Metaruang | Di PT. Freeport, Emas Lebih Mahal daripada Manusia
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17496
post-template-default,single,single-post,postid-17496,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Di PT. Freeport, Emas Lebih Mahal daripada Manusia

“… Bahwa Indonesia tidak menginginkan orang Papua, Indonesia hanya menginginkan tanah dan sumber daya alam yang terdapat di dalam pulau Papua.”

Pernyataan Ali Murtopo pada tahun 1966 itu ditulis oleh pendeta Socratez Sofyan Yoman dalam bukunya berjudul “Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat”, diterbitkan oleh Galang Press (2007). Sayangnya, setahun kemudian tepatnya pada bulan Juni, 2008, Kejaksaan Agung menarik peredaran buku tersebut dengan dalih “mengganggu ketertiban umum.”

Hal yang sama sebenarnya pernah terjadi pada 2007. Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY menarik buku terbitan Galang Press lainnya berjudul “Tenggelamnya Rumpun Melanesia” karya Sendius Wonda. Alasannya, buku tersebut dapat menimbulkan kerawanan konflik.

Penyensoran oleh negara tak hanya terjadi pada karya tulis ilmiah. Segala hal yang berkaitan dengan Papua, tampaknya memang ditekan sedemikian rupa untuk tak muncul ke permukaan, untuk tak serta-merta menjadi perhatian publik. Kecuali fabrikasi isu seperti “separatisme”, “perang antar suku”, atau “penembakan bus karyawan Freeport”, yang sengaja dikedepankan guna membentuk persepsi publik tentang Papua dan daulat NKRI atasnya.

Lebih spesifik, bicara tentang Freeport, yang belakangan santer publik dengar barangkali angka 51% yang kini dimiliki Indonesia. Besaran saham itu mempunyai potensi keuntungan hingga mencapai taksiran sebesar USD60 miliar atau setara Rp864 triliun (mengacu kurs Rp14.400) dari Tambang Grasberg, sampai masa operasi Freeport McMoran di Indonesia habis pada tahun 2041.

Perusahaan tambang emas ini pun mencatatkan kenaikan produksi yang signifikan. Induk usaha PT Freeport Indonesia, Freeport McMoran menorehkan kenaikan laba bersih (net income attributable to common stock) sebesar 172,8% menjadi USD2,12 miliar pada periode sembilan bulan pertama (2018) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sekitar USD776 juta. Sepanjang sembilan bulan (2018), produksi emas Freeport naik lebih dari dua kali lipat. Kenaikan produksi emas ini tepatnya mencapai 108,4% dari 2,1 juta ons dari sebelumnya 1,01 juta ons.

Tentu publik beserta para pemegang saham tambang emas yang kontrak karyanya diteken pada 7 April 1967 ini, sekitar tiga pekan setelah Soeharto dilantik sebagai pejabat presiden, dapat menerbitkan kesan yang optimis berkat laporan kinerjanya yang serba outstanding. Bahwa hubungan Freeport dan Papua serta Indonesia tengah berjalan dengan baik, mulus, dan lancar.

Berbeda halnya dengan nasib para pekerja PT. Freeport, wabil khusus mereka yang mesti mendekam di bawah tanah memasang panel dan pipa, mengeruk material pasir, demi sepokok batu mulia. Kerentanan pekerja sektor tambang ini begitu tinggi dan beresiko. Keselamatan dan nyawa pekerja telah menjadi taruhan utamanya. Namun, respon Freeport terhadap ragam kecelakaan sekaligus kondisi kesehatan para pekerjanya itu amat sangat minim, bila memang abai dirasa berlebihan.

Tepat pada Kamis malam, 8 November 2018, seusai elemen buruh Freeport mengikuti pendidikan soal politik hukum perburuhan di Jakarta Timur, Astika Andriani dari Metaruang berkesempatan mewawancarai mereka perihal relasi kerja, kondisi medan kerja, serta perlengkapan penunjang kerja beserta keselamatan kerja. Praktik kerja seperti apa saja yang sesungguhnya dilakukan, atau terpaksa dilakukan, oleh para buruh Freeport demi menorehkan catatan positif di akhir tahun ini, yang membuat para investor tersenyum di saat yang sama menelan korban jiwa dari pihak pekerja.

