Metaruang | Apa Itu Aparatus?
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16636
post-template-default,single,single-post,postid-16636,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Apa Itu Aparatus?

Oleh Giorgio Agamben

1.

Pertanyaan terminologis adalah penting dalam filsafat. Seperti halnya yang pernah diucapkan oleh seorang filsuf yang demikian besar rasa hormatku padanya, terminologi adalah momen puitis dalam pemikiran. Ini tidak bermaksud bahwa setiap filsuf harus senantiasa mendefinisikan istilah teknisnya. Plato tidak pernah mendefinisikan idea, term paling penting darinya. Selain itu, Spinoza dan Leibnitz cenderung lebih suka mendefinisikan istilahnya dengan cara yang lebih geometris (more geometrico).

Hipotesis yang ingin kutawarkan adalah kata dispositif, atau “apparatus” dalam bahasa Inggris, merupakan istilah yang sangat menentukan dalam strategi pemikiran Foucault. Ia cukup sering menggunakannya, terlebih sejak pertengahan 1970, saat ia memulai untuk memusatkan perhatian dirinya pada apa yang disebutnya sebagai “pemerintahan” atau “pemerintahan manusia”. Meskipun ia tak pernah menawarkan definisi yang utuh, ia datang dengan suatu gambaran yang mendekati dalam sebuah interview di tahun 1977:

“Sesuatu yang saya coba khsusukan dengan istilah ini ialah, pertama, dan paling utama, sekumpulan perangkat-perangkat heterogen yang terdiri dari wacana, institusi, bentuk arsitektur, statement ilmiah, keputusan regulasi, hukum, tindakan administratif, proposisi filosofis, moral, dan filantopis.—pendek kata, yang diucapkan sama jumlahnya dengan yang tak terucapkan. Seperti halnya elemen-elemen daripada aparatus. Aparatus itu sendiri ialah jaringan yang tersusun antar elemen-elemn tersebut…

…Yang kumaksudkan dengan istilah “apparatus” adalah sejenis formasi, boleh dikatakan, pada momen sejarah tertentu memiliki fungsi utama untuk merespons keadaan yang mendesak. Karena itu, aparatus memiliki fungsi strategis….

…Aku utarakan bahwa watak alami dari aparatus secara esensial strategis, yang berarti kita membicarakan soal manipulasi relasi kuasa tertentu, melalui intervensi relasi kuasa secara akal sehat dan konkret, baik untuk menggiringnya pada suatu haluan tertentu, atau untuk menahan, menstabilisasi, dan memanfaatkan mereka. Aparatus dengan demikian tak hanya selalu terlibat dalam permainan kekuatan, namun juga selalu terhubung dengan batas pengetahuan tertentu yang muncul darinya dan, pada derajat tertentu, mengondisikannya. Aparatus tepatnya adalah: seperangkat strategi yang didukung oleh relasi kuasa, dan juga dukungan dari, tipe ilmu pengetahuan tertentu.’

Persilakan saya untuk menyimpulkannya secara singkat:

  1. Ini adalah sekumpulan perangkat yang heterogen meliputi hampir segala hal, linguistik dan nonlinguistik, di bawah arahan yang sama: wacana, institusi, bangunan, hukum, tindakan polisi, proposisi filosofis, dan sebagainya. Aparatus itu sendiri adalah jaringan yang terbentuk antar elemennya.
  2. Aparatus selalu memiliki fungsi strategis konkret dan selalu terlokasi pada relasi kuasanya
  3. Dengan demikian, itu muncul pada sebuah interseksi antara relasi kuasa dan relasi ilmu pengetahuan.

 

2.

Sekarang, saya akan mencoba dan menelusuri secara singkat genealogi dari istilah ini, pertama dari karya Foucault. Dan kemudian pada konteks historisnya yang lebih luas.

Pada akhir 1960-an, kurang lebih saat ia menulis The Archaelogy of Knowledge, Foucault belum menggunakan istilah “apparatus” untuk mendefinisikan objek yang ditelitinya. Ia lebih memilih istilah positivité, “positivitas”, yang secara etimologis berdekatan dengan dispositif, dan lagi-lagi tanpa menawarkan sebuah definisi pun.

Aku selalu bertanya pada diriku sendiri dimana Foucault menemukan istilah ini, sampai pada saat, beberapa bulan lalu. Saya membaca buku karya Hyppolite berjudul introduction à la philosophie de l’histoire de Hegel. Barangkali anda pun mengetahui terdapatnya hubungan kuat yang mengikat Foucault pada Hyppolite, seseorang yang ia sebut sebagai “guruku” (Hyppolite pada fakta nya adalah gurunya, pertama saat khâgne dalam Lycée Henri-IV [ kursus persiapan menuju Ecole normale supriéure] dan selanjutnya dalam Ecole normale).

