Metaruang | Ramai-Ramai Digunduli, Solidaritas bagi Korban Kekerasan Aparat 1 Mei 2019
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17661
post-template-default,single,single-post,postid-17661,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Ramai-Ramai Digunduli, Solidaritas bagi Korban Kekerasan Aparat 1 Mei 2019

Putri panik. Ia berlari panik menuju halaman belakang sebuah kafe. Di jalan yang hanya selebar dua meter itu, Putri bersama lima orang lainnya mencoba bersembunyi di dapur kafe. Tapi nahas, ketika ia baru saja sampai, tubuhnya langsung ditarik oleh segerombolan polisi. Ia ditendang, dipukul, dan diseret oleh mereka.

Putri bukanlah satu-satunya yang menjadi korban kekerasan aparat hari itu. Ada 700 lebih massa aksi May Day Bandung 2019 lain yang bernasib sama.

“Mereka memaksa aku untuk buka baju, dan di situ mereka menyadari aku perempuan. Tapi aku tidak buka baju. Selain aku, banyak anak-anak sekolah dipukuli oleh benda apa saja yang ada di situ, besi, pentungan, pilok, helm,” jelas Putri kepada Metaruang pada Jumat, 3 Mei 2019.

Putri adalah pekerja freelance. Sehari-hari, ia mengerjakan desain poster atau desain kaos. Status kerja yang tak jelas, juga upah yang tak seberapa, mendorong Putri untuk turun ke jalan pada peringatan Hari Buruh Internasional atau lebih sering dikenal sebagai May Day.

Tapi hari itu ia kesiangan dan gagal untuk ikut longmarch buruh pabrik. Meski tak mengurungkan niatnya untuk datang, ia akhirnya bergabung dengan barisan massa aksi yang berkostum hitam di Monumen Juang.

Baru seperempat perjalanan, segerombolan polisi yang menggunakan motor trail sudah membuat massa terdorong ke arah Jalan Singaperbangsa. Massa kemudian dibuat berhamburan setelah mobil dalmas polisi melaju kencang dari arah belakang massa aksi. Banyak massa aksi yang tertabrak dan terjatuh, termasuk Putri.

“Aku jatuh di situ. Nah itu tuh kalo ga salah ada yang pingsan. Banyak juga yang ditangkap. Ada yang tertabrak mobil dalmas karena melaju kencang ke arah massa aksi. Mereka lari karena mobil dalmas maju ke tengah-tengah jalan, spontan gak mungkin diam saja. Mobil itu cabut, mobil lain muncul,” jelas Putri.

Massa kemudian digiring ke jalan Dago. Di sana mereka digiring ke trotoar. Banyak dari mereka yang terjepit karena jumlah massa yang terlalu banyak berdesakan di trotoar selebar tiga meter itu.

Penangkapan dan kekerasan masih terus terjadi di jalan Dago. Di jalan ini pula massa yang berangkat dari Cikapayang melebur dengan massa GERAK (Gerakan Rakyat Anti Kapitalis) yang berangkat dari Monumen Juang. Massa yang melebur ini kemudian terdorong dan berhamburan ke berbagai arah. Di antaranya ke jalan Dipatiukur dan Jalan Ir. H. Juanda.

Putri bersama puluhan massa aksi lainnya berlari menuju Jalan Dago karena terdorong oleh polisi yang menggunakan motor trail. Di jalan inilah Putri tertangkap setelah mencoba bersembunyi di belakang kafe.

“Di jalan ini kecil, pas aku masuk ada penarikan dan sudah ditahan. Aku ditendang sama Tim Prabu bagian ulu hati. Tendangannya keras aku terdorong kebalakang, dan ada polisi yang nonjok lagi tapi karena tubuhku ke belakang tonjokan itu menyerempet ke mulut. Mulutku bengkak. Ketika terjatuh aku masih dipukuli dan diinjak. Kami masih dibentak-bentak. Dan didorong, dan ditampar-tampar sambil diteriaki, ‘Kamu anarkis, ya?'” jelas Putri sambil menunjukkan bibirnya yang bengkak kepada Metaruang.

