Metaruang | Hangatnya Resisten Kultural di Tamansari
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17462
post-template-default,single,single-post,postid-17462,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Hangatnya Resisten Kultural di Tamansari

Spidometer motor saya menunjuk angka 100. Suara serak-serak setan Arian13 memekak di telinga, track dengan titel Enam Lima memacu adrenalin berkendara sore itu. Namun, baru saja menikmati oktan tinggi motor ini, riuh klakson saling bersahutan setibanya saya di akhir jembatan layang Pasupati, Bandung. Bukan karena iring-iringan defile gerombolan mobil plat merah dengan cat hitam dikawal oleh voorijder yang menyebabkan jalanan Bandung macet. Tetapi, sedang terjadi perayaan Hari Santri Nasional di lapangan Gasibu. Warna hijau terpancar sepanjang lapangan Gasibu hingga pertigaan Pusdai, mulai dari santri hingga TNI.

Saya melanjutkan perjalanan menuju Tamansari. Tepatnya reruntuhan RW 11 Tamansari. Saya langsung memarkir motor di halaman Masjid Al-Islam. Perlahan saya melangkah, mulai terlihat wajah kawan-kawan. Dari posisi duduk kawan-kawan di belakang masjid, suara Ucok pun terdengar: “Aktivisme itu mitos”, ucap Ucok di tengah ramainya peserta diskusi malam itu.

Sialnya, saya tidak melihat jam, dan entah pukul berapa saya tiba. Sesi diskusi berlangsung sengit dan hangat, dan tampaknta sesi sudah di penghujung acara. Musik, Kooptasi, dan Perlawanan, menjadi tema diskusi malam itu. Ucok menjadi pembicara pertama, membuka perbincangan melalui pendekatan kultural era 1997-1998. Ia menceritakan pertemuannya dengan Kimung dan Addy Gembel di aksi-aksi jalanan, saat memblokade jalan Bandung-Sumedang. Atmosfer aktivisme cukup kencang di era tersebut, di mana event-event musik belum berjamur, bahkan jarang sekali ada.

Meskipun banyak melewatkan pemaparan di sesi diskusi, saya masih berkesempatan untuk mendengarkan banyak poin ketika sesi tanya jawab. Hal-hal seperti aktivasi ruang, terkhusus di titik-titik api, bukanlah monopoli para aktivis, seperti apa yang Ucok katakan. Romantisme sejarah kembali diperlihatkan tatkala Frans menceritakan secuil kisah IF Venue yang berhasil memikat pelajar SMA dengan program After School, yang diselenggarakan bakda sholat Jumat. Rahar dengan perawakan gagah bak Semar, memberikan kritik dan otokritik atas kooptasi pemerintah maupun korporasi ke dalam ruang-ruang kultural kolektif di Bandung.

Saya sendiri tidak besar di Bandung, apalagi skena musik Bandung. Namun, ada beberapa kisah yang sulit untuk terlupakan. Saya sempat merasakan nikmat tak ternilai tatkala menghelat gelaran studio show di bilangan Tubagus Ismail, dengan mengundang kawan-kawan skena se-Bandung Raya. Stand Free menjadi salah satu kawan terbaik di setiap micro gigs yang kami helat. Belum lagi kawan-kawan Tenton Hammer, grup musik guttural Undergod, musik post-hardcore, seperti Attack the Headline (Yogyakarta) hingga grup musik laris manis di era itu, Rocket Rockers.

Eviction, unit noise-drone tampil di Reruntuhan RW 11, Tamansari, Bandung. Dok. Hanas Duvanc

Kisah yang dituturkan oleh ketiga pembicara mungkin tidak persis dengan suasana skena yang saya alami. Slogan “musik sebagai panglima” saat itu membuat saya dan kawan-kawan menghidupi skena musik tanpa irisan politik sama sekali. Mungkin lagu yang dicipta oleh kawan-kawan dan grup musik yang pernah saya bentuk saat itu bernafaskan politik, namun secara narasi, wacana, dan gerak, kami jelas sangat apolitis. Jangankan mendiskusikan ekonomi-politik Marx atau Keynes, mampu mendiskusikan kemajuan teknologi recording secara mandiri saja kami sudah sangat terhibur, bahkan kegirangan.