Elemen buruh Freeport Indonesia sendiri telah berada di Jakarta sejak bulan Agustus 2018. Mereka menyuarakan tuntutan ihwal kondisi kerja yang memprihatinkan, perlakuan sewenang-wenang perusahaan terhadap 8.000 orang yang di-PHK; tentang hak-hak buruhnya, serta tentang betapa minimnya perhatian perusahaan pada aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), baik secara fisik maupun kejiwaan.

 

 

Metaruang

Selain kerja-kerja pengorganisiran seperti aksi dan pendidikan yang sedang dilakukan sekarang ini, bagaimana keseharian teman-teman buruh Freeport di Jakarta?

Elemen Buruh Freeport

Yang pertama, keseharian kami di Jakarta, ya, melakukan aksi. Menyuarakan usaha pekerja yang tertindas khususnya yang di Timur sana, di Papua. Karena memang sensitif sekali kondisi perburuhan yang di Timur sana. Kalau boleh dikatakan filosofinya, ya matahari itu terbit dari Timur. Bilamana (buruh Freeport) di ujung Timur sana benar-benar sudah sejahtera, kemungkinan besar akan menular ke (buruh Freeport yang berada di) wilayah Barat. Sehingga kami berada di Jakarta, karena sekian bulan kami menyuarakan di daerah, ini tidak ditangkap oleh publik maupun media. Pada saat itu kami para pekerja melakukan protes terhadap keadilan yang dirasakan tidak diterima oleh para pekerja. Akan tetapi suara kami di daerah tidak terdengar. Sehingga kami berkesimpulan mencoba datang ke ‘mama’ kota (Jakarta). Harapannya, dengan kami ke ‘mama’ kota para pihak khususnya pejabat negara mendengarkan apa yang jadi penderitaan kami di sana. Tetapi ternyata tidak didengar juga oleh para pejabat-pejabat yang ada di ‘mama’ kota.

Kami selama di Jakarta terus menyuarakan keadilan, melakukan advokasi bersama dengan aliansi, dengan aktivis-aktivis yang ada di Jakarta. Sambil mengisi kekosongan kegiatan kami melakukan Car Free Day setiap Minggu. Dalam rangka selain menyuarakan permasalahan kami, kami juga ngamen, mencari dana untuk bisa bertahan hidup di Jakarta.

Kami melakukan aksi tidur 3 malam di kantor Kementerian Tenaga Kerja, Kamisan bersama Kontras, menduduki Istana dan kantor BPJS Kesehatan pusat.

Sementara ini masih di sekitar Car Free Day di Bundaran HI aja dulu, karena mengingat kalau hari-hari biasa banyak kegiatan-kegiatan kami yang sifatnya mendatangi kantor-kantor lembaga seperti Komisi Yudisial, Komnas HAM, maupun lembaga legislatif ke DPR, maupun MPR untuk mencari dukungan suara maupun melaporkan permasalah kami yang sedang terjadi.

Selain itu, di waktu luang saudara kami yang di Papua juga melakukan ibadah-ibadah di gereja-gereja sambil juga menyampaikan permasalahan. Agar petinggi-petinggi agama, khususnya kaum nasrani, mendengarkan apa yang jadi permasalahn kami. Kami juga minta bantuan doa. Karena kami berangkat dari rumah semata-semata, ya tadi, mencari ridho Tuhan lah. Semoga perjalanan kami ini dilindungi dari segala malapetaka.

 

 

Metaruang

Jadi di Jakarta sudah sekitar tiga bulan, ya?

Elemen Buruh Freeport

Kurang lebih tiga bulan, dari awal Agustus.

 

 

Metaruang

Bagaimana respon dari pihak keluarga ketika mereka diberi tahu kawan-kawan akan berangkat ke Jakarta?

