Metaruang | Dosa Asali
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17136
post-template-default,single,single-post,postid-17136,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Dosa Asali

BAGAIMANA para bayi jatuh, masuk rahim ibu dan menangis?

Berpuluh unggas kahyangan menerima titah Tuhan untuk menjatuhkan bayi-bayi ke bumi. Para bayi hendak menemui kehidupan baru yang suci, tentunya menurut manusia sok tahu yang tinggal di bumi. Manusia bilang, bayi-bayi itu murni dan kosong, tak tahu apa-apa.

Padahal, siapa yang sangka? Para bayi dilemparkan ke tempat-tempat yang bukan keinginan mereka. Kadang malah berakhir di tempat sampah atau di kakus. Kadang terombang-ambing jauh hingga nyaris mampus.

Mereka bukan menjalani kehidupan dari nol, melainkan kembali ke neraka. Para bayi mungkin berpikir, jadi ruh tanpa jasad lebih baik daripada kembali hidup setelah mengalami pencucian dosa asali berulang kali. Namun, bukan kemampuan mereka untuk berkompromi. Mereka perlu bersiap mendarat di landasan.

Saat unggas kahyangan melepas kantung bayi dari jepitan paruh panjangnya, sesungguhnya para bayi telah memulai hidup dengan membawa peta lampau. Mereka harus menebus dosa. Mengulang hidup. Ini semua tentunya karena suatu kesalahan yang membuat para bayi menanggung dosa leluhur.

Para bayi sudah pasrah ketika mereka menunggu masa ditiupkannya ruh kepada jasad-jasad mereka yang hendak terlahir. Mereka menghitung, melihat perpanjangan waktu. Mereka mencoba untuk bernegosiasi yang terakhir kalinya dengan para pengantar ruh.

“Bisakah aku terlahir dan langsung mati?”

“Bisakah aku hanya hidup sepuluh tahun?”

“Bisakah aku…”

Namun, para pengantar ruh dan unggas hanya terus diam, mengepakkan sayap. Mereka kadang berbisik, “Ini bukan kuasa Kami.”

Bisikan itu semakin menggema. Di dunia, di dinding-dinding rahim ibu, ketika ruh itu hendak tertiup, bisikan semakin keras. Hasilnya, sang ibu berkontraksi dan bersiaplah para bayi mengalami amnesia atas dosa leluhur dan apa-apa yang mereka pernah ketahui di kahyangan sana. Lalu, mereka lahir dan keluarga baru mereka membangga-banggakan, menyanyikan kidung, mendoakan, bahkan tertawa bahagia. Namun, bayi-bayi selalu menangis. Itulah kali terakhir para bayi bisa mengingat jati dirinya.

Sebelum mereka lahir, mereka telah tahu bahwa mereka mengemban suatu tugas berat. Mereka harus melakukan penebusan dosa asali yang bahkan tak berwujud. Mereka coba menerka-nerka, harus melakukan apakah aku?

Akibat-akibat dosa asali membuat para bayi melemah, kekuatan alami terluka, dan harus menjalani hidup dengan kodrat manusia yang penuh keluh. Hal-hal baik dihapus, sebab itu adalah konsekuensi untuk membayar dosa. Para bayi kehilangan rahmat kekudusan dan empat berkat berupa; keabadian, janji dihilangkan penderitaan, pengetahuan akan para unggas yang menerima titah Tuhan, bahkan tertimpa konkupisensi. Sesungguhnya, tangisan keras kala para bayi lahir inilah bentuk tangis atas konkupisensi. Mereka tak mau mendapat sifat kecondongan jahat. Mereka ingin tetap berada di kahyangan dan terbang sebagai ruh yang melayang-layang bebas. Mereka ingin mengabdi, bebas berada di dekat Tuhan.

Namun, dosa leluhur tetaplah dosa. Mereka harus menanggung apa yang tak mereka lakukan. Mereka harus membayarnya seumur hidup hingga mereka bertemu takdir kematian. Padahal, bukan salah mereka. Padahal, mereka hanya ingin terus menjadi ruh, tidak bersatu dengan jasad yang telah ditiupi kecondongan jahat dan menghapus akal budi.

Seiring para bayi itu dewasa, mereka semakin lupa pada apa yang harus mereka pijak. Langkah menebus dosa dengan melempar para bayi ke tanah yang paling penuh dosa inilah tantangan sesungguhnya bagi para bayi. Dengan tertanamnya kecondongan jahat, para bayi belajar menebus dosa leluhur dengan menahan dosa badani dan tetap berpijak pada akal budi. Satu-satunya kecondongan pada kebaikan hanyalah akal budi yang bisa mereka gunakan untuk memutar pemikiran. Sisanya, tentu saja serahkan pada akal budi.

Terserah mau berguru ke mana. Ke barat, ke timur, dengan kitab apa. Akal budilah yang membuat para bayi bergerak tanpa mendengar konkupisensi yang bisa mengakar jadi dosa betulan. Perjalanan menuju penebusan dosa itu sesungguhnya harus dijalani oleh para bayi dengan sendirian, dengan kesedihan, dengan sadar atas kemampuan dan keyakinan masing-masing. Dipaksa orang lain, buat apa? Seharusnya bayi-bayi lain berjalan sendiri dan memikirkan dosa sendiri. Memikirkan dosa leluhur orang lain malah hanya akan memperburuk keadaan, bahkan menambah dosa pribadi. Dosa itu akan berlipatganda bagai bunga utang rentenir. Mengerikan dan membuat para bayi kemungkinan kembali ke bumi setelah mati, reinkarnasi jadi makhluk lain dengan daur hidup pendek.

