Metaruang | Puisi: Requiem – Aku Tak Bisa Tidur – Melankolia
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17160
post-template-default,single,single-post,postid-17160,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Puisi: Requiem – Aku Tak Bisa Tidur – Melankolia

 

REQUIEM

 

Di taman ini, kubiarkan kenangan

bersenandung di antara langit utara

dan dinding-dinding dingin Isola.

Kubiarkan segala angan-angan

 

yang membayangiku saban hari

bersemi lalu gugur kembali

seperti kembang melati

di antara pepohonan dan perempuan Bareti

 

Meski jantung membiru

tak berdegup lagi

Meski kata-kata

purba tak lagi diketahui.

 

Lalu kubiarkan bayang kematian

yang lembut keemasan

mencapai sepasang mataku

dan purnama di sepasang matamu

 

akan terus memancar

menerangi sepanjang jalan kematianku

juga tubuhmu menjadi mawar

bagi kuburku.

 

 

AKU TAK BISA TIDUR

 

Malam ini aku tak bisa tidur

angin ngelantur dan kemarau

mendengkur di ranjang cuaca

di punggung kalender yang tua

 

Jam memutar lagu bossanova

nada-nada lembut merenggut denyut

nadi yang tak henti memuja sepi

memasuki rimba bahasa

 

mengurai rahasia demi rahasia

yang sebenarnya hanya sia-sia

hingga redup lilin di sisi pigura

 

dan di jendela tiada rintik cahaya

hanya langit melintas tanpa batas

hanya daun-daun terlepas

 


 

MELANKOLIA

 

Apa yang kudapati dari cinta sejati selain sesuatu yang tak pernah

dimengerti: mempersembahkan waktu pada kesedihan, menulis puisi

demi puisi dengan tinta sepi di pecahan-pecahan hati, menerjemahkan

makna airmata yang kupuja sebagai kesetiaan.

 

Lalu apa yang kukenali dari cinta sejati selain kenangan yang nyatanya

menumbuhkan nestapa: setiap senja mekar di atas jejakmu, berlepasan

kelopak demi kelopak mawar di telapak tanganku, merindukan serbuk

cahaya dari sayap rama-rama pertama.

 

Manakala kubuka jendela selalu kupandang seraut wajahmu yang utuh

dan tak tersentuh, dengan keheningan sebuah tatapan, berulang-ulang

mengiris kantung mataku. Maka, jika kepergianmu menghampiriku

telah mampu kutulis puisi,

 

ketabahan dan kerelaan yang barangkali takkan kautemui dalam cinta sejati.

 

 

___

Ilustrasi: Cantyka Gustiana

 

No Comments

Post A Comment