Elemen Buruh Freeport

Jadi, sebelum berangkat ke Jakarta, kami membentuk satu tim. Kami meminta restu dari istri, saudara-saudara, anak, bahwasannya bapak ingin ikut dalam perjuangan ke Jakarta. Ada pemanggilan dulu kepada keluarga kawan-kawan yang ingin partisipsi dalam perjuangan ini. Kami ada konseling dulu lah namanya, supaya benar-benar mengikhlaskan bapaknya ikut dalam perjuangan ini.

Ya tetap sih, kawan-kawan ke anak dan keluarganya selalu komunikasi, baik itu lewat menggunakan teknologi seperti Facebook, Whatsapp. Intinya kita tetap minta dukungan, semoga cepat selesai dan kita bisa cepat kumpul bersama keluarganya.

 

Metaruang

Apa yang keluarga sampaikan ke kawan-kawan sebelum berangkat?

Elemen Buruh Freeport

Kalau urusan keluarga sih pastinya jaga kondisi, karena jauh dari keluarga. Mereka gak bisa pantau setiap saat. Kemudian dari anak-anak juga kolega, kita harus ada komunikasi. Karena kalau satu hari saya gak telepon, khawatir. Pasti ditanya sama anak-anak.

 

Metaruang

Kabarnya ada istri kawan-kawan yang menyusul ke sini?

Elemen Buruh Freeport

Ya. Kebetulan waktu itu sempat ada beberapa kelompok istri-istri yang suaminya berjuang, ingin benar-benar melihat apa sih sesungguhnya yang dilakukan oleh suami-suaminya dan saudara-saudaranya di sini. Untuk melihat kegiatan di sini, supaya sekembalinya ke sana bisa menyampaikan kepada istri-istri yang lain bahwa bapaknya memang sedang menjalankan tugas.

 

Metaruang

Berapa lama istri dan keluarga turut tinggal di Jakarta?

Elemen Buruh Freeport

Waktu itu sempat satu minggu lah.

 

 

Metaruang

Sejak dari awal kawan-kawan pertama kali sampai di Jakarta hingga sekarang, buruh-buruh yang tersisa di Jakarta berapa jumlahnya?

Elemen Buruh Freeport

Pertama waktu datang kurang lebih ada 300 (orang). Terus yang wilayah Pulau Jawa, mereka memang kan sifatnya temporer, jadi mereka pulang pergi lah, bergantian. Tapi khususnya kami yang dari Papua tinggal sementara di sini.

Kegiatan ini bukan hanya di Jakarta, tapi juga di Jayapura. Di provinsi juga sama (ada), beberapa perwakilan kami khususnya yang Papua yang gak bisa terlibat aksi di Jakarta, nah mereka semua kumpul. Sebagian ada di Jayapura, terbangun posko yang sama, gerakan yang sama untuk bagaimana menyuarakan masalah ini.

Karena kegiatan kita juga mulai agak berkurang di sini, sementara ini tinggal 100-an (orang) lah. Dalam kekosongan waktu ini, akhirnya kita berinisiatif untuk menggagas acara pendidikan ini dengan harapan ketika kegiatan ini selesai, setidaknya kawan-kawan membawa bekal ilmu.

 

Metaruang

Selama bekerja di Freeport, bagaimana kondisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)?

Elemen Buruh Freeport

Kalau keselamatan kerja, dalam konteks administrasi oke. Secara administrasi Freeport sudah diakui dunia internasional, mendapatkan sertifikasi dari OHSAS, NOSA,[1] dan lain-lainnya. Namun secara implementasi di lapangan, kenyataannya sangat jauh berbeda.

Aksi yang kami lakukan pada 2014 itu menekan pertanggung jawaban masalah K3. Yang mana klimaksnya waktu itu, tahun 2013, ada kasus longsor di Gossan, di terowongan bawah tanah waktu lagi pelatihan, tempat training. Dari kasus itu terkesan negara mengabaikan dalam melindungi rakyatnya.

