Metaruang | Bara
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17332
post-template-default,single,single-post,postid-17332,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Bara

 

ADA DUA sesat pikir tentang neraka yang penting untuk kuluruskan.

Pertama, neraka bukan merah tapi hitam. Alih-alih nihil sonder keberadaan, hitamnya neraka merupa perasan derita yang terlalu gumpal; kepulan batin tanpa tingkap. Tiap tetes darah di neraka berwatak oli didih yang mendesis kala hantam lantai jagat kemudian bidani likatan asap: awan busuk bikin sesak, awan kusut menyesatkan. Setetes demi tetes darah itu berlinang, meradang, lama-lama luap di tempayan jadi samudera pekat. Maka kampungku menyaksi bahwa neraka itu sepi bakar-membakar, tapi ramai orang membenam di nanahnya hingga tuntas di dasar.

Berikutnya, neraka tak butuh penantian. Tak perlu hitung mundur kapan ia tiba seperti yang kupaksakan sekarang pada jam dinding, mengharap dengkuran motor Sintia menyayat malam. Neraka dengan sesak-sesatnya itu sudah lama angkuh di alamku. Ia dobrak pintu demi pintu dan merenggut tumbal keturunan macam alkisah gergasi haus darah. Setara gergasi, neraka pun pelik dielak, tapi masih mungkin ia ditusuk atau dikoyak. Tentu bukan pertusuk-koyakan yang jadi masalah melainkan perundingan warkop berikut: “Kapan tiba kalanya kita kubur neraka dalam peti mayatnya sendiri?”

Kuubah posisi baring dan kembali lirik jam: dua belas lewat sepuluh dan satu-satunya suara hanyalah desir kering kipas angin di pojok kamar kontrakan. Ke mana Sintia? SMS-ku tak dibalas. Mataku mengendur dan sebelum lesap kuberbisik: “Neraka adalah jaga yang tak mampu kupejam.”

 

***

Aku terjengkang di rahang raksasa yang menganga membentang cakrawala jingga. Merah mengabur di pojok pandang, gulungan bau tandus mengamuki hidungku. Sekelilingku deru mesin menyalak mirip gunung menggasak geraham. Kala polang-paling menerjun, kuseret pandanganku ke bawah: ada laut resah memakari perut parit dan selekas lagi tubuhku pasti menghajarnya. Aku terobos dan selami. Laut itu ternyata tinta yang hidup: riaknya melekam kendali, mengancam akan meletusnya sambil mencerai-berai kesadaran. Kendaliku belot, ragaku karam. Aku padam dan memicik.

Di tepi sadar kurasakan dingin menggamit telapak tangan kananku. Airnya sepekat selikat itu tapi kupaksa tilik: ada perempuan bertubuh mungil sedang menatapku hampa. Telunjuknya dan telapakku saling paut. Rambutnya ikal mengambang sepundak, kulitnya pucat, bibirnya melegam. Dari belakangnya tampak bayang-bayang remang meretas keruh pandang.

Darahku ledak di kepala: kawanan bayangan itu merupa balita, bocah, remaja—puan dan lelaki. Kulit mereka pucat tulang, bibir-bibir mungil senada legam. Mereka mengitariku: cangkang-cangkang tak berihat.

Satu bayangan dekatiku kemudian menubuh jadi siluet yang kukenal akrab. “Sintia? Sintia! Sintia!” Tapi yang kuembus tinggal gelembung. Sintia mati. Kedua buah bibirnya terpejam erat. Ada putus asa, ada hampa makna, ada erang yang tertutur beku pada sebuah cangkang kendatipun hayat telah desersi. Mata Sintia membelalak tipis, melantun kalas dikuras duka.

Hatiku menggenang di lorong ujud: jurang dalam jurang dalam jurang dalam jurang dalam jurang tak mendasar. Bukankah hidup mentok-mentok sekadar lawakan kayangan? Bukankah dewata dan dunia mengutuk tiap gelandang dan terinjak—tiap tumbal bagi legiun iblis pengekang asap dan besi, tiap ibu hilang anak yang meranggas di tepi robekan semesta—menjadi eksil yang dilarang genggam asa dan rayakan hangat, dilarang kibarkan sepul-sepul batin dalam bahasa ibu sendiri?

Aku meronta didekap mayat-mayat belia. Kuteriakkan nama-nama moyang dan sanak, tanganku bergumul di segala penjuru—tapi pintaku binasa dikubur air dan rohku tak lama menyusul.

 

***

Matahari merambat dari balik gorden dan mengerami kelopak mata. Ayam berkokok. Kipas angin mendesir. Aku bangun dan mendadak duduk dirasuki gamang. Sintia! Kusisir tiap kamar hingga ke garasi depan kontrakan tapi hampa tanda-tanda orang atau pun motornya.

Napasku memacu. Aku periksa HP; SMS-ku kemarin masih bertepuk sebelah dering. Hatiku janggal. Setitik hitam lahir di dada, mekar dan mendesak agar diacuhkan, tapi sadarku masih diselimuti kantuk campur gelisah tak jelas. Buru-buru kuseduh secangkir kopi hitam dan membawanya ke kursi teras. Aku duduk dan hirup kopi sekenanya, bakar sigaret, lalu isap mendalam hantu demi hantu mimpiku semalam.

Seusai tiga-empat lesapan panjang ingatanku kembali. Rokokku lepas dari tangan dan air mataku menerjun. Sintia mati. Tapi itu sudah dua malam lalu. Semalam aku berjaga menanti bunyi langkah knalpot, tapi motornya masih mendekam di Polres. Sintia mati, aku sendiri yang menguburnya. Kemarin. Pemakamannya kemarin siang. Usai tabur bunga kayangan resahkan hujan tak bersegan. Kini kuingat. Kupulang kuyup sedan.

Tubuhku terjungkal dari kursi dan menyirna di ubin teras. Denyutku lari; kupeluk lututku hingga remuk dan mulai siarkan silsilah derita pada rumput dan penghuni lereng: Sintia dan geloranya saat terbit dari kedua pahaku; kerut bibirnya karena pusing ikuti upayaku mengajarinya matematika SD; merdekanya usai lancar menunggang motor; malam sonder masa saat Sintia hilang kabar tak balik-balik; binasaku kala anak pulang dibalut kain.

Kami hendak kubur neraka; yang kami benam justru anak sendiri. Anak mati di lubang tambang tapi tiap pejam Sintia tenggelam lagi. Namun kuyakin kukuh: lekas tiba kalanya kalian tuntas diingkari cakrawala jingga, cakrawala yang kami lukis hidup-hidup dari jilatan pesta kobar. Kami kan bakar ladang