Metaruang | Amélie: Realitas Si Malaikat Penolong dan Romantisasi Paris
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16776
post-template-default,single,single-post,postid-16776,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Amélie: Realitas Si Malaikat Penolong dan Romantisasi Paris

 

Judul film: Le Fabuleux destin d’Amélie Poulain / Amélie
Sutradara: Jean-Pierre Jeunet
Penulis: Jean-Pierre Jeunet, Guillaume Laurent
Durasi: 122 menit
Pemain: Audrey Tautou, Mathieu Kassovitz, Rufus

 

Dari kacamata gadis bernama Amélie, dunia bukanlah tempat yang kejam untuk ditinggali. Peristiwa besar yang terjadi di dunia, tidak berpengaruh besar untuk kehidupannya. Semua tentang hal kecil, kebahagiaan orang yang sama sekali asing dan misi-misi sederhana dalam keseharian. Toh, hidup tidak seburuk itu kalau dilihat dari perspektif lain. Tidak ada tragedi, tidak ada kejahatan, hanya romantisasi yang membuat semua jadi berkesan indah.

Amélie merupakan seorang wanita muda yang tinggal di Montmartre, Paris, Perancis. Saat ia masih kanak-kanak, dirinya mengalami kesalahan vonis penyakit jantung. Hal ini membuat kedua orang tua Amélie terlalu protektif. Mereka tidak memperbolehkan Amélie keluar rumah dan menyekolahkannya dengan metode home schooling. Saat ia berusia 23 tahun, Amélie tinggal di apartemen miliknya sendiri dan bekerja sebagai pelayan di The Café des 2 Moulins. Satu hal yang menjadi prinsipnya dalam menjalani hidup: memperhatikan detail yang seringkali tidak disadari oleh orang lain. Hal ini membuat Amélie mendapatkan kesenangan dari menikmati hal-hal kecil.

Hidup Amélie mulai berubah ketika ia mendengar berita kematian Lady Diana. Saat Amélie menjatuhkan barang dan mengambilnya kembali, ia melihat tegel dinding kamar mandi yang longgar. Dalam dinding tersebut, ia menemukan kotak kaleng berisi mainan. Amélie lantas memutuskan untuk mencari pemilik kotak kaleng tersebut dan mengembalikannya. Jika pemilik kotak kaleng tersebut menyukainya, Amélie berjanji pada dirinya sendiri akan berbuat baik sepanjang hidupnya. Ketika Amélie menemukan pemilik kotak kaleng tersebut, sang pemilik pun tersentuh. Maka, petualangan Amélie sebagai ‘malaikat penolong’ dimulai.

Realitas dari kacamata karakter Amelie

Menonton Amélie seperti menikmati kisah dongeng yang amat manis. Cerita dalam film disampaikan oleh narator secara penuh. Dialog menjadi bagian minor yang melengkapi kisah yang disampaikan oleh narator. Cerita disampaikan dari sudut orang ketiga. Gaya seperti ini sering ditemu dalam film-film dongeng (fairy tale), semisal film-film live action fairy tale dari Disney, Enchanted (2007), Alice in Wonderland (2010) dan Beauty and the Beast (2017). Di luar film-film dongeng, sutradara Wes Anderson turut menggunakan gaya penyampaian dengan narator pada film-filmnya. Sutradara Marc Webb pun menggunakan pendekatan serupa Jean-Pierre Jeunet pada film 500 Days of Summer ketika menceritakan masa kecil dan kehidupan karakter Summer pada awal film.

Pada pertengahan cerita penonton diperlihatkan berita mengenai peristiwa menggemparkan pada 31 Agustus 1997; kematian Lady Diana. Meskipun menggunakan latar waktu yang spesifik, film tidak memperlihatkan realitas yang terjadi di Perancis pada tahun 1997. Lokasi-lokasi yang diperlihatkan dalam film tidak menggambarkan kondisi Paris tahun 1997 secara menyeluruh. Amélie justru terlihat seperti film klasik ketimbang Paris di era modern. Sepanjang film, penonton tidak diperlihatkan adanya gadget ataupun realitas yang menggambarkan keadaan Paris pada tahun 1997. Realitas yang dibangun dalam film ini diambil dari sudut pandang tokoh utama, yakni Amélie.

