Loader

Di Nduga Honai jadi Abu

Alilius Nimiangge meninggal dibakar di dalam honai oleh aparat yang tengah melakukan operasi gabungan di Nduga.

Pagi itu, menjelang pergantian tahun 2018, salah satu tim evakuasi tampak sedang berdiri di atas bukit. Ia memanggil warga sipil Nduga yang tengah mengungsi di hutan. Bersama tim evakuasi dan kemanusiaan Kabupaten Nduga, ia kemudian berjalan mencari empat karyawan PT. Istaka Karya yang belum ditemukan.

Namun, bukannya menemukan karyawan PT. Istaka Karya, tim evakuasi justru menemukan empat honai terbakar. Salah satu honai masih meninggalkan tulang-belulang manusia.

Setelah diselidiki, tulang itu ternyata milik Alilius Nimiangge. Kampung Karunggame, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga itu memang sengaja dibakar.

Menurut penuturan saksi, Alilius Nimiangge sedang sakit ketika operasi militer tengah berlangsung. Alilius tidak bisa ikut lari bersama keluarganya. Kakeknya saat itu langsung berinisiatif untuk memindahkan Alilius ke loteng sebelum melarikan diri ke hutan.

“Ketika kami kembali, kami hanya menyaksikan tulang-belulang Alilius. Kami sedih, kami hanya bisa menangis,” tutur Gisia Nimiangge, seperti dikutip Wene Media. Gisia tak kuasa menahan tangis ketika ditanyai soal kematian kakaknya itu.

Sudah berminggu-minggu warga sipil Nduga harus bertahan hidup di hutan. Operasi militer yang terjadi beberapa bulan lalu ini menewaskan banyak warga sipil Nduga; mereka yang masih tersisa, didorong rasa takut, melarikan diri ke hutan.

Julianus, seorang warga asal Nduga, menceritakan kabar yang ia dapat lihat dari kampung halamannya. Warga sipil Nduga kini kesulitan memperoleh makanan dan rentan terserang penyakit. Di antara mereka sudah ada yang meninggal akibat kelaparan dan penyakit.

Penjelasan ini disampaikan Julianus saat sesi diskusi di acara solidaritas untuk Nduga pada Sabtu, 26 Januari 2019. Acara ini diselenggarkan oleh komunitas yang tergabung dalam gerakan Save Nduga. Selain diskusi, terdapat penampilan musik, puisi, donasi dan juga lapakan buku. Ada pelajar SMA, ada mahasiswa, ada buruh. Semua berbaur memutus sekat etnis, agama dan ras di Asrama Kamasan Papua, Jl. Cilaki Bandung.

Acara hari itu dibuka dengan sebuah diskusi tentang kondisi Nduga. Tiga orang menjadi pemateri diskusi. Julianus, sebagai salah satu pembicara, memaparkan kondisi terkini orang-orang Nduga. Dua pembicara lainnya, Franz Mahasiswa Papua dan Aziz dari Aliansi PANDA (Persatuan Penegak Demokrasi) membahas konteks militerisme yang terjadi di Nduga.

“Apa yang terjadi di Nduga ini bukanlah yang pertama kali terjadi,” jelas Aziz dalam diskusi sore itu. Wilayah yang memiliki 32 distrik dan 248 desa/kampung dengan luas wilayah 2.168,00 km² dan jumlah penduduk 106.354 jiwa pada tahun 2017 ini, memang memiliki sejarah panjang kekerasan militer terhadap rakyatnya.

Dalam laporan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang dirilis pada Selasa, 15 Januari 2019, sekurang-kurangnya tercatat tujuh operasi yang menoreh sejarah kelam penderitaan panjang di Nduga.

Yang pertama adalah Operasi Militer Indonesia pada 1977-1978 di Jayawijaya. Yang kedua adalah penyerangan oleh TNI pada 1981 di di Woema. Yang ketiga adalah operasi Militer Indonesia dalam pembebasan penyanderaan Tim Peneliti Lorenz 1996. Yang keempat, operasi penyisiran oleh POLRI di Asrama Mahasiswa Nduga di Ninmin Abepura pada 8 Desember 2000. Kelima, terdapat operasi Militer Indonesia pasca pembobolan Gudang Senjata 1702 Jayawijaya pada 2003. Keenam, pengorbanan anak-anak Nduga pada 2015 akibat diare dan buruknya pelayanan kesehatan. Dan ketujuh, peristiwa pada Juni 2018 hingga yang saat ini masih berlangsung selepas Desember 2018.

