Metaruang | Bandung Supporter Alliance dan Perlawanan dalam Sepakbola
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17349
post-template-default,single,single-post,postid-17349,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Bandung Supporter Alliance dan Perlawanan dalam Sepakbola

Fahmi masih duduk di bangku kelas 1 SMA saat ia mulai betul-betul meluangkan waktu untuk mendukung tim Persib kesayangannya. Hampir dari pertandingan ke pertandingan ia datang ke stadion, khususnya ketika Persib bertanding di Bandung.

Pemuda yang tahun ini menginjak usia 20 tahun itu pelan-pelan mulai memerhatikan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam tubuh Persib. “Waktu itu masih ikut-ikutan sih. Namun, dari situ saya mulai melihat kondisi sebetulnya apa sih yang kurang dalam tubuh Persib,” tutur Fahmi saat diwawancarai via Whatsapp pada 29 Agustus 2018. Menurutnya, tindakan manajemen yang mengkapitalisasi Persib turut berkontribusi dalam kekurangan yang dimiliki Klub.

Hal senada juga disampaikan Udud bersama Fahmi dan kelompok supporter lainnya. Fahmi menyampaikan kritiknya atas harga tiket yang kian melambung dan menyebabkan tim kesayangannya hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan saja. Bahkan, menurutnya, rivalitas antar tim yang berbau fanatisme kedaerahan juga sengaja diciptakan untuk mendongkrak harga tiket.

“Jika tim yang kita dukung berhadapan dengan rivalnya, tiket akan sengaja dibuat mahal dan langka untuk kemudian dijual lagi ke calo. Nah calo-calo ini juga merupakan jaringan bisnis si manajemen ini yang mendapatkan keuntungan dari para calo,” jelas Udud.

Dikutip dari panditfootball.com tentang “Para Legenda Calo Tiket di Pertandingan Persib”, para calo tiket ini memang punya sejarah panjang simbiosis mutualisme dengan klub. Aqwam F. Hanifan, reporter panditfootball.com, menulis dalam laporan tersebut bahwa pagi 2 hari jelang laga Persib vs Arema ada 10 kakek sedang berada di Gedung Persib. Mereka adalah para calo tiket, salah satunya Ujang. Ujang dan kawan-kawannya sudah hampir 50 tahun lamanya bergelut di dunia percaloan tiket.

Masih dikutip dari panditfootball.com, hubungan para calo tiket dan Persib juga sudah sangat erat. Ketika Persib masih dikelola secara amatir dan mengalami kesulitan dana, para calo inilah yang jadi ujung tombak penjual tiket pertandingan. Secara door to door dari rumah ke rumah, pasar ke pasar, mereka menjual tiket ke konsumen.

Namun, di kemudian Pengcab PSSI Kota Bandung hanya memberi jatah 5 tiket per kelas (5 tiket tribun timur, 5 tiket tribun utara dan kelas-kelas lainnya). Biasanya calo ini mendapat jatah 10 tiket, musim lalu malah tak dibatasi. Tapi, para calo ini kian hari kian kalah saing dengan para calo yang memiliki modal, fisik dan jaringan yang lebih bisa menjangkau banyak pembeli. Ketimbang para calo uzur yang berada di Jl. Gurame.

Begitulah, praktik simbiosis mutualisme antara para calo dan manajamen yang merugikan supporter akhirnya mendorong Udud untuk menggagas acara Weekenders Fest pada Sabtu 25 Agustus 2018. Tak hanya untuk mempertemukan berbagai firm atau crew supporter di Bandung, ia berharap wadah ini mampu menyatukan kekuatan untuk melawan tindakan manajemen yang merugikan tim dan supporter.

Baik Fahmi maupun Udud sama-sama berangkat dari sepakbola. Seiring berjalannya waktu lewat pertukaran informasi dari teman ke teman juga dari distribusi informasi yang pesat lewat internet, mereka mulai mengenal irisan sepakbola dengan wacana politik dan kemanusiaan.

“Isu soal penolakan pabrik semen di Kendeng dan Stop NYIA juga sempat masuk ke stadion. Kala itu saya sempat melihat spanduknya,” tutur Radomski salah satu penggagas Bandung Supporter Alliance saat diwawancarai pada Sabtu 25 Agustus 2018. Lewat spanduk “Stop NYIA” yang dibentangkan di Stadion Sultan Agung Bantul, para supporter ingin menunjukkan bahwa pembangunan bandara NYIA juga ditolak oleh mereka. Sebagaimana St. Pauli dan supporternya, mereka juga merespon isu-isu di luar sepakbola seperti isu penggusuran dan perampasan lahan.

Adalah St. Pauli, kesebelasan asal kota Hamburg, Jerman. Klub sepakbola ini mungkin bisa dibilang menjadi salah satu titik berangkat bagi mereka yang mulai mengenal sepakbola dan irisannya dengan perlawanan. Dikutip dari Tirto.id tentang “St. Pauli, Klub Sepakbola Musuh Sejati Kaum Fasis”, tim ini memilih untuk tetap meniadakan peran investor dalam menyuntikkan dana bantuan dengan membeli saham klub atau hak penamaan stadion.

St. Pauli memiliki sejarah panjang perlawanan dalam menentang rasisme, fasisme, seksisme, dan kapitalisme. Bermula dari krisis sosial, ekonomi dan politik yang terjadi di Hamburg pada medio 1970-1980an. Pemerintahan Jerman meresponnya dengan tindakan represif untuk menjaga stabilitas negara dengan menangkap dan mengusir mereka yang dicap sebagai kriminal.

Masih dikutip dari Tirto.id, lenyapnya kriminalitas di St. Pauli seketika menarik pelaku pasar keuangan, teknologi, industri hiburan, dan properti untuk berbisnis di sana. Alasannya sederhana: distrik St. Pauli begitu strategis karena dekat dengan aktivitas pelabuhan terbesar di Jerman. Walhasil, gedung perkantoran bertingkat, hotel kelas satu, restoran elit, hingga swalayan mewah tumbuh dengan cepat. Ditambah lagi, kelompok ekstrim-kanan perlahan menancapkan pengaruh di Hamburg. Situasi ini ternyata menciptakan krisis sosial, ekonomi dan politik. Orang-orang miskin dan para imigran kemudian dipaksa angkat kaki dari tempat tinggalnya.

Merespon itu semua, orang-orang yang tidak sepakat dengan kebijakan pemerintah pada saat itu kemudian melancarkan protes bahkan hingga ke markas St. Pauli di Millerntorn Stadium. Tiap tim berlaga, deretan spanduk serta poster bertuliskan “Jangan lagi fasisme! Jangan pernah lagi berperang!” selalu rutin terpampang di tribun penonton.

Api perlawanan itu juga menular kepada para suppoter yang ada di Bandung, salah satunya Fahmi. Lewat simbol baru untuk St. Pauli: gambar tengkorak dengan sepasang tulang bersilang. Ketika di Stadion, Fahmi sering menjumpai logo tersebut di baju-baju yang dikenakan para supporter. Fahmi lalu mulai kasak-kusuk di internet mencari data-data seputar St. Pauli.

Menurut penuturannya, Fahmi lalu menemukan semangat perlawanan yang juga dibawakan St. Pauli. “Seperti jersey St. Pauli 2014/2015 di lengannya terdapat gradasi warna rainbow, yang menyimbolkan St. Pauli mendukung gerakan LGBT,” pungkas Fahmi.

Fahmi tak berhenti di situ, ia masih ingin banyak belajar lagi mengenai isu-isu sosial yang dibawa oleh St. Pauli. Lagi-lagi internet dan media sosial menjadi sarana bagi Fahmi untuk mencari informasi. Saat itu tahun 2015 ketika Fahmi masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Dari media sosial, Fahmi mendapatkan informasi tentang peristiwa penculikan dan pembunuhan pada tahun 1998. Dari situ ia mulai mengenal tentang Aksi Kamisan, sebuah aksi yang tak hanya menuntut pada negara tentang nasib para korban peristiwa 1998 dan peristiwa kejahatan HAM lainnya, tapi juga sarana bertukar gagasan dan wacana di antara para aktivis. “Saya akhirnya memutuskan untuk datang, persisnya kapan saya lupa. Tapi seingat saya sepulang dari Aksi Kamisan, saya banyak mencari informasi seputar kejahatan HAM 98,” tutur Fahmi.

Memasuki bangku kuliah, Fahmi mencoba untuk mengarahkan passion-nya itu ke dalam organisasi di kampusnya. Ia ingin memperluas pengetahuan dan terlibat lebih jauh lagi di gerakan sosial, namun Fahmi tak menemukan apa yang ia inginkan di kampus. Lewat pertemuannya dengan punggawa Aksi Kamisan Bandung, ia kemudian memutuskan untuk belajar dan terlibat lebih aktif lagi bersama kawan-kawan komunitas di luar kampus.

Pasca perjumpaannya dengan kawan-kawan komunitas di Bandung, pemuda pendek dan berkulit sawo matang mulai terlibat dalam gerakan sosial di samping passion-nya dalam mendukung Persib Bandung. Ia cukup aktif dalam merespon isu yang ada, salah satunya Pemogokan Buruh juga isu penggusuran di Tamansari.

Dan pada malam Weekenders Fest 25 Agustus 2018 adalah kesekian kalinya bagi Fahmi bersolidaritas untuk Tamansari. Namun, berbeda dengan yang sebelumnya, pemuda kelahiran Katapang 1998 itu datang bersama dengan kawan-kawannya sesama supporter.

Weekenders Fest: Solidaritas dari Bandung Supporter Alliance untuk Tamansari

“Sebab hirup lain saukur nonton persib” – Indra Thohir

Kiranya kutipan dari legenda Persib ini diamini oleh sekitar 100 orang yang menyanyikan Persib Till  Die di puing-puing reruntuhan bangunan di Tamansari. Mereka adalah Bandung Supporter Alliance, gabungan dari para supporter yang ada di Bandung dan sekitarnya.

Penampilan musik menjadi pembuka bagi acara Weekenders Fest pada Sabtu 25 Agustus 2018. Dalam acara ini, terdapat lapak dagang dari warga dan juga komunitas-komunitas lain yang ikut meramaikan acara. Ada kopi, minuman kemasan dan juga jajanan olahan warga. Sementara di lapak komunitas deretan buku-buku dan zine Tamansari Melawan berjejer berdampingan dengan baju dan aksesoris. Menurut keterangan panitia, hasil penjualannya sebagian akan didonasikan untuk perjuangan warga Tamansari.

“Acara ini berlangsung atas inisiatif beberapa firm atau kelompok supporter yang tersebar di kota Bandung yang sama-sama resah,” jelas Udud ketika diwawancarai saat acara berlangsung. Ayah dua anak ini saat itu tengah menjaga lapak dagangnya. Ia menjual patch, topi dan juga T-shirt. Logo merah-hitam mendominasi produknya, ada kaos bertuliskan “A government that does not represent its people is never democracy”. Udud memang biasa menjual produk-produknya di acara-acara kolektif seperti malam itu di Weekenders Fest. Di sela-sela waktu ketika ia diwawancarai, Udud sesekali mengecek berlangsungnya pemutaran film di puing-puing bangunan yang jaraknya hanya lima meter dari lapaknya.

Ada raut kekesalan di wajah Udud ketika ditanyai perihal solidaritas supporter untuk Tamansari. Ia menjelaskan, pemukiman-pemukiman warga Bandung yang dicap sebagai titik-titik kumuh oleh pemerintah, berpotensi besar untuk digusur lewat program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh). “Penggusuran tersebut bisa saja menimpa kawan-kawan supporter yang mayoritas adalah warga Bandung.”

Pasalnya, dalam infografis yang diterbitkan oleh gemasuara.com, terdapat 454 titik di 121 kelurahan pada 30 kecamatan di kota Bandung yang dinyatakan kumuh. Hal itu dikatakan oleh Oded M. Danial dalam pertemuan sosialisasi KOTAKU di Kecamatan Gedebage 8 November 2017.

Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) sendiri merupakan realisasi dari Tujuan Pembangunan yang Bekelanjutan yang diinisiasi oleh IMF, World Bank, Islamic Development Bank/IDB dan AIIB. Lewat komando Dirjen Cipta Karya, program ini berhasil menggusur rumah-rumah warga di beberapa kota, termasuk Makassar, Jakarta dan Bandung. Hingga kini, proyek tersebut masih berjalan dan  mendapat penolakan warga di kota-kota lain, termasuk Tamansari, Bandung.

Sejalan dengan hal tersebut, Radomski salah satu supporter yang menggagas acara Weekenders Fest, menyatakan bahwa solidaritas adalah sebaik-baiknya sumbangsih yang dapat diberikan pada mereka yang melawan segala bentuk penindasan.

“Tamansari adalah permulaan sekaligus ujian bagi sikap politik aliansi kami dan sebisa mungkin kami akan selalu mendukung para warga dan siapa pun yang terlibat dalam perjuangan melawan setan tanah,” pungkas Radomski saat dihubungi lewat Whatsapp, Selasa 27 Agustus 2018.

Radomski menjelaskan beberapa tahun belakangan supporter memang sering telibat dalam aksi-aksi besar, salah satunya peringatan hari buruh. Meski setelah peringatan tak banyak yang kemudian terlibat lebih jauh dalam isu-isu sosial lainnya. Maka dari itu, Radomski, Udud, dan beberapa kelompok supporter lainnya tak ingin berakhir dengan euforia semata. Hal ini yang kemudian mendorong mereka berinisiatif membentuk suatu wadah yang menyatukan para supporter yang jengah terhadap perkembangan kotanya selama ini.

Dari penuturan Udud, Bandung Supporter Alliance sebetulnya digagas dalam waktu beberapa minggu. Seiring dengan situasi yang semakin memanas di Tamansari, ia dan kawan-kawan supporter, akhirnya memutuskan untuk membentuk Bandung Supporter Alliance. Menurut Udud, terdapat 20 lebih firm atau kelompok supporter dan di luar mereka masih ada crew kecil yang jumlahnya lebih dari 30 atau 40 orang. Satu firm biasanya terdiri dari 100 sampai 200 orang, sedangkan crew biasanya kurang dari 20 orang.

“Jadi kira-kira yang hadir malam ini bisa dibilang seratus lebih karena belum semuanya hadir”, jelasnya. Jumlah massa sebanyak itulah yang membuat Tamansari seperti suasana saat Persib bertanding di GBLA (Gelora Bandung Lautan Api). Tepat ketika salah seorang Warga Dago menyampaikan pesannya tentang perlawanan pada film Halo-Halo Bandung, mereka bertepuk tangan dan berteriak “Lawan!”.

Selain penampilan musik, malam itu juga terdapat pemutaran film Halo-Halo Bandung dan diskusi. Diskusi dibuka dengan orasi dari Teh Eva, salah satu warga Tamansari. Ia mengajak para hadirin untuk menyerukan perlawanan. “Pemerintah hanya menghamba pada investor, maka dari itu kita harus melawan!”, teriak Eva yang disambut riuh oleh para supporter.

Dalam diskusi tersebut, Eva menyampaikan tentang kronologi sengketa dan perlawanan yang mereka lalui. Dari acara buka bersama yang menjadi awal informasi tentang Rumah Deret hingga hari-hari di mana warga dan kawan-kawan solidaritas mendapat kekerasan serta intimidasi aparat, preman dan ormas.

Hamzah, salah satu perwakilan solidaritas dalam diskusi tersebut menuturkan, bahwa taman-taman yang hari ini ada di Bandung hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan saja. “Untuk makan saja susah, warga tamansari itu, jadi tidak terpikir untuk menikmati taman,” jelas Hamzah dalam diskusi malam itu.

Senada dengan Radomski, Hamzah juga menyatakan bahwa Tamansari adalah pintu pembuka bagi jalannya penggusuran yang akan dilaksanakan di beberapa tempat di Bandung. Bagi Hamzah persoalan Tamansari adalah persoalan bersama, “Kita semua ditindas, baik itu PKL, buruh, supporter atau siapapun di bawah sistem kapitalisme. Maka persoalan Tamansari bukanlah persoalan warga Tamansari saja.”

Diskusi kemudian ditutup oleh moderator dengan mengajak para supporter untuk hadir dalam barisan melawan penggusuran yang akan dilakukan pada Senin 27 Agustus 2018. “Hari ini kita berkumpul untuk bersatu menghancurkan perbedaan, kita sudah lelah dengan kekerasan. Maka dari itu kami mengundang kawan-kawan semua untuk hadir pada senin nanti untuk menghadang penggusuran yang akan terjadi pada jam 8 pagi. Mari kita lawan penggusuran yang akan datang di Tamansari dan di tempat-tempat lain.”

Acara Weekenders Fest kemudian ditutup dengan deklarasi Bandung Supporter Alliance. Berikut butir deklarasi tersebut:

“Mulai hari ini kami bersepakat menyatakan sikap bahwa Bandung Supporter Alliance sebagai wadah supporter baik firm atau individu yang mempunyai semangat anti-fasisme, anti-rasisme, anti-seksisme, anti-penindasan dan anti-kapitalisme. Semangat lain yang kami pegang adalah semangat persaudaraan, mengutip salah satu kalimat legenda Persib Indra Thohir, karena hirup lain saukur lalajo Persib!”. (Hidup bukan cuma untuk menonton Persib! red.)

Malam itu wajah Fahmi sumringah, sambil merangkul kawan di sisi kiri dan kanannya, ia menyanyikan lagu “You will never walk alone” dengan lantang. “Ini adalah lagu persembahan kami untuk warga Tamansari yang hingga saat ini terus mempertahankan tanahnya dari penggusuran”, pesan itu disampaikan oleh pembawa acara sekaligus menutup acara malam itu.

Dua hari pasca Weekenders Fest, Senin 27 Agustus 2018, Bandung Supporter Alliance ada di barisan massa yang tengah bersiap menghalau penggusuran. Meski kemudian pada hari yang sama, melalui media Pemerintah Kota Bandung berkelit bahwa tidak akan ada penggusuran hari itu, Bandung Supporter Alliance masih bersolidaritas untuk Tamansari.

Sebagaimana yang disampaikan Radomski, Bandung Supporter Alliance sebisa mungkin akan selalu mendukung para warga dan siapapun yang terlibat dalam perjuangan melawan setan tanah.

 

 

Artikel terkait:

 

Ilyas Gautama lahir 22 Mei 1997. Tercatat sebagai mahasiswa FISIP UNPAS

No Comments

Post A Comment