Bagian tiga dari buku Hyppolite bertajuk “Raison et histoire: Les idées de postivité et de destin (Reason and History: The Ideas of Positivity and Destiny). FoKus pembahasan di sini ialah analisis pada dua karya Hegel yang tercatat selama tahun-tahunnya di Bern dan Frankfurt (1795-96): Pertama adalah “ The Spirit of Christianity and It’s Destiny”, dan yang kedua—dimana kita menemukan istilah yang menjadi perhatian kita—“The Positivity of Christian Religion” (Die Positivite der christliche Religion). Merujuk pada Hyppolite, “takdir” dan “positivitas” adalah dua konsep kunci dari pemikiran Hegel. Khususnya, istilah “positivitas” menemukan penempatannya secara tepat dalam oposisi antara “agama alamiah” dan “agama positif”. Sementara agama alamiah menaruh perhatian pada hubungan langsung dan umum antara manusia dan zat Adikuasa. Agama positif atau historis meliputi seperangkat tata kepercayaan, aturan, dan ritus. Yang dalam masyarakat dan momen sejarah tertentu dikenakan secara eksternal dari individu itu sendiri. “Sebuah agama positif”, tulis Hegel dalam bagian yang dikutip Hyppolite, mengimplikasikan perasaan perasaan kekaguman yang lebih atau kurang lewat pemaksaan terhadap jiwanya: Hal ini adalah efek dari serangkaian tindakan paksaan dan hasil dari kepatuhan dan tercapai tanpa melalui kepentingan langsung.

Hyppolite menunjukan bagaimana oposisi antara hakikat dan positivitas berkorespondensi, yang dalam pengertian ini, dengan dialektika antara kebebasan dan kewajiban, seperti halnya antara akal budi dan sejarah. Dalam bagian dimana Foucault tersulut keingintahuanya, Hyppolite menuliskan:

Kita lihat di sini simpul dari kesangsian tersirat dalam konsep positivitas seperti halnya Hegel yang melakukan usaha berturut-turut untuk membawanya bersamaan secara dialektis—sebuah dialektika yang belum tersadarkan akan dirinya sendiri—rasio murni (teoritis dan melampaui segala hal praktis) dan positivitas, yang merupakan, elemen historis nya. Dalam pengertian tertentu, Hegel memperhitungkan positivitas sebagai rintangan menuju kebebasan umat manusia, dan dengan demikian ini adalah kutukan. Demi menginvestigasi elemen-elemen positif dari agama, dan mungkin akan ditambah dengan tatanan sosial, artinya menemukan sebentuk pemaksaannya yang dikenakan pada manusia, yang mana akan menggelapkan kemurnian dari akal budi. Namun, dalam pengertian lain juga—-ini adalah aspek yang akan menjadi aspek paling utama dari pembangunan gagasan Hegel. Positivitas haruslah bersesuaian dengan akal budi, yang kelak akan menghilangkan karakter abstraknya dan beradaptasi dengan kesempurnaan hidup. Kita kemudian memahami mengapa konsep positivitas adalah pusat dari perspektif Hegelian.”

Apabila “positivitas” adalah sebutan, yang menurut Hyppolite, sang Hegel muda disematkan pada elemen historis—-berisikan tata aturan, ritus, dan institusi, yang ditanamkan kepada individu secara kekuatan eksternal, dan lantas menjadi, bisa dikatakan, terinternalisasi dalam sistem kepercayaan dan perasaan—lalu Foucault, dengan meminjam istilah ini (yang kelak akan disebut sebagai “aparatus”) mengambil posisi yang amat menentukan, yang sebenarnya juga masalah dirinya sendiri: relasi antara individu sebagai makhluk hidup dan elemen historis. Maksud “elemen historis,” pada pengertianku adalah seperangkat institusi, untuk menjalankan proses subjektivikasi, melalui pengaturan dimana relasi kuasa mewujud secara konkret. Tujuan utama Foucault bukanlah, selayaknya Hegel, merekonsiliasikan kedua elemen; bahkan tidak pula menitiktekankan pada konflik dari keduanya. Bagi Foucault, yang lebih menjadi perhatian ialah menginvestigasi mode konkret yang mana positivitas (atau aparatus) bertindak dalam relasi, mekanisme, dan “permainan” dari kuasa.

3.

Kiranya sudah terdapat gambaran jelas dari hipotesisku sebelumnya, bahwa “aparatus” merupakan istilah teknis yang esensial dalam pemikiran Foucault. Sesuatu yang menjadi titik tekan di sini bukanlah istilah partikular yang merujuk pada hal ini atau teknologi kekuasaan. Ini adalah istilah umum yang sama luasnya dengan istilah “positivitas”. Dalam strategi Foucault, aparatus datang untuk mengokupasi tempat yang secara kritis ia istilahkan sebagai “yang universal” (les universaux). Focault, seperti yang anda ketahui, selalu menolak untuk behubungan dengan suatu satuan umum atau kontruksi mental yang ia sebut “yang universal”, seperti tatanan, pemerintahan, hukum, dan kekuatan. Namun hal ini tak berarti tidak terdapat konsep operatif dari karakter umum tersebut dalam pemikirannya. Aparatus, pada faktanya, mengambil tempat sebagai yang universal dalam strategi Foucauldian: tidak hanya tindakan polisi, atau sebatas teknologi kekuasaan semata, dan bahkan juga tidak diperoleh berdasarkan abstraksinya. Lebih tepatnya, seperti halnya yang ia nyatakan pada 1977, aparatus adalah “jaringan” yang terbangun antara elemen-elemennya.

Sekarang, apabila kita mencoba menguji definisi dari “aparatus” yang dapat kita temukan dalam kamus bahasa Perancis pada umumnya, kita dapat melihat tiga makna terpisah dari istilah tersebut:

  1. Pengertian ketat secara yuridis: “aparatus adalah bagian dari pertimbangan yang memuat keputusan yang terpisah dari opini.” Adalah keputusan yang ditetapkan, atau klausal hukum yang berlaku.
  2. Makna secara teknologis: Cara kerja dari sebuah mesin atau mekanisme serta, dengan perluasan, mekanisme itu sendiri diatur
  3. Penggunaan secara militer: Sejumlah cara yang diatur secara konformitas dengan rencana.

Dalam beberapa peristiwa, tiga dari definisi tersebut hadir pada Foucault. Namun kamus pada umumnya, secara partikular memiliki karakter historis-etimologis yang tidak memadai, membagi dan memisahkan istilah tersebut dalam beragam pemaknaan. Kendati begitu, fragmentasi tersebut secara umum terkorespondensi dengan perkembangan sejarah dan artikulasi dari makna sesungguhnya lah yang harus terus kita pantau. Apakah makna sesungguhnya dari istilah “aparatus”? Istilah ini secara khusus merujuk, dalam penggunaannya secara umum bagi Foucauldian, pada serangkaian praktik dan mekanisme (baik lingustik dan non-linguistik, hukum, teknis, dan militer) yang bertujuan menghadapi kebutuhan darurat serta untuk menghasilkan efek yang lebih kurang langsung. Namun, dari strategi praktik dan pemikiran apa, konteks historis apa, istilah baru itu berasal?

4.

Setelah tiga tahun berlalu, saya merasa semakin terlibat dalam sebuah investigasi yang akan segera menemui titik rampung, sesuatu yang mana saya dapat definisikan sebagai genelogi teologis dari ekonomi. Pada abad permulaan dari sejarah gereja—katakanlah, antara abad dua dan enam masehi—Istilah bahasa Yunani oikonomia telah mengembangkan fungsi teologis yang menentukan. Di Yunani, oikonomia merujuk pada administrasi dari oikos (rumah) dan, secara lebih umum, manajemen. Sesuatu yang kita hadapi di sini, seperti yang pernah Aristoteles katakan (Politics 1255b21), bukan melalui paradigma epistemis, namun melalui praksis, melalui aktivitas praktis yang harus menghadapi sebuah permasalahan dan situasi tertentu setiap saat. Lantas, kenapa para Pendeta dari Gereja kemudian merasa butuh untuk memperkenalkan istilah ini dalam diskursus teologis? Bagaimana mereka sampai pada pembicaraan tentang “ekonomi ketuhanan”?

Sesuatu yang menjadi persoalan di sini, lebih perisisnya, adalah permasalahan yang sulit dan vital, barangkali juga adalah pertanyaan yang amat menentukan dalam sejarah Teologi Kristen: Trinitas. Saat para Pendeta Gereja mulai memperdebatkan tentang tiga sosok sang Ilahi  pada abad ke dua Masehi (Sang Ayah, Sang Ibu, dan Sang Roh Kudus), kala itu,  seperti yang dapat seseorang bayangkan, penentangan yang sangat kuat dari kalangan rasional dari Gereja yang merasa ngeri akan kemungkinan untuk diperkenalkannya kembali Politeisme dan Paganime dalam kepercayaan Kristen. Demi menyadarkan musuhnya yang keras kepala itu (mereka yang kelak akan disebut “monarchians”, promoter dari pemerintahan ber-Tuhan Esa), teologian seperti Tertullian, Irenaeus, Hippolytus, dan yang lainnnya, tidak dapat menemukan istilah yang lebih baik untuk melayani kebutuhan mereka selain dari istilah oikonomia dalam bahasa Yunani. Argumen mereka berbunyi seperti ini: “Tuhan, sejauh keberadaan dan substansinya yang bersangkutan, adalah satu; namun sebagaimana oikonomia—selayaknya cara ia menglola rumah, hidup, dan dunia yang ia ciptakan—ia, mengwujud tiga. Sebagaimana ayah yang baik mampu mempercayakan kepada anaknya eksekusi dari fungsi dan tugas tertentu tanpa kehilangan kekuatan dan kesatuannya. Dengan begitu Tuhan mempercayakan kepada Kristus “ekonomi”, administrasi, dan pemerintahan atas sejarah manusia. Oikonomia dengan begitu menjadi istilah yang dikhususkan merujuk secara partikular inkarnasi dari sang Anak, bersamaan dengan ekonomi pembebasan dan keselamatan (inilah kenapa pada sekte Gnostik, Kristus dijuluki “Manusia ekonomi,” ho anthrōpos tēs oikonomias). Para Teolog perlahan mulai terbiasa untuk memisahkan antara “diskursus—atau logos—dari teologi” dan “logos dari ekonomi”. Oikonomia kemudian menjadi aparatus lewat dogma Trinitarian dan ide tentang pemerintahan dunia yang makmur diperkenalkan dalam kepercayaan Kristen.

Namun, seperti yang acap kali terjadi, patahan yang berusaha dihindari oleh para Teolog melalui pemisahannya dengan keberadaan Tuhan, muncul kembali dalam bentuk penggalan yang memisahkan keberadaan-Nya dan tindakan, ontologi dan praksis, Tindakan (ekonomi, namun juga politik) tidak memiliki pendasaran dari keberadaan-Nya: ini adalah skizofrenia bahwa doktrin teologis oikonomia ditinggalkan sebagai warisan kebudayaan Barat.

5.

Saya pikir bahkan sejak permulaan eksposisi ringkas ini, kita dapat mencatat keterpusatan dan pentingnya gagasan oikonomia sebagaimana dipertunjukan dalam teologi Kristen. Sesudah pada Clement dari Allexandria, oikonomia dipersatukan dengan gagasan Pemeliharaan dan mulai menyatakan suatu ide pemerintahan pembebasan dunia dan sejarah manusia. Sekarang, apakah terjemahan dari istilah fundamental bahasa Yunani ini dalam akar bahasa Latin? Dispositia.

Istilah bahasa Latin dispoistia, asal dari istilah bahasa Perancis dispositif, datang untuk mengisi tempat dalam kemajemukan makna teologis oikonomia. ’Dispositif”, yang dibicarakan oleh Foucault memiliki keterkaitan dengan peninggalan teologis ini. Mereka dapat dilacak kembali jejak patahan pemisahnya, dan di saat bersamaan, diartikulasikan dalam keberadaan Tuhan dan praksis, antara alam atau esensi pada satu sisi lainnya, serta pengoperasian pengelolaan dan pemerintahan yang dilalukan Tuhan atas dunia ciptaan-Nya sendiri pada sisi yang lain. Istilah “aparatus” merujuk dimana dan manakala, seseorang menyadari aktivitas murni dari pemerintahan tidaklah memiliki fondasi apapun. Inilah kenapa aparatus selalu berimplikasi pada subjektivikasi, dengan kata lain, membentuk subjek mereka sendiri.

Makna yang lebih sarat dan menentukan akan diperoleh ketika menerangkan genealogi teologis Focauldian ini, semenjak persilangan mereka tak hanya menyangkut sesuatu yang disebut oleh Hegel sebagai “positivitas, namun juga dengan sesuatu yang kemudian oleh Heidegger disebut Gestell (yang memiliki kesamaan sudut pandang etimologis dengan dis-positio, dis-ponere, seperti halnya dalam bahasa Jerman stellen yang berkorespondensi dengan bahasa Latin ponere). Ketika Heidegger, dalam Die Technik und die Kehre (The Question Concerning Technology), menuliskan Ge-stell dalam pemakaian maknanya secara umum merujuk pada aparatus (Gerät), akan tetapi yang ia maksudkan dari istilah ini adalah “Bertemunya sekumpulan instalasi [Stellen] yang menginstalasikan manusia, adalah untuk menyatakan, tantangan pada dirinya untuk mengekspos sisi sebenarnya dari mode pemerintahan [Bestellen],” kedekatan istilah ini dengan istilah teologis dispositio, juga pada istilah aparatus-nya Foucault, menjadi bukti yang jelas. Sesuatu yang tak asing dari ketiga istilah ini adalah mereka merujuk kembali kepada oikonomia, yakni, serangkaian praktik, sekumpulan ilmu pengetahuan, tindakan, dan institusi yang bertujuan untuk mengatur, memerintah, mengontrol, dan mengarahkan— dengan menggunakan cara tertentu yang dimaksudkan agar menjadikannya berguna—perilaku, gestur, dan pemikiran dari manusia.

6.

