Metaruang | Kidsway
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17422
post-template-default,single,single-post,postid-17422,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Kidsway

Self-titled album perdana
Rilis: 20 Desember 2017
Label: Grimloc Records, Co-Produced: Monsterstress Records, Disaster Records
Single: “Estafet Seruan Gombal Moshpit
Format: CD
Cover Artwork: Herry Sutresna

 

Medan tangkringan rupanya berhasil memberi unit hardcore dengan awak lawas tapi anyar ini semacam legasi aktif; tongkat estafet riuh-rendah skena Bandung di sekitar medio 90-an. Beranggotakan empat orang, Kidsway terbentuk pada tahun 2016 di Bandung dan digawangi Amet pada vokal, yang juga bermain dengan Take A Stand. Febby sang penggebuk drum juga pernah bermain bersama Balcony, Idan pada bass pun merangkap pekerja musikal Asia Minor, dan terakhir ada Vicky yang juga pernah bermain bersama Balcony (tergabung di No More Heroes), yang kini fokus menjagai departemen gitar.

Semangat yang diusung oleh youth crew hardcore yang tak lagi muda ini memberi kita bentang referensi multi-genre, meninggalkan jejak-jejak artistik, baik dalam bentuknya yang minimalis hingga vulgar, dari mulai Sick of it All, Turnstile, Body Count, Beastie Boys, Homicide (BDG), Balcony (BDG), hingga Pure Saturday (BDG).

Ruang lingkup kota Bandung yang mungil membuat titik temu kultural segenap insan musik tampak semakin mudah. Termasuk mempertemukan para algojo hardcore lawas, skater kampiun, dan pembangkang profesional. Alih-alih terlepas dari momentum ‘supergrup’ yang kini begitu liat, konsekuensinya hanya dua: berhasil mengusung materi dan komposisi yang progresif (bergerak maju), dan yang kedua, terjebak dalam nostalgia.

Untuk diketahui, medan laga hardcore, khususnya di Bandung, sempat berada pada titik militan pasca tragedi AACC yang membuat segenap komunitas musik menggelar gig di dalam studio rental. Acara memang dapat digelar berkala, dan bisa dipastikan di setiap akhir pekan terdapat studio gig seru di kantung-kantung kolektif yang tersebar dari Ujung Berung hingga Cimahi, dari Lembang sampai Cibiru.

Pelajaran yang didapat di era studio gig (post-AACC hingga kisaran awal 2012-an), ialah hardcore –sebagai anak kandung punk rock—mengambil jarak yang lebih intim lagi dengan khalayak. Bahkan, jika kita sempat merasakan bagaimana sintingnya studio gigs, kita bisa sama-sama menggebuk drum dan menyosor mikrofon salah satu line up favorit untuk ikut bernyanyi dan berteriak.

Dan Kidsway berhasil menghimpun zetgeist tersebut. Mengusungnya ke dalam album self-titled perdana, berisikan sembilan nomor yang padat, sekaligus cepat lagi tangkas. Dengan groove beat crew yang khas, tak lupa oldskool hardcore sebagai cetak biru nyawa mereka, album yang dilansir pada 20 Desember tahun lalu ini tak bisa begitu saja dikata nostalgik atau susah moving-on dari roman kaula 90-an.

Terdapat serentetan vocal gang sebagai resep turun-temurun dalam basis hardcore. Tapi spoken words yang menyalak, shout hip hop pada nomor pembuka atau nomor Serupa Matahari, bisa dibaca sebagai gejala bahwa Kidsway sedang bergerak, tanpa melupakan roots dan kausa prima bernama –dalam semesta hardcore kids— passion.

Perpindahan power chords yang cepat, up-beat tempo, low-high harmonic dengan opsional oktav yang tak terduga, belum lagi sequential repetition chords yang berpadu dengan hentakan pedal dan snare straight beat, niscaya dapat menerbitkan semangat bagi siapapun untuk tak lagi berjalan bungkuk.

Dalam hal demikian, hardcore adalah oponen yang paling baik dalam menjaga optimisme kolektif. Misalkan pada nomor pembuka berjudul Lagu Mantra Pembuka Ruang Jelajah, dan Estafet Seruan Gombal Moshpit. Muatan lirikal yang mengajak, yang erat dalam kebersamaan itu, dapat ditemui dari maraknya penggunaan kata “kita”dan “kami” sebagai penunjuk entitas, sebagai eksistensi. Hal ini merupakan semangat progresifitas tersendiri, yang lahir dari membaur bersama massa (moshpit), dan mengembalikannya ke circle pit sebagai bara, sebagai nyala.

Di luar itu, tak ada yang mengira bahwa keajaiban terjadi pada nomor berjudul Redup (didaulat sebagai penutup album ini), yang terdengar agak berbelok, menukik menyusuri aura dan reverb dream pop dengan teknik soundscape distortion yang terdengar poppish dan lirih. Aransemen seperti itu mampu dengan mudah menyeret ingatan kita pada nomor-nomor Pure Saturday dan The Milo yang menyusup di daftar putar saat kita tengah menyusuri jalanan Bandung lewat tengah malam.

Masih dalam Redup, terhitung beberapa menit sebelum penghabisan, vokal pun masuk barisan nada dengan liriknya yang tegas pasca crescendo tonal yang melatarinya. Secara lirikal, agaknya terdapat semacam referensi ke arah “Nyala” milik Pure Saturday, atau bahkan “Lighthouse” (masih dari Pure Saturday), sebagai asosiasi tak langsung nomor Mercusuar. Dalam Menyatukan Bara Menggaungkan Bacot misalnya, terdapat “merubah gelap menjadi terang”, atau Mercusuar “terangi jalan dan bangunkan” dengan latar teriakan yang menyusul kemudian, “beri nyala!

Kebolehan departemen lirik yang memberangkatkan diri dari keseharian yang heterogen, dengan preferensi musik yang juga multi-disiplin ini, berhasil memecahkan kebuntuan hardcore lokal akan keterbatasan kosakata lirik. Hal yang semestinya bisa terjawab pada sepuluh atau lima tahun lalu sejak internet dan ponsel pintar menjadi akanan yang tak terhindarkan.

Pada nomor Mercusuar, Kidsway tampak menyerukan kejengahannya atas situasi urban kota. Aksi panggung solidaritasnya tahun lalu pada helatan Festival Kampung Kota (Dago Elos, Bandung), memberi kita sinyalemen bahwa ekspresi artistik yang sejati adalah juga ekspresi masyarakat akan suatu keadaan yang melingkupi ruang hidupnya.

Nomor ini, saya kira, menjadi representasi yang paling intim bagi geliat segenap kawan-kawan skena dan aktivisme di kota Bandung. Liriknya membuat saya tergetar:

Kita dan mimpi berkejaran dalam bising kota /Dalam beliung, dalam pikuk dan bala /Meski tak semudah yang kita kira /Meski kadang tertatih dan terluka /Saling mengingatkan tentang yang terlupa /Ketika murka dan terlalu lama kita berduka /Terangi jalan dan bangunkan!

 

No Comments

Post A Comment