Ada pula bayi yang membayar dosa dengan menjadi martir. Boleh saja itu, asal ingat-ingat untuk mati sendiri. Orang lain yang terkena amukan peledak si martir, tentu punya dosa leluhur sendiri yang harus ditebus. Jika semuanya mati bersama-sama, apa jadinya dosa orang lain yang belum tertebus ini? Kasihan sekali pasti. Mereka akan disucikan lagi dan dilempar kembali ke bumi hingga berkali-kali, hingga dosa-dosa tertebus–jika mungkin bisa. Sungguh rumit memang, tapi mau bagaimana lagi. Dosa tetap dosa, walau itu bukan berarti para bayi suci yang melakukannya. Mereka hanya menanggung kelakuan tak berbelas kasih dari masa hidup mereka sebelumnya.

Mereka tak bisa mengingat-ingat apa yang mereka lakukan sebelumnya. Mungkinkah membunuh, memerkosa, mencuri, atau menipu saudara? Tak ada visi lewat di hadapan mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah terus hidup untuk menebus dosa hingga mati nanti, tanpa tahu dosa apakah yang mereka tebus. Seperti sistem utang yang menyelubungi dirimu karena penipuan, padahal kau juga tak pernah memakan sepeser pun uang dari utang yang disebut-sebut milikmu itu.

Di samping menebus dosa leluhur, tambah lagi dosa semasa para bayi ini mulai hidup dan terus beranjak dewasa. Entah itu tujuh dosa besar, sepuluh pelanggaran pada kebajikan Tuhan, atau dosa-dosa lain yang tak terhitung jumlahnya. Bagaimana harus menjalani kehidupan untuk menebus dosa di kubangan dosa? Sulitnya memang minta ampun. Namun, sekali lagi, ini adalah konsekuensi dan para bayi tak bisa memilih untuk tak hidup. Apakah harus menyalahkan orang tua? Padahal orang tua pun berasal dari bayi, yang juga sedang dalam proses menebus dosa leluhur, jauh dalam lubuk hati mereka yang tidak diketahui dan tidak tersentuh. Ini seperti siklus yang begitu menyeramkan. Selalu berputar sama, tak ada ujung. Inilah kodrat manusia yang awalnya hanya jatuh dari paruh unggas-unggas kahyangan.

Seiring waktu, ada satu bayi yang telah menuju dewasa. Ia doyan mengeluh hebat. Ia merasa, hidup begitu monoton. Hidup begitu membosankan dan semuanya membuat dia depresi. Salah satu bayi ini, terus-terusan mengeluh hingga lelah. Ia malas hidup. Ia hanya mengurung diri dalam rumah, tetapi terus terjangkiti dosa. Entah dari mana asalnya dosa-dosa yang menumpuk bagai utang ini, ia juga tak tahu.

Suatu waktu, ia melihat benda berkilat-kilat dari pojok kamar mandi. Rupanya itu pelicin ubin. Baru dibeli ibu, bayi yang telah renta. Wangi pelicin itu macam pinus. Terlihat enak pula jika ditenggak.

Ditenggaknya setutup botol. Dalam waktu sepersekian detik, sang bayi yang hendak menuju dewasa ini, kejang-kejang. Ia susah berkata-kata. Mendadak, ia melihat sekelebat perjalanannya ke bumi, juga sekelebat kehidupan yang lampau. Ia melihat satu bayangan. Itulah pengantar ruh yang membawanya ke dunia pertama kali, sebut saja Pengantar X. Di detik-detik terakhir menuju kematian yang kosong, dengan kegelapan dalam, sang bayi tersenyum. Tak sama seperti ketika ia terlahir di dunia dan menangis karena menanggung dosa leluhur yang terus berputar bagai kincir raksasa. Ia bersyukur karena ia mendengar desas-desus yang bayi lain katakan.

“Saat kau akan bertemu mati, katanya kau bisa mengetahui jati dirimu sebelumnya,” ungkap bayi lain, teman sebaya si bayi pengeluh.

Namun, di detik-detik nostalgia itu, ia mendengar ibunya yang renta berteriak dan menangis. Ibunda menangis sebab melihat mulut si bayi pengeluh kesayangannya telah memproduksi busa wangi pinus.

***

Dalam kekosongan mutlak, Pengantar X datang dan menyapanya sambil tersenyum. “Sudah siap kembali?” gumamnya penuh wibawa.

Sang bayi berbahagia. Ia berdiri, melayang. Tepatnya dalam kehampaan mutlak itu ia merasa seperti kapas yang tak perlu bergerak melawan gravitasi. Ia pun berusaha bergumam-gumam tak jelas.

“Ya. Sejauh ini, tujuanku setelah mati tentu saja pulang bertemu Tuhan. Tidak perlu pakai bom, tidak perlu jadi martir. Cukup menikmati pelicin ubin wangi pinus,” ujarnya berkelakar. Sudah mati saja masih bisa berkelakar. Khawatir akan ditambah dosa lagi.

Pengantar X terkekeh, “Siapa bilang kau akan pulang ke Pencipta? Dosamu masih tujuh ratus juta kali lipat dari segunung dosa untuk kau tebus. Dengan kalkulasi bunga dosa lampau, ditambah penggandaan dari dosa bunuh diri hari ini.”

Sang bayi ternganga dan dalam kecepatan cahaya kahyangan, ia telah kembali ke bumi. Kini ia berakhir di tempat sampah sebuah lokalisasi.

 

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment