Metaruang | “Dilan jangan melawan, berat. Biar Aliansi Pelajar Bandung saja.”
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16688
post-template-default,single,single-post,postid-16688,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

“Dilan jangan melawan, berat. Biar Aliansi Pelajar Bandung saja.”

Waktu menunjukan pukul 4 sore. Para siswa-siswi membawa perangkat aksi berupa pengeras suara, gitar, spanduk, kahon dan poster. Mereka membentangkan spanduk dan poster tuntutan di atas trotoar. Tulisan di spanduk dan poster tuntutan itu berisi: “Stop Diskriminasi Di Sekolah!”, “Tolak Pendidikan Mahal!”, “Stop Penggusuran Di Kota Bandung yang Katanya Ramah HAM!”.

Syahrul Setiawan, salah satu peserta aksi, tampak mengenakan kaca mata hitam dan memegang pengeras suara. Meski agak malu-malu, ia berorasi di hadapan pengguna jalan. “Selamat sore warga Bandung. Seperti kalian ketahui pendidikan saat ini belum menyejahterakan kaum miskin. Tiap tahun biaya pendidikan makin mahal, penyandang disabilitas susah mencari sekolah. Lalu, di manakah posisi pendidikan?” kata Syahrul sembari membuka kegiatan Aksi Suara Pelajar, pada Jum’at 2 Februari 2018.

Mereka membawa gitar dan kahon ke depan barisan massa aksi. Menyanyikan lagu Bunga dan Tembok dari Fajar Merah. Bahkan pertunjukan teatrikal menjadi penutup dari rangkaian aksi sore itu.

Sore itu, gerimis perlahan turun membasahi Alun-Alun Kota Bandung. Para polisi yang mengawasi jalannya aksi bergegas pergi sementara para jurnalis masih sibuk memasukan kamera ke dalam tas kecil.

Sebagai catatan, Aksi Suara Pelajar sudah mengalami dua kali pembubaran oleh pihak Satpol PP, pada 5 Januari 2018 dan 12 Januari 2018.

“Dengan modal nekat kami berangkat atas kesepakatan bersama. Karena ingin berkampanye di pusat keramaian kota sambil berlatih mental. Seperti diketahui di Alun-alun memang banyak Satpol PP dan Polisi,” tandas Syahrul saat dihubungi via whatsapp.

Pada minggu kedua, tepatnya pada 5 Januari, mereka melakukan aksi seperti biasa di Alun-Alun Kota Bandung. Dua orang Satpol PP terkejut. Mereka kemudian menghubungi komandannya melalui ponsel, memberitahukan bahwa ada kegiatan aksi dari APB. Sebelum Komandan datang, dua orang Satpol PP menanyakan perihal izin aksi dan siapa penanggungjawabnya.

Dengan tegas, Syahrul menjawab, “Cuma kampanye (mengenang pelanggaran HAM, -red), pak. Tidak ada tuntutan apapun. Kami juga tidak turun ke jalan (longmarch, red) jadi sans. Lagipula, ini ‘kan negara demokrasi.”

Tanpa basa-basi, Satpol PP mengusir mereka dengan alasan pihaknya telah ditegur oleh Pendopo—rumah dinas Walikota Bandung, sebab walikota akan melintasi jalan Asia-Afrika. Alasan Satpol PP membubarkan kegiatan tersebut, menurut Syahrul tidaklah masuk akal. Karena merasa terancam, mereka (APB) membubarkan diri dari lokasi.

Bagi mereka, apratus negara yang represif adalah hal yang biasa dalam perjuangan. Seperti apa yang dikatakan Joe, satu anggota dari APB yang lainnya, “Jika mengalah, malahan suara kebenaran akan mati. Apapun resikonya, kami akan melawan hingga titik darah penghabisan.”

Resah karena kesenjangan sosial

Untuk melawan hegemoni pengetahuan yang bersifat kapitalistik dan mencari pendidikan alternatif, Aliansi Pelajar Bandung rutin mengadakan kegiatan Reading Book setiap Sabtu pukul dua siang di Kebon Jeruk. Membaca buku-buku wacana kritis dan berdiskusi, merupakan cara mereka melatih kemampuan berpikir. Selain itu, mereka giat bersolidaritas ke titik-titik konflik: Dago Elos, Tamansari, dan Kebon Jeruk. Dengan bersolidaritas mereka dapat mengamati kondisi sosial yang terjadi di sekelilignya, hal yang tidak mungkin ada dalam kurikulum pendidikan versi pemerintah.

4 Desember 2017 menjadi awal mula Aliansi Pelajar Bandung (APB) melakukan aksi solidaritas untuk mengumpulkan donasi dan kampanye ke beberapa kampus di Bandung terkait penolakan berdirinya bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo. Kampus UNPAS, UPI, UIN Sunan Gunug Jati, UNISBA, ISBI, dan Telkom University menjadi saksi bisu bagaimana Aliansi Pelajar Bandung menagih peran Mahasiswa yang katanya agen perubahan.

Aliansi Pelajar Bandung digawangi oleh Joe, Edward, Syahrul, Fadli, Eki, Yujeng, Rokky, Monita, Aulia, Azis, Fakhrul, Fajar, Fahmi, Aura dan lainnya. Mereka sadar, kondisi negrinya sedang tidak baik-baik saja. Oleh karenanya mereka resah akan kondisi pendidikan serta isu akar rumput saat ini. Mereka memanfaatkan ruang publik. Misal, memegang spanduk kampanye,  poster tuntutan dan berorasi pada Aksi Suara Pelajar agar pelajar lainnya ikut tergerak

“Kami sangat menyayangkan, pemerintah turut berperan menumpulkan daya kritis pelajar/mahasiswa. Kami pernah mendapatkan banner yang berisi Mahasiswa Dilarang Kritis dan Kritis itu Haram,” keluh Syahrul mengenai kondisi pendidikan saat ini.

25 Januari 2018, film ‘Dilan 1990’ resmi dirilis serentak di seluruh bioskop Indonesia. Film tersebut diadaptasi dari buku ‘Dilan 1990’, dengan judul yang sama, karangan Pidi Baiq. Diperankan oleh Muhammad Iqbal Ramadhan (Dilan) dan Vanessa Prescilla (Milea), film itu berhasil merebut perhatian jutaan pasang mata yang haus akan kisah roman picisan.

Namun, tokoh fiksi Dilan yang hidup dalam cengkraman rezim Orde Baru, Soeharto, dididik oleh film propaganda G30S/PKI, Janur Koening dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP)—sekarang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN)—apakah mampu melakukan hal yang sama dengan Aliansi Pelajar Bandung kini? Mungkin, jawabannya bisa jadi bernada seperti ini: “Dilan jangan melawan, itu berat. Biar Aliansi Pelajar Bandung saja.”

Dokumentasi: Rinaldi Fitra Riandi

 

No Comments

Post A Comment