Loader

Wawancara: Filep Karma dan Biak Berdarah

Kekerasan terhadap rakyat Papua bukanlah hal baru. Sejak invasi pertama militer Indonesia awal tahun 1962 di tanah Papua, lewat Tri Komando Rakyat (Trikora), kekerasan demi kekerasan, penyiksaan demi penyiksaan, perkosaan demi perkosaan, hingga pembunuhan secara acak terus menerus terjadi berlanjut sampai sekarang.

Tragedi Biak Berdarah (6 Juli 1998) menjadi salah satu babak kelam dalam catatan sejarah bangsa West Papua. Protes damai pengibaran bendera Bintang Kejora selama empat hari di bawah Tower Air Biak berbuah penembakan, penangkapan, penyiksaan, mutilasi, pemerkosaan, hingga dibakarnya manusia oleh tentara Indonesia. Tak sedikit yang menjadi korban, tentunya. Menurut temuan The Biak Massacre Citizens Tribunal yang diselenggarakan di Universitas Sydney, Australia, 6 Juli 2013, diperkirakan ada lebih dari 150 orang Papua tewas dibunuh dan mayat mereka dibuang ke laut setelah insiden pembantaian tersebut.

Biak sendiri merupakan daerah operasi militer sejak 1960-an sampai 1980-an. Demikian menurut Filep Karma dalam Seakan Kitorang Setengah Binatang (2014). Sejak itu, orang Papua di kampung Biak mulai ditangkapi, diculik, dibunuh semena-mena, dan dibantai tentara Indonesia. Ibu-ibu, maupun gadis-gadis remaja menjadi korban perkosaan. Brutalitas tentara Indonesia yang terjadi dalam Tragedi Biak Berdarah merupakan salah satu tragedi paling kelam di antara sekian catatan kekerasan kolonialisme Indonesia di atas Bumi Cenderawasih yang patut kita soroti.

Brutalitas tentara Indonesia dalam Tragedi Biak Berdarah terjadi bukan tanpa sebab. Kekerasan demi kekerasan yang hadir di tanah Papua merupakan manifestasi dari akutnya tangan berdarah kolonial Indonesia yang dibekingi kepentingan imperialisme Amerika Serikat. Dimulai ketika seruan invasi Trikora yang digelorakan Soekarno. Dilanjutkan dengan penandatangan kontrak karya Freeport yang dilakukan Soeharto sebelum Bangsa Papua “masuk” ke dalam teritori Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969, plebisit yang  memaksa 1024 orang memilih Papua bergabung dengan Indonesia. Atas nama stabilitas modal, bangsa Papua dipaksa masuk dalam bingkai kebhinekaan –Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa Papua dibungkam dengan senapan. Bangsa Papua dipaksa tunduk di bawah “persatuan” Indonesia dalam situasi penuh penderitaan. Dalam kolonialisme, bangsa terjajah tidak berhak bicara, apalagi menentukan nasibnya sendiri. Sebagai bangsa jajahan, orang-orang Papua tidak boleh mengekspresikan identitasnya sebagai bangsa yang (ingin) merdeka.

Tahun lalu, tepatnya pada 18 Oktober 2018, Filep Karma, salah seorang korban selamat, sekaligus pelopor aksi pengibaran Bintang Kejora di Biak, berkunjung ke kota Bandung. Wisnu bersama Falus berkesempatan untuk mewawancarainya. Filep bercerita panjang lebar terkait tragedi tersebut. Dari penembakan, operasi pembersihan oleh tentara, penangkapan, potongan-potongan mayat yang berhamburan di lokasi kejadian, hingga skenario negara yang sengaja menutup-nutupi tragedi ini. Kami sengaja menuliskannya sebagai pengingat betapa bar-barnya negara kolonial Indonesia beserta aparatus kekerasannya, sekaligus untuk memperingati 21 tahun tragedi yang membuat muka Republik Indonesia cemong oleh darah bangsa West Papua berkat Tragedi Biak Berdarah.

 

Wisnu

Bapak, bisakah ceritakan bagaimana tentara menembaki penduduk Biak dalam Tragedi Biak?

