Metaruang | Kisah Dua Orang Revolusioner
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17434
post-template-default,single,single-post,postid-17434,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Kisah Dua Orang Revolusioner

 

Oleh Ricardo Flores Magon

 

 

SATU SORE menjelang marching, Revolusioner tua berpapasan dengan Revolusioner modern yang sedang berjalan ke arah berlawanan. Matahari bersinar layaknya permata di atas ketinggian; raja hari telah tenggelam, ia jatuh ke bawah, tak bisa lagi untuk ditarik kembali. Layaknya matahari, kesadaran pun tenggelam dalam hari yang beranjak sore, ia memerah marah, lalu muncul ke permukaan bumi dan langit memancarkan keindahan yang agung.

Dua orang Revolusioner saling bertatap muka; Si Tua tampak lusuh berdebu layaknya lap rombeng yang siap dilemparkan ke ember cucian. Tubuhnya penuh luka di sana-sini, tulang rusuknya tampak menyembul dari pakaiannya yang compang-camping. Revolusioner Modern berdiri tegak, hidupnya terisi, wajahnya berbinar menampakkan senyum kemenangan. Pakainnya kontras dengan si tua; ia nampak parlente, pakaiannya seolah panji dari kaum tertindas, simbol puncak tertinggi meditasi. Sebuah kunci semangat untuk idealisme yang agung.

“Ke mana kau akan pergi?” tanya Si Tua.

“Aku akan bergi berperang demi idealisme yang telah kupegang saat ini,” jelas si Revolusioner Modern. “Lalu, ke mana kau akan pergi?” ia bertanya balik.

Si tua terbatuk, air liur di mulutnya ia ludahkan ke permukaan bumi. Ia menatap matahari yang merah marah. Panas matahari membuat perasaannya ikut terbakar juga, ia berkata:

“Aku tak akan pergi marching. Aku hendak pulang sekarang.”

“Apa yang terjadi adalah…”

“Aku tertipu,” ungkap Si Tua “Kau tak akan pergi untuk revolusi. Aku pergi berperang dan lihat yang terjadi selepas aku kembali; menyedihkan, tua, hancur lebur lahir batin.”

Si Revolusioner Modern memandang sekitar dengan tatapan yang tak teratur, alis matanya berbinar-binar, sebuah harapan muncul dari relung hatinya yang terdalam lalu melebur ke dalam raut wajah yang bahagia.

Dia bertanya pada Si Tua:

“Apa kau tahu apa yang telah kau perangi sebelumnya?”

“Ya, orang terkutuk yang mendominasi negara ini. Kita orang miskin menderita akibat tirani dari Pemerintah yang senantiasa mengisap uang kita setiap harinya. Anak tertua kami dijebloskan ke penjara; keluarga kami ditelantarkan, sedangkan anggota keluarga perempuan lainnya terpaksa menjual tubuh mereka sendiri demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak ada orang yang berani menatap polisi secara empat mata; ujung-ujungnya, tindak mengeluh dianggap sebagai bagian dari pemberontakan. Satu hari, kulihat seorang bijak berkata pada kami yang sudah kepalang miskin sejak lama:

Wahai, rakyat sekalian, dalam rangka untuk menjatuhkan rezim saat ini, kita mesti melakukan perubahan dalam skema pemerintahan: Orang yang berkuasa saat ini adalah pencuri, pembunuh, dan juga penindas. Biarkan kami menghapuskan kedudukan orang orang yang Berkuasa: pilih aku sebagai Presiden, dan kelak semua akan berubah.

“Itulah yang orang bijak tersebut katakan. Setelah itu, dia minta kami semua untuk mengepalkan tangan dan menyuruh kami berperang. Semangat kami pun turut terbakar. Si penindas terkutuk itu telah mati dan kami memilih orang yang memberi kami senjata sebagai Presiden saat kami semua sedang bekerja. Setelah perjuangan yang telah kami tempuh hingga saat ini, semua tak jauh beda dari kondisi dahulu, kami bukan lagi manusia, kami saat ini seperti sekumpulan anak keledai yang kehilangan arah; keluarga kami tetaplah tersiksa dengan kebutuhan yang tak terpenuhi; pajak yang digelontorkan oleh Presiden baru alih-alih menjadi semakin ringan, justru melambung tinggi. Kami juga telah memberikan hasil produksi yang telah kami kerjakan pada tuan kamu. Setiap kali kami melakukan penyerangan, maka mereka menyerang balik kami dengan berbagai cara. Sekarang kau lihat sendiri, aku tahu apa yang aku perangi saat ini: pemimpin yang buruk yang hendak kau ganti dengan seorang lain yang lebih baik yang lantas menjadi seorang pemimpin yang tak jauh buruk dengan yang telah kau singkirkan sebelumnya. Jangan pergi ke perang, sungguh, jangan. Itu hanya menambah resiko dalam hidupmu. Sesungguhnya, kau hanya buang-buang waktu demi mencari tuan yang baru.”