Dalam aksi itu, kami menuntut pertanggung jawaban atas kejadian kecelakaan kerja itu. Namun sampai saat ini tidak jelas, siapa yang bertanggung jawab. Walaupun (saat itu ada) upaya-upaya tekanan dari dunia internasional, afiliasi kami dari industrial pada saat itu, namun hingga saat ini (kami) belum tahu siapa yang bertanggung jawab.

Azas kehati-hatian dalam UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyatakan bahwa “Ketidakpastian mengenai dampak suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah meminimalisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup” juga harus diterapkan pada keselamatan manusia, sebagai bagian dari lingkungan hidup.

Sehingga terjadilah lagi (kecelakaan kerja) di tahun 2014, ada rekan kami yang terlindas dam truk. Truk besar, melindas salah satu mobil penumpang (pekerja Freeport) yang kemudian memakan korban meninggal kurang lebih 4 jiwa. Di situlah klimaksnya. Kami melakukan aksi juga. Memblokir area kerja, maksudnya kami di situ tujuannya mempertanyakan keseriusan (perusahaan atas K3). Karena statement (dari perusahaan) tiap ada kecelakaan selalu sama. Perusahaan menginformasikan (bahwa mereka) tanggung jawab, normatif, tapi kok gak (ada perubahan yang) terbukti nih? Karena di 2014 terjadi lagi kecelakaan, padahal kecelakaan yang di 2013 kita juga masih ingat. Ada longsor, memakan banyak korban, tapi kok kejadian kembali. Itu lagi-lagi juga tidak ada pertanggungjawaban dari perusahaan. Dan lebih ironisnya, selalu yang disalahkan adalah pekerjanya, mereka yang dianggap lalai.

 

Metaruang

Bahwa kecelakaan itu gara-gara pekerjanya yang lalai?

Elemen Buruh Freeport

Ya, dianggap lalai akibat menghilangkan nyawa seseorang. Kena pasal KUHP.

 

Metaruang

Ada pekerja yang diberi pasal KUHP?

Elemen Buruh Freeport

Ya, karena tadi, supir yang bawa truk itu malah disalahkan. Sementara peristiwa yang longsor di Gossan yg mengorbankan 28 orang ini, kok gak ada yang dipertanggungjawabkan? Sementara kelalaian supir dam truk, pekerja biasa, yang tahunya hanya menjalankan tugas perintah dari pimpinan, di tempat kerja, dia yang dikorbankan.

 

Metaruang

Lalu bagaimana kelanjutan pekerja yang terkena pasal KUHP?

Elemen Buruh Freeport

Ya sempat dipenjara, kan kena pidana. Sekarang sudah bebas.

 

Metaruang

Terjadi pada tahun berapa?

Elemen Buruh Freeport

Tahun 2014. Makanya kalau berbicara K3, secara faktual kami sendiri merasakan jauh berbeda dari yang ada di sertifikat.

Belum lagi soal penyakit akibat hubungan kerja. Masih banyak kawan-kawan yang belum memahami dampak dari satu pekerjaan. Walaupun perusahaan sudah melakukan kewajiban medical check-up terhadap pekerjanya, namun sangat disayangkan si pekerjanya itu gak pernah mendapat secara detail laporan hasil dari medical check-up-nya. Yang sering terjadi adalah tiba-tiba, walau rutin medical check-up, beberapa hari kemudian meninggal.

Mereka di-check-up rutin tiap tahun, tapi ya laporannya normatif saja, seperti kebisingan yang berakibat berkurangnya pendengaran. Secara fisik, lah, panca indra saja. Tapi secara di dalam, tubuhnya itu ada apa dan bagaimana, penyakit yang disebabkan bekerja di bawah tanah, tidak pernah diberitahu. Bekerja di bawah tanah itu kan banyak menghirup debu-debu atau asap kendaraan, debu dari tambang. Kalau dulu ada istilah asbes, material-material gitu. Ini kan sangat disayangkan sekali, gak pernah ada penyampaian (dalam laporan hasil medical check-up). Kami bertanya-tanya. Kok sering medical check-up, dibilangnya bagus, kok tiba-tiba meninggal mendadak? Ironisnya ketika ada yang meninggal mendadak, selalu dibilangnya (sakit) jantung. Kalau mendadak (sakit) jantung, bagaimana selama ini deteksinya?

