Metaruang | Represifitas Aparat Kepolisian: Sweeping di Kampus ISBI
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17419
post-template-default,single,single-post,postid-17419,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Represifitas Aparat Kepolisian: Sweeping di Kampus ISBI

“Saya atas nama rekan-rekan kepolisian, meminta maaf atas kejadian ini. Semoga ke depan tidak terulang kembali hal-hal yang kurang pas, tanpa izin masuk ke rumah orang. Atau pun masuk ke kampus ISBI,” ujar Kapolsek Lengkong, Bandung, Kompol Ari Purwanto, pada Rabu 28 September dini hari di kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Permintaan maaf yang dilontarkan Kapolsek tersebut, bukan tanpa sebab. Pasalnya, sejak Rabu tengah malam, terjadi kericuhan di sekitaran kampus ISBI Bandung yang disebabkan oleh tindakan sweeping para anggota polisi muda tanpa seragam. Diketahui, pangkal masalah dari aksi sweeping itu merupakan dampak dari peringatan Hari Tani Nasional, di bilangan Asia Afrika Bandung, pada Senin 24 September lalu.

Mereka menilai, peserta aksi pada saat peringatan Hari Tani Nasional telah melakukan penghinaan terhadap institusi kepolisian melalui teatrikal dan orasi. Maka, sambil membawa senjata api dengan tanpa dilengkapi surat tugas dan atas “keresahan pribadi”, para polisi muda tak berseragam tersebut melakukan sweeping di ISBI.

Beruntung, pada pukul 02:00, keributan pun akhirnya dapat diredam. Para polisi yang telah melakukan sweeping dijemput Provost dan Kapolsek Lengkong, Bandung. Seorang polisi muda yang mengaku sebagai Komandan Regu, meminta maaf atas kejadian yang telah ia dan rekan-rekannya timbulkan.

“Karena saya, secara struktural saya salah. Saya meminta maaf kepada kampus ISBI Bandung dan termasuk yang tadi sedang TA [Tugas Akhir], saya mohon maaf mengganggu kenyamanan dan kelancaran TA-nya,” kata Ericson Sitorus dari Polda Jawa Barat.

Soal Sweeping dan Tindakan Intimidatif

Saya mendapat pesan dari seorang teman yang berada di ISBI untuk datang ke sana. Katanya ada aparat kepolisian yang tengah melakukan upaya sweeping dan tindakan intimidatif terhadap mahasiswa ISBI. Pukul 00:40, saya tiba di sana. Situasi di sekitaran Teater Kebun memanas.

Lima polisi muda tanpa seragam lengkap, tengah dikerubungi mahasiswa dan didampingi security kampus untuk ditanyai apa motif mereka melakukan sweeping. Beruntung, tak terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian. Para mahasiswa meradang karena merasa dirugikan oleh aktivitas polisi tersebut.

Sejak Selasa sore, pukul 18:00, diketahui ada dua orang asing tengah berkeliaran di kampus ISBI Bandung. Orang asing, karena dilihat dari penampilan kedua orang tersebut terkesan kaku dan beda dari mayoritas mahasiswa ISBI—rambut cepak dengan badan sedikit atletis. Pun, menurut kesaksian beberapa mahasiswa ISBI, tindakan kedua orang asing tersebut terkesan seperti preman yang dengan langsung menginterogasi orang-orang sekitar untuk menanyakan keberadaan seorang mahasiswa dengan tatapan mata sedikit melotot dan nada bicara yang dibuat agak meninggi sarat intimidatif.

Beberapa saat kemudian, jumlah orang asing tersebut semakin bertambah dan mulai menyebar ke seluruh area kampus ISBI. Mereka mendatangi setiap gedung. Bahkan sampai melakukan tindakan yang mengganggu mahasiswa di sana. Pasalnya, ada beberapa gedung yang sedang dipakai mahasiswa untuk proses latihan menyiapkan Tugas Akhir.

Basir, yang pada saat itu tengah menjalani aktivitas latihan di ISBI mengatakan, aktivitas orang asing itu sudah seperti memantau kondisi dan nampak ingin melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.

“Awalnya mereka ada di pos satpam gerbang samping, terus tiba-tiba pindah ke Gedung Asri. Gak lama dari sana, karena kawan-kawan lain curiga, akhirnya ditanya-tanya,” kata Basir.

Mulanya, keempat orang tersebut mengaku sebagai mahasiswa dari Telkom University, Bandung. Mahasiswa yang menanyai identitas empat orang tersebut tidak langsung percaya. Keempat orang tersebut, kata Basir, kemudian didesak untuk mengeluarkan identitas aslinya. Setelah didesak, diketahui, keempat orang tersebut merupakan polisi dari Polda Jawa Barat.

“Ternyata mereka [dari] Polda, delapan orang kabarnya. Mereka cari orang di sini. Entah untuk kepentingan apa. Bawa-bawa senjata juga,” ujar Basir.

Setelah diketahui identitasnya, para mahasiswa ditemani security kampus hendak membawa polisi tersebut ke sekitaran Teater Kebun. Setelah banyak ditanya mengenai motifnya, diketahui jika kedatangan polisi muda tanpa seragam tersebut hendak mencari seorang mahasiswa ISBI untuk meminta maaf kepada mereka atas aksi teatrikal dan orasi yang dianggap telah menghina institusi kepolisian.

Saat itu, waktu menunjukan pukul 00:20. Keadaan makin memanas saat proses interogasi. Pasalnya, pada saat digeledah, ada satu dari keempat polisi tersebut yang kedapatan membawa pistol. Tentu, para mahasiswa pun makin meradang. Pistol tersebut, meski disebut-sebut hanya sebatas “air(soft)gun”,  dibawa demi mencari seorang mahasiswa untuk meminta maaf pada mereka, tampak sebagai upaya berlebihan jika bukan tindak ancaman dan menakut-takuti.

Proses interogasi pun memang cukup lama. Butuh waktu, setidaknya dua jam untuk meredam situasi panas itu.

Keributan berhasil diredam berkat kedatangan Kompol Ari Purwanto, Kapolsek Lengkong, bersama Provos datang untuk menjemput kedelapan anggota kepolisian yang diketahui dari Polda Jabar itu. Baik dari Kapolsek Lengkong dan juga kedelapan polisi—yang diwakili Ericson Sitorus sebagai komandan regu—meminta maaf atas kejadian yang telah mengganggu aktivitas mahasiswa ISBI.

Intimidasi Melalui Sosial Media

Namun, meski pihak dari kepolisian telah melakukan permintaan maaf secara terbuka pada mahasiswa ISBI, nampaknya itu tak membuat tindakan intimidasi berhenti. Sehari setelah kejadian pada Rabu malam, banyak dari mahasiswa ISBI yang mendapat perlakuan teror yang mengaku sebagai anggota kepolisian dari akun instagramnya. Bahkan, ada yang sampai ditelpon melalui aplikasi chatting Whatsapp.

Kejadian yang telah menimpa itu, tentu membuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ISBI Bandung untuk segera merespon secepatnya. Pada Rabu sore 26 September, BEM ISBI melakukan konferensi pers. BEM ISBI menilai, tindakan anggota kepolisian itu sudah jelas merupakan bentuk kesewenang-wenangan dan intimidatif.

Atas kejadian tersebut, BEM ISBI Bandung mewakili seluruh mahasiswa ISBI Bandung menyatakan sikapnya. Pertama, mengecam aksi  sweeping dan persekusi yang dilakukan oleh aparat dari satuan Polda Jawa Barat. Kedua, menuntut aparat Kepolisian untuk menghentikan intimidasi kepada mahasiswa khususnya mahasiswa ISBI Bandung, secara langsung maupun melalui media sosial.

Ketiga, hentikan arogansi dan intimidasi aparat kepolisian terhadap masyarakat sipil yang sejenis. Keempat, mendesak Polda Jawa Barat untuk meminta maaf secara tertulis atas insiden tersebut. Kelima, mendesak Polda Jawa Barat untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Keenam, menuntut Polda Jawa Barat untuk memberikan sanksi berupa pencopotan jabatan untuk para pelaku persekusi.

Sampai saat ini, bukti-bukti intimidasi melalui direct message Instagram tersebar di beberapa akun Instagram.

 

View this post on Instagram

Selasa, 25 September September 2018 . . Beberapa anggota Sabhara Polda Jawa Barat tanpa surat tugas mendatangi kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung bertujuan mencari salah satu mahasiswa ISBI. Intimidasi dan berujung kearah persekusi ini tak bisa didiamkan. . . Mereka datang mengganggu aktifitas kawan-kawan mahasiswa yang sedang latihan untuk pementasan dan yang mengagetkan ada salah satu dari mereka yang membawa senjata api. . . Menjelang subuh anggota Sabhara yang nakal dan tidak tau aturan ini dijemput pihak Provost Polda Jawa Barat dan pihak kepolisian langsung meminta maaf kepada para mahasiswa ISBI atas tindakan anggota kepolisian yang menganggu aktifitas mahasiswa kampus ISBI. . . Kronologis dan release segera akan kami posting. . . #Polisi #Polri #IntimidasiPolisi #PolisiArogan

A post shared by KOLEKTIFA (@kolektifa) on

___

Dokumentasi: BEM ISBI

___

Militansi, Metaruang 2018

 

No Comments

Post A Comment