Pada kasus yang terakhir ini, TNI melalui pernyataannya di media-media nasional mengatakan bahwa para pekerja Proyek Jalan Trans Papua telah dibunuh oleh kelompok KKSB (Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata).

Padahal, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dalam laporannya menjelaskan, bahwa mereka sebelumnya telah melakukan investigasi terlebih dahulu terhadap para pekerja Proyek Jalan Trans Papua itu. Juru bicara TPNPB Seby Sambom, dalam laporan ULMWP tersebut, mengakui bahwa pembunuhan terhadap 17 orang bukanlah suatu tindakan reaksional yang muncul secara mendadak. TPNPB mengetahui bahwa proyek pembangunan jalan dan jembatan di Yigi dikerjakan oleh TNI bersama kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat).

Informasi yang mereka dapat lewat investigasi, semakin jauh terkonfirmasi lewat pernyataan Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe. Lukas, dikutip dari laporan ULMWP tersebut, pernah berkata, “Orang yang kerja itu, TNI yang kerja. Kita semua tahu TNI yang kerja. Dulu pertama sekali jalan itu kita yang survei, saya waktu itu ketua asosiasi. Saya yang survei jalan ini, begitu dana turun dari balai, turunlah TNI. Kalau TNI ya, TNI yang turun, jangan masyarakat yang ditaruh di sana.”

Peristiwa penembakan ini diawali oleh insiden beberapa hari sebelum perayaan kemerdekaan Papua tanggal 1 Desember 2018. TPNPB ketika itu meminta agar para pekerja meninggalkan lokasi proyek agar TPNPB bisa merayakan hari kemerdekaan bangsa Papua dalam suasana damai. TPNPB juga menyerukan kepada mereka yang berada di tengah masyarakat agar tidak mengambil foto saat merayakan peringatan 1 Desember, untuk alasan keamanan.

Semua niat baik ini menjadi buyar dan berubah menjadi mala petaka karena ulah Johny Arung, pemimpin perusahaan PT Istana Karya. Johny Arung yang dipanggil Komandan oleh karyawan ini dengan sengaja tidak mengindahkan permohonan TPNPB. Ia memerintahkan kepada karyawannya tetap bekerja dan lebih dari itu, ia mengambil foto-foto kegiatan doa. TPNPB memahami bahwa Johny Arung adalah seorang perwira menengah.

Ketika TPNPB menegur Johny Arung, ia juga menawarkan memberikan senjata atau dana kepada TPNPB. TPNPB pun mengerti; Johny Arung bukan orang biasa yang mengerjakan pembangunan Jembatan di Kali Yigi, Kabupaten Nduga, West Papua.

***

Warga Nduga melewati natal dengan duka. Setidaknya empat warga sipil tewas menjadi korban dalam operasi perburuan TNI-Polri.

“Negara juga dalam hal ini tak ada niat untuk menyelesaikan masalah di Nduga. Itulah kenapa banyak warga sipil yang mati,” ucap Franz, melanjutkan diskusi tersebut.

Tudingan ini bukan asal lempar. Aktivis HAM internasional Theo Hesenggem menyebut, hal tersebut memang merupakan hasil temuan tim evakuasi di lapangan.

“Warga mengatakan, pembunuh orang yang ditemukan waktu pencarian itu anggota (TNI-Polri), menggunakan dua helikopter dan menembak warga dari atas. Itu helikopter tentara. Dari helikopter itu melakukan tembakan bertubi-tubi di mana masyarakat berada,” kata Theo kepada Tirto.id dalam laporan berjudul “Natal Duka di Nduga: Korban Sipil saat TNI-Polri Memburu TPNPB-OPM.”

Warga juga menyaksikan bagaimana granat tangan dan granat lontar dilempar ke berbagai tempat oleh TNI. Granat-granat itu meledak di udara, lalu mengeluarkan asap tebal dan bau menyengat.

Laporan dari Tirto.id tersebut selaras dengan informasi yang disampaikan dalam laporan “Peristiwa Kali Yigi” yang dirilis oleh ULMWP. Laporan tersebut merangkum beberapa bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di persitiwa itu, yang memakan korban 14 warga sipil. Sebelas warga sipil menjadi korban penembakan, sedangkan tiga lainnya adalah anak-anak yang meninggal di pengungsian.