 

Metaruang

Berapa banyak kejadian seperti itu?

Elemen Buruh Freeport

Banyak. Rata-rata kita tiap tahun ada yang meninggal dengan mendadak seperti itu. Di tempat tinggalnya kadang-kadang kita temukan. Beberapa tahun yang lalu, berapa hari itu ditemukan di kamarnya. Dia tidur. Itu (tempat tinggalnya) kan kayak asrama, mes. Tidurnya di tingkat dua. Kawan sekamarnya ini tahunya dia tidur, karena kerja malam. Selama beberapa hari seperti itu, kawan sekamarnya pulang pergi kerja seperti biasa. Setelah tercium bau, baru tahu dia meninggal. Berarti kan di sini masih kurang optimal dalam kesehatan kerja. Walaupun Freeport ini mendapatkan penghargaan-penghargaan, realitasnya jauh sekali.

 

Metaruang

Pekerja Freeport banyak yang bekerja di bawah tanah. Bagaimana dengan perlindungan pekerja bawah tanah dari Freeport sendiri?

Elemen Buruh Freeport

Kalau perlindungan ya administratif saja. Tapi secara umum itu masih sangat jauh dari harapan. Saya masih ingat tahun 1980-an, negara ini sendiri belum punya regulasi khusus sebatas peraturan pemerintah, untuk orang yang kerja di bawah tanah. Jadi dianggap sama lah, orang kerja di bawah tanah sama pekerja umumnya. Padahal ini lebih spesifik.

Setahu saya dulu, orang kerja di bawah tanah maksimal itu lima tahun. Dia seharusnya keluar dulu, refreshing beberapa tahun di luar, baru bisa kembali lagi. Istilahnya pemulihan, menghirup udara segar. Menurut hitungan dari pengalaman pekerja di bawah tanah ya memang harus lima tahun. Biar tetap sehat, setelah itu masuk lagi. Itu sempet berjalan di tahun 1990-an. Namun semakin ke sini sudah gak berlaku lagi. Malah sampai saat ini, ya (buruh Freeport bekerja) seumur hidup. Sampai pensiun, berpuluh-puluh tahun, di bawah tanah terus. Yang sangat saya sayangkan itu. Orang di bawah tanah yang ruangnya sangat terbatas, rentan.

Ya di sinilah kelemahan negara, yang tidak punya regulasi khusus yang mengatur pekerja bawah tanah. Sebagaimana tahun 2013, kami menyuarakan pada pemerintah untuk meratifikasi konvensi ILO 176 tentang safety bawah tanah dengan harapan jangan sampai peristiwa pada 2013, longsor itu terulang kembali dan memakan korban. Namun sampai saat ini pemerintah juga gak bergeming. Kalau aku dengar kan dunia pertambangan itu rata-rata di bawah tanah. Baik di Halmahera, di Banyuwangi. Tapi lagi-lagi belum ada regulasi yang mengatur pekerja bawah tanah. Ini sangat saya sayangkan. Negara tidak melihat dari aspek perlindungan rakyat pekerjanya.

Ada sedikit tambahan soal masalah penyakit yang dialami oleh karyawan. Sempat saya pernah punya rekan kerja, dia itu pekerja kontrak. Beda dengan karyawan permanen. Waktu itu, saya amati sendiri bahwa ketika pekerja kontrak ini sakit jantung, itu tidak ditindaklanjuti sampai penyakitnya beres. Dia cuma dikirim ke rumah sakit perusahaan, berobat di situ dan tidak dilanjuti atau dikirim ke luar. Perusahaan akan lihat dari masa kontraknya. Kalau masa kontraknya sudah mau habis, rumah sakit cuma bisa melayani untuk berobat. Kalau fisiknya sudah sedikit bagus, langsung diputuskan, tergantung masa kerjanya. Padahal belum tentu dia sudah sembuh total atau belum.

 

Metaruang

Bagaimana gambaran kondisi kerja di bawah tanah?