Polisi tak hanya melakukan kekerasan fisik terhadap Putri. Mereka juga tambah berkomentar karena jenis kelaminnya. “Ngapain kamu ikut aksi? Perempuan itu di rumah, bantu ibu memasak!” bentak polisi kepada Putri.

Putri hanya diam. Ia sadar berdebat dengan gerombolan berseragam yang tak punya nurani adalah perbuatan sia-sia. Putri akhirnya diangkut menuju Polres Bandung.

Di sana Putri hanya diajukan beberapa pertanyaan. Ia kemudian dibebaskan setelah ada kawannya yang menjemput.

Nasib Putri masih lebih baik ketimbang Bolkiah yang sudah ditangkap sejak berada di Monumen Juang. Bersama puluhan massa aksi lainnya, ia dijanjikan oleh Tim Prabu bahwa tidak akan ada intervensi apapun yang dilakukan oleh aparat sampai aksi selesai. Namun hingga pukul 17:00 WIB, Bolkiah dan massa aksi lainnya justru dipaksa membuka baju dan dibawa ke Polres Bandung.

“Waktu diperintahkan buka baju, kami dipukul oleh pentungan dan ditendang sepatu lars. Yang memukuli kami adalah polisi berseragam dan juga polisi yang menggunakan baju massa aksi,” jelas Bolkiah ketika bertemu Metaruang pada Jumat, 3 Mei 2019.

Sesampainya di Polres Bandung, Bolkiah dan massa aksi lainnya dipaksa berguling-guling dan tidur terlentang di aspal yang panas. Ia lalu digunduli bersama ratusan massa aksi lainnya.

Bolkiah yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun, protes. Namun yang datang dari polisi bukannya jawaban. Ia justru dihadiahi pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke arahnya. Pukulan demi pukulan pun kian bertubi-tubi saat Bolkiah memprotes tindakan polisi yang melecehkan massa aksi perempuan.

“Aparat kepolisian pun seksis, dan ada niatan pelecehan kepada 10 orang perempuan. Ketika massa aksi laki-laki ditelanjangi, ada aparat kepolisian yang meminta massa aksi perempuan yang juga diminta buka baju. Saya protes tetapi saya dipukul,” jelas Boliah.

Ada raut kesal bercampur ngeri di wajah Bolkiah ketika menceritakan dipindahkannya ia dan massa aksi dari Polres Bandung ke Mako Brimob di Jatinangor.

“Saat masuk ke dalmas terdapat kekerasan. Beberapa massa aksi dipukul dan diperintahkan cepat-cepat naik ke mobil. Padahal kondisi fisik mereka kelelahan. Sampai ada yang pingsan di tol, namun tetap dibiarkan. Bahkan kami dijejalkan seperti pindang di truk dalmas. Saya mempertanyakan dan meminta polisi untuk berhenti karena situasi pengap. Namun pertanyaan saya tak digubris,” papar Bolkiah.

Bolkiah menatap dengan nanar. Ia nampak geram sekaligus sedih ketika menceritakan bahwa terdapat beberapa massa aksi yang muntah-muntah ketika ditampar saat makan di Mako Brimob.

“Sampai di Mako, kondisi kami sudah mirip binatang. Berbeda dengan di polres, kami masih bercanda sambil ngobrol. Karena di Mako kami terus mendapatkan kekerasan, sesudah makan perut kami banyak yang ditusuk-tusuk menggunakan pentungan atau tongkat besi. Jika ada yang ketiduran kami dimandikan,” jelas Bolkiah.

Saat melalui proses BAP, banyak dari massa aksi yang dibentak dan sesekali dipukul. Kebanyakan dari mereka, menurut Bolkiah, adalah remaja. Mereka gemetar kedinginan sekaligus ketakutan ketika jawabannya tidak sesuai menurut Polisi.

Bolkiah sendiri menjawab bahwa ia mengikuti aksi ini atas dasar keresahannya terhadap nasibnya sebagai buruh yang tak kunjung membaik. Di usia 27 tahun ini ia masih belum memiliki pekerjaan tetap. Bekerja sebagai buruh ritel di salah satu distro di Bandung, Bolkiah hingga kini tak memiliki upah yang layak serta status kerja yang jelas. Ia sendiri telah berganti pekerjaan sebanyak 3 kali dalam kurun waktu dua tahun ini. Kontrak kerja pendek dan upah yang tak sesuai membuatnya terpaksa mencari pekerjaan yang layak baginya.

Namun, alih-alih tuntutannya diakomodir, ia bersama massa aksi lainnya justru ditangkap dan dituduh sebagai perusuh oleh kepolisian dan masyarakat.

Menurut Bolkiah, pelaku pengrusakan mobil dan motor bukanlah massa aksi, sebagaimana yang banyak diberitakan media arus utama. Justru intel berpakaian yang sama persis dengan massa aksi adalah pelakunya.

“Waktu di Polres ada massa aksi yang dipisah langsung. Mereka langsung jalan berbeda, dan waktu disuruh buka baju, mereka langsung buka penutup muka dan mengatakan, ‘Ieu mah aing (Ini saya)’. Sebenarnya mereka-mereka inilah yang merusak, mencoret dan lain-lain, karena gestur dan posturnya sangat mirip dengan perawakan polisi. Ketika kawan-kawan yang posturnya biasa sedang melakukan vandal dikejar, mereka tidak. Mereka dibiarkan ketika merusak mobil, dan motor,” tutup Bolkiah.

Tindakan unprocedural

Di temui di Kantor LBH Bandung, Asisten Pembela Umum LBH Bandung Heri menyebut bahwa apa yang dilakukan kepolisian adalah tindakan unprocedural.

“Makannya pukul rata, siapapun itu yang memakai baju hitam dan ada di sekitaran gasibu dan area-area perayaan May Day, itu bisa jadi tersangka. Dan banyak juga yang tidak ikut May Day dan mungkin attitude-nya sama terkena imbasnya. Itu pokoknya sangat unprocedural dan pokoknya tidak sesuai dengan kaidah si perpolisian,” jelas Heri saat diwawancari Metaruang, Senin 7 Mei 2019.

Dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun  2009 pasal 11 Bab III tentang Standar Perilaku Petugas/Anggota Polri dalam Penegakan Hukum, disebutkan bahwa setiap petugas Polri dilarang untuk melakukan penahanan dan penangkapan secara sewenang-wenang. Petugas Polri juga dilarang untuk melakukan penyiksaan tahanan, pelecehan atau kekerasan seksual serta dilarang melakukan penghukuman dan/atau melakukan perlakuan tidak manusiawi yang merendahkan martabat manusia.

Menurut Heri, apa yang terjadi saat May Day Bandung 2019 jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Massa aksi disiksa tanpa ada pembuktian terlebih dahulu dia bersalah atau tidak. Mereka juga dipaksa untuk bertelanjang di muka umum dan direndahkan martabat kemanusiaannya oleh kepolisian dengan dicorat-coret tubuhnya menggunakan cat semprot.

Menggunduli kepala sebagai ungkapan solidaritas

Marsinah memimpin aksi pekerja PT Catur Putra Surya untuk mendapatkan kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari. Namun aksi itu membuat perusahaan panas. Gaji memang naik, namun akhirnya Marsinah dan teman temannya harus berurusan dengan aparat Kodim.

Marsinah kemudian dibunuh oleh tentara dan pabrik tempat ia bekerja terbenam lumpur Lapindo beberapa tahun kemudian. Tapi gagasan dan api perlawanannya masih terus ada dan berlipat ganda di seluruh tempat di mana penindasan itu terjadi. Ia akan selalu diingat sebagai martir perjuangan buruh dalam benak seluruh elemen rakyat tertindas.