Korban terus berjatuhan di Nduga. Pemberitaan di media-media arus utama bisa jadi sangat minim, meski kondisi di Nduga sangat rawan dan mendesak. Merupakan hal yang penting untuk terus melanjutkan kampanye dan solidaritas untuk rakyat Nduga, tutur para pembicara dalam diskusi hari itu.

Berbagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Nduga sudah ada. Salah satunya adalah posko yang berlokasi di Asrama Papua, Jl. Cilaki Bandung, yang harus dikelola secara berkelanjutan. TNI telah menguasai hampir seluruh teritori Nduga, kata para warga sipil, dan posko ini didirikan untuk membantu kebutuhan rakyat Nduga yang kini masih mengungsi di hutan.

 

Baca juga: Menjadi Anak Papua di Tanah Jawa

***

“Lawan militerisme!” seseorang dari belakang berseru yang dibalas seruan “lawan,” oleh hadirin. Setelah diskusi, acara berlanjut ke pentas musik dari solidaritas.

Jamil, sapaan akrabnya. Membuka penampilan dengan humor receh namun berhasil membuat penonton terbahak. Jamil berhasil membuat suasana di asrama kembali hangat. Penampilan akustiknya pun tak kalah ciamik, petikan-petikan gitar dan suara yang merdu itu berhasil membuat kaget: orang sekocak ini bisa juga membuat lagu yang cukup serius.

Lirik-liriknya menceritakan tentang persoalan real yang dihadapi rakyat di bawah kungkungan kapitalisme yaitu perampasan lahan, dan modernitas yang menyebabkan keterangsingan manusia dengan alam. Ipul menutup penampilannya dengan sebuah pantun, lagi-lagi receh. Namun hadirin dibuat terbahak oleh ekspresi dan suaranya yang datar ketika berpantun.

Mokat tak mau kalah. Lewat lawakan khas Papua yang disebut mob, ia berhasil membuat seantero asrama riuh oleh tepuk tangan dan derai tawa. Dalam hal ini, Mokat berhasil membuat hadirin menertawakan Indonesia dengan menelanjangi represifitas di Papua.

Lokasi berlangsungnya acara juga seolah menyiombolkan kondisi Papua hari ini. Pagar runcing berbentuk tombak yang berkarat menjaga bangunan rapuh setinggi sepuluh meter yang menjadi tempat berlindung mahasiswa Papua. Dari seberang jalan, pagar itu nampak sebagai batas yang memisahkan orang-orang Papua dengan dunia luar. Batas ini di Papua sana menjelma sebagai pos-pos penjagaan militer di berbagai tempat di Papua.

Tembok-tembok bangunan yang kusam dan dipenuhi coretan-coretan berwarna hitam menjadi medium bagi mahasiswa Papua untuk menuliskan pesan-pesan tertentu. “Minuman keras tak akan menyelamatkanmu,” sebuah tulisan di dinding teras depan asrama.

Di bagian dalam asrama terdapat galeri yang menayangkan poster, foto-foto, koteka, dan noken. Masuk ke dalam ada satu ruangan yang cukup luas, sekitar 3×5 meter. Di sana ada deretan buku, dari filsafat, politik, ekonomi sampai sastra. Beberapa mahasiwa Papua tampak sedang membaca.

Selepas maghrib hadirin berdansa bersama. Beat yang dibawakan Dexton, salah satu mahasiswa Papua, membuat mereka saling mengangkat tangan, menggerakan badan mengikuti irama. Berondongan lirik kritik terhadap kolonialisme Indonesia membuat penonton riuh.

Hujan deras mengguyur tak lama kemudian dan orang-orang mulai berdesakan, melipir, mencari tempat berteduh. Di bawah terpal biru, diterangi cahaya lampu kekuningan, Randslam masih bisa menghibur kami dengan nomor-nomor andalannya.

Acara kemudian berpindah ke dalam asrama akibat hujan semakin deras dan terpal yang menjadi atap pelindung mulai bocor. Di dalam berlangsung teaktrikal yang dibawakan oleh Aliansi PANDA. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Mereka saling berpegang tangan, memanjatkan doa untuk keselamatan para pengungsi.

 

 

Artikel terkait:

___

Foto Ilustrasi: Ilyas Gautama, Militansi Metaruang 2019

 

No Comments

Post A Comment