Salah satu prinsip metodologis yang terus saya taati dalam investigasi adalah mengidentifikasi teks dan konteks dari karya yang saya kerjakan yang oleh Feuerbach sebut dengan elemen filosofis, yang berarti, pokok dari Entwicklungsfähigkeit (secara harfiah, kapasitas untuk dikembangkan), sebuah lokus dan momen dimana mereka mempan terhadap pengembangan. Kapan pun kita berusaha untuk menginterpretasikan dan mengembangkan teks dari seorang penulis dengan cara demikian, akan datang saat ketika kita sadar akan suatu ketidakmampuan untuk melakukannya lebih jauh lagi tanpa berbenturan dengan aturan mendasar dari hermeneutika. Ini berarti pengembangan akan sebuah teks dihadapkan pada permasalahan ketidakmenentuan yang dimana tidak mungkin untuk memisahkan penulis dengan penafsirnya. Meskipun ini adalah momen khusus yang menggembirakan bagi seorang penafsir, karena ia mengetahui ini adalah waktunya untuk memutuskan teks yang ia analisis dan membiarkan berjalan dengan sendirinya.

Karena itu saya mengajak anda untuk memutuskan konteks dari filologi Foucauldian lalu beranjak untuk mensituasikan paratus pada konteks barunya.

Sesuatu yang ingin saya maksudkan pada anda tidak lebih dari melakukan pembagian dua keberadaan secara umum dan masif pada dua grup atau kelas besar berbeda; makhluk hidup, di satu sisi (atau substansi), dan pada sisi lainnya, aparatus, dimana makhluk hidup terus-menerus tertangkap. Kemudian, pada satu sisi, apabila kembali pada istilah para teolog; terdapat ontologi dari makhluk hidup, lalu pada sisi lainnya lagi, aparatus oiokonomia yang berusaha untuk memerintah dan mengatur mereka ke arah yang dikehendaki.

Dengan perluasan lebih lanjut dua kelas besar aparatus dari Foucauldian, saya akan menyebut aparatus secara harfiah sebagai apapun yang berkapasitas untuk menangkap, mengarahkan, menentukan, mengintersepsi, mencontohkan, mengontrol atau mempertanggungkan gerak tubuh, perilaku, opini, ataupun diskursus dari makhluk hidup. Karena itu bukan saja, penjara, rumah sakit jiwa, panoptikon, sekolah, pengakuan, pabrik, aturan, tindakan hukum, dan sebagainya (yang mana hubungannya dengan kekuasaan jelas merujuk pada suatu hal tertentu), namun juga pena, tulisan, literatur, filsafat, agrikultur, rokok, navigasi, komputer, telepon genggam dan—kenapa tidak— bahasa itu sendiri, yang mana barangkali adalah aparatus paling kuno—seseorang yang beribu-ribu tahun lalu adalah primata telah secara tidak sengaja membiarkan dirinya tertangkap, barangkali tanpa menyadari konsekuensi yang akan ia hadapi.

Demi mengikhtisarkan, kita memiliki dua kelas besar, makhluk hidup (atau substansi) dan aparatus. Lalu, di antara keduanya, terdapat kelas ketiga, subjek. Saya menyebut subjek sebagai hasil dari relasi dan, boleh dikatakan, dari pertarungan tanpa henti antara makhluk hidup dan aparatus. Secara alamiah, substansi dan subjek, sebagaimana pada metafisika kuno, nampak saling tumpang tindih, namun tidak seutuhnya. Dalam pengertian ini, sebagai contohnya, individu yang sama, substansi yang sama, dapat ditempatkan pada beragam proses subjektivikasi: pengguna telepon genggam, pengunjung web, dan penulis cerita, penari tango, aktivis anti-globalisasi, dan lain sebagainya. Pertumbuhan tak terhingga dari aparatus dewasa ini berkorespondensi penyebaran proses subjektivikasi secara ekstrem. Barangkali hal tersebut menciptakan kesan bahwa dewasa ini, kategori subjektivitas tengah dalam posisi meragukan dan kehilangan konsistensinya; namun yang patut diperhatikan; secara lebih rinci, hal ini bukanlah suatu penghapusan ataupun pelemahan, melainkan berupa penyebaran, yang mendeorong secara ekstrem proses penyamaran atas identitas diri.

7.

Barangkali tidaklah menjadi sesuatu yang salah untuk mendefinsikan fase ekstrem dari perkembangan kapitalis dimana kita hidup sebagai akumulasi masif dan perkembangbiakan dari aparatus. Jelas semenjak kemunculan pertama dari Homo sapiens, telah terdapat aparatus, namun dapat kita katakan bahwa hari ini tidak terdapat satu saat pun dalam hidup manusia yang tidak dirancang, dicampuri, dan dikontrol oleh aparatus. Lantas, dengan cara apa kita dapat menghadapi situasi seperti ini, strategi apa yang harus kita lakukan dalam hari-hari perjuangan sehari-hari kita melawan aparatus? Sesuatu yang kita cari bukanlah untuk menghancurkannya, tidak pula, menyarankan secara naif, untuk mempergunakannya secara arif.

