Metaruang | Karena Kami Begitu Miskin
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17556
post-template-default,single,single-post,postid-17556,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Karena Kami Begitu Miskin

 

Oleh Juan Rulfo

 

Di sini semuanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk. Minggu lalu bibi Jacinta meninggal, dan pada hari Sabtu, setelah kami menguburnya dan merasa tak begitu ada yang salah, hujan mulai turun. Di situ ayah kami marah, karena seluruh tanaman jelai sedang dikeringkan, dan badai datang sangat cepat sehingga kami tak punya kesempatan untuk menutupinya. Yang bisa kami lakukan hanya meringkuk di bawah gubuk, menyaksikan hujan menghancurkan seluruh tanaman.

Baru saja kemarin, ketika Tacha adik perempuanku berumur dua puluh tahun, kami menemukan bahwa sungai menghanyutkan seekor sapi pemberian ayah di hari ulang tahunnya. Air sungai mulai naik tiga malam yang lalu sebelum fajar. Aku tertidur lelap, namun karena suara debur aliran air di tepian sungai sangat berisik, aku terbangun dan melompat dari tempat tidur dengan selimut di tanganku, seolah aku bermimpi atap ambruk. Sesudah itu aku kembali ke kasur karena aku tahu itu hanya suara sungai, dan segera saja aku tertidur.

Saat aku bangun langit dipenuhi awan gelap, dan sungai yang berisik semakin menjadi-jadi. Suaranya sangat dekat, dan baunya seperti air banjir, seperti bau bak pembakaran sampah.

Ketika aku mau melihatnya, permukaan sungai sudah melampaui tepiannya. Sungai itu meluap perlahan-lahan sepanjang jalan dan mengalir ke dalam rumah perempuan yang oleh orang-orang panggil Si Gentong. Kau dapat mendengar cipratan air menuju kandang ternak dan mengalir ke gerbang. Si Gentong bulak-balik bersicepat, melempar ayam-ayamnya ke jalan sehingga mereka dapat menemukan suatu tempat persembunyian yang tak terjangkau aliran sungai.

Di sisi lain dekat tikungan, sungai pasti telah menghanyutkan pohon asam di tepi kandang rumah bibiku Jacinta, karena kau tak lagi dapat melihatnya. Itu satu-satunya pohon asam di desa, maka semua tahu ini adalah banjir terbesar yang terjadi dalam beberapa tahun.

Aku dan adikku kembali di siang hari untuk melihatnya. Airnya semakin kotor dan semakin pekat, dan permukaannya jauh berada di atas jembatan yang dulu pernah ada. Kami di sana selama empat jam, hanya menyaksikan, tanpa lelah. Lalu kami berjalan sepanjang tahang untuk mendengar apa yang orang-orang bicarakan. Di bawah sana, dekat sungai, suara air sangat gaduh dan kau bisa melihat mulut orang-orang terbuka dan tertutup tapi kau tak bisa mendengar sepatah kata pun. Mereka menatap sungai sepanjang tahang, tentu, dan mencoba mencari tahu seberapa banyak kerusakan yang telah ditimbulkannya. Di sana aku temukan sungai itu membawa La Serpentina, seekor sapi pemberian ayah di hari ulang tahun Tacha. La Serpentina punya satu telinga warna putih dan satu telinga merah, dan mata yang cantik.

Aku tak tahu mengapa ia memutuskan mencoba menyebrangi sungai itu padahal ia pasti tahu itu bukan lagi sungai yang sama. La Serpentina tidak sebegitu gelisah. Barangkali ia tidur berjalan, untuk mempersilakan tubuhnya tenggelam tanpa sebab sama sekali. Ketika aku mau membuka gerbang kandang ternak di pagi hari ia sudah berdiri di situ seharian dengan mata tertutup, mendesau sebagaimana sapi saat tertidur.

Maka itulah yang terjadi padanya, ia pasti tertidur. Barangkali terpikir olehnya untuk bangun ketia ia rasakan air mendebur rusuknya. Ia kemudian merasa takut dan mencoba untuk kembali, tapi air malah akan mengalahkannya dan menggulingkannya berulang-ulang. Aku kira ia berteriak minta tolong. Hanya Tuhan yang tahu ia bisa berteriak.

Kami menemukan pria yang melihatnya saat sungai menyeretnya, dan bertanya apakah ada anak-anak sapi yang juga ikut terbawa. Ia bilang ia tak ingat. Pria itu hanya ingat ia melihat sapi berbintik melewatinya dengan kukunya berada di udara, dan lalu tenggelam dan ia tak lagi melihat kuku atau tanduk atau apapun. Ia sangat sibuk menarik batang-batang pohon dan ranting-ranting keluar dari air untuk kayu bakar, ia tak punya waktu untuk melihat apakah sapi itu muncul lagi.

Jadi sekarang kita tak tahu apakah anak sapi masih hidup atau mengikuti induknya masuk ke sungai. Tuhan membantu mereka berdua jika itu terjadi. Permasalahan yang kami miliki di rumah kami dapat terjadi lagi, sekarang tak ada lagi yang tersisa pada adikku Tacha. Yang kumaksud adalah ayahku bekerja keras untuk membeli La Serpentina ketika masih berupa anakan sapi, jadi ia bisa memberinya pada Tacha sehingga adikku punya sedikit modal dan tak akan tumbuh dewasa menjadi sundal seperti kedua adik perempuanku lainnya.

