Metaruang | Apa Arti Merujuk Marx Hari Ini?
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17068
post-template-default,single,single-post,postid-17068,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Apa Arti Merujuk Marx Hari Ini?

Oleh Alain Badiou

 

Lantaran tidak mengingat bahwa judul selengkapnya dari Das Kapital adalah Kritik Ekonomi-Politik, orang kerap mereduksi Marx kepada suatu pemikiran analitis tentang organisasi ekonomi masyarakat. Marx pada akhirnya ditemukan kembali, terutama di tengah musuh-musuhnya yang abadi, sebagai sosok penulis akademis dalam bidang ilmu-ilmu sosial. Akademisasi Marx semacam itu menjadikannya terpisah dari para penerusnya yang sejati: Lenin, atau Mao, jadi menghindarkannya dari nama-nama ini dengan mencap mereka orang-orang terkutuk yang “totaliter”.

Tetapi, kehidupan, tindakan, dan tulisan-tulisan Marx menunjukkan sebaliknya. Tujuan yang tanpa kenal lelah ia tapaki dalam langkah-langkahnya adalah kelahiran dan perkembangan suatu organisasi internasional kaum proletar. Ia bersama Engels, sebagaimana Lenin bersama Trotsky, Mao bersama Chou En Lai, Castro bersama Che Guevara, adalah aktivis dan pemimpin segala upaya untuk mencapai tujuan tersebut seturut kondisi-kondisi zamannya kala Idea komunisme muncul.

Saya akan kutipkan di sini dua bagian dari Manifesto yang, menurut saya, menangkap orientasi mendasar yang tetap mempertautkan kita dengan Marx. Kutipan pertama saya:

Para komunis tidak membentuk suatu partai terpisah yang berlawanan dengan partai-partai buruh lain. Mereka tidak memiliki kepentingan yang memisahkan diri mereka dari kaum proletar secara umum. Mereka tidak memproklamirkan prinsip-prinsip sektarian yang dengannya mereka ingin memecah-belah gerakan buruh. Para komunis tidak membedakan diri dari partai-partai buruh lainnya kecuali dalam dua poin: 1. Dalam berbagai perjuangan nasional kaum proletar, mereka menjunjung dan memberi penghargaan lebih kepada kepentingan-kepentingan bersama proletariat. 2. Dalam berbagai fase evolutif pertarungan antara kaum proletar dan kaum borjuis, mereka selalu dan di mana-mana merepresentasikan kepentingan gerakan secara umum.

Dan kutipan kedua:

Secara garis besar, para komunis di mana-mana menekankan pergerakan revolusioner melawan tatanan sosial dan politik yang eksis. Dalam pergerakan-pergerakan tersebut, mereka mengajukan persoalan kepemilikan sebagai persoalan mendasar bagi gerakan, apapun bentuk yang menyelimuti perkembangan kepemilikan itu.

Secara garis besar, aktivis turut-serta dalam seluruh pergerakan di mana subjektivitas yang dominan merupakan perlawanan nyata terhadap tatanan dominan. Tetapi, aktivis itu mengamati dan berusaha dengan segala upaya membuat tiga prinsip ini dihargai:

Satu, Internasionalisme, yang membedai pergerakan yang hanya memberi tempat eksklusif bagi nasionalisme, sebagai contoh, “Prancis” dengan segala kepentingannya[1], termasuk dalam bentuk aktual fetisisme atas “Republik kita”. Demikian juga kita tidak dapat membiarkan segala sesuatu yang lahir dari jejak-jejak kolonialisme, seperti rasisme, Islamofobia,[2] dan berbagai campuran ideologi reaksioner kontemporer.

Dua, menomorduakan apa yang merupakan keperluan taktik, demi mendahulukan strategi bersama, strategi “gerakan secara umum”, yang bertujuan untuk memperlemah pertama-tama, dan kemudian membuat hancur tatanan kapitalis dan borjuis. Untuk itu kita akan menghindari berbagai bentuk dukungan terus-menerus, terutama dalam konteks politik elektoral dan serikat, terhadap kekuatan-kekuatan yang hanya bertujuan mengincar posisi-posisi kekuasaan di dalam tatanan yang dominan. Kita sama sekali tidak akan menggunakan kategori yang dipakai untuk membenarkan semua pengkhianatan selama ini, yaitu kategori “kiri”.[3]