Elemen Buruh Freeport

Untuk udara yang masuk, itu udara buatan. Ditarik oleh alat, dibuang ke dalam. Untuk (pergi ke) area kerja, dari luar itu diantar ke dalam. Kemudian menuju tempat kerja yang sudah dikasih tugas untuk bekerja, kadang jalan kaki. Jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh juga dengan membawa tool yang berat. Di dalam juga lebih banyak pekerjaan fisik. Ada juga yang memegang alat-alat gerak, operator. Pekerjaan fisiknya seperti pemasangan-pemasangan pipa, bebannya kadang diangkat kami juga.

 

Metaruang

Anda sendiri bekerja di bagian apa?

Elemen Buruh Freeport

Kalau saya sendiri itu untuk memberikan training, bagian development. Aktivitas di underground itu cukup banyak teman-teman pekerja yang harus jalan kaki, di bawah kondisi udara yang tidak bersih. Kami dikasih masker, untuk menjaring udara yang tidak bersih. Tapi itu juga kadang menghambat kita untuk bernapas. Memang agak susah beraktivitas, jalannya agak jauh, biasanya kita ngos-ngosan.

 

Metaruang

Kira-kira berapa luas area kerja bawah tanah itu?

Elemen Buruh Freeport

Jauh sekali jalannya.

Waktu itu ada wartawan yang datang ke sana. Ternyata terowongan itu panjang sekali. Kalau kita mau bikin garis lurus, lingkaran-lingkaran terowongan bawah tanah yang Freeport punya ini, sama jaraknya dengan Jakarta-Solo.

 

Metaruang

Teman-teman sendiri berapa lama jam bekerjanya?

Elemen Buruh Freeport

Di Freeport, khususnya yang bagian operation atau maintenance, itu semuanya rata-rata 12 jam.

Kalau saya kebetulan yang di bagian pabrik peleburan, itu sama. Dari jam 6 (pagi) sampai jam 6 sore.

Saya juga sama. Atau sebaliknya, dari jam 6 sore sampai 6 pagi.

Yang perlu disadari itu bukan hanya waktu kerjanya. Tapi mulai aktivitas bergeraknya. Jam 3 subuh itu sudah mulai bangun. Ketika di mes, mau mandi itu bersama-sama, bergantian. Habis mandi selesai, makan pun antre, sama-sama.

Jadi memang gak efektif untuk tubuh manusia. Karena jam 3 pagi sudah bangun, lalu kerja sampai jam 6. Selesai kerja jam 6, jalan pulang sampai ke mes lagi itu minimal jam 9 malam. Lalu biasanya baru bisa istirahat jam 10. Besoknya jam 3 subuh sudah harus bangun. begitu terus. Sehingga, ya, secara fisik manusia, gak layak lah kalau liat sistem kerjanya. Jam kerja 12 jam, tapi proses menuju kerjanya ini juga membuat waktu istirahatnya sangat minim. Waktu istirahat seperti yang diharapkan, 8 jam, itu gak ada. Kami istirahat paling 4 jam lah. Kerjanya sangat rentan padahal. Mengancam jiwa dan keselamatan.

Cuacanya juga ekstrim. Karena ada juga yang di dataran tinggi, otomatis suhunya tinggi juga. Kalau belum terbiasa, perlu waktu menyesuaikan sekitar satu bulan. Bisa sakit, bisa keluar darah di hidung, atau demam. Kalau orang baru biasanya begitu.

Karena kalau dataran tinggi begitu kan oksigennya kurang. Kadang-kadang juga ada salju.

 

Metaruang

Sejak 2013 sudah banyak aksi dan upaya dari kawan-kawan menuntut K3 yang lebih layak. Selama menuntut kondisi kerja yang lebih baik itu, seperti apa respon dari aparat yang didapat kawan-kawan?