Filep Karma

Saat itu kita tidak melawan, tidak membawa senjata, jadi tidak alasan kita ditembak. Tapi ditembak juga. Selain itu dari kapal laut juga kita ditembak. Jadi saat itu saya berpikir: ini persis kayak film perang yang saya tonton selama ini. Tartartartar! Duar duar!! yang lainnya saya tidak tahu, tembakan atau cuma bahan peledak yang membuat kami terteror ketakutan. Tapi yang jelas, dari tembakan kapal Angkatan Laut itu sampai membuat pohon beringin putus. Saya sempat lihat dahan beringin itu jatuh.

Sesudah itu, mereka terus menembak tapi kami tidak pergi, dan lama-lama tembakan terus mengarah ke bawah. Akhirnya saya menyuruh teman-teman, “baring!”. Jadi kami baring mengelilingi tower itu. Saya bilang, “ini tandanya kita tetap melawan, kita bukan menyerah, artinya kita memasang badan. Oke, mereka boleh turunkan bendera (Bintang Kejora), tapi injak dulu tubuh kita. Kita halangi pakai tubuh”. (Ketika) kita sudah baring, terus mereka bilang, “Ayo lari, lari!”. Saya bilang jangan lari, (kalau) lari (akan) ditembak. Saya sudah ajar masyarakat juga, saya beri tahu kalau dalam undang-undang kepolisian Indonesia, polisi boleh menembak kalau kita bersenjata atau kita melarikan diri.

 

Falus

Tapi, bukankah yang melakukan penyerangan adalah tentara Angkatan Laut bersama Angkatan Darat?

Filep Karma

Iya, memang yang datang itu bukan polisi, jadi Angkatan Laut dari laut dengan kapal, tapi yang datang (di darat) itu loreng Angkatan Darat (TNI AD), tapi bagi pemerintah (Indonesia) itu dianggapnya adalah polisi (yang datang menyerang). Karena sudah mulai terang, subuh, antara setengah enam mau jam enam waktu itu, terlihat jelas sekali lorengnya, pakai helm militer. Mereka bilang, “Ayo lari lari!”. Tapi tidak ada yang lari. Karena kami sudah baring semua. Mereka (lalu) ambil batu, lempar, bagh! Teman-teman takut kena batu, akhirnya ada yang kabur (lari), mereka yang lari ditembak.

Kemudian belakangan baru saya mendapat informasi, jadi sebelum mereka menyerang ke sini (The Water Tower) waktu itu, areal beberapa ratus meter keluar itu ada ‘pembersihan’ besar-besaran. Jadi mereka ‘bersihkan’ masyarakat setempat. Orang yang sedang jalan ditembak. Rumah digedor, dicari ke dalam, disuruh keluar semua. Sudah keluar, lalu digiring ke pelabuhan kapal. Jadi seputaran ini (sekitar The Water Tower), sebelum mereka menyerang ke sini, semua orang digiring ke pelabuhan kapal. Baru di sana ditembaki. Jadi pertama dinaikkan ke kapal, ada dua kapal Angkatan Laut. Itu jenis kapalnya bisa dilihat di (situs) Biak Massacre Tribunal.

Jadi ada teman saya yang dibawa ke pelabuhan kapal, terus pakai megaphone, “Kapal minta untuk bersandar lagi, untuk angkut masih ada tahanan. Dari kapal juga ada pengumuman, ‘kapal sudah penuh, tidak bisa memuat lagi’. Jadi kapalnya tidak sandar. Nah, yang di kapal ini, dibantai!

Yang perempuan diperkosa, lalu pakai bayonet dibelah kemaluannya. Yang laki-laki ditanya, “Kamu ditembak sebelah mana?”, “Di sini,” (menunjuk ke paha), paha laki-laki itu ditancap (dengan pisau) lalu disobek lagi. Karena ini ada kesaksian dari satu anak kecil, Edurumbiak namanya, dia yang selamat, dia cerita apa yang dia lihat di atas kapal. Ada laki-laki yang langsung dipotong kemaluannya, dimasukkan (potongan kemaluannya) ke mulutnya sendiri, dalam keadaan orangnya masih hidup. Yang perempuan hamil langsung dibelah (perutnya).

 

Wisnu Tri

Banyak data yang muncul terkait jumlah korban dalam Tragedi Biak, ada yang mengatakan ratusan, ada yang mengatakan puluhan. Menurut bapak sendiri, kira-kira berapa jumlah korban dalam Tragedi Biak?

