Metaruang | Whiplash: Permainan Pikiran dan Kenegatifan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17430
post-template-default,single,single-post,postid-17430,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Whiplash: Permainan Pikiran dan Kenegatifan

Judul film: Whiplash
Sutradara: Damien Chazelle
Tahun rilis: 2014
Durasi: 106 menit
Pemain: J.K. Simmons, Milles Teller, Melissa Benoist

 

Untuk masyarakat awam, mudah saja jika mau belajar musik dan membuat kelompok band sendiri. Alat musik diperjualbelikan secara bebas, harga juga variatif mengikuti kualitas. Mau cari guru privat, belajar dari teman atau otodidak dari kelas-kelas online di media daring pun sah-sah saja. Bagaimana dengan usia? Tidak masalah kanak-kanak, tua ataupun muda, semua bisa mendapatkan tempat. Kecemplung di dunia musik terdengar mudah, bukan? Namun apa yang baru dibicarakan barusan cuma pandangan umum semata. Memangnya dunia musik yang mana yang mudah dimasuki? Dalam Whiplash, Damien Chazelle memperlihatkan sisi dari dunia musik yang tidak bisa sembarang masyarakat awam masuki, dunia musik ‘kelas atas’ yang keras, ketat dan kompetitif.

Lewat karakter utama Andrew Neiman (Milles Teller) dan pemeran pembantu Terence Fletcher (J.K. Simmons), Chazelle membangun hubungan antar murid-pengajar yang keras, manipulatif dan penuh permainan pikiran. Tidak pernah ada basa-basi, bahkan sejak awal film penonton sudah disuguhi adegan Fletcher yang menunjukkan otoritasnya atas Neiman secara eksplisit. Dengan sinematografi yang apik, Sharone Meir memperlihatkan permainan drum Neiman di sebuah ruang sekolah musik yang sepi, lengkap dengan pencahayaan artistik—ia diterangi lampu sorot di tengah ruang redup bak di panggung pertunjukkan. Selanjutnya, Fletcher datang mengintervensi permainan Neiman. “So you know I’m looking for a new player?”, ujarnya di tengah percakapan serba singkat bersama Neiman. Ia lantas meminta Neiman memperlihatkan permainan dasar dan double time swing. Sedang fokus-fokusnya bermain, suara pintu yang terbanting keras memecah konsentrasi Neiman. Tanpa permisi, Fletcher sudah meleos dari ruangan. Dari adegan pembuka ini, kegilaan demi kegilaan akan dimulai sepanjang film.

Andrew Neiman merupakan murid tahun pertama berumur 19 tahun di institut musik bergengsi Shaffer Conservatory, New York. Sosoknya kerap digambarkan sebagai pemuda yang rajin berlatih berulang kali demi meningkatkan kemampuannya bermain drum. Pada awalnya kita dibuat percaya bahwa Neiman memiliki mimpi besar menjadi pemain drum tangguh. Bersekolah di Shaffer dan berusaha masuk ke dalam band yang dibawahi Fletcher merupakan salah satu jalan yang bisa menjembatani mimpinya. Bukan hal mudah, instruktur berkepala botak dan berwajah antagonis ini bukan sekadar instruktur biasa. Gaya mengajar yang abusive—meneriaki murid, melempar barang dan kadang mengatakan instruksi tidak wajar (seperti ketika menyuruh datang ke ruangan B-16 pagi buta)—menjadi cetak biru yang melekat pada Fletcher. Di tengah film, penonton akan dihadapkan pada fakta catatan hitam Fletcher sebagai pengajar di institut musik bergengsi Shaffer Conservatory itu.

Permainan manipulatif Fletcher

Obsesi Neiman pada pemain drum legendaris Buddy Rich menjadi salah satu senjata yang digunakan Fletcher untuk memengaruhi Neiman. Unsur romantisme dan familiaritas dengan mudahnya menjatuhkan Neiman ke dalam permainan pikiran Fletcher. Hingga berjalannya separuh durasi film, kekaguman Neiman pada Buddy Rich masih diperlihatkan melalui berbagai adegan. Namun, di tengah berjalannya obsesi itu, Neiman nampaknya melupakan apa yang ia tuju dan terjerumus dalam permainan manipulatif Fletcher. Rentetan pertemuan Neiman dan Fletcher disusun secara mengurut beriringan dengan semakin tingginya obsesi Neiman membuktikan kemampuan bermain drum di hadapan Fletcher. Determinasinya mencapai titik ekstrem ketika ia mulai berlatih terus-menerus sampai sela-sela jari tangannya berlumuran darah. Ya, hanya Neiman yang bermain sampai sebegitunya dalam Whiplash. Pemain band lainnya tetap bisa bermain tanpa setetespun darah.

Di samping obsesi terhadap Buddy Rich, kesempurnaan tempo menjadi kata kunci yang sepanjang film dimainkan oleh Damien Chazelle. Bak sebuah mantra, kalimat “Not quiet my tempo” keluar dari mulut Fletcher berulang kali. Terkesan sederhana, bahkan internet menjadikannya lelucon dan membuatnya menjadi meme. Namun, tidak sesederhana itu, kalimat tersebut merupakan bentuk penegasan Fletcher atas dilanggarnya standar-standar yang ia miliki. Memainkan beat setara nilainya dengan pilihan hidup dan mati. Salah sedikit kena teriakan, bahkan lemparan barang. Mantra Fletcher bukan cuma terngiang-ngiang di telinga dan kepala penonton, Neiman yang pada akhirnya terjerumus menjadi ‘budak’ permainan pikiran Fletcher, pada akhirnya terjebak dalam mantra itu. Ia seolah kehilangan otoritas diri dan bergulir pada kepatuhannya terhadap Fletcher.

Seperti yang dikatakan oleh filsuf asal Perancis Michael Foucault, pada kehidupan setiap manusia, selalu ada beberapa figur otoritas yang lebih superior dari diri mereka, mulai dari orang tua, guru, bos sampai pejabat pemerintah, selalu ada perebutan kekuasaan antara manusia dan pengekangan otoritas. Apa yang disuguhkan dalam Whiplash melibatkan perebutan otoritas antara Neiman dan Fletcher. Keduanya berhasil dan gagal secara bergantian. Bahkan, pada akhir film pun kita dibuat kebingungan, sebenarnya siapa yang menang dalam permainan pikiran ini?

Negativitas karakter

Menonton Whiplash serasa menyaksikan film thriller, menegangkan dan nyaris membuat frustasi. Tone gelap pada Whiplash yang juga dapat ditemukan di film-film Guillermo del Toro, menambah kuat sensasi kelam dalam film ini. Tidak terlepas dari tone, cara pengambilan gambar dan musik yang mengiringi film, karakterisasi pada Whiplash merupakan poin penting yang membuat film depresif dari awal hingga akhir. Nyaris seluruh karakter yang ditampilkan dalam film memiliki aura negatif—terkecuali sang ayah Jim Neiman (Paul Reiser) dan pacar selewat Neiman, Nicole (Melissa Benoist). Satu hal yang brilian, semua kenegatifan karakter menjadi kekuatan dari ambisi Neiman dalam mencapai cita-citanya.

Neiman sangat berfokus pada dirinya sendiri. Ia bahkan berpikir tidak ada gunanya memiliki teman. Satu hal yang terpenting untuk Neiman adalah karirnya sebagai musisi jazz. Ia bahkan dengan mudahnya memutuskan hubungannya dengan Nicole. Alasan-alasan yang ia katakan pun sama sekali tidak masuk akal, ia pikir Nicole akan menghalangi mimpinya dan menjabarkan segala kemungkinan yang terjadi jika mereka terus melanjutkan hubungan. Ia tidak segan menghakimi orang lain dengan perspektif dalam kepalanya dan tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Tidak jauh berbeda dengan Fletcher, Neiman selalu merasa dirinya superior dan berusaha mempertahankan kedudukan dirinya.

Di hadapan keluarganya, Neiman dengan percaya diri memperlihatkan superioritas dirinya. Padahal, bagi keluarga besar Neiman yang memiliki pemikiran konservatif, menjadi pemain musik bukan pekerjaan yang dapat dibanggakan. Percakapan mereka di meja makan membuat Neiman terpojokkan dan terlihat rendah. Neiman dipandang tidak punya masa depan yang cerah. Ia diremehkan dan dipandang tak lebih membanggakan dari anggota keluarga lain yang mendapatkan beasiswa, jadi guru terbaik ataupun pemain football terbaik. Dari obrolan yang dibahas saat makan malam, nampak pula hubungan yang tidak beres di antara keluarga mereka. Semuanya tak lebih dari sekadar obrolan formalitas di permukaan, tentang pekerjaan dan kebanggaan masing-masing.

Hal serupa juga terjadi di lingkungan institut musik. Semua percakapan yang terjadi di lingkungan institut hanya berkaitan dengan permainan dan instruksi. Tidak ada percakapan yang terkesan manusiawi di sana. Neiman pun tidak pernah berinteraksi secara personal dengan anggota band lainnya. Ia hanya datang, bermain, memenuhi instruksi dan selesai. Seakan-akan Chazelle berusaha membentuk persepsi penonton, bahwa dengan atmosfer dan sifat senegatif apapun, seseorang bisa mencapai ambisinya dengan cara-cara tertentu yang tidak terpikirkan dan mungkin di luar batas.

 

1Comment

Post A Comment