Loader

Fu$ball Mafia

1/

Tidak usah sangsi untuk mendaulat sepak bola Indonesia hari ini sebagai sentra produksi mafia. Kita bisa tengok mulai dari federasi liga dengan segala carut-marutnya, hingga perangkat pertandingan yang acapkali membuat keputusan-keputusan kontroversial. Turut andilnya elit federasi dalam arena politik elektoral, rangkap jabatan petinggi klub dalam struktur kepengurusan federasi serta pemerintahan provinsi, dan ketimpangan-ketimpangan yang lahir dari keputusan komisi disiplin, praktis menambah daftar panjang alasan bagi kita untuk lekas mengkafani PSSI, mengerandakan, dan menguburnya lebih cepat.

Di tengah kompetisi yang sarat akan kepentingan terselubung serta tangan-tangan rakus mafia lapangan hijau, tentu masih ada sejumput harapan yang bisa kita dapati dari suporter setiap klub. Ini bukan soal bagaimana suporter-suporter itu masih punya nilai surplus di hadapan panitia pertandingan yang menyediakan tiket masuk stadion. Juga bukan bagaimana suporter-suporter itu jadi penyalur pundi bagi kantung penjualan merchandise resmi setiap klub. Dengan loyalitas dukungan yang tidak usah dipertanyakan lagi, tentu sebuah resistensi dari suporter setiap klub terhadap federasi yang telah di ambang jelaga kebobrokan, bukanlah dongeng belaka.

Bandung Supporter Alliance (setelahnya disingkat BSA) jadi salah satu elemen yang mengibarkan panji perlawanan terhadap pemegang kuasa kompetisi sepak bola Indonesia. BSA tidak hanya menggelar resistensi via kesuporteran klub sepak bola (fandom) saja. Sebagai aliansi suporter yang blue born and bred untuk Persib, tidak sedikit kawan-kawan yang tergabung di dalamnya berasal dari komunitas musik di Bandung. Lahirnya mereka di titik api penggusuran Tamansari terdampak proyek Rumah Deret, jadi sebuah markah penting bahwa mereka menggelar pembangkangan politik terhadap rezim gusur hari ini. BSA jadi salah satu legiun suporter yang memborong tiga medium pembangkangan sekaligus via fandom sepak bola, musik, dan politik.

Musik dan sepak bola akan selalu lekat dengan politik sebagai sebuah simpul yang tak terpisahkan. Apa yang membuat hal itu nyaris tak terbantahkan adalah adanya chant bermuatan pesan politik di lapangan yang nadanya diadaptasi dari sebuah lagu; adanya band atau musisi yang mendedikasikan karyanya dalam satu kompilasi untuk klub sepak bola kelahiran, serta basis suporter yang terorganisir dari komunitas musik di teritori atau kota tempat klubnya bermarkas. Politik di sini tentu bukan Politik (dengan P besar) saja yang kerap diasosiasikan dengan selang-sengkarut parlemen, kepartaian, atau demokrasi kotak suara. Politik dalam troika pembangkangan bersama musik dan sepak bola ini jelas mengacu pada politik keseharian, keputusan kolektif, hingga penentuan sikap yang mengukuhkan di mana koordinat politik para suporter itu berada.

Entitas yang berhasil memborong ketiga moda pembangkangan itu adalah Sankt Pauli. Kendati tak ada yang bisa dibanggakan dari prestasi amburadul klub yang dijuluki Buccaneers of the League (Bajak Laut dari Liga) ini, suporter mereka yang biasa disebut Fanladen adalah alasan terbesar mengapa Sankt Pauli dikultuskan banyak insan sepak bola dunia. Dengan motto juang Echte Liebe yang berarti cinta sejati, suporter Sankt Pauli menjadikan musik mampu sejalan dengan visi politik klub.

Fanladen tak hanya mengambil alih dapur manajerial klub, menggelar liga tandingan dari Bundesliga, atau menyediakan tribun stadion Millerntor sebagai kamp peristirahatan bagi para aktivis penentang G20 saja. Perlawanan Sankt Pauli juga diamplifikasi lewat musik karena tidak sedikit suporter yang terorganisir dari komunitas punk di wilayah Hamburg. Belum lagi mulai dari Dropkick Murphy’s hingga The Gaslight Anthem, mereka punya andil besar sebagai corong Sankt Pauli lewat musik. Jika kita berkesempatan mengunjungi stadion Millerntor, barangkali atmosfer panas saat “Hell’s Bells” milik AC/DC diputar menjelang pertandingan dan refrain “Song 2” dari Blur yang dinyanyikan saat tim tuan rumah mencetak gol, turut dapat kita rasakan.

Ada satu hal penting yang perlu kita catat mengenai muasal lahirnya Fanladen dan BSA. Jika BSA lahir di titik api penggusuran warga RW 11 Tamansari terdampak proyek Rumah Deret, maka nilai-nilai progresif serta radikalisme Fanladen beserta basis suporter Sankt Pauli lahir dari perlawanan serupa terhadap penggusuran sebuah kawasan pemukiman bernama Hafenstrasse (Harbour Street). Kawasan pemukiman itu banyak dihuni oleh masyarakat kelas bawah, pengangguran, pekerja seks komersial, mahasiswa, imigran, hingga para punk.

Eskalasi konflik muncul ketika aparat yang dikerahkan untuk menggusur warga Hafenstrasse, dihadang oleh para penghuni serta massa solidaritas. Dalam kobaran konflik itulah, logo tengkorak serta tulang bersilang menjadi semacam simbol perlawanan. Massa solidaritas kian hari semakin bertambah, bahkan penjaga gawang Sankt Pauli saat itu, yakni Volker Ippig, memutuskan untuk turut bermukim di salah satu rumah di Hafenstrasse sebagai bentuk solidaritas terhadap warga penentang penggusuran. Pasca perlawanan terhadap rencana penggusuran Hafenstrasse, suporter Sankt Pauli terus terorganisir dengan para penghuni serta semakin menyebarkan nilai-nilai progresifnya.