Filep Karma

Setelah tahun 2000 saya melakukan investigasi, ditemukan ada kepala dengan usus saja, tidak ada badan. Kadang ketemu potongan tangan atau kaki. Terus ada (mayat) seorang remaja perempuan (berumur) sekitar 14 tahun, cuma dari lutut, lutut ke bawah putus, dan lengan dua-duanya putus. Jadi hanya badan saja. Dibuang di laut. Jadi masyarakat yang menguburkan (potongan-potongan mayat) itu yang menceritakan pada saya. Sayangnya, buku agenda yang menjadi buku catatan saya, saya tidak simpan ketika saya masih pakai catat-catat, saya (keburu) ditangkap polisi. Jadi saya berpikir untuk harus kembali lagi datang ke sana, ambil data lagi. Sebelum orang-orang yang menguburkan itu meninggal.

Kemudian ada juga yang memberi laporan pada saya, termasuk teman saya yang bisa hidup karena saat dibawa ke pelabuhan kapal sudah penuh, jadi dia bisa lolos: orang-orang disuruh berdiri, tangan di belakang. Jadi berdirinya jinjit, (dengan) kepala di tanah, seperti huruf “A”. Pada waktu orang-orang itu haus disuruh minum air genangan.

Kemudian truk-truk datang, orang-orang yang sudah dibantai itu dibuang ke atas truk, hingga penuh truknya pergi. Begitu truknya pergi masuk ke komplek Angkatan Laut, karena dekat dengan pelabuhan. Nanti sudah malam hari baru dibawa, entah ke mana. Jadi siang itu dibawa ke (komplek) Angkatan Laut.

Kemudian di Rumah Sakit Biak, mereka bawa (orang-orang itu) datang, orang-orang yang tertembak, luka-luka dan masih hidup. Terus dari atas truk, dilempar orang-orang itu ke tanah. (dalam keadaan) masih hidup. Dibuang saja begitu. Akhirnya ada satu dokter marah. Dokternya bukan orang Papua, tapi marah dia. “Stop! Kalau Anda mau bawa untuk diobati jangan begitu,” marah dia. Kalau mau bunuh, bunuh sekalian! Jangan bawa ke sini, katanya. Ribut dia (dokter itu) sama tentara.

Jadi banyak, truk-truk yang pergi selain ke (komplek) Angkatan Laut juga ke kompek Korem, mengangkut orang-orang yang sudah ditembaki. Dan setelah malam hari dibawa ke arah Biak Barat. Itu banyak hutan lebat, lebat tidak ada kampong di situ. Di Biak kan, dulu waktu Amerika mau menaklukan Jepang di situ banyak bom yang dijatuhkan, jadi banyak lubang-lubang bekas bom. Makanya kami curiga sepertinya (mayat-mayat) dibawa ke hutan lalu dibuang ke bekas (lubang-lubang bom) itu.

Jadi kalau saya, secara kasar saja, saya perkirakan ada 500-an orang yang dibantai di Biak. Cuma itu dibantah sama Komnas HAM, ya, saya bilang: saya di penjara sih jadi saya tidak bisa mendata. Tapi kalau melihat dari cerita-cerita orang berapa truk yang ada, begitu banyak truk, selain yang di dalam kapal, di Korem, saya perkirakan saja antara 500-an. Mungkin lebih, mungkin juga kurang sedikit.

 

Falus

Pak Filep bisa selamat itu bagaimana ceritanya?

Filep Karma

Oh, jadi mereka (tentara) setelah pembersihan itu baru datang menyerang ke titik TKP-nya (The Water Tower), jadi kami yang tidak lari, yang berbaring itu, ditembak juga. Jadi saya juga ditembak di kaki, tapi dengan peluru karet. Saya juga tidak tahu (saat itu), tapi waktu di dalam penjara, saya masukkan jari ke dalam lubang peluru itu. Eh, kenapa ada yang rasa kasar di dalam lubang ini? Saya congkel, “Oh, karet ternyata”. Jadi karena tidak lari, saya kira tidak akan ditembak, tapi mereka datang ternyata menembak juga, saya juga tidak tahu. Yang sempat saya tahu itu, ketika mereka datang, mereka bilang: oh ini presidennya, ini pemimpinnya. Lalu kepala saya ditendang. Saya berusaha hitung berapa tendangan, mampu hitung sampai sepuluh sudah tidak sanggup saya. (Filep tertawa).

Terus sempat terasa dipopor pakai senjata. Ada benturan keras, (langsung) gelap. Cuma sempat 2 detik terakhir sebelum hilang semua, saya bilang: terima kasih ya Bapa, aku pulang ke rumahmu. Pikiran saya kan saya sudah (mau) mati waktu itu. Tapi tahu-tahu kaki saya diikat pakai sabuk, saya juga tidak tahu sabuk punya siapa, diseret di atas batu-batu. Biak kan batu-batunya batu karang besar dan keras begitu. Diseret. Kepala saya mungkin karena merasakan (batu), kesadaran saya datang, saya cuma dalam hati bilang: ya Bapa, jadi aku masih hidup?, “Jadi lah kehendakmu sendiri (jawab Bapa)”, (Filep Tertawa).

Jadi rupanya, orang-orang sudah dilempar duluan ke dalam mobil boks, baru terakhir saya. Saya diangkat, lalu dibuang. Waktu melayang saya berpikir: aduh, ini kepala saya akan terbentur dasar truk, nih. Pikiran saya begitu. Pluk! Eh kok empuk? Ternyata tumpukan manusia di bawah saya.

 

Falus

Yang lain sadar, yang di dalam mobil boks itu? Yang tertimpa Pak Filep? Orang-orang itu mati, atau pingsan?

Filep Karma

Saya tidak tahu. Mungkin ada yang pingsan, saya tidak tau. Tapi adik saya yang sempat bersuara. Dia memanggil “kakak, kakak!”, saya jawab: sudah diam, saya ada di sini, tenang. Tapi ada yang menjerit, ada juga yang tidak bersuara. Karena mobil boks gelap, terus ditutup pula. Kemudian dibawa sampai ke Polres, saya diturunkan, tapi yang lain dibawa terus, entah ke mana. Tapi menurut adik saya, dibawa ke rumah sakit. Tapi sempat juga saya dengar polisi bilang: itu dibawa ke mana? Itu dibawa ke Korem, katanya. “Sudah cukup satu saja yang diturunkan”, jadi saya diturunkan di kantor polisi. Katanya (yang lain) dibawa ke Korem, tapi adik saya bilang dibawa ke rumah sakit. Saya lupa tanya pada adik saya apakah ke Rumah Sakit Angkatan Laut atau Rumah Sakit Pemda.

Jadi kasus Biak itu betul-betul kelihatan bahwa Komnas HAM bekerja sama dengan pemerintah untuk menutup-nutupi. Sehingga Komnas HAM mengatakan tidak ada Pelanggaran HAM Berat. Waktu itu (orang) Komnas HAM-nya Nababan. Asmara Nababan. Terus ada Marbun, nah si Marbun ini yang ribut dengan saya. “Ah kau bohong itu!”, saya bilang waktu ketemu dia di sel polisi. Saya ditahan di Polres dari bulan Juli sampai Oktober, tiga bulan. Tanggal 3 Oktober baru dipindahkan ke LP. Dalam persidangan saya dianggap bersalah, dihukum 5 tahun 6 bulan. Tapi saya banding, terus kasasi.

 

Falus

Berapa lama bapak ditahan?

Filep Karma

Waktu itu 1 tahun 4 bulan. Jadi saya dibebaskan waktu Gus Dur memberikan abolishi. Setelah abolishi saya dapat, lalu Mahkamah Agung malah mengeluarkan kasasi. Dengan hukuman 1 tahun 4 bulan. Jadi kasasi Mahkamah Agung disesuaikan dengan masa penahanan saya (sampai bebas mendapat abolishi). Katanya, panitra mau jemput, saya bilang: lho, jadi saya yang sudah keluar (penjara) ini bagaimana jemputnya? Jadi, katanya: kamu masuk (penjara) dulu, nanti baru dijemput (keluar) lagi. Aneh. Saya sudah keluar penjara karena dapat abolishi, kok. Dan (lebih anehnya) itu keputusan Mahkamah Agung. Hanya formalitas sekali. Tapi saya lawan waktu itu, tidak ada kejadian panitra menjemput lagi.

 

 

___

Disusun oleh Wisnu & Falus, Metaruang 2019

___

Artikel terkait:

 

 

No Comments

Post A Comment