Sebagai contoh, saya tinggal di Italia, negara yang dimana gestur dan perilaku dari seseorang telah mengalami pembentukan ulang dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh telepon genggam (orang Italia menyebutnya dengan sebutan telefonino). Saya telah menumbuhkan suatu kebencian yang keras kepala terhadap aparatus ini, yang membuat semua hubungan antar manusia menjadi jauh lebih abstrak. Meskipun saya sering bertanya kepada diri sendiri bagaimana caranya menonaktfikan telefonini itu, seperti halnya bagaimana cara untuk mengeliminasi atau setidaknya menghukum dan membebaskan mereka yang tiada henti untuk memakainya, saya tidak mempercayai bahwa ini adalah solusi yang tepat.

Faktanya apabila merujuk pada semua indikasinya, manusia tidaklah tertangkap oleh suatu aparatus hanya secara kebetulan, melainkan mengakar sampai pada proses “pemanusiaan” yang membentuk “manusia” di luar daripada klasifikasi hewan yang kita sebut Homo sapiens. Pada faktanya, peristiwa yang memproduksi seorang manusia, sebagai makhluk hidup, kurang lebih adalah divisi, yang dalam beberapa cara mereproduksi divisi yang semenjak Tuhan diperkenalkan dalam oikonomia berada di antara makhluk dan tindakannya. Divisi ini memisahkan makhluk hidup dengan dirinya sendiri dan hubunganya secara langsung dengan lingkungan—yakni, sesuatu yang oleh Jakob von Uesküll dan Heidegger sebut sebagai lingkaran reseptor-inhibitor. Untuk menghancurkan atau menginterupsi hubungan yang memproduksi makhluk hidup ini selain melalui Kejemuan— yakni, kapasitas untuk melakukan penundaan hubungan langsung dengan disinhibitornya—dan juga melalui Penyingkapan, yakni kemungkinan untuk mengetahui keberadaannya sendiri, dengan mengonstruksikan dunia. Namun, berbarengan dengan kemungkinan-kemungkinan tersebut, kita juga mesti langsung memperhitungkan gangguan yang datang dari aparatus melalui instrumen, gawai, macam-macam benda, dan beragam teknologi. Melalui perantara beragam aparatus, manusia mencoba untuk meniadakan perlaku kebinatangan yang sekarang telah dipisahkan darinya. Pada akar setiap aparatus juga terdapat hasrat kesenangan manusia. Penangkapan dan subjektivikasi daripada hasrat pada suatu lingkup tersendiri merupakan bentuk kuasa tertentu dari aparatus.

8.

Semua ini berarti bahwa strategi yang harus kita pergunakan dalam perjuangan melawan aparatus tidaklah hanya satu. Ini karena kita berhubungan dengan pembebasan akan sesuatu yang masih tertangkap dan terpisah oleh aparatus, demi mengembalikannya pada penggunaan semulanya. Perspektif yang akan kubicarakan adalah sebuah konsep yang dapat berkerja menurut pengalaman yang baru saja kualami. Saya merujuk pada istilah yang berasal dari istilah hukum dan agama Romawi (hukum dan agama memiliki keterkaitan yang erat, tak hanya di Romawi kuno): profanasi.

Menurut hukum Romawi, benda yang dalam beberapa hal berhubungan dengan tuhan dianggap sakral atau religius. Dengan demikian, benda-benda ini tidak dipergunakan secara bebas dan diperdagangkan antar manusia, mereka tidak diperbolehkan untuk dijual atau diberikan sebagai jaminan, maupun diserahkan  hanya untuk kesenangan orang lain ataupun bentuk penghambaan. Asusila adalah tindakan yang menciderai atau melanggar kesucian tertentu dari benda-benda tersebut, yang hanya disediakan untuk makhluk surgawi (dan karenanya disebut  “sakral”) atau untuk makhluk dari dunia lain (dalam hal ini, mereka memberikan sebutan “religius”). Sementara “menguduskan” (sancture), adalah istilah merujuk pada sesuatu yang berada di luar hukum dari manusia, “mem-profan-kan” merujuk hal yang sebaliknya, untuk mengembalikan suatu benda pada penggunaan semulanya oleh manusia. “Profan” seperti halnya yang ditulis oleh Trebatius sang ahli hukum terkemuka “dalam pengertiannya yang sejati, adalah apabila benda suci atau religius, dikembalikan penggunaan asalnya sebagai properti dari manusia.”

Dari perspektif ini, seseorang dapat mendefinisikan religius sebagai pemisahan benda, tempat, hewan, ataupun seseorang dari tempat asalnya dan memindahkannya pada suatu lingkup terpisah. Bukan hanya tidak akan adanya agama tanpa pemisahan, namun juga setiap pemisahan mengandung dan menjaga pada dirinya sendiri inti kepercayaan hakikinya. Aparatus yang mengaktifkan dan mengatur pemisahan adalah pengorbanan. Melalui serangkaian ritual dari beragam kebudayaan berbeda (yang telah diinventarisasi dengan sabar oleh Henri Hubert dan Marcel Mauss) pengorbanan selalu menjadi cara untuk mengukuhkan kedudukan suatu benda dari profan menjadi sakral, dari lingkup manusia menuju lingkup ketuhanan. Namun, sesuatu yang kedudukannya telah dipisahkan oleh ritual, dapat kembali direstorasi pada lingkup profannya. Profanasi adalah kontra aparatus yang merestorasi penggunaan semula suatu benda yang telah terbagi dan dipisahkan oleh suatu pengorbanan.