Tiga, persoalan kepemilikan borjuasi dan keharusan yang tidak dapat diganggu-gugat untuk menghapusnya. Marx menunjukkan bahwa prinsip ini harus dikemukakan, apapun  bentuk yang berkembang dan menyelimuti kepemilikan itu. Hari ini, kepemilikan ini secara harfiah adalah ekstremis: dalam dunia di mana seratusan orang memiliki kekayaan milyaran manusia. Pemerintahan Macron ingin kita bergabung dalam norma kepemilikan semacam ini. Hari ini, kaum aktivis dalam seluruh bidang pergerakan wajib menolak tidak hanya privatisasi yang sedang terjadi (atas Perguruan Tinggi, Kereta Api, Rumah-rumah Sakit…), tetapi juga menolak seluruh pola yang sejak 1983 terbentuk berkat kontribusi kaum Kiri maupun Kanan[4], dan menawarkan bentuk-bentuk baru perebutan-kepemilikan secara kolektif terhadap segala hal yang lahir dari barang publik. Yang paling merupakan prioritas: pendidikan, kesehatan, transportasi umum, komunikasi (pos, telepon, jaringan internet), energi, air kemasan.[5]

Dalam kerangka pertarungan antara jalan kapitalis yang hari ini didukung oleh suatu kekuatan yang belum pernah ditemukan sebelumnya dan jalan komunis yang sedang dalam rekonstruksi, Marx menunjukkan kita tidak saja apa yang seharusnya menjadi kerangka berpikir kita, tetapi lebih-lebih menjadi orientasi umum tindakan kita.***

 

 

Catatan:

Diterjemahkan oleh Muhammad Al-Fayyadl dari naskah artikel Alain Badiou, “Que signifie, aujourd’hui, la référence à Marx?” (belum terbit). Alain Badiou adalah pengajar emiritus di École Normale Supérieure, Paris

 

[1] Atau dalam kasus Indonesia, “NKRI” dengan segala wacana nasionalismenya yang eksklusif. Internasionalisme yang dimaksud Badiou dapat mencakup nasionalisme sejauh nasionalisme ini tidak eksklusif dan berorientasi kepada Internasionalisme kaum proletar sedunia. (Penerj.)

[2] Kritik Badiou atas Islamofobia menunjukkan keberpihakan kaum komunis dan Kiri di dunia—yang setia pada cita-cita Internasionalisme dan anti-kolonialisme—terhadap agama Islam, juga agama-agama lain yang mengalami diskriminasi atau persekusi di negaranya. Prancis, sebagai negara sekuler, merupakan salah satu dari sekian negara Barat yang subur oleh Islamofobia. (Penerj.)

[3] Kritik Badiou ini tak lepas dari situasi politik di Prancis, di mana kekuatan yang menyebut diri “kiri” (khususnya dari Partai Sosialis) justru hari ini menjadi tulang-punggung kapitalisme dan borjuasi. Kritik serupa dapat dialamatkan di Indonesia terhadap kalangan yang menyebut dirinya “aktivis ‘98” atau “aktivis rakyat”, namun berkolaborasi dengan borjuasi atau menjadi bagian dari borjuasi sendiri, pengkhianatan yang terjadi pasca-Reformasi 1998. (Penerj.)

[4] Pola yang dimaksud adalah liberalisme, yang sejak 1983 di negara Prancis menjadi platform bersama kelompok Kanan dan “Kiri” (Sosialis) oleh rezim Presiden François Mitterand (1981-1995), dengan penerimaan Prancis kepada pasar bebas, kompetisi, dan sistem ekonomi pasar, melalui tangan-tangan dingin Perdana-perdana Menteri seperti Pierre Mauroy dan Laurent Fabius (Penerj.)

[5] Dapat ditambahkan untuk konteks Indonesia: pertanian, perkebunan, perhutanan, dan pertambangan—sumber daya-sumber daya publik yang menjadi mangsa dan sandera privatisasi dan konglomerasi segelintir elite Indonesia dan kroni-kroninya (Penerj.)

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Muhammad al-Fayyadl

Editor Islam Bergerak dan Jurnal Sosialis. Saat ini bergiat di Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Menulis beberapa buku, yang terbaru Filsafat Negasi (2016) dan Fiction/Subjectivication Politique: Lecture de “La Nuit des prolétaires” de Jacques Rancière (Saarbrücken, 2017)

No Comments

Post A Comment