Menurut ayahku, mereka jadi nakal karena kami begitu miskin. Mereka tak merasa puas, mereka mulai menggerutu ketika mereka hanya sebatas bocah perempuan, dan segera setelah mereka tumbuh mereka mulai berkeliaran dengan jenis pria terburuk, mempelajari hal-hal yang jelek. Tentu mereka mempelajarinya dengan cepat. Mereka paham siulan lembut dari pria yang berdiri di luar rumah memanggil mereka di tengah malam, bahkan kemudian mereka pun pergi di siang hari. Mereka akan pergi ke sungai untuk mengambil air setiap semenit atau dua menit, dan terkadang kau pun bisa mengejutkan mereka di tengah kandang ternak, saat keduanya berguling-guling dengan seorang pria di atasnya.

Akhirnya ayahku mengusir mereka keluar rumah. Ia memang bertahan dengan mereka selama yang ia bisa, tetapi kemudian tak tahan lagi dan mengejar mereka di jalan. Mereka pergi ke Ayutla atau ke suatu tempat, aku tak yakin di mana. Tapi aku tahu mereka menjadi buruk.

Itulah mengapa ayahku sangat khawatir akan Tacha. Ia tak ingin Tacha menjadi seperti kedua kakaknya, ia ingin Tacha tumbuh normal dan menikah dengan pria yang baik, dan La Serpentina akan membuatnya aman selama ia tumbuh dewasa. Dengan seekor sapi, ia tak akan berpikir tentang betapa miskinnya kami ini. Itu akan menjadi sukar sekarang. Hampir setiap orang memiliki keberanian untuk menikahinya, hanya untuk mendapatkan sapi cantik itu.

Harapan satu-satunya ialah anak-anak sapi itu masih hidup. Tuhan tolonglah agar mereka tak memutuskan mengikuti induknya ke sungai. Karena apabila itu terjadi, adikku Tacha hanya selangkah lagi dari berubah menjadi buruk, dan ibuku tak menginginkannya.

Ibuku berkata ia tak tahu kenapa Tuhan menghukumnya sedemikian rupa dengan memberinya anak perempuan. Tak pernah ada perempuan sundal di keluarganya dari neneknya sampai sekarang. Mereka semua dibesarkan untuk takut pada Tuhan dan untuk tunduk dan hormat. Ia coba untuk mengingat apa yang pernah ia lakukan sehingga harus melahirkan sundal demi sundal, namun ia tak bisa mengingat dosa atau kejahatan apa yang pernah ia lakukan. Ia menangis setiap kali ia memikirkan tentang kedua anaknya itu, dan berkata, “Semoga Tuhan baik kepada mereka.”

Tapi ayahku berkata tak ada gunanya memikirkan mereka, mereka memang buruk. Hal yang perlu dikhawatirkan adalah kepunyaan Tacha masih hilang. Ia tumbuh dengan cepat, dan buah dadanya tumbuh mirip dengan kakaknya, menguncup dan mendongak dan mencemaskan untuk diperhatikan.

“Ya,” kata ayah, “siapa pun yang memandangnya, ia pasti memberinya perhatian penuh. Kau tunggu saja, ia akan berakhir buruk seperti yang lain.” Demikian, Tacha adalah kekhawatiran ayahku.

Dan Tacha menangis, karena mengetahui sungai membunuh La Serpentina. Ia di sini di sisiku, dengan gaun terusan warna merah, menatap ke sungai dan menangisi sapinya. Aliran kecil air yang kotor terus mengalir di wajahnya, dan kau akan berpikir bahwa ia memiliki sungai itu sendiri di dalam dirinya.

Aku merangkulnya dan mencoba membuatnya nyaman, tapi ia tak mengerti. Tangisnya malah tambah keras, dan isakannya terdengar seperti hentakkan sungai di tepian. Sekarang ia gemetar. Banjir makin meluap, dan percikan sungai yang kotor menciprati mukanya. Kedua buah dadanya naik-turun seiring ia menghela napas, seolah-olah keduanya mulai membengkak lalu mulai membinasakannya.

 

___

  • Diterjemahkan dari The Burning Plain and other stories (1953)
  • Juan Rulfo adalah penulis asal Mexico, yang lahir pada 16 Mei 1917 dan wafat pada 7 Januari 1986. Ia termasuk generasi terakhir dari para penulis era Mexican Revolution. Karya-karyanya memang tak banyak bertebaran, namun tanpa karya tulis Rulfo, Gabriel Garcia Marquez dan realisme magis tak akan pernah ada di dunia. Salah satu karya terbaik Rulfo berjudul Pedro Paramo telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia. Gabo berkomentar, bahwa ia dapat membacanya dari belakang ke depan karena begitu asyiknya novel itu.

___

Ilustrasi: Jon

 

Tags:
No Comments

Post A Comment