yerusalem mengungkapkan bahwa Sen telah memberi kita cita-cita untuk berharap, dan menunjukkan jalan untuk mewujudkannya. Ungkapan Nusseibeh itu tak salah, Sen sangat memberikan harapan pada bab penutup di bukunya. Ia kembali mengulang bagaimana gagasannya dibangun di buku tersebut dengan menceritakan pengalaman pendukung sebagai pelajaran bagi kita untuk kembali menemui berbagai identitas manusia di dunia ini dan tidak terkurung oleh hanya identitas tuggal yang sering kita bangga-banggakan. Dengan mengignat kembali kematian Kader Mia, ia mengungkapkan semangatnya untuk memberantas berbagai kekerasan yang diakibatkan oleh kesalahan memahami identitas. “Saya bisa membayangkan jagat lainnya, di  mana ia (Kader Mia) dan saya bisa bersama-sama menegaskan banyaknya kesamaan identitas di antara kami (sekalipun kaum penyuka perang dengan cara pandang tunggal dan kaku itu menyalak-nyalak depan gerbang). Yang terpenting, kita harus memastikan bahwa benak kita tidak terkurung oleh cakrawala pandang kita sendiri” (hal. 238). Cakrawala Islam, cakrawala Indonesia, atau cakrawala lainnya sebaiknya tak membatasi kita dalam memahami identitas manusia.

Cianjur, 21 Mei 2016

Muhammad Fasha Rouf

Muhammad Fasha Rouf, lahir di Cianjur, April 1995. Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi UPI. Bergiat di Himikasi UPI, ASAS UPI, dan Komune Rakapare. Berminat dalam kajian jurnalistik, media dan budaya, serta agama.

Tags:
No Comments

Post A Comment