Selain Sankt Pauli dan suporternya, ada satu entitas lagi di Jerman yang juga menjalankan moda pembangkangan serupa antara musik, sepak bola, dan politik secara bersamaan. Selain berangkat dari tradisi punk dan fandom klub kasta anjlok Bundesliga, entitas ini pun juga turut menggelar konfrontasi langsung melawan kebangkitan neo-Nazi seperti halnya suporter Sankt Pauli yang menentang fasisme. Kita bisa menemukan mereka lewat film dokumenter besutan Charly Hübner yang bertajuk Wildes Herz (Wild Heart).

2/

Video klip “Alles auf Rausch” dari Feine Sahne Fischfillet membuka sesi pemutaran dan diskusi film dokumenter Wildes Herz di puing reruntuhan RW 11 Tamansari, pada Minggu selepas isya, 18 November 2018. Meski sebagian areal retuntuhan masih sedikit tergenang air selepas penghujan saat petang, tak menghalangi antusias audiens untuk menyaksikan Wildes Herz. Audiens yang telah hadir disuguhi nomor ska-punk energik dalam video klip itu, yang memuat fragmen-fragmen sorotan saat band tengah manggung maupun di backstage. Terasa atmosfer khas ultras klub sepak bola Jerman dalam video klip yang diputar, seperti pyro party di tengah-tengah crowd manapun.

Pada acara yang digagas oleh BSA yang bekerja sama dengan Forum Juang Tamansari Melawan itu, juga turut menghadirkan sesi diskusi. Para pemateri yang mengisinya antara lain ada Frans Ari Prasetyo selaku dokumenter skena musik independen Bandung, Didit yang tergabung di BSA, Morrezza pentolan dari band Rentenir dan Wilayah Barat, serta Dwi Nur Akbar yang juga dari redaksi Metaruang. Sedangkan Faris Fakhriansyah bertugas untuk memoderasi diskusi.

Wildes Herz (Wild Heart) adalah film besutan Charly Hübner yang mengisahkan Feine Sahne Fischfilet (setelahnya disingkat FSF), band ska-punk asal Mecklenburg-Vorpommern, Jerman. Band ini dibentuk pada 2007 dengan personilnya yang konsisten sedari awal pembentukan. Jan “Monchi” Gorkow mengisi vokal, Christoph Sell menukangi gitar dan vokal latar, Jacobus North serta Max Bobzin yang bertugas meniup terompet, Kai Irrgang yang membetot bass, dan Olaf Ney yang mengisi pos drum. FSF sendiri tergabung di label rekaman Diffidati Records dan Audiolith Records. Beberapa band semisal Kraftklub, Broilers, Die Toten Hosen, serta Beatsteakse, ada dalam satu corak musik serta lingkar kawanan yang sama dengan FSF.

Sepanjang karir musik FSF hingga 2018, mereka telah merilis lima album penuh. Kelima album yang telah dirilis FSF itu adalah Backstage mit Freunden (Diffidati Records, 2009), Wut im Bauch, Trauer im Herzen (Diffidati Records, 2010), Scheitern & Verstehen (Audiolith Records, 2012), Bleiben oder Gehen (Audiolith Records, 2015), serta Sturm & Dreck (Audiolith Records, 2018). Beberapa penghargaan yang telah direngkuh FSF antara lain Preis für Popkultur pada 2017 untuk kampanye Noch nicht komplett im Arsch, didapuk sebagai Best Newcomer di VIA! (Vut Indie Awards), bahkan FSF pun masuk kategori nominasi Best German Act di ajang penganugerahan musik sekaliber MTV Europe Music Awards.

Dalam salah satu scene Wildes Herz, diperlihatkan sebuah konferensi dari Federal Office for the Protection of the Constitution atau Badan Federal Keamanan Konstitusi pada tahun 2013. Dalam konferensi itu, Badan Federal Keamanan Konstitusi mengklaim FSF sebagai band paling berbahaya di seantero Pomerania Barat. Mereka menganggap FSF band punk radikal yang mengusung lirik sangat provokatif di setiap lagu-lagunya. Bahkan lebih jauh lagi FSF dianggap lebih berbahaya dari teroris kanan mentok sekelas National Sozialistischer Untergrund (NSU). Di konferensi itu juga, label “ekstremis kiri” dilekatkan oleh Badan Federal Keamanan Konstitusi pada FSF.

Tidak hanya Badan Keamanan Federal Konstitusi saja yang mendapuk FSF sebagai band berbahaya. Semenjak tahun 2009, FSF secara resmi berada di bawah pengawasan Badan Intelejen Mecklenburg-Vorpommern. Secara eksplisit FSF disebut “anti-negara”. Bahkan FSF pun disinyalir telah melegitimasi kekerasan sebagai aksi guna melawan musuh politiknya. Pendedahan Badan Intelejen Mecklenburg-Vorpommern bermula ketika mendapati lagu “Staatsgewalt” yang termaktub dalam debut album Backstage mit Freunden (Diffidati Records, 2009). Lirik lagu itu diduga mengandung ajakan atau berpotensi menuai kekerasan, terlebih yang dilancarkan pada otoritas kekuasaan dan aparatusnya.

Jika Badan Federal Keamanan Konstitusi dan Badan Intelejen Mecklenburg-Vorpommern menganggap FSF sedemikian berbahaya, lain halnya dengan Lothar Konig, salah satu pendeta dari Jena Christian Youth Group. Pendeta Lothar Konig menyebut bahwa FSF adalah band kristiani esensial dan patut diperhitungkan, persis seperti Ton Steine Scherben. FSF dianggap pendeta Lothar Konig mampu menyuarakan nasib “orang-orang yang terbuang” serta menyerukan sebuah upaya pembebasan. Satu fakta lagi yang mesti diketahui mengenai FSF yakni para personil mengaku bahwa awalnya mereka menulis lagu-lagu dengan lirik seksis, ungkap mereka dengan terbahak. Baru setelah mengenal wacana-wacana radikal di Antifa via fandom F.C. Hansa Rostock, lirik-lirik FSF jadi berubah total.

Tak hanya berhenti di situ, Wildes Herz secara tidak langsung menjadi sebuah reportase rangkaian tur FSF yang mengusung kampanye anti-Nazi. Dalam rentang puluhan pekan, semua personil FSF dibantu kawan-kawan di ofisial bahkan ultras F.C. Hansa Rostock, memobilisasi sebuah rangkaian tur sebagai upaya perlawanan terhadap kekuatan sayap kanan Jerman yang diwakili oleh Alternative für Deutschland (AfD). FSF berkeliling mengunjungi pedesaan, distrik-distrik, pusat anak muda, hingga kampung kota, untuk mengampanyekan anti-Nazi lewat musik. Festival-festival musik major sekelas Rock am Ring, Hurricane, Southside, dan Vainstream Rockfest pun jadi arena kampanye FSF. Namun dari sekian rangkaian tur itu, saat menggelar konser di Anklam dan Chemnitz lah yang mungkin menyimpan cerita tersendiri bagi FSF.

Pada 26 Agustus 2018, terjadi bentrokan yang cukup masif di pusat kota Chemnitz. Kerusuhan di kota yang termasuk ke dalam negara bagian Sachsen itu dipicu atas terbunuhnya seorang tukang kayu asal Jerman bernama Daniel H. oleh dua orang imigran dari Irak dan Suriah. Ribuan orang dari kelompok sayap kanan serta anti-imigran berdemonstrasi di jalanan sebagai respons atas kejadian itu. Namun tidak hanya mereka saja, massa pro-imigran dan Antifa pun juga turut memasang badan untuk menggelar aksi konfrontasi langsung. Bentrokan antara kedua kubu massa jelas berkobar di jalanan Chemnitz. Polisi huru-hara sangat kewalahan dalam meredam amuk massa. Pada peristiwa itu, massa anti-imigran meneriakkan dengan lantang pernyataan yang sekilas mengingatkan pada momen Lichtenhagen circa ’92: “Orang asing keluar! Jerman hanya untuk Jerman!”

FSF tidak tinggal diam menyikapi eskalasi konflik dari aksi protes di Chemnitz. Hanya berselang beberapa hari dari peristiwa itu, FSF menggelar sebuah konser anti-rasis di bawah slogan #WirSindMehr (They Are More of Us). FSF bersama dengan Die Toten Hosen band punk asal Düsseldorf, Kraftklub, K.I.Z, serta rapper Marteria and Casper, berani menggelar konser di tengah pusat kota Chemnitz, yang sebelumnya direncanakan di dekat patung Karl Marx. Jelas pilihan itu bisa dibilang sangat nekat. Terlebih Chemnitz dikenal sebagai kantung rasisme di Jerman, bahkan menjadi wilayah muasal kelompok anti-islam PEGIDA, dan tempat di mana AfD memperoleh suara terbanyak pada pemilu 2017. Namun demi menyuarakan elan anti-rasis, mereka kukuh menggelar konser itu meskipun ancaman pembubaran bahkan intervensi langsung oleh neo-Nazi bakal hadir.

Pada tahun 2016, Kanselir Angela Merkel memang mengizinkan sekitar 890.000 pengungsi untuk diberi akses masuk ke Jerman, termasuk di dalamnya warga Suriah, Afghanistan, dan Iraq. Kebijakan itu berimbas pada turunnya suara yang diperoleh oleh partai pendukung Merkel di pemilihan umum 2017. Sementara AfD berhasil menduduki parlemen untuk pertama kalinya setelah memenangkan 12.6% suara dengan lebih dari 90 kursi. Yang selanjutnya jadi perkara di Sachsen terdampak kebijakan Merkel itu adalah jumlah pengungsi atau imigran lebih sedikit tinimbang rata-rata yang bermukim di seluruh Jerman. Atas imbas itulah penduduk di sana memiliki kekhawatiran yang tinggi pada kejahatan yang kemungkinan dilakukan oleh para imigran, tak terkecuali di Chemnitz.

Saat konser anti-rasis di Chemnitz berlangsung, tentu tidak sedikit ekstremis kanan dan massa anti-imigran menonton di balik barikade polisi huru-hara. Mayoritas warga negara bagian Sachsen di Chemnitz—yang kerap membawa sentimen anti-imigran—merasa sangat terganggu oleh konser itu. Bahkan ketika FSF baru membawakan intro, dari jendela gedung-gedung sekitar panggung terlihat picingan mata massa anti-imigran. Dengan setlist berisi nomor-nomor kojo bahkan FSF pun berkolaborasi dengan line-up lainnya, konser itu jadi bogem telak di hadapan wajah rasisme Chemnitz. Dengan bentangan bendera Antifa, ratusan poster protes, nyala puluhan flare, kepulan smokebomb, serta pelintiran salam hormat Nazi dengan ujung tangan terkepal dari penonton, kian membuat berang ekstremis sayap kanan dan massa anti-imigran seantero Sachsen.

Yang menarik pasca konser itu berlangsung adalah respons para pejabat negara atau elit-elit partai di Jerman. Presiden Frank-Walter Steinmeier tidak disangka justru membagikan postingan dukungan di akun media sosialnya mengenai konser anti-rasis di Chemnitz. Tentu saja hal itu membuat geram para simpatisan serta kolega politiknya. Pasalnya, Steinmeier dianggap melegitimasi FSF yang telah dicap sebagai “ekstremis kiri” oleh Badan Federal Keamanan Konstitusi dan disebut “anti-negara” oleh Badan Intelejen Mecklenburg-Vorpommern. Dukungan Steinmeier pada konser itu juga menyulut pitam sekretaris jenderal partai Christian Democratic Union (CDU) besutan Merkel, Annegret Kramp-Karrenbauer. Perempuan itu menganggap Steinmeier tak seharusnya mendukung band punk radikal yang menulis lirik ajakan untuk membakar mobil polisi itu. Namun Steinmeier tak bergeming sedikitpun atas banjir protes yang dialamatkan padanya.

 

Baca juga: Bandung Supporter Alliance dan Perlawanan dalam Sepak Bola

 

3/

“BSA bisa jadi the new defender atau benteng pertahanan baru bagi titik-titik api di Bandung. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk jadi milisi kota.”

Setelah Faris memberi beberapa patah kalimat pengantar diskusi, nukilan pernyataan dari Frans di atas membuka sesi paparan pemateri manakala Wildes Herz selesai diputar. Frans melihat potensi demikian pada BSA. Berangkat dari Monchi bersama FSF serta kawan-kawannya di ultras F.C. Hansa Rostock, Frans menyebut bahwa BSA pun kiranya mampu menyuling semangat serupa dalam kaitannya dengan fandom sepak bola, musik, dan pembangkangan politik. Lanjut menurut Frans, fandom klub sepak bola lokal mestinya tak lagi berkubang dalam puritanitas ketika mendukung klubnya. Mereka juga mesti menanggalkan rivalitas dengan suporter klub lain, lantas menggeser bidikan selongsong mortir perlawanannya ke musuh yang lebih besar.

Manakala sepak bola tak hanya jadi medan kontestasi para taipan klub—namun juga telah menyaru sebagai lokus pergulatan pelbagai kekuasaan dan kepentingan—apa yang dipaparkan Frans tentu hanya sepelemparan dadu dari kondisi sepak bola Indonesia kiwari. Yang konon digadang sebagai “hiburan rakyat”, kini justru semakin terkontaminasi bukan hanya oleh gempuran komersialisasi atas nama sepak bola modern saja, melainkan telah dirangsek oleh nafsu kepentingan para mafia yang kadung menggurita. Jelas ada sebentuk harapan lain dari Frans pada BSA selain sebagai the new defender titik api, yakni menjadi diplomat tribun stadion yang menyampaikan pesan-pesan atau kabar dari garda depan pada publik sepak bola.

Dalam kesempatan pemaparannya, selain membahas hal di atas Frans pun mendedah perkara lain pada sepak bola Indonesia. Frans menyebut bahwa fandom sepak bola Indonesia telah bertransformasi bukan hanya sebatas bentuk dukungan yang diterima by default. Ada semacam hak prerogatif yang menghendaki. Semisal bobotoh Persib Bandung bisa berasal dari Wamena, suporter Persipura berasal dari Borneo, hingga pendukung Persebaya yang tak pelak bisa berasal dari Medan. Dobrakan batas terirori itu tentu tak hanya perkara spasial saja, melainkan karena aspek sosio-politik. Terbukti dari pendukung Sankt Pauli yang berasal dari belahan negara lain. Alasan mereka tentu karena jatuh cinta pada nilai-nilai progresif serta semangat anti-kemapanan yang diusung.

Setelah Frans selesai dengan pemaparannya, giliran Didit dari BSA yang kemudian menyampaikan materi. Sepenggal banyolan terlontar dari Didit sebagai impresi terhadap film Wildes Herz: “Sepak bola tanpa musik itu seperti nonton wayang”. Pernyataan Didit barangkali masih riskan sambaran dari suporter wayang. Namun tidak bisa dipungkiri jika sepak bola tanpa musik akan seperti apa jadinya. Stadion tanpa tribun berdiri saja telah melahirkan suporter yang oleh Roy Keane sebut sebagai prawn-sandwich brigade: hanya akan bersuara ketika tim yang didukungnya mencetak gol. Lantas jika sepak bola tanpa chant suporter, tanpa dentam instrumen perkusi di tribun, hingga tanpa anthem klub yang diputar sebelum pertandingan dimulai, sudah pasti layaknya jalan sekitaran Banjaran tanpa tahi kuda.

Didit kemudian menjelaskan nawaitu awal dibentuknya BSA di RW 11 Tamansari dan komitmen mereka terhadap simpul gerakan. Sebagai aliansi yang terdiri dari belasan firma serta kru-kru dalam skala kecil, semua kawan-kawan BSA yang telah sepakat dengan deklarasi awal pembentukan; bernazar untuk ada di barikade terdepan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan. Kendati demikian, ada pernyataan paradoksal dalam pemaparan Didit, jika bukan malah simplifikatif. Poin itu terletak pada ikhtiar BSA untuk menendang politik dari sepak bola.

Jika memang apa yang hendak ditendang kawan-kawan BSA itu adalah Politik (dengan P besar) semisal politik praktis atau elektoral, jelas memang seharusnya. Namun jika BSA mesti menendang juga politik (dengan p kecil) seperti yang sebelumnya dibahas di awal semisal keputusan kolektif keseharian hingga penentuan sikap dalam konstelasi fandom, hal itu nampaknya bakal sesulit mencium punggung sendiri.

Zen RS secara telak membahas ihwal perkara itu dalam tulisannya berjudul “Depolitisasi Sepak Bola”, yang termaktub di antologi esai sepakbola Brazillian Football and Their Enemies. Zen menyebut sekalipun FIFA terus mendorong batas terjauhnya dalam perkara netralitas dan depolitisasi di dalam maupun luar lapangan, sepak bola tak bisa dipisahkan dari politik. Pemilihan sponsor hingga kebijakan klub lainnya adalah juga sebuah sikap politik. Konsep FIFA “Kick Politic Out of Football!” itu sendiri bahkan sangat politis.

Bahkan bukan hanya dalam sepak bola, di tataran musik yang berkaitan dengan Wildes Herz pun sama halnya. Dalam manifesto “Music is Politics”, Dennis Lyxzen sebagai pentolan Refused menganggap bahwa politik dalam musik bukan semata seberapa kencang menyuarakan perlawanan terhadap suatu sistem kekuasaan. Ia melingkupi politik musik keseharian semisal pemilihan sound, keputusan yang diambil dalam mengomposisi lirik lagu, hingga perkara memobilisasi tur. Karena itulah, menurut Lyxzen, terlampau naif apabila ada musisi yang mendaku apolitis. Pernyataan itu diungkapkan Lyxzen ketika mendapati seorang penonton di salah satu gigs Refused yang memakai kaus bertuliskan “Kick Politic Out of Music!”

Maka sampai pada titik ini, semoga apa yang dipaparkan oleh Didit ihwal BSA yang hendak menendang politik dari lapangan, bukan menganihilasi politik yang dimaksud oleh Zen. Semua elit federasi liga bahkan petinggi klub mesti ditutup pintu aksesnya menuju politik praktis atau elektoral. Jika ada yang kedapatan, tuntut yang bersangkutan untuk mundur dari tampuk kepemimpinan. Lapangan sepak bola sekali lagi bukan lumbung balot politik. Dan semua elemen suporter nampaknya perlu memancangkan hal itu pada klubnya masing-masing.

Dalam paparan lebih lanjut, Didit menyampaikan harapan BSA bagi kawan-kawan di kota atau daerah lain untuk juga membentuk aliansi suporternya masing-masing. Selain nantinya bakal terus berjejaring, Didit dan kawan-kawan BSA ingin adanya sebuah kompetisi sepak bola tandingan dari Liga Indonesia. Nantinya jika aliansi-aliansi suporter itu telah terbentuk, sangat memungkinkan untuk menggelar kompetisi yang sekaligus bisa jadi medan pengorganisiran. Seperti halnya “liga kaum buangan” yang digelar Sankt Pauli atau juga turnamen besutan Monchi dkk. FSF serta ultras F.C. Hansa Rostock. “Itu menjadi salah satu proyek jangka panjang kami,” tutup Didit.

Manakala Didit selesai memberi pemaparan serta kesannya akan Wildes Herz, Morrezza kemudian yang mendapat kesempatan membagi materinya. “Sepak bola bisa mempersatukan, namun juga mampu memecah belah.” Pernyataan menohok itu keluar dari Morrezza, vokalis dari band Rentenir sekaligus proyek musik terbaru bernama Wilayah Barat. Jelas Morrezza tidak sedang berkelakar dengan pernyataan sarkastik yang juga sebuah respons atas dokumenter Wildes Herz. Sebagai pentolan dari sebuah band punk / skinhead—di mana Morrezza telah mencecap pahit-pangsetnya skena musik independen yang beririsan dengan fandom Persib—ucapannya yang menyingkap sisi gulita soal sepak bola itu jelas sangat beralasan.

Ada semacam duri dalam daging yang selama ini dibiarkan mengendap. Terlebih perkara ini jarang terekspos media-media kultural yang beririsan dengan olahraga, atau di skena musik independen yang berkelindan dengan fandom klub sepak bola Indonesia. Seperti yang diakui oleh Morrezza ihwal rivalitas Persib dan Persija, hal itu berimbas pada beberapa band di skena musik independen kedua kota. Morrezza membenarkan bahwa ada beberapa rekan dari band Bandung lainnya yang pernah dicegat di perjalanan sepulang menunaikan tur Jakarta, disatroni firma dari Persija saat berkunjung ke Ibukota, hingga ada yang mesti mengubur mimpinya menyaksikan konser Agnostic Front karena ketahuan sebagai suporter Persib. Intensi itu jelas semakin memanas pasca meninggalnya Haringga, di saat sebelumnya Rangga dari kubu suporter Persib telah terlebih dahulu menjadi korban.

Meski rivalitas itu telah berimbas ke banyak lini, bahkan telah menelan nyawa kedua kubu suporter, Morrezza menuturkan bahwa untuk meredamnya bukan pekerjaan yang mudah. Lebih lanjut lagi Morrezza menganggap sampai kapanpun rivalitas dua klub ini akan terus ada, terkecuali apabila salah satunya terdegradasi ke divisi dua. Intensinya jelas akan berbeda. Morrezza juga menyoroti chant para suporter di lapangan. Menurutnya chant-chant yang menghujat klub satu sama lain bakal langgeng terdengar dari tribun stadion masing-masing. “Yang patut ditindak-lanjuti adalah jika kedua suporter itu menyeret etnis, ras, suku, atau bahkan agama dalam chantnya. Misalnya menyebut orang Betawi atau Sunda itu goblok. Di situlah benih-benih rasisme bahkan fasisme bakal tumbuh,” papar Morrezza.

Poin sentral pemaparan Morrezza jelas terletak pada rivalitas yang seolah memberi karpet merah bagi suporter untuk menjadi martir. Selain taklid buta dalam mendukung klubnya, mereka pada akhirnya mengesampingkan kemanusiaan yang semestinya berada di atas semua itu. Bahkan lebih jauh lagi menurut Morrezza, sepakbola bukan untuk dijadikan hal yang lebih penting dari segalanya. Pernyataan dari seseorang yang kerap mendapatkan inspirasi melimpah dalam menulis lirik lagu dari sepakbola itu, senada dengan apa yang diucapkan oleh pelatih legenda Persib Indra Thohir. Bahwa hidup memang tidak hanya untuk Persib (dalam hal ini, sepak bola).

Saat melihat puing-puing reruntuhan bangunan warga RW 11 Tamansari yang telah dibuldoser, Morrezza juga mengungkapkan kesedihannya. Morrezza menganggap bahwa ketika kampung-kampung kota itu terus digerus, tentu bakal banyak pula petak lapangan atau bahkan jalanan tempat bermain bola akan hilang. Satu-satunya yang memungkinkan untuk terus diupayakan adalah merapat pada barisan perlawanan terhadap upaya-upaya yang merenggut semua itu.

Apa yang dilihat Morrezza di puing reruntuhan bangunan RW 11 Tamansari, persis seperti halnya nomor “Menyerang Adalah Pertahanan Terbaik” dan “Cinta Dipur Setengah” milik Rentenir. Kedua lagu anthemic itu menggandeng semangat serta kerja kolektif BSA. Di akhir kesempatan pemaparan, Morrezza menutup sesinya dengan pernyataan yang manis namun juga kepalang getir: “Sebenarnya sepak bola itu murah, cukup butuh dua pasang sandal dan satu bola plastik. Di petak lapangan kecil pun jadi”. Di tengah kemutakhiran teknologi yang dipakai perangkat pertandingan sepak bola dan agenda-agenda penggusuran yang kian masif, ucapan Morrezza itu jadi pengingat bahwa hari-hari ke depan sepak bola memang akan menyaru sebagai medium perlawanan.

Mendengarkan pemaparan Morrezza, sepintas menyeret ingatan ke beberapa tahun silam saat musisi atau band-band Bandung sepakat membentuk kompilasi bagi Persib. Pada tahun 2002, Viking Records merilis kompilasi bertajuk Viking Persib Compilation #1. Ada sepuluh nomor dari sepuluh band yang termuat di dalamnya. Mulai dari lagu ikonik penggugah semangat semisal “Aing Pendukung Persib” milik Pas Band, hingga nomor hardcore-punk provokatif “Wasit Goblog” milik Jeruji. Dari tembang ska-punk “Gak Usah Rusuh” milik Noin Bullet, hingga langgam dangdut kontemporer “Maung Lautan Api” milik PHB. Enam nomor sisa di kompilasi itu diisi oleh Mobil Derek, Koil, Time Bomb Blues, Savor of Filth, Harapan Jaya, serta Virus.

Dua tahun berselang tepat pada tahun 2004, Viking Records merilis Viking Persib Compilation #2. Meski di seri pertama diisi nomor-nomor lintas genre, namun para pengisinya bisa dibilang berasal dari jejaring independen. Lain halnya di seri kedua kompilasi, para pengisinya malah semakin variatif. Tak kurang dari lima belas nomor termaktub di dalamnya. “Setan Hooligan” dari legiun death metal Forgotten bisa satu kemasan dengan “Langit Seharusnya Biru” milik kawanan shoegaze The Milo. “Dari Bandung untuk Bandung” milik komplotan punk-rock Turtles Jr., dilanjutkan oleh “Hariring Persib” dari maestro pop sunda Kang Ibing. Tak pelak nama-nama lain semisal Mocca, Serieus, Rock ‘n Roll Mafia, Kremlin, Boys Are Toys, Cherry Bombshell, Sendal Jepit, The Jokes, hingga Doel Sumbang serta grup perkusi Tataloe, mengisi line-up kompilasi itu.

Tentu selain pengisi kompilasi itu, masih berderet band-band atau musisi Bandung yang juga mendedikasikan karyanya bagi Persib. Seperti halnya Fingerpants, Arabian Peanuts, Kuburan, Rentenir, serta nama-nama lain yang terlalu banyak apabila disebutkan satu per satu. Hal itu membuktikan bahwa sedari jauh hari, Bandung telah melahirkan kecintaan para musisi untuk klub kota kelahiran, hingga pembangkangan estetik sebagai wujud konkret fandom itu sendiri. Tentu kompilasi itu adalah sebuah respons terhadap manajemen klub yang awut-awutan, federasi liga yang sedari dahulu sarat kepentingan mafia bahkan ketuanya terlibat korupsi, hingga Persib yang di ambang degradasi. Pemaparan Morrezza malam itu tidak hanya menapak-tilasi irisan fandom sepakbola, musik, dan pembangkangan politik di Bandung; melainkan membuka jalan pada kemungkinan-kemungkinan lain ihwal ketiganya di hari ini.

Tiga pemateri telah memberi paparan masing-masing, tersisa Dwi di pemateri keempat. Sebagai seorang guru pengajar sejarah, Dwi berangkat dari analisa historisnya terhadap Wildes Herz. Dwi membahas ihwal riwayat kota tempat bermarkasnya F.C. Hansa Rostock hingga latar belakang terbentuknya klub itu sendiri. Menurut Dwi, Rostock merupakan kota pelabuhan sekaligus kota perdagangan tua sejak abad ke-14 yang berbatasan dengan Laut Baltik. Pasca Perang Dunia II, kota yang dialiri Sungai Warnow itu berada di wilayah Jerman Timur. Kendati bernaung di bawah rezim komunis, Rostock mendapat keistimewaan dari pemerintah yang mendapuknya sebagai pelabuhan utama bahkan menjadi pusat industri di Jerman Timur.

Namun di kemudian hari pasca runtuhnya tembok Berlin, Dwi menyebut bahwa pekerjaan di Rostock menjadi sangat langka. Setelah itu banyak imigran dari Vietnam dan Rumania mulai masuk ke kota. Menjelaganya laju industri dan semakin minimnya investasi yang ditanamkan di kota itu, semakin memperburuk kualitas kehidupan di sana. Dalam situasi yang serba sulit itu, kemunculan neo-Nazi di Rostock tak bisa dihindarkan. Kota yang pada era sebelum reunifikasi itu dipandang istimewa, justru malah menjadi kavling tempat bermukimnya orang-orang yang tak menghendaki para imigran. Silsilah inilah yang menurut Dwi jadi rahim dari peristiwa The Racist Riots circa ’92 di Gedung Sunflower House, Rostock-Lichtenhagen.

Dwi melanjutkan pemaparannya tentang latar belakang terbentuknya klub yang dicintai oleh Monchi dan para personil FSF lain itu. Hansa Rostock sendiri awalnya diambil dari nama pakta perdagangan dan pertanahan abad ke-14-17 yang disebut Hanseatic League. Pakta perdagangan dan pertanahan itu diduga sebagai yang terbesar di Eropa Utara pada masanya. Sebelum menjadi F.C. Hansa Rostock, klub itu awalnya adalah Empor Lauter yang diseret oleh kepala Stasi, Erich Mielke, ke kota Rostock pada musim 1954/1955, lalu menjadi Empor Rostock. Barulah pada tahun 1965, manakala digelar reorganisasi olahraga di Jerman Timur, Empor Rostock kemudian diganti menjadi F.C. Hansa Rostock.

Lebih lanjut lagi, Dwi membahas The Fear Derby di jagad sepak bola Jerman. The Fear Derby ini ternyata adalah sebutan bagi duel panas antara Sankt Pauli dengan F.C. Hansa Rostock. Jika Sankt Pauli dikenal sebagai klub kiri karena suporternya, maka label klub kanan mentok F.C. Hansa Rostock memang berasal dari kota asal mereka yang dipenuhi oleh neo-Nazi. Duel ini tak pelak mampu mengalahkan pamor Der Klassiker yang dilakoni F.C. Bayern dengan kontestan lawan tidak tetap. Meskipun F.C. Hansa Rostock diidentikkan dengan Lazio di Italia atau Partizan Belgrade di Serbia, namun Monchi dkk. adalah bukti bahwa klub yang dikenal fasis pun punya faksi suporter kiri. Persis Barcelona yang juga punya suporter konservatif, serta Real Madrid yang lekat dengan fasisme Franco pun mampu didukung juga oleh para anarkis.

“Jika Monchi dkk. menggelar aksi penentangan terhadap hari peringatan komemorasi Nazi, di sini kita bisa memobilisasi aksi tandingan pada saat peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Yang entah saktinya terletak di sebelah mana.” Tutur Dwi dengan dosis sarkas sepedas bandrek yang dioplos dengan bubuk cabai kering. Komemorasi yang Dwi sebut—yang juga dikisahkan dalam Wildes Herz—adalah ketika Nazi Jerman menyatakan kapitulasi tanpa syarat pada 8 Mei 1945. Hingga kini, pada 8 Mei di beberapa negara bagian Jerman yang simpatisan sayap-kanannya cukup banyak, selalu digelar pawai ribuan Nazi yang turun ke jalan sebagai peringatan kapitulasi tanpa syarat itu. Monchi bersama kawan-kawan Antifa juga kerap menggelar aksi konfrontasi langsung pada 8 Mei di tiap tahunnya.

Dengan mulut yang acapkali belepotan saat melafalkan Feine-Sahne-Fischfillet, Landser sebagai salah satu band Nazi yang didengarkan oleh Monchi pun tak luput untuk dibahas. Bahkan Dwi tidak hanya mendedah Wildes Herz lewat analisa historis saja. Dwi menjelaskan juga secara ringkas ihwal sepak bola yang ditaruh dalam sirkum ekonomi-politik global hari ini.

Kompetisi-kompetisi elit sepakbola di dunia semakin hari terus melahirkan suporter yang jadi sapi perah akhir pekan. Mereka dipaksa membayar mahal harga tiket masuk stadion hingga berlangganan saluran televisi berbayar untuk menyaksikan klub sepakbola kesayangan. Dan menurut Dwi, sepak bola memang mesti dikembalikan pada khittah-nya sebagai hiburan rakyat yang mampu diakses kaum papa sekalipun.

Setelah keempat pemateri selesai dengan paparannya masing-masing, barulah sesi diskusi bersama audiens dimulai. Bilal, kawan dari Papua sekaligus juga salah satu awak Communal Coffee mendapatkan kesempatan berbagi dalam sesi ini. Bilal menceritakan pengalaman yang telah dilaluinya sebagai suporter Persipura. Di Papua sana, sepakbola bukan hanya sebagai hiburan belaka, melainkan telah menjadi kereta mimpi anak-anak Papua. Menurut Bilal, jika ada yang bertanya pada anak-anak Papua mengenai cita-cita mereka, jawaban yang akan kita dapati adalah “ingin seperti Boaz Solossa”. Jawaban semisal menjadi dokter, insinyur, atau bahkan pegawai negeri sipil, jarang terlontar dari mulut mereka. “Menjadi pemain sepak bola dan bermain di Piala Dunia adalah mimpi kebanyakan anak-anak di Papua”, pungkas Bilal.

Rivalitas suporter klub sepakbola Indonesia turut jadi sorotan Bilal. Partai final Liga Super Indonesia 2013/2014 yang mempertemukan antara Persib dan Persipura di Stadion Jakabaring, Palembang, bakal sulit dilupakan. Pertandingan itu jelas menyisakan memori pahit di benak masyarakat Papua, tak terkecuali Bilal, saat Persib keluar sebagai juara. Tak ayal akhir laga itu pun membuat iri setengah mampus suporter Persipura di Stadion yang mesti menyaksikan langsung bobotoh menggelar pesta di depan mata. Namun ada satu hal yang Bilal garis-bawahi. Kendati saat itu hingga setelahnya Persib serupa mambang yang paling Bilal benci, namun toh dirinya masih sehat wal afiat berada di Bandung bersama kawan-kawannya.

Keempat pemateri kemudian menanggapi pemaparan Bilal. Mulai dari Morrezza, Dwi, Didit, dan Frans, sama-sama idem bahwa rivalitas memang akan selalu ada, namun sejauh mana batasan-batasan yang menjadi pedal rem atas puritanitas suporter itu mesti juga jelas adanya. Seperti yang dipaparkan Morrezza di awal. Apabila chant cemoohan sebuah klub pada rivalnya sudah menyinggung etnis, ras, suku, dan agama; maka itu tak lagi bisa ditolerir.

Perihal sepak bola sebagai kereta mimpi anak-anak Papua sekaligus juga mampu dijadikan kendaraan perlawanan, Frans menambahkan bahwa potensi itu tidak bisa disepelekan. Sepak bola bisa jadi kancah penentangan pemain-pemain Papua di lapangan hijau, apalagi kalau bukan terhadap kejahatan kemanusiaan hingga akumulasi kapital via eksploitasi perusahaan tambang asing.

Schutzstaffel atau skuadron Nazi pelindung Hitler memang telah lenyap. Namun dari pemutaran dokumenter Wildes Herz dan diskusinya di puing reruntuhan RW 11 Tamansari, ada kenyataan yang tersingkap. Skuadron itu tidak benar-benar hilang. Melainkan telah reinkarnasi dan malih rupa jadi elit federasi liga yang korup, petinggi klub yang serakah, suporter puritan (meminjam sepenggal bar Sarkasz) “yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera”, aparat represif yang dikerahkan di pusaran konflik agraria, Yang Mulia Warganet yang menganggap penggusuran itu baik karena melenyapkan kekumuhan, ormas fasis yang kerap membubarkan acara diskusi bedah buku, hingga fans garda depan walikota (yang kini jadi gubernur) yang telaten melancarkan bacot virtual saat idolanya itu digempur kritik.

4/

Apa yang telah ditunaikan Fanladen di Sankt Pauli, BSA di Bandung, serta Monchi bersama FSF serta kawanan ultras F.C. Hansa Rostock, setidaknya bakal mengingatkan kita pada sosok bernama Socrates Brazileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira. Kita bisa memanggilnya dengan nama Socrates saja. Pesebakbola asal Brasil yang wafat pada 2011 silam itu tak hanya dikenal sebagai pemain kampiun, namun juga oleh Corinthians Movements-nya.

Dalam “Socrates dan Sepak Bola Sebagai Bendera Perlawanan” yang termaktub di antologi Brazillian Football and Their Enemies Pen, Zen RS memaparkan apa yang hendak disasar oleh Socrates dan rekan-rekannya di klub serta suporter via Corinthians Movements. “Pertama, ke dalam klub, Socrates berhasil merombak paradigma pengelolaan klub yang tertutup menjadi lebih terbuka dan demokratis, di mana pemain, suporter, dan manajemen bisa duduk bersama membahas berbagai macam isu. Kedua, sebagai efek demokratisasi di level klub, oleh karena itu para pemain Corinthians pun punya kepedulian yang kuat terhadap isu-isu di luar sepak bola.”

Bahkan lebih lanjut lagi Zen menyebut bahwa “tidak heran jika Socrates—dibantu oleh pemain bertahan Wladimir—bisa mengajak rekan-rekannya di Corinthians untuk ambil bagian dalam gerakan perlawanan menentang rezim diktator militer Brasil yang saat itu didukung Amerika Serikat.” Rezim militeristik Brasil memang kerap berkepentingan dalam urusan sepak bola. Entah ditempuh sebagai pengobat kekecewaan rakyat maupun pengalih pethatian publik dari segala perkara di tampuk kepemimpinan. Socrates dan rekan-rekannya di Corinthians-lah yang kemudian turut merapat menuju barikade terdepan dalam menentang rezim militeristik itu.

Di sini kita bisa melihat kondisi serupa dengan apa yang Socrates hadapi bersama elemen suporter dan pemain Corinthians. Iklim sepak bola Indonesia jelas akan semakin memanas setiap tahunnya. Entah saat menghadapi tahun pemilihan presiden ataupun kecamuk situasi politik nasional. Jangan lupakan juga bahwa ketua federasi liga yang merangkap sebagai gubernur dan petinggi salah satu klub itu berasal dari latar belakang militer. Barangkali ke depannya kita tidak hanya akan melihat komisi disiplin yang memberi sanksi pada sebuah klub, karena di stadion kandangnya kedapatan banner atau giant-flag bermuatan pesan politik. Pemain ataupun suporter pun bisa saja diberangus kalau kedapatan menentang laku represif aparat di titik-titik api perampasan lahan.

Tentu ini adalah sinyalemen untuk suporter klub sepak bola Indonesia, termasuk BSA, untuk terus mengorganisir sesama di tengah pemegang kuasa kompetisi yang semakin jelas wujudnya sebagai tirani. Bukan lagi saatnya untuk misuh-misuh pada pemain klub lawan yang gemar diving atau mempraktikkan seni menjatuhkan diri di lapangan—saking gemarnya menjatuhkan diri, menjanjikan si pemain mendapat tempat istimewa di Teater Salihara. Bukan pula waktunya untuk meratapi klub kesayangan yang megap-megap di papan klasemen dengan menempati peringkat dobel digit. Apalagi terlibat dalam adu bacot di kolom komentar postingan Instagram klub lawan.

Tidak perlu memanggul mimbar ke dalam stadion. Bangku-bangku tribun adalah panggung strategis yang bisa dimanfaatkan oleh para suporter untuk menggelar perlawanan simbolik. Di atas lapangan, pernah ada seorang Salomon Kalou, striker Chelsea, yang melakukan selebrasi atas golnya ke gawang Middlesbrough dengan menyilangkan kedua tangannya. Selebrasi gol Salomon Kalou pada Januari 2009 itu disinyalir adalah sebuah pernyataan protes atas penangkapan Antoine Assale Tiemoko, penulis yang dipenjarakan karena menyingkap ketidak-adilan di Pantai Gading. Sedangkan di atas tribun, barangkali setiap pyro party BSA, bisa jadi perpanjangan nyala perlawanan dua orang martir penentang segala bentuk penindasan yang rela mati dalam bara, yakni Sebastian Manuputty dan Sondang Hutagalung.

Program pengentasan mafia lapangan hijau bukan lagi sebuah akanan. Para suporter bisa menempuhnya dengan saling mengorganisir di kota masing-masing. Ketika negara yang kian jadi kekuatan opresor itu ikut mengintervensi sepak bola lewat aparatus represifnya, tak ada hal lain bagi suporter setiap klub selain melawannya. Bahkan ketika sepak bola itu sendiri telah jadi tong sampah terguling yang menumpahkan dedak-dedak kekuasaan, tikus got beroli haus pundi bernama mafia kawakan, belulang sisa “jatah preman” dari klub untuk elit federasi, bau anyir sampah kultural, serta ampas-ampas fandom puritan: masih ada sejuta alasan untuk kita menakik kembali sepak bola jadi hiburan merakyat yang progresif serta emansipatoris.

Kita tidak berharap lagi adanya nyawa yang terenggut dari sebuah rivalitas abadi antara dua klub. Cukup berhenti di mendiang Rangga dan Haringga. Barangkali kisah seorang pentolan band yang mesti mengubur mimpinya menonton grup musik idola karena bermain di teritori suporter lawan pun, bisa turut lenyap. Kedua suporter ataupun elemen musisi di dua kubu itu sudah seharusnya mengubur kapak perang mereka.

Menjadi suporter sebuah klub sepak bola yang menanamkan nilai-nilai sosial adalah hal yang sudah harus dimulai. Apalagi sembari terus meruwat tradisi komunitas musiknya yang secara organik telah lahir beririsan dengan sebuah gerakan sosial. Tak ada silabus wajib kesuporteran yang mesti dilahap. Tak perlu outfit mentereng dari brand apparel kenamaan Eropa melekat di badan. Hanya dengan semangat pertemanan, semuanya bisa urun-rembuk dalam satu barisan di tribun stadion maupun jalanan. Bukankah menjadi suporter progresif yang berada di garis massa bersama para buruh, kaum tani, mahasiswa, serta kaum miskin kota, adalah sebuah “jalan pedang yang menyenangkan”? Tinimbang mereka yang menimbun lemak cita-cita menjadi pegawai negeri sipil atau keset birokrat.

 

 

Artikel terkait:

___

 

Senarai Pustaka:

 

___

Ilustrasi: Jon

No Comments

Post A Comment