Sejak awal, Amélie nyaris tidak pernah melihat dunia luar. Ia senang berimajinasi dan menonton televisi saat bertumbuh besar. Cara Amélie melihat dunia pun berbeda dengan bagaimana orang-orang di sekitarnya melihar problematika kehidupan. Selama belasan tahun, permasalahan terberat yang Amélie hadapi hanyalah kematian ibunya dan isolasi yang dilakukan kepadanya sejak kecil. Ia nyaris tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini membuat Amélie tidak mengenal persoalan hidup yang terlampau berat. Penonton diperlihatkan bagaimana Amélie menjalani kesehariannya dan betapa aman serta nyamannya dunia yang ia jalani.

Tidak ada persoalan rasisme atau persoalan berat lainnya yang diangkat dalam film ini. Layaknya film dongeng, film Amélie banyak mengangkat sisi romantis dari Paris. Jika tidak dikaitkan dengan konteks waktu sekalipun, permasalahan yang terjadi dalam film ini bisa terjadi kapanpun, walaupun bukan pada tahun 1997. Pemilihan lokasi dan penggambaran realitas yang ada dalam film ini membuat Paris seakan-akan tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Paris diperlihatkan sebagai lokasi yang romantis, tanpa kejahatan, indah dan penuh dengan bangunan serta kafe klasik.

Simbolisme warna dan kotak kaleng

Warna merah kerap muncul beriringan dengan karakter Amélie. Merah seringkali diasosiasikan dengan semangat, hasrat, gairah dan cinta. Sangat kentara bahwa warna tersebut merefleksikan kehidupan dan mood Amélie. Hal ini tercermin dari buah raspberry yang Amélie makan dan ceri yang ia gantungkan pada telinga pada bagian pembukaan film. Seluruh objek merah yang ia pegang merupakan representasi dari semangat dan keriangan Amélie sebagai seorang anak. Namun, pada salah satu adegan, Amélie berdiri di samping ibunya yang membebaskan ikan mas koki miliknya. Ini merupakan simbol dari Amélie yang melepaskan gairah masa kecilnya untuk menjalin hubungan pertemanan. Sejak saat itu, Amélie tidak pernah bersosialisasi dan hanya memiliki teman khayalan.

Warna merah dalam film ini juga merepresentasikan pencarian cinta dalam setiap aspek kehidupan tokoh-tokoh yang terlibat dalam film. Nyaris semua tokoh dalam film ini mengalami kebuntuan dalam hidup mereka. Di luar Amélie, karakter-karakter tersebut digambarkan suram dengan pilihan kostum atau suasana lingkungan sekitar mereka. Amélie digambarkan sebagai karakter yang paling stand out jika dilihat dari pilihan warna lipstik dan pakaian merah yang sering digunakannya. Ia merupakan kunci dari cinta yang menjadi jalan keluar dari kebuntuan tiap karakter yang ada dalam film.

Di samping warna, kotak kaleng yang dipertunjukkan pada awal film menjadi poin penting dari keseluruhan alur. Pada awal film, kotak kaleng berisi mainan merupakan kunci yang membuat Amélie melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Kotak kaleng tersebut berisikan objek-objek yang membuat pemiliknya teringat kembali akan kenangan masa kecilnya. Dominique sang pemilik kotak kaleng menyadari, tidak ada yang dapat ia perbuat untuk memperbaiki masa kecilnya yang cukup menyedihkan. Namun, karena kotak kaleng tersebut, ia menjadi teringat akan cucu yang tidak pernah dikunjunginya lagi.

Dalam konteks simbolis, kotak kaleng merupakan representasi akan memori masa kecil. Kotak kaleng tersebut disimpan bertahun-tahun hingga pemiliknya tidak ingat lagi pernah menyimpan kotak tersebut. Kotak kaleng tersebut juga merupakan salah satu representasi, bahwa Amélie sempat kehilangan masa kecil yang indah karena kesalahan vonis penyakit jantung oleh sang ayah.

Amélie memiliki karakter yang sangat kuat dari aspek sinematografi dan aspek naratif. Terdapat begitu banyak pengambilan gambar yang kuat yang dapat memainkan emosi penonton. Penonton pun disuguhi banyak shot kreatif yang jarang ditemui pada film Perancis pada umumnya. Meskipun demikian, atas dasar tema dan kekuatan dari aspek naratif itu sendiri, romantisisasi yang membuat Paris terlihat sangat klasik dan tidak memiliki masalah yang berarti menjadi kekuatan yang menuntun penonton menikmati keseluruhan plot.

 

Lana Syahbani

Penulis, ilustrator (terkadang), dan pemusik. Suka sayuran, kantung mata, warna pastel, angka ganjil, dan percakapan seksi. Bisa ditemui di kedai/warung kopi seputaran Bandung.

No Comments

Post A Comment