Kemudian perbincangan malam itu mulai serius, saat muncul pertanyaan bagaimana mempertahankan apa yang sudah dikerjakan oleh kawan-kawan dalam pergerakan. Ucok menjawab pertanyaan itu dengan argumentasi ekonomi alternatif. Ucapan Ucok kembali membuka ingatan masa lalu saya. Gagasan ekonomi alternatif sempat hidup dalam skena Cimahi saat itu. Menjual merchandise, mulai dari brand internasional hingga brand lokal yang didapatkan dari hasil main belakang (karena salah satu kawan bekerja di salah satu brand lokal kala itu). Hal-hal tersebut kami lakukan sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana kami bisa sustain untuk bisa terus menghelat studio show. Menjual barang-barang pribadi sudah menjadi hal biasa akibat utang pasca micro gigs yang kami helat. Buah dari apa yang sempat kami pertahankan dulu adalah bertahannya beberapa kawan dalam menjalankan bisnis hingga hari ini. Seperti salah satu kawan yang berhasil memperbesar pemasukan lewat penjualan celana jeans.

Dikotomi yang kemudian terlontar dalam diskusi malam itu adalah kooptasi korporasi dan kooptasi negara. Kesempatan ini diambil dengan ciamik oleh Frans. Memaparkan bagaimana komitmen politik skena musik bisa terjaga, atau bahkan terang-terangan mengakui keterlibatannya dengan korporasi dan negara tanpa banyak pembenaran. Dikisahkan bagaimana kemudian kolektif IF Venue mampu menciptakan ekosistem yang apik, mampu mengelaborasi musik dan diskusi. Bahkan kehadiran Ultimus di era itu menjadi penting bagi Ucok bahkan bagi kawan-kawan di era itu, untuk kemudian kolektif mampu mengaktivasi ruang tanpa sekat atas apa yang tiap-tiap kolektif percaya. Menjadi refleksi bersama, bagaimana kita bisa menjaga komitmen politik itu sendiri?

Kooptasi kemudian menjadi perbincangan yang cukup hangat di antara peserta diskusi malam itu. Kasus jabat tangan Mike Marjinal dengan pihak kepolisian ditanggapi dengan canda namun serius oleh Rahar. Bicara menyoal kooptasi, mungkin  saya dan kawan-kawan sempat mengalami fase itu. Saya masih duduk di bangku kelas satu SMA kala itu, dan sialnya kami harus tunduk atas kuasa kepolisian. Saat itu kami membutuhkan Surat Izin Kegiatan, namun tarif yang mereka (kepolisian) tetapkan untuk kami cukup tinggi. Akhirnya kami sepakat, daripada harus membayar surat izin yang akan dibekukan apabila tak sanggup membayar, kami memilih memindahkan venue ke gedung TNI di bilangan Gatot Subroto, Cimahi. Bahkan bukan hanya itu, beberapa kali kami menyewa tanah TNI hanya untuk bisa memuaskan nafsu bermusik kami. Tindakan kami benar atau salah? Kami pun tak mampu menjawab, karena kami tak sempat mengenal istilah kooptasi sama sekali.

Menutup sesi diskusi sekaligus membuka pertunjukan musik malam itu, aktor hip-hop yang tergabung dalam kolektif Def Bloc, Joe Million, memanaskan lantai dansa dengan nomor-nomor panas miliknya. Di pertengahan, grup musik Masturbasi Distorsi kembali mendendangkan nyanyian penuh cinta bernafaskan semangat revolusi lewat lagu Lari Kamerad! Dunia Tua Dibelakangmu!. Sedanngkan Eviction, unit eksperimental ekstra gelap memanjakan mata para audiens dengan nafas teatrikal beserta iringan musik noise. Terselip pesan simbolik mengenai nasib para petani, kalau tidak salah, lagu yang dibawakan oleh Eviction berjudul Sawah Habis di Negeri Agraris. Menutup tuntas perjumpaan malam itu, Senartogok membawakan lagu terbaru miliknya, meski tanpa judul, lagu itu ia dedikasikan untuk Ginan almarhum (Rumah Cemara, Jeruji) yang mengingatkan kita bahwa ajal bisa kapan saja datang menghampiri, tanpa permisi.

Hidupnya semangat guyub di Tamansari menjadi angin segar bagi aktivitas kultural dan gerakan. Semoga dengan guyub dan kehangatan malam itu, mampu menjadi awal bagi aktivitas pengaktifan ruang-ruang di Bandung, khususnya titik-titik api. Tentu secara kolaboratif, seperti Positive Force nun jauh di sana. Tanpa pandang dari mana kamu datang, apa ideologimu, apa warna kulitmu, bahkan hingga chords apa yang kamu gunakan untuk mengambil nada dasar musik yang dimainkan. Tidak ada manusia yang terus menerus apolitis, bahkan politis. Inkonsisten mungkin, namun itulah manusia, dan begitu pula hidup. Bagai roller coaster, selebihnya, tunjukkan pada dunia bahwa kamu sedang menikmati itu semua.

___

Dokumentasi: Hanas Duvanc

 

No Comments

Post A Comment