9.

Dari perspektif ini, kapitalisme dan bentuk kekuasaan modern lainnya tampak berusaha untuk menggeneralisasi dan mendorong proses pemisahan melalui agama pada titik ekstrem. Apabila kita menimbang sekali lagi genealogi teologis dari aparatus yang sudah saya telusuri di atas (genealogi yang berhubungan dengan paradigma oikonomia dari agama Kristen, yang dapat dikatakan, sebuah pemerintahan ketuhanan atas dunia), kita kemudian dapat menyaksikan bahwa aparatus modern berbeda dari aparatus tradisional pendahulunya sehingga usaha-usaha untuk memprofanasikannya menghadapi problematika tertentu. Tentu saja, setiap aparatus berimplikasi pada proses subjektivikasi, yang tanpanya fungsi pemerintahan tidak akan berjalan, namun ini direduksi menjadi sebatas melalui kekerasan saja. Pada dasarnya, Foucault mendemonstrasikan bagaimana, pada tatanan yang terdisiplinkan. Aparatus bertujuan menciptakan—melalui serangkaian praktik, wacana, dan seperangkat ilmu pengetahuan—kepatuhan, namun juga kebebasan, tubuh mengasumsikan identias mereka adalah “kebebasan” sebagai subjek dalam proses desubjektivikasinya. Aparatus, oleh karena itu, adalah mesin pertama yang memproduksi subjektivikasi, yang juga merupakan mesin pemerintahan. Contoh dari kasus pengakuan barangkali dapat menjelaskan permasalahan secara lebih dekat: pembagian keduanya dalam formasi subjektivitas Barat, dengan demikian, menguasai dan mengatur seseorang, tidak dapat dipisahkan dari aktivitas aparatus penebusan dosa seratus tahun lalu—aparatus yang merupakan Aku baru yang dikonstitusikan melalui negasi, dan di saat bersamaan, mengasumsikannya sebagai Aku yang lama. Oleh karena itu, pemisahan subjek yang dipertunjukan oleh aparatus penebusan dosa mengakibatkan, produksi daripada subjek baru, yang seakan telah menemukan kebenaran hakiki dan lepas dari kebohongan melalui penolakan atas Aku yang berdosa. Pertimbangan lain dapat dibuat dengan mengambil suatu analogi lainnya tentang aparatus penjara: ini adalah aparatus yang memproduksi, kurang lebih, konsekuensi-konsekuensi tak terduga, yang membentuk subjek pada diri para penjahat, yang kelak akan menjadi subjek yang baru—dan, kali ini, melalui kalkulasi sempurna—-teknik-teknik pemerintahan.

Sesuatu yang mendefinisikan aparatus yang kita hadapi pada fase kapitalisme lanjut sekarang ini adalah mereka tak lagi banyak bertindak memproduksi subjek, melalui sebuah proses yang disebut desubjektivikasi. Momen pembentukan subjek senantiasa implisit dalam setiap proses subjektivikasi. Seperti halnya sudah kita saksikan, pertaubatan diri hanya dapat dibentuk melalui negasi atas dirinya sendiri. Namun kali ini yang kita saksikan adalah proses subjektivikasi dan proses dari desubjektivikasi nampak tidak berbeda satu sama lain, dan karenannya mereka tidak menimbulkan rekomposisi dari subjek baru, kecuali dalam wujudnya yang tak jelas, dengan kata lain, berwujud spektral. Pada saat subjek diliputi kebohongan, di saat itu pula kebenaran dirinya sendiri tak lagi dipertaruhkan. Ia yang membiarkan dirinya tertangkap oleh aparatus “telepon genggam”—berapapun intensitas keinginan yang mendorongnya—tidak dapat memunculkan subjektivitas baru, namun hanya beberapa hal saja, yang pada akhirnya, mampu untuk mengontrolnya. Penonton yang menghabiskan sore harinya di depan televisi mendapatkan, sebagai ganti atas desubjektivikasi yang dialaminya, topeng frustrasi dari seorang pemalas, atau penyertaanya dalam kalkulasi jumlah rating penonton.

Di sini terdapat sebentuk kesian-siaan dari wacana pengunaan teknologi secara tepat guna, yang menegaskan bahwa probelm dari aparatus dapat diredeuksi melalui penggunaannya secara benar. Mereka yang membuat klaim tersebut agaknya mengabaikan sebuah fakta sederhana: Apabila proses tertentu dari subjektivikasi (atau, dalam kasus ini, desubjektivikasi) berkorespondensi dengan aparatus apapun, maka adalah tidak mungkin bagi subjek dari aparatus untuk menggunakannya “dengan cara yang benar”. Mereka yang masih saja mengutarakan argumen yang sama, mereka, telah menjadi produk dari aparatus media yang telah menangkap mereka.

10.

Masyarakat kontemporer karenanya menampakan diri mereka sebagai tubuh malas yang menuju pada suatu proses desubjektivikasi masif tanpa sedikitpun mengakui  subjektivikasi sejati. Karenanya, pemudaran dari politik, yang mengandaikan suatu eksistensi subjek dan identitas asli (gerakan pekerja, borjuis, dan semacamanya), dan kemenangan dari oikonomia, berarti, aktivitas murni dari pemerintahan bertujuan tak lain untuk menciptakan replikasinya sendiri. Kanan dan Kiri, yang pada hari ini secara bergantian mengelola kekuasaan, hanya memiliki sangat sedikit alasan berkenaan dengan lingkup politik mereka berasal. Mereka tak lebih hanyalah nama dari dua kutub—yang pertama menunjukkan rasa tidak keberatan dengan proses desubjektivikasi, sedangkan yang kedua memilih bersembunyi di belakang topeng kemunafikan yang mengatasnamakan demokrasi rakyat yang baik—dari mesin pemerintahan yang sama.

Ini, di atas semua hal tersebut, adalah sumber dari ketidaknyamanan yang ganjil akan kekuasaan pada era dimana tatanan sosial paling patuh dan pengecut dalam sejarah manusia harus menghadapinya. Ini hanyalah sebuah paradoks yang tampak ketika masyarakat postindustrial yang tidak berbahaya (the Bloom, sebagaimana julukan efektif yang ia sematkan), yang selalu melakukan hal apa saja yang diperintahkannya, sebagaimana ia memasrahkan gerak keseharian dan kesehatannya, hiburan dan kedudukannya, makanan dan hasratnya, untuk dibiarkan diatur sampai detail terkecilnya oleh aparatus, yang juga berarti oleh kekuasaan—secara khusus barangkali disebabkan— adanya potensi kejatahan. Sementara norma Eropa baru memaksakan aparatus biometrik pada seluruh warganya melalui pengembangan dan penyempurnaan teknologi antropometrik yang telah ditemukan sejak abad sembilan belas demi mengidentifikasi kebiasaan para penjahat (dari mug shot hingga sidik jari), pengawasan oleh kamera video telah merubah kota sebagai ruang publik menjadi sebuah kungkungan penjara yang amat besar. Di mata sebuah otoritas—tak seorang pun yang tak tampak sebagai teroris.

Semakin banyak aparatus yang meliputi dan disebarkan pada setiap ranah kehidupan, kekuasaan pun akan semakin menemukan dirinya berhadapan dengan elemen yang sukar untuk dipahami, dan cenderung semakin terlepas dari genggamannya semakin ia berusaha untuk menundukkan nya. Hal ini tidak lantas dimaksudkan bahwa elemen tersebut terdiri atas subjek revolusioner pada dirinya sendiri. Tidak pula itu dapat menghentikan atau bahkan mengancam keberlangsungan mesin pemerintahan. Ketimbang memproklamasikan sebuah akhir dari sejarah, kita, pada faktanya, tak henti-hentinya menyaksikan gerakan tak tentu arah dari mesin ini, yang, adalah semcam parodi kolosal dari oikonomia teologis, yang mengasumsikan sebuah pemerintahan makmur di muka bumi; sementara alih-alih membebaskan dunia kita, mesin ini (sesuai dengan pekerjaan hakiki dari Tuhan) telah membawa kita pada suatu katastrofi. Permasalahan untuk memprofanasikan aparatus, berarti, melakukan pemulihan pada sesuatu yang sudah tertangkap dan dipisahkan oleh nya—ialah, menurut argumen ini, adalah hal yang paling mendesak. Namun permasalahan ini tidak dapat diatasi dengan baik selama mereka yang masih terikat dengannya tidak mampu untuk sama sekali meingtervensi proses subjektivikasinya sendiri, lebih dari aparatus mereka, demi untuk memunculkan Yang tak Terkendalikan, yang merupakan awal juga, di saat bersamaan, adalah titik lenyap dari setiap politik.

 

Catatan:

(Tulisan ini diterjemahkan oleh Ahmad Thariq ke dalam bahasa Indonesia dari buku karya Giorgio Agamben, What Is An Apparatus? and Other Essays, terbitan Stanford University Press, tahun 2009).

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Ahmad Thariq

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah, Universitas Pendidikan Indonesia, bergiat di Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK), dan Front Nadhliyin untuk Keadulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA)

No Comments

Post A Comment