Dan pada Kamis, 9 Mei 2019, di depan Polrestabes Bandung, sekitar lima puluh massa aksi memperingati kembali kematian Marsinah.

Berbeda dengan aksi-aksi peringatan kematian Marsinah sebelumnya, kalli ini momentum peringatan kematian pejuang buruh itu berbarengan dengan aksi solidaritas terhadap 700 lebih massa aksi May Day Bandung 2019 yang ditangkap, disiksa, dan digunduli.

Barangkali, gagasan dan api perlawanan itulah yang kini berkobar dalam jiwa massa aksi solidaritas terhadap kekerasan May day 2019 di Bandung. Di seberang Polrestabes Bandung, mereka semua mengutuk tindakan sewenang-wenang aparat terhadap massa aksi May Day kemarin.

Salah satunya Mutaqiem. Meski ia ditangkap, disiksa, dan digunduli, ia tetap datang dalam aksi solidaritas ini.

“Apapun yang terjadi, gak buat kita menyerah dan kapok. Gak bikin kita diem di tempat. Soalnya, selama yang kita perjuangkan benar, kita harus terjang terus,” jelas Mutaqiem ketika ditemui di Kamisan lalu 9 Mei lalu.

Apa yang disebutkan oleh pemuda 20 tahun itu selaras dengan yang dikatakan Munarman Zamroni dari PANDA (Persatuan Penegak Demokrasi), aliansi yang menggalang aksi solaritas ini bersama Aksi Kamisan. Meski berulangkali direpresi, Zamroni yakin perjuangan akan tetap ada dan berlipat ganda.

“Perjuangan kita tak akan mati, sebab yang hilang hanyalah rambut. Bukan isi kepala kita. Sebab senjata kita ada di dalam kepala!” seru Zamroni kepada massa aksi solidaritas lewat megafon. Malam itu, Zamroni bersama sembilan massa aksi lainnya menggunduli rambut mereka sebagai bentuk solidaritas.

Sore tepat di antara cabang Jalan Merdeka dan Jalan Perintis Kemerdekaan, massa aksi membentangkan spanduk yang bertuliskan “Solidaritas warga Bandung untuk Korban Kekerasan May Day 2019”. Selain aksi solidaritas dan peringatan Marsinah, PANDA juga membuka posko pendampingan untuk korban kekerasan dan penangkapan yang saat ini barang milik pribadinya ditahan di Polrestabes Bandung.

PANDA (Persatuan Penegak Demokrasi) bekerja sama dengan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia) melakukan pendampingan kepada korban untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Memang, hingga sore itu, masih banyak barang-barang peserta aksi, seperti ponsel, yang belum dikembalikan oleh pihak kepolisian ke pemiliknya. Namun saat bertemu dengan bagian reskrim, pihak kepolisian tak mengakui adanya perampasan ponsel korban.

“Klien kami ini menunjuk salah satu orang yang diduga pelaku perampasan handphone itu. Dia adalah polisi. Tapi ketika kami melakukan mediasi dengan pihak yang diduga melakukan perampasan, yang diduga ini tidak mengakui telah melakukan perampasan tersebut. Makanya kami meminta untuk bertemu lagi membawa saksi karena pada saat kejadian itu tidak hanya ada klien kami,” jelas Abrori dari PANDA (Persatuan Penegak Demokrasi) ketika ditemui Metaruang saat aksi.

Menurut Abrori, tim advokasi akan kembali mendatangi Polrestabes Bandung untuk meminta barang kliennya yang dirampas dengan mendatangkan tiga orang saksi lainnya. Abrori juga menambahkan bahwa aksi solidaritas dan upaya pendampingan ini adalah bentuk pesan kepada kawan-kawan yang sebelumnya ditangkap, disiksa dan digunduli, bahwa mereka tidaklah sendiri.

 

___

Penulis: Militansi

Dokumentasi: Militansi

___

Artikel terkait: Represifitas Aparat Mencoreng May Day di Bandung

 

Tags:
No Comments

Post A Comment