Elemen Buruh Freeport

Ya kalau aparat itu pasti, karena si Freeport ini kan oleh negara dijadikan suatu perusahaan yang berlindung di bawah peraturan pengamanan Objek Vital Nasional (Ovitnas). Sehingga kewajiban negaralah untuk mendatangkan aparat itu, biar tetap stabil semuanya. Karena dilindungi aturan Ovitnas itulah, tiap ada aksi-aksi aparat hadir. Mau masalah hubungan apapun, mereka selalu tampil. Keberadaan mereka menginginkan kita gak boleh protes, gak boleh kita bereaksi mau terjadi apapun. Kalau ada suatu konflik maunya didialogkan. Selalu, masalah-masalah seperti itu perusahaan ya maunya dibawa ke hukum privat terus, gak mau ke publik.

Seperti misalnya tadi masalah K3. Mereka bilang, “Kalau gak senang, ya bawa saja ke perselisihan industrial!”.

Padahal kami bicara hak atas keselamatan kerja. Masa menuntut keselamatan kerja dibawa ke perselisihan hubungan industrial, kan gak mungkin dong. Kan gak relevan, gak masuk akal. Orang sudah ada yang meninggal, kok harus terlebih dahulu dibawa ke PHI. Tapi kita gak boleh aksi.

Memang aksi kita spontan. Karena kalau prosedural gak mungkin. Ini sudah urgent, minta perhatian. Kita sudah berkali-kali mengajukan keselamatan kerja ini, tapi (kecelakan kerja) itu dianggap hal biasa. Aksi yang kita lakukan dianggap salah terus, seperti yang terakhir, aksi 2014 ketika kita melakukan pemblokiran itu. Kita tetap disalahkan oleh pemerintah.

 

 

Metaruang

Apa yang pemerintah sampaikan ketika itu?

Elemen Buruh Freeport

Pemerintah menyalahkan perbuatan aksi kita itu, karena gak prosedural. Padahal konteks aksinya itu yang harusnya dilihat; penyebabnya. Efek dominonya, akhirnya tersirat bahwa tidak boleh lagi ada pekerja Freeport yang protes, yang aksi. Kalau tidak suka, mereka bilang silakan dibawa ke hukum privat.

Selain itu ada juga keterlibatan aparat dalam negosiasi. Aparat jadi mediator. Terakhir itu juga terjadi di September 2016. Kami dimediasikan oleh Kapolda. Kapolda menekan kami supaya menyepakati keinginan mereka, untuk mengakhiri aksi kawan-kawan. Sementara aksi kawan-kawan bertujuan menuntut perbaikan K3.

Tapi karena peran Kapolda di sini ada di bawah lindungan dan tujuan Ovitnas itu, dia punya kewenangan untuk menekan, untuk segera mengakhiri aksi kami. Jadi ruang untuk bernegosiasi, untuk mencari suatu titik kesepakatan tawar menawar ini, gak ada. Pokoknya kami harus terima. Kalau gak senang, nanti ujung-ujungnya akan dicari celah pidananya. Bisa lewat pidana mengganggu ketertiban umum, atau menghambat kegiatan produksi Ovitnas. Itu yang selalu kami rasakan selama ada di Freeport.

 

 

Ragam kecelakaan di area tambang PT. Freeport

Selain aksi massa di Jakarta, Elemen buruh Freeport pun menyampaikan ragam data kecelakaan kerja di area tambang PT. Freeport. Nyaris semua kecelakaan itu tak tersentuh regulasi yang sifatnya preventif dan protektif terhadap pekerja. Setidaknya, memberi kita sinyalemen yang saksama tentang betapa rentan dan rawannya sektor pekerja tambang di Indonesia, khususnya PT. Freeport, yang secara kontras mampu meraup untung trilyunan tapi tak dapat melindungi nyawa pekerjanya sendiri.

Tragedi Big Gossan bukanlah kejadian longsor pertama kali di lokasi pertambangan PT Freeport Indonesia (PTFI). Pada tahun 2011, terjadi 2 kali longsor di sekitar Grasberg. Yang pertama terjadi sekitar bulan Maret 2011. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Freeport hanya melaporkan jika longsor telah menutup pintu masuk ke areal pertambangan Grassberg. Satu bulan kemudian, tepatnya tanggal 19 April 2011, kejadian yang sama terjadi lagi. Kejadian ini menyebabkan satu orang hilang dan satu orang tewas. Penyebab kejadian ini adalah peledakan tambang yang berakibat runtuhnya atap tambang bawah tanah di DOZ. Hingga saat ini, tak ada laporan lanjut tentang korban yang hilang karena insiden ledakan DOZ ini.