Lalu berkatalah Revolusioner Tua; layaknya Sang Surya yang pergi terbenam, sebuah cakar raksasa siap membunuh kita di belakang bukit sana. Revolusioner Modern tersenyum. Balasnya pada Si Tua:

“Kamerad, sesungguhnya aku pergi ke perang, namun bukan seperti perang yang terjadi di zamanmu. Aku tak akan berperang demi menaikkan siapapun ke tampuk Kekuasaan, melainkan sebagai bentuk emansipasiku terhadap Perjuangan Kelas. Dengan bantuan senapan ini, aku akan memaksa si pemimpin tadi untuk mencabut cakar yang ia punya dan meminta kembali apa yang telah mereka rampok dari rakyat selama ribuan tahun. Jika kau memercayakan kebahagiaanmu pada seseorang, maka aku dan kawan-kawanku hendak menciptakan kebahagiaan kami dengan usaha kami sendiri. Jika kau percayakan pengacara dan pakar hukum untuk membuat aturan, sesungguhnya mereka kelak akan membuat hukum untuk menguntungkan diri mereka sendiri. Alih-alih membebaskan manusia, mereka justru menjadi perangkat tirani dan ketidakadilan. Sesungguhnya kesalahanmu dan orang-orang sepertimu adalah kau memberikan kuasa pada sekelompok individu, lalu kau suruh mereka untuk membuat semua orang bahagia. Bukan, bukan seperti itu saudaraku: Kita adalah kaum Revolusioner Modern, kita tak membutuhkan penolong, bukan juga pelindung ataupun pencipta nasib baik. Kita menginginkan kebebasan untuk diri kita sendiri. Kita akan mengawalinya dengan menghancurkan akar dari semua penindasan yang biasa kita kenal sebagai “hak milik”. Kita akan mengambil alih lahan yang dimiliki bos-bos kita agar kelak dikuasai oleh semua orang. Jika dianalogikan sebagai sebuah pohon, akar dari semua itu yakni “hak milik.” Batang, dahan, dan cabang mencakup polisi, tentara, dan para pejabat dari mulai yang terkecil, hingga yang terbesar. Lihatlah kenyataan ini: Mereka menebang pohon tersebut, mereka bertunas, tumbuh, dan beranjak semakin kuat. Hal ini terjadi karena mereka tak mau melihat kembali tanpa menyasar akar dari pohon terkutuk ini; mereka semua takut untuk mengekstraksi kembali inti dari semua permasalahannya lalu membakar semua hingga habis. Lihatlah, saudara tuaku: Kau telah memberikan seluruh darahmu untuk sebuah alasan yang tak sama sekali beritikad baik. Satu hari kelak, aku akan memberikan semuanya sehingga semua orang turut bahagia. Aku akan bakar sampai ke akar-akarnya.”

Di belakang bukit berwarna biru, sesuatu terlihat menyala-nyala: itu adalah matahari, yang terluka akibat serangan dari cakar raksasa yang membuatnya terlihat seperti neraka, langit semakin merah seolah diwarnai oleh darah dari bintang-bintang yang telah mati.

Si Revolusioner Tua terbatuk dan berkata:

“Seperti matahari, Aku terbenam, dan pergi menghilang menjadi bayang-bayang.”

Revolusioner Modern melanjutkan perjalanannya ke tempat di mana saudaranya memperjuangkan idealisme baru yang telah mereka pegang.

 

 

 

 

Catatan :

Ricardo Flores Magon (16 September 1874 – 22 November 1922) adalah seorang pemikir anarko-komunis asal Meksiko yang menjadi salah satu otak di balik Revolusi Meksiko tahun 1911. Bersama dua saudaranya, Gaspar Jesus Flores Magon dan Enrique Flores Magon, mereka dikenal sebagai Magon Bersaudara yang menggerakkan Regeneración, koran harian yang dikelola oleh Partai Liberal Meksiko (PLM) bersama sastrawan anarkis lain seperti Librado Rivera, Praxedis Guererro, dan Anselmo L. Figueroa.

 

Pada tahun 1918, Ricardo dan kedua saudaranya ditangkap bersamaan atas tuduhan rencana terorisme karena korespondensi mereka dengan dua sejoli Alexander Berkman dan Emma Goldman yang ditemukan di kantor pos Amerika Serikat. Selain Magon bersaudara, para anarkis lain seperti Labrado Rivera juga ikut dijebloskan ke dalam penjara. 4 tahun kemudian, Ricardo ditemukan tewas di dalam selnya. Keterangan pemerintah menyatakan bahwa Ricardo mati karena komplikasi liver dan diabetes, sedangkan berdasarkan keterangan dari Labrado Rivera, Ricardo disiksa habis-habisan oleh para sipir penjara setiap harinya.

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment