Metaruang | ‘SEXY KILLERS’: Labirin Oligarki Kapital, Obituarium Ekologi
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17642
post-template-default,single,single-post,postid-17642,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

‘SEXY KILLERS’: Labirin Oligarki Kapital, Obituarium Ekologi

I

Film dokumenter ‘Sexy Killers’ yang diproduksi oleh WatchDoc langsung menghentak dengan pertanyaan yang sangat mendasar sekaligus reflektif: bagaimana listrik bisa sampai di ruangan (ini)?

Jawabannya dapat ditelusuri dengan menggunakan ilustrasi demikian. “Semua berawal dari sebuah ledakan di dalam tanah. Bumi dikupas untuk diambil batu baranya”. Pernyataan tersebut menjadi gambaran awal tentang pesan besar yang ingin disampaikan oleh film dokumenter ini. Membuat penonton harus bersabar menahan asumsi awal ataupun kesimpulan apa hubungannya listrik, batu bara, dengan diksi ‘Sexy Killers’ yang dipilih sebagai judul dokumenter berdurasi 88 menit 55 detik ini.

Mari kita tengok, apa yang dimaksud dengan batu bara? “Meski disebut batu, sesungguhnya ia (batu bara, penulis) adalah sisa tumbuh-tumbuhan yang mengendap dan tertimbun selama 200 hingga 300 juta tahun” (01.20’). Sedangkan berdasarkan KBBI, batu bara adalah arang yang diambil dari dalam tanah, berasal dari tumbuhan darat, tumbuhan air, dan sebagainya yang menjadi batu.

Bagaimana batu bara diperoleh? Seperti apa perjalanan dan distribusi batu bara hingga tiba di beberapa pinggiran pantai? Kemudian diproses dalam sebuah pabrik yang dinamakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan prolog dalam ‘Sexy Killers’ yang perlahan akan menggiring penonton untuk menemukan jawabannya sekaligus mengajak berpikir kritis dan kontemplatif.

Nyoman Derman, Sawah dan Berkebun

Oktober 2015 Tim Ekspedisi Indonesia Biru tiba di Borneo, Kalimantan, tepatnya di kota Balikpapan. Kemudian mereka bergerak menuju Kota Samarinda, ibukota provinsi. Anda mungkin akan terkejut jika melihat penampakan gambar (menit 04.28’) yang menampilkan bagian tengah hutan yang telah gundul. Dijelaskan juga bahwa selama kurang lebih dua puluh tahun sejumlah petani di pinggiran kota Samarinda hidup bertetangga dengan tambang batu bara. Salah satu konsekuensi yang harus diterima adalah kesulitan untuk akses air bersih. Keluarga Komari (petani) menjadi salah satu saksi hidup ihwal kelangkaan tersebut, dan hingga kini mencoba bertahan hidup di tengah kepungan tambang batu bara.

“Dulu sebelum ada bangunan batu bara, sawah ndak rusak, ndak amburadul. Sekarang ada bangunan batu bara rakyat kecil malah sengsara. Yang enak rakyat yang besar, ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalau kita terima apa? Terima imbasnya, lumpur!”

Melihat kondisi di atas, bagi saya ada dua dua hal yang terlintas dan sangat dekat dengan rutinitas saat ini. Pertama, “kemewahan” hidup dengan akses air bersih yang sangat mudah diperoleh. Kedua, narasi nasionalisme dan cinta tanah air yang seringkali menjadi jargon untuk meraup simpati publik pada hajatan-hajatan politik elektoral. Untuk mengafirmasi pernyataan yang kedua, simak penggalan lagu Check Your People milik Morgue Vanguard dan Doyz berikut.

 

“Simpan doktrin kalian soal cinta tanah air. Bagi mereka yang tak punya tanah dan selalu membeli mahal air. Bagi mereka yang terusir dan menjadi martir. Saat nasib dipaksa parkir di bawah cakar Garuda dan berakhir hidup di bawah tanah serupa Moria…”

 

Nyoman Derman, seorang transmigran dari Nagara, Bali, yang tinggal di Desa Kerta Buana, Kabupaten Kutai Kertanegara, menjadi orang yang pernah melakukan protes keras atas pencemaran lingkungan serta menurunnya kualitas ekologi. Tahun 1980, ia mengikuti program transmigrasi dan memulai kehidupan sebagai petani. Sebelum akhirnya, sepuluh tahun kemudian perusahaan tambang batu bara berinvasi ke desanya dan menghancurkan jalur air untuk sawah-sawah warga.

Pada tahun 2005 Nyoman melakukan protes dengan menghadang alat berat yang hendak masuk ke desanya. Namun kemudian ia ditangkap dan dipenjara selama tiga bulan dengan alasan menggangu operasional perusahaan. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya? Ya, perusahaan semakin leluasa beroperasi. Sebab, petani lain merasa takut untuk melakukan hal yang dilakukan Nyoman karena konsekuensi yang akan diterima.

Situasi ini secara tidak langsung mengingatkan kepada gagasan hegemoni Antonio Gramsci (1891-1937). Menurut Chantal Mouffe (1979), konsep “hegemoni” Gramsci pertama kali muncul pada tahun 1926 dalam Notes on the Southern Question. Dalam konteks kasus yang pernah menimpa Nyoman, sekiranya dua gagasan hegemoni berikut dapat merefleksikannya. Pertama, dalam pandangan Machiavelli bahwa tidak adanya lagi protes secara efektif menunjukkan jalan persetujuan dengan pemaksaan. Sedangkan menurut Gramsci, pemaksaan selalu dibayangi atau ditutupi oleh persetujuan (Donny Gahral Adian, 2011).

Bebas dari penjara membuat Nyoman beralih profesi dengan berkebun bersama anak laki-lakinya, Ketut. Padahal warga transmigran di sana sangat identik dengan bidang pertanian sebagai bagian mata pencaharian utama. Kita semua tahu dan meyakini bahwa sektor agraria adalah slogan yang selalu digaungkan, bahkan sering menjadi komoditas politik dalam ruang-ruang publik.

Pertanian selalu lekat dengan sawah dan padi. Mengutip Clifford Geertz, dalam karyanya Agricultural Involution: The Process Ecological Change in Indonesia (1974), bahwa satu hal yang paling menarik mengenai sawah sebagai suatu ekosistem dan yang memerlukan penjelasan, adalah sawah sangat stabil atau tahan lama. Sawah dapat terus menghasilkan panenan yang boleh dikatakan tidak berkurang dari tahun ke tahun, bahkan sering dua kali setahun. Padi yang ditanam dengan irigasi merupakan tanaman yang unik.

Menurut ahli geografi, Muriphey, “Kesuburan tanah memang mempengaruhi hasil panen—seperti halnya pemupukan—tetapi tanah itu tampaknya tidak kehilangan daya hasilnya sekalipun lama tidak dipupuk, bahkan sering kali bisa menjadi lebih baik. Dalam dua atau tiga tahun pertama, hasil tanah yang baru saja dibuka akan merosot dengan cepat jika tidak dipupuk; tetapi setelah sepuluh atau dua puluh tahun, hasil panenan biasanya menjadi stabil untuk waktu yang boleh dikatakan tidak terbatas. Hal ini telah terbukti dari percobaan-percobaan yang dilakukan di berbagai kawasan di Asia tropis, dari pengetahuan yang semakin bertambah mengenai proses yang bersangkutan, dan dari pengalaman-pengalaman yang terhimpun. Di tanah yang tidak subur dan yang tidak dipupuk secukupnya—seperti di Sri Lanka dan sebagian besar Asia Selatan—hasil panenan itu menjadi stabil pada tingkat yang rendah”.

Saat ini Nyoman bersama Ketut menggantungkan kehidupan dari hasil berkebun Timun. Mereka sudah tak melakukan aktivitas di sawah, karena memang kualitas tanah semakin menurun, dan hasil produksi yang tidak maksimal.

Lubang yang Menelan Manusia

Jika Anda pernah tinggal di desa atau sebuah kota kecil, barangkali Anda memiliki memori-memori indah. Terlebih jika itu diperoleh saat Anda bebas bermain tanpa beban, penuh kebahagiaan dan merayakan dunia anak-anak. Lapangan bola, sawah, kebun, sungai, ataupun gunung menjadi  beberapa hal yang seringkali disinggahi hanya untuk bermain tanpa pretensi apapun. Semata-mata hanya untuk menciptakan kegembiraan. Namun, cerita seperti itu hanya berlaku di daerah-daerah yang belum terkontaminasi tambang batu bara ataupun invasi perusahaan besar yang kemudian mengubahnya menjadi bangunan pabrik.

‘Sexy Killers’ sepertinya mulai melontarkan satu persatu pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Pada menit ke-10:28, diperlihatkan sebuah kolam berukuran cukup besar yang berada di antara persawahan dan permukiman. Kolam tersebut merupakan lubang bekas galian yang ditinggalkan oleh perusahaan pasca pengerukan batu bara. Salah satu dampak buruk yang diakibatkan adalah banyaknya anak-anak yang mati muda karena tenggelam ke dalam galian tersebut.

Sejatinya bekas penggalian batu bara harus direklamasi atau ditimbun kembali, agar tidak menyebabkan kerusakan lingkungan dan dampak buruk lainnya seperti kasus tenggelamnya anak-anak. Ketika bagian evakuasi korban tenggelam, suasana sangat haru biru. Seorang ibu yang sedang menunggu itikad baik perusahaan untuk bertanggung jawab dan turun langsung ke lokasi kejadian terlihat sangat sedih sembari menangis. Kemudian berujar bercampur marah dan  tangisan yang tersembunyi di ujung penuturannya, “Sampai sekarang (anak saya) belum ketemu.”

Perlu diketahui bahwa antara tahun 2011 sampai tahun 2018 tercatat setidaknya 32 jiwa melayang akibat tenggelam di lubang bekas tambang. Angka ini hanya di Provinsi Kalimantan Timur. Sementara, secara nasional antara tahun 2014-2018 jumlah yang tewas mencapai 115 jiwa.

Raihan Saputra merupakan salah satu anak yang tewas dan berada dalam statistik tersebut. Empat tahun setelah kematian anaknya, Rahmawati—ibunda Raihan—masih memendam kecewa dengan reaksi pemerintah yang menganggap peristiwa ini sebagai kasus kemalangan biasa. Padahal, salah satu sebabnya itu lokasi penambangan yang berdekatan dengan permukiman warga, bahkan persis di belakang sekolah.

Berikut cuplikan wawancara Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, merespon kasus tersebut.

 

Reporter: “Korban terus jatuh begini, pak?”

Isran Noor: “Tidak masalah. Nasibnya kasihan. Ikut prihatin.”

Reporter: “Untuk memutus ini bagaimana, pak, dari Pemprov Kaltim? Supaya tidak ada lagi korban jiwa, pak?”

Isran Noor: “Korban jiwa itu, di mana-mana terjadi.”

Reporter: “Tapi ini bekas kolam tambang, meninggalnya?”

Isran Noor: “Ya, namanya nasibnya dia, meninggalnya di kolam tambang, kan. Ikut prihatin.”

Reporter: Tidak ada upaya, pak, supaya tidak terjadi lagi, pak?”

Isran Noor: “Itu kan pertanggungjawabannya dunia akhirat.”

 

Pada tempat terpisah, Isran Noor berkelakar bahwa salah satu penyebab terjadinya peristiwa di atas karena adanya faktor gaib. “Dan itu kan sudah ditandai jangan sampai ada yang (–suara tidak jelas–). Masih aja lagi. Jangan-jangan ada hantunya itu.”

Pernyataan tersebut jelas tidak logis dan menjauh dari fokus perbincangan, jika tidak ingin dikatakan sebuah kesesatan berpikir (logical fallacies) baik dari segi ketidaktepatan bahasa (verbal) maupun ketidaktepatan relevansi. Dalam hal ini penjelasannya menjurus kepada fallacy of retrospective determinism atau mungkin Hasty Generalization.

Sebagai catatan, saat ini diperkirakan terdapat 3.500 lubang bekas tambang. Menurut aturan yang berlaku, lubang-lubang ini seharusnya diuruk kembali atau direklamasi. Perusahaan bahkan diminta menyetor sejumlah uang jaminan untuk biaya reklamasi. Namun, ini bukan semata tentang perusahaan yang melanggar aturan atau korupsi uang jaminan. Melainkan aturan pasca penambangan yang juga bermasalah.

 

II

Sebagai upaya melawan ketidakadilan serta menuntut hak-hak perbaikan lingkungan, sejumlah aktivis melakukan aksi damai. Mereka meminta Presiden Joko Widodo untuk menuntaskan kasus ‘Kubangan Maut Batu Bara’ yang telah merenggut nyawa anak-anak. Ramadhani, Dede R, Miftahul, Maulana M, Ema, adalah beberapa korban yang meninggal akibat tenggelam di kubangan bekas galian batu bara.

Persoalan batu bara ternyata tidak hanya terjadi pada satu wilayah saja. Samarinda hanya ‘miniatur’ dari situasi serupa yang ada di daerah lainnya. Dan kisah di Borneo adalah narasi yang menjelaskan bagaimana alur batu bara hingga menerangi rumah-rumah dan menggerakkan industri di pulau lain, terutama di Jawa.

Masalah ternyata tak berhenti di lokasi penambangan. Kali ini tentang laut-laut yang dilalui oleh kapal-kapal tongkang pembawa batu bara, dan salah satu jalurnya adalah melewati kawasan konservasi Laut Karimun Jawa.

Meskipun terkenal dengan potensi pariwisatanya, Karimun Jawa menyimpan cerita pilu ketika kapal-kapal tersebut melempar jangkar ke laut sehingga merusak habitat terumbu karang. Seturut dengan situasi ini, ekosistem bawah laut menjadi rusak sampai akhirnya menyebabkan penurunan jumlah populasi ikan.

Seorang nelayan Karimun Jawa, Matjuri, bercerita tentang hal-hal tersebut. Ia merasa gerah sehingga berpikir bagaimana seharusnya melakukan protes dan menyampaikan aspirasinya. “Karena kita namanya orang awam ya, kita mau protes ke mana, bingung. Di sini adanya pemerintah begitu. Kita protesnya ke pemerintahan setempat saja.”

Gayung bersambut, organisasi lingkungan internasional membantu advokasi dan kelak akan melakukan protes dengan cara mereka sendiri sebagai nelayan dalam skala yang lebih besar. Bagian ini dapat Anda saksikan pada segmen akhir ‘Sexy Killers’.

Selain Karimun Jawa, persoalan lain yang ada di Jawa Tengah adalah pendirian PLTU Batang, utamanya perihal pembebasan lahan. Warga pun tak hanya diam dan melakukan aksi di protes di laut. Lahan yang digunakan untuk pendirian PLTU ternyata masih bermasalah, utamanya tentang status tanah yang dimiliki oleh para petani. Menurut warga, lahan yang akan digunakan masih dalam kepemilikan warga, namun sudah diklaim telah dibeli. “Kok maunya menang sendiri. Belum dijual, tapi sudah ditempati.”

Sebagai informasi, PLTU Batang kabarnya yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, dengan kapasitas 2.000 Mega Watt atau setara kebutuhan listrik untuk satu hingga dua juta rumah tangga. Dengan kapasitas sebesar itu, setiap bulan PLTU Batang membutuhkan 600.000 ton batu bara atau rata-rata dua hingga tiga tongkang per hari yang hilir mudik di perairan Karimun Jawa.

“Kalau ada PLTU, bagaimana masa depan anak saya? Sudah tidak ada tempat lagi di Indonesia. Kecuali di wilayah Batang. Gara-gara orang yang pandai, gunungnya dijual. Lalu sekarang laut mau ditanami besi, dibangun PLTU, pabrik di mana-mana. Saya shalat. Ya Allah, semoga tidak ada PLTU. Kalau ada, nanti saya harus ke mana? Di Timur ada PLTU, barat juga ada PLTU, lama kelamaan tanah di Indonesia akan habis, digunakan untuk PLTU semua. Saya bersumpah, istri saya sebelum meninggal bilang, “Tolak PLTU!”, itu pesan istri saya. Kenapa masih juga ada rencana membangun PLTU?”

Pertanyaan yang terlintas kemudian adalah, siapakah sesungguhnya yang berada di balik lalu-lalang kapal tongkang dan penambangan batu bara di Indonesia?

Daftar Perusahaan Tambang

PLTU Batang dimiliki oleh konsorsium perusahaan Indonesia dan Jepang. Dari Indonesia adalah PT Adaro Power yang juga anak perusahaan dari PT Adaro Energy (2004). Perusahaan Adaro Energy didirikan oleh Sandiaga Uno (Calon Wakil Presiden), Edwin Soeryadjaya, Teddy Rachmat, Benny Subianto, dan Garibaldi Thohir (Boy Thohir, yang saudara kandung Erick Thohir (Jubir TKN Jokowi). Sandiaga Uno sendiri berkawan dekat dengan Erick Thohir sejak sekolah dasar hingga bergabung dalam jaringan investor yang disebut Angel-EQ Network.

Pada Desember 2018, meski berbeda kubu politik PT Saratoga Investama Sedaya milik Sandiaga Uno, menjual asetnya kepada perusahaan milik Luhut Pandjaitan, PT Toba Bara senilai 130 Miliar Rupiah. Adapun saham yang dijual adalah Saham PLTU Paiton, Jawa Timur.

Untuk tujuan apakah saham-saham tersebut dijual? Apakah ada hubungannya dengan momentum pilpres dan keikutsertaan Sandiaga dalam Pilpres 2019? Dalam sebuah wawancara bersama Kompas TV, disebutkan bahwa nominal sebesar 500 Miliar Rupiah telah melayang termasuk saham-sahamnya di PT Saratoga Investama. Dengan transaksi ini, seperti halnya Adaro, Toba Bara kini tak hanya mengelola tambang batu bara di Kalimantan, juga menguasai pembangkit listriknya di Pulau Jawa.

Lanskap lain konflik tambang batu bara juga terjadi di Cirebon, Jawa Barat, dalam hal ini bersinggungan dengan petani garam. Seorang petani mengatakan bahwa PLTU adalah program pemerintah. Dan bisa ditebak, episode selanjutnya adalah lahan harus dibebaskan, yang dalam hal ini terjadinya penggusuran. Sementara yang cukup mengagetkan, adalah bahwa penggusuran diperlukan agar mengakomodir kepentingan semua (publik, penulis).

Situasi tersebut serupa dengan yang diungkapkan oleh Gramsci dalam Prison Notebooks (1971), bahwa sebuah kelompok menjadi hegemonik bilamana kelompok tersebut mengartikulasikan kepentingan sektoralnya sebagai kepentingan umum, lalu merealisasikannya dalam kepemimpinan moral dan politik. Bahwa perusahaan besar yang ada di Cirebon adalah milik swasta dan berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya dengan prinsip memenuhi permintaan pasar.

Ke Luar Pulau

Destinasi lain kapal-kapal tongkang yang membawa puluhan ribu ton batu bara, adalah PLTU yang berada di pesisir Utara Pulau Bali. PLTU Celukan Bawang, Buleleng memiliki kapasitas 400 Mega Watt atau membakar setidaknya satu tongkang batu bara setiap hari. PLTU ini beroperasi sejak 2015 dan akan membangun pabrik baru tahap dua dengan kapasitas yang lebih besar, yakni 600 Mega Watt. Pemiliknya adalah konsorsium perusahaan Cina dan Indonesia, dengan dana pinjaman sebesar 9 Triliun rupiah dari Bank Pembangunan Cina. Namun, energi batu bara menuntut pengorbanan yang lebih besar terutama bagi masyarakat sekitar pabrik.

Hasil tangkapan yang menurun drastis adalah potret rutinitas nelayan di Celukan Bawang, dan ini tidak terjadi secara instan tanpa sebab. Namun, bagaimana pun kondisinya, mereka harus tetap melaut, seperti yang dialami oleh Supri. “Sekarang kenapa saya bilang menurun, karena ya aktivitas tidak bisa maksimal, terganggu oleh lalu lintas kapal tongkang pengangkut batu bara. Kami tidak bisa sampai ke arah Barat Daya sana. Paling ndak ya, di jalur aman, lepas dari jalur PLTU. Kalau di sana, sudah tidak aman lagi, dengan aktivitas tongkang batu bara ini, susah.” Sementara itu, seorang nelayan yang juga bekerja sebagai satpam di PLTU mengaku hasil melaut jauh lebih besar daripada gaji bulanannya. Di perusahaan, ia hanya digaji 2,5 juta per bulan. Sedangkan dengan melaut, ia pernah mendapatkan 13 juta rupiah selama delapan hari.

Dampak pembangunan PLTU tak hanya berhenti kepada para nelayan. Namun juga bagi para petani kelapa yang berada di sekitar pabrik. Ketut Mangkuwiyana adalah seorang petani kelapa yang menolak untuk menjual tanahnya untuk didirikan pabrik tahap kedua. “Apa hubungannya  PLTU dengan kualitas kelapa sekarang? Sekarang dari segi jumlah sudah menurun. Setelah beroperasinya PLTU ini, termasuk juga ukuran buah kelapa sekarang lebih kecil.”

Sebelumnya dalam setiap panen, Mangku memperoleh 9.000 butir kelapa. Namun kini hanya dapat memanen sekitar 2.500 butir saja. “Yang jelas, sejak pembangunan PLTU perubahannya (dampak, penulis) ada. Misalnya, kelapa tumbuh subur tanpa gangguan. Sekarang, beberapa kelapa mati, janurnya berwarna cokelat.”

Ternyata, persoalan batu bara tidak hanya berhenti di sini. Dampaknya yang lebih besar adalah ihwal kesehatan warga. Sebab, hasil pembakaran batu bara mengeluarkan zat yang dikeluarkan ke udara. Sisa pembakaran ini akan menyebar ke tanaman, perairan, atau masuk ke paru-paru manusia. Secara teori, asap yang keluar telah disaring dan konon tidak berbahaya. Akan tetapi, teori bisa saja berbeda dengan kenyataan. Polutan ini mengandung senyawa berbahaya, seperti Merkuri, dan PM 2,5. Partikel ini bertahan di udara dalam jangka panjang dan bisa terbang ratusan kilometer. Jika manusia terpapar merkuri atau PM 2,5 secara terus-menerus akan menyebabkan asma, infeksi saluran pernapasan, kanker paru-paru, bahkan kerusakan otak, ginjal, dan jantung.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Green Peace, polusi udara dari PLTU Celukan Bawang akan mempengaruhi ekosistem lumba-lumba di Lovina hingga Taman Nasional Bali Barat. Tentu saja, angka ini termasuk 650.000 jiwa populasi manusia yang bermukim di kawasan ini.

Energi Alternatif

Solar Panel adalah inovasi teknologi yang memanfaatkan konversi sinar matahari menjadi listrik baik secara langsung dengan menggunakan photovoltaic, maupun tidak langsung dengan menggunakan tenaga surya terkonsentrasi sehingga menghasilkan tenaga listrik untuk kebutuhan rumah tangga atau perusahaan.

Pemanfaatan tenaga surya sangat efektif dan efisien secara nilai ekonomis serta ramah lingkungan. Dalam skala yang lebih besar bisa dimaksimalkan penerapannya dalam suatu kawasan desa ataupun kota. Caranya adalah dengan menyebar solusi insitu, yang artinya para pengguna mengaplikasikan tenaga matahari. Gungkayon, warga pengguna solar panel menyatakan tidak perlu ada pusat pembangkit dengan lahan luas yang mendistribusikan listrik ke setiap rumah dengan jaringan dan kabel-kabel panjang atau interkoneksi.

Setiap rumah, cukup meyediakan ruang satu meter persegi untuk setiap 10.000 rupiah biaya listrik per bulan. Misalnya, jika biaya listrik bulanan Anda 300.000 rupiah, maka dibutuhkan kurang lebih 30 meter persegi untuk memasang panel surya. Bahkan modelnya dapat diaplikasikan secara vertikal. Cara berpikir cerdas yang lain adalah, jika lembaga keuangan mampu memberikan kredit motor, mestinya bisa memberikan kredit untuk panel surya. Bahkan jika perlu, negara harus memberikan subsidi untuk bunganya.

Merangkul Kegelisahan dan Bergerak

Melawan tidak selalu harus secara fisik dan turun ke lapangan. Kerja-kerja sunyi dan berani menentang penindasan dengan cara menolak menjual tanah kepada perusahaan adalah bukti nyata, seperti yang dilakukan oleh Surayah (biasa disapa nenek Karimun) bersama suaminya. Merujuk kepada surat keterangan dokter, nenek Karimun divonis mengidap batuk menahun atau bronchitis kronis akibat terpapar alergi debu. Sudah lama menderita asma? “Semenjak ada PLTU (menit 54:15’),” katanya. Sebelum ada PLTU tidak ada asma? “Ya, sakit sih ada. Tetapi tidak seperti setelah ada PLTU. Cucu saya juga sama ke dokter, sampai empat kali dalam sebulan (untuk cek kesehatan, penulis).” Memang, belum ada pembuktian medis yang mengaitkan antara penyakit nenek Karimun dengan debu PLTU. Namun, tetangga-tetangganya kini telah memilih pindah.

Untuk menguji kasus ini, mari kita tengok rutinitas seorang bidan bernama Rina Anjarwati di Desa Tubanan, Jepara, yang berdekatan dengan lokasi PLTU. Berdasarkan kesaksiannya, penyakit sesak napas dan asma di desa ini, seperti tak pernah mengenal waktu. Pasiennya datang silih berganti, terutama anak-anak. Meskipun demikian, ia tak berani untuk mengambil kesimpulan ada kaitannya dengan PLTU. “Memang berdekatan dengan PLTU. Saya pun berpikiran apakah karena berdekatan dengan PLTU. Tapi saya ndak berani harus bilang, ini gara-gara PLTU ya. Ndak berani, karena memang belum ada bukti.”

Untuk memperjelas apa sebenarnya penyebab hal-hal tersebut, kita bergeser ke Palu, Sulawesi Tengah. Di sana terdapat PLTU Panau yang telah beroperasi sejak 2007 dengan kapasitas 66 Mega Watt atau sepersepuluh lebih kecil dari PLTU Celukan Bawang di Bali. Meskipun berkapasitas kecil, ternyata ada dampak buruk yang sangat signifikan bagi lingkungan sekitar.

Keluarga Arsyad tinggal dengan jarak 100 meter dari pagar PLTU. Dan dampaknya begitu serius, seperti debu-debu halus yang menempel di rumah mereka. Pria yang telah divonis mengidap alergi debu ini sudah melakukan rontgen secara medik. “Kalau berbicara debu, tidak ada debu lain di sini. Karena rumah kami jauh dari jalan raya. Jadi yang ada ini, hanya debu PLTU saja.”

Pada sisi yang lain, Mahdaleta menunjukkan debu-debu yang masuk dan menempel di dalam rumahnya. Juga Rusli Talib yang rumahnya hanya berseberangan pagar dengan PLTU, memperlihatkan debu-debu yang serupa. Sementara itu, keluarga Niswanti memiliki cara untuk membuktikan jumlah rata-rata debu yang dikumpulkan setiap harinya, yakni dengan menampung di dalam sebuah wadah mangkuk kaca. Dan cerita-cerita ini tentu saja belum semuanya, sebab sebagian telah masuk ke dalam paru-paru. “Penyakit ispa, paru-paru, sebenarnya banyak yang mengidap. Hanya saja, mereka menganggap sepele. Saya kira, itu memang akibat dari debu PLTU.”

Arsyad menunjukkan lokasi pembuangan debu terbang (fly ash) PLTU. Dan memang sudah seharusnya, debu terbang ini dikapalkan dan dibuang di tempat khusus limbanh B3 (Bahan Berbahaya Beracun). “Posisi TPS ini sangat dekat sekali dengan permukiman,” paparnya.

Pada Januari 2017, PT Pusaka Jaya Palu Power (PJPP) telah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung. Namun, putusannya tak terlalu membawa pengaruh bagi masyarakat. Selama tujuh tahun (2009-2016), PLTU ini dimiliki oleh PT Toba Sejahtera milik Luhut Pandjaitan. Sebelum akhirnya berpindah tangan, termasuk lima persen sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Palu. Warga pun telah melakukan protes berulangkali meminta agar aktivitas PLTU dihentikan.

Obituarium Noviyanti

“Menurut catatan kami, sudah ada sekitar dua puluhan warga Panau, sebagian besar sudah meninggal. Dan masih ada beberapa lagi yang kondisi sekarang ini masih berobat, atas nama Noviyanti, yang menjalani kemotrapi di Rumah Sakit Darmais, Jakarta.”

Noviyanti menderita penyakit kanker Nasovaring atau bagian atas tenggorokan. Suaminya, Abdul Samad, bercerita bahwa ia pernah bekerja membawa limbah batu bara. “Dulu saya (kerja di, penulis) batu bara juga. Makanya saya dulu kalau limbah-limbah batu bara itu saya masukkan ke tongkang. Kami bawa ke Tuban. Di sana ada pabrik semen Gresik, Holcim. Mereka aduk sebagai campuran bahan pembuatan semen. Yang di Palu itu kayaknya ndak (tidak seperti itu, penulis).

Kondisi Noviyanti sangat memprihatinkan. Dengan kanker stadium empat, ia berusaha melawan penyakitnya. Sudah delapan bulan ia bersama suami dan ibunya tinggal kos di belakang Rumah Sakit Darmais. Secara teori, kanker Nasovaring banyak ditemukan di Asia Tenggara. Peyebababnya mulai dari virus, faktor keturunan, dan terpapar polusi udara, misalnya asap rokok, asap tungku dapur tradisional, hingga polusi bahan kimia lainnya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard dan Green Peace yang dipublikasikan tahun 2015, PLTU batu bara di Indonesia menyebabkan kematian prematur hingga 6.500 jiwa setiap tahunnya, atau ada 17 kematian setiap hari akibat terpapar polusi batu bara.  Sejak beroperasi tahun 2007-2017, hanya di satu Kelurahan Panau saja, dilaporkan delapan orang telah meninggal akibat kanker dan penyakit paru. Sementara enam lainnya masih menjalani perawatan medis, termasuk Noviyanti.

Delapan orang yang meninggal adalah Andi Tuo (Mei 2015), Paena (Juni 2015), Karlina (Maret 2016), Nirham (September 2016), Fauzia (September 2016), Juhali (September 2017), Iskak (Oktober 2017), dan Safitri (Oktober 2017). Mereka adalah pengingat bahwa bencana ekologi dan limbah industri tak pernah mengenal kompromi. Bahwa obitarium seharusnya terus menyala agar waras-waras warga tetap terjaga untuk meminta pertanggungjawaban kepada otoritas pembuat kebijakan.

Cuplikan video (01:03:44’) menampilkan aktivitas penambangan terbuka (29 Agustus 2018) di Stockpile batu bara Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Angin kencang membawa material debu ke arah Desa Kaliorang dan Desa Selangkau. Tentu saja, warga akan menjadi korban dari peristiwa tersebut.

III

Listrik hampir menjadi kebutuhan utama di setiap rumah tangga. Ragam aktivitas dan perbendaharaan alat-alat elektronik yang dimiliki menuntut hal yang setimpal, yakni akses terhadap listrik. Oleh sebab itu, batu bara dijadikan pilihan utama sebab paling murah dibandingkan sumber energi lainnya. Perbandingannya dapat dilihat seperti ini, biaya produksi listrik untuk setiap satu KwH dengan batu bara sebesar 600 rupiah, Gas 1.000, BBM 1.600, dan energi terbarukan Matahari 2.900.

Mengapa batu bara paling murah? Berdasarkan narasi dalam film ‘Sexy Killers’, jawaban singkatnya karena ongkos lingkungan sosial ekonomi, bahkan keselamatan umum serta kesehatan masyarakat dibebankan kepada mereka yang terdampak. Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) hingga tahun 2027, 54,4% listrik kita masih dari batu bara. Sementara energi terbarukan seperti angin, matahari, dan air hanya sekitar 22%.

Sirkulasi Elit

Menurut saya, bagian terpenting dalam film ‘Sexy Killers’ adalah pada menit ke 01:06:11, yang menampilkan labirin oligarki kapital dalam beberapa perusahaan tambang batu bara. Mulai dari dua putera Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep. Kemudian Luhut Binsar Pandjaitan yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman, serta tim sukses Jokowi dalam pilpres 2019 yang tergabung di Tim Bravo 5 (Fachrul Razi, Suaidi Marasabessy).

Tanpa melihat afiliasi politik, berikut adalah sebagian jenderal TNI dan Polri yang jejaknya sedang dan pernah berada di perusahaan tambang batu bara:

  • Letjen TNI (Purn) Luhut Pandjaitan, pemilik PT Toba Sejahtera
  • Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto, pemilik Nusantara Energy Resources, PT Erabara Persada,PT Nusantara Wahau Coal, PT Nusantara Kaltim Coal, PT Kaltim Nusantara Coal, PT Nusantara Berau Coal, PT Nusantara Santan Coal, dan PT Batubara Nusantara Kaltim
  • Letjen TNI (Purn) Sumardi, Direktur PT Kutai Energi, Direktur Utama PT Trisensa Mineral Utama
  • Letjen TNI (Purn) Fachrul Razi, Komisaris PT Toba Sejahtera
  • Letjen TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, Direktur utama PT Trisensa Mineral Utama
  • Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan, Komisaris PT Adimitra Baratama Nusantara
  • Irjen Pol (Purn) Mathius Salempang, Komisaris PT Bukit Baiduri Energi, Direktur PT Khotai Makmur Insan Abadi
  • Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi, Direktur PT Energi Cahaya Industritama, Direktur PT Dunia Usaha Maju
  • Irjen Pol (Purn) Alpiner Sinaga, Direktur PT Energi Cahaya Industritama, Direktur PT Dunia Usaha Maju
  • Komjenpol (Purn) Nugroho Djajusman, Komisaris PT Bintang Prima Energy Pratama
  • Laksamana TNI (Purn) Syamsul Bahri, Komisaris PT Bintang Prima Energy Pratama
  • Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, Komisaris Independen PT Adaro Energy
  • Laksamana TNI (Purn) Agus Suhartono, Presiden Komisaris PT Bukit Asam Tbk
  • Laksamana TNI (Purn) Marsetio, Komisaris Independen PT Berau Coal

 

Sementara itu, dari kalangan sipil:

 

  • Oesman Sapta Odang (Dewan Penasehat TKN Jokowi-Ma’ruf), PT Total Orbit
  • Andi Syamsudin Arsyad (Pernah menjadi wakil bendahara TKN Jokowi-Ma’ruf), pemilik tambang batu bara di bawah bendera Grup Johnlin (Kalimantan Selatan)
  • Hary Tanoesoedibjo (Dewan Penasihat TKN Jokowi-Ma’ruf, Ketua Umum PERINDO), pemilik perusahaan MNC Energy and Natural Resource (Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan)
  • Jusuf Kalla (Wakil Presiden, Dewan Pengarah TKN Jokowi-Ma’ruf), berbisnis listrik dan batu bara lewat bendera Grup Kalla; Kalla Arebama & PT Kalla Electrical System

 

Selanjutnya mari kita tengok kubu Prabowo-Sandi:

 

  • Prabowo Subianto, pemilik Nusantara Energy Resources yang menaungi tujuh belas (17) anak perusahaan, di antaranya PT Erabara Persada,PT Nusantara Wahau Coal, PT Nusantara Kaltim Coal, PT Kaltim Nusantara Coal, PT Nusantara Berau Coal, PT Nusantara Santan Coal, dan PT Batubara Nusantara Kaltim
  • Sandiaga Uno, pemegang saham Grup Saratoga (PT Saratoga Investama Sedaya), Pernah menjadi direktur tambang batu bara PT Multi Harapan Utama di Kutai Kertanegara, PT Adaro Energy (2004), PT Adaro Power (PLTU Batang)
  • Badan Pemenangan Nasional (BPN), Hashim Djojohadikusumo sebagai Direktur komunikasi dan media Prabowo-Sandi. Hashim adalah pemegang saham PT Batu Hitam Perkasa, yang memiliki PLTU di Paiton, Jawa Timur, sebelum dijual ke PT Saratoga Investama Sedaya milik Sandiaga Uno. Yang kemudian dijual lagi ke PT Toba Bara Energy, miliki Luhut Pandjaitan.
  • Ferry Musryidan Baldan, Direktur relawan BPN Prabowo-Sandi. Keluarga Ferry, melalui istrinya memiliki PT Syahid Berau Bestari, PT Rantau Panjang Utama Bhakti, PT Syahid Indah Utama

 

Sebagai catatan penting, 60% dari seluruh bisnis batu bara di Indonesia dikuasai oleh sepuluh perusahaan berikut ini:

  1. Adaro Energy (ADRO)
  2. Bumi Resources (BUMI)
  3. Indika Energy (INDY)
  4. Indo Tambangraya Megah (ITMG)
  5. Asia Coal Energy (Grup Sinar Mas)
  6. Harum Energy (HRUM)
  7. Bayan Resources (BYAN)
  8. Sakari Resources
  9. Tambang Batu Bara Bukit Asam
  10. Toba Bara Sejahtera (TOBA)

 

Sisi lain film ini adalah berusaha untuk memetakan lingkaran elit dalam pusaran perusahaan tambang batu bara di Indonesia. Sehingga membuat kita berpikir, siapa sebenarnya yang diuntungkan? Rakyat atau elit?

Gaetano Mosca (1858-1941) dan Vilfredo Pareto (1848-1923) mendefinisikan elit sebagai kelas penguasa yang secara efektif mampu melakukan monopoli atas sektor-sektor kunci di dalam masyarakat. Pernyataan tersebut kemudian didukung oleh Robert Michels (1876-1936) dalam karyanya ‘First Lecture in Political Sociology’ yang menjelaskan kecenderungan dominasi (penguasaan) oleh sekelompok kecil orang baik dalam dimensi oligarki politik, organisasi, kepemimpinan, hubungan organisasi dengan rakyat maupun oligarki kekuasaan pemerintah. Secara spesifik, Michels mengkonsepkannya dengan melihat posisi elit dalam tubuh birokrasi sebuah partai politik, yang memiliki kekuasaan dalam menentukan arah kehidupan berbangsa.

IV

‘Sexy Killers’ merupakan penutup rangkaian Ekspedisi Indonesia Biru, rumah produksi WatchDoc. Meskipun demikian, ‘Sexy Killers’ dapat dikatakan serupa nyala yang memberikan narasi terang-benderang ihwal lingkaran oligarki elit nasional dalam pusaran tambang batu bara. Film ini menjadi pemantik untuk melakukan advokasi, belajar berjejaring, dan menghidupkan kembali kesadaran kolektif atas permasalahan konflik sosial dan ekologi.

Politik sepertinya berkawan baik dengan oligarki kapital, seperti situasi dalam ‘Sexy Killers’. Ia beririsan sangat dekat dan mampu menutupi jelaga yang tak nampak dari riuh rendah hajatan politik itu sendiri. Siapapun yang menang, ekspansi dan sirkulasi oligarki kapital telah menunggu disinggahi.

Hari ini, kita kembali harus belajar untuk melabuhkan harapan kepada para elit politik. ‘Sexy Killers’ memberikan pendidikan alternatif tentang dampak pengelolaan tambang yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan. Ia tak hanya bercerita tentang masalah Hak Asasi Manusia (HAM), namun juga perihal pendidikan politik dari perspektif yang berbeda.

WatchDoc telah merekam zaman dengan waras yang sangat terjaga dan membuat kita sadar tentang bagaimana membaca gejala dalam jelaga debu batu bara. Hari esok pasti memiliki makna dan meminta ruang kontemplasi untuk tak sekedar merenungi hidup yang berkalung palung kesenduan.

Terima kasih, WatchDoc. Arsip ini akan terawat bergenerasi.

 

___

Baca juga:

No Comments

Post A Comment