Mundur ke belakang, bulan Mei 2000, empat orang yang tercatat sebagai karyawan kontraktor PT. Freeport tewas karena batu-batu yang menjadi limbah tambang runtuh dan menimpa keempat orang itu. Batu-batu ini jatuh dari overburden ke arah danau Wanagon. Kejadian lebih parah lagi, terjadi pada 9 Oktober 2003. Longsor besar di open pit Grasberg sisi selatan menyebabkan 2,3 juta ton batuan dan lumpur runtuh. Reruntuhan ini menewaskan 8 orang dan melukai 5 lainnya. Pihak perusahaan menyatakan 5 tewas, 5 terluka dan 6 lainnya belum ditemukan dan diduga tewas. Freeport menyatakan kecelakaan terjadi karena adanya slippage material.

Tanggal 24 Maret 2006 terjadi lagi longsor di sekitar tambang Grasberg. Kali ini menewaskan tiga orang dan melukai empat orang lainnya. Karyawan yang tewas saat itu adalah Harsono Mokoginta, Tomas S. Toatubun dan Wecky Sianturi. Semuanya karyawan PT. Pontil, perusahaan subkontraktor Freeport.

Lima tahun kemudian, berselang empat bulan setelah kejadian di DOZ, karyawan Freeport berkewarganegaraan Australia tewas saat mengendarai mobil. Mobil Ford yang dikendarainya dihantam longsoran batuan di Mile 73 hingga jatuh ke dalam jurang sedalam 150 meter.

Selain longsor, pertambangan Freeport setidaknya telah berulangkali membawa masalah besar bagi masyarakat di sekitar area tambang itu. Bulan Juni 1998 gelombang air bercampur lumpur setinggi 6 meter meluap dari Danau Wanagon dan membanjiri Desa Waa. Setahun kemudian, terjadi lagi luapan air di danau Wanagon. Namun tak ada laporan adanya korban jiwa. Di tahun yang sama, lima orang penduduk asli sekitar tambang dilaporkan tewas keracunan tembaga dari biota yang mereka makan.

Di awal tahun 2013, tepatnya tanggal 19 Januari, empat orang karyawan Freeport terkena gas beracun di areal tambang. Satu meninggal di tempat, tiga lainnya berhasil dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Tembagapura. Korban yang tewas bernama Dony Asmon (38), karyawan di Departemen Geologi. Ia diduga kuat keracunan gas di terowongan Midle Low Area (MLA), Cross Cut 25 Amole Under Ground. selain Dony Asmon, semburan gas beracun ini juga menimpa Pahma, Awa Mardiana, dan Hery Purwanto. Ketiganya selamat karena segera mendapat pertolongan.

Dan insiden longsor di Big Gossan, yang terjadi pada tanggal 15 Mei 2013, menelan korban jiwa hingga 28 orang dan 10 lainnya berhasil diselamatkan, bisa jadi bukanlah kecelakaan terakhir di lokasi pertambangan PT. Freeport Indonesia. Meski secara teknis, ambruknya material yang sebagian besar adalah bebatuan alamiah dan tanah itu mengindikasikan hilangnya daya dukung atau kohesifitas batuan yang disebabkan oleh air permukaan dan udara yang meresap melalui proses kimiawi atau oksidasi di sepanjang rekahan atau patahan yang mengakibatkan kekuatan batuan menjadi lemah dan menyebabkan runtuh.

 

 

Astika Andriani, Metaruang 2018

 

Catatan:

[1] OHSAS 18001:2007, dan NOSA CMB 150N.

 

___

Dokumentasi: Elemen Buruh Freeport Indonesia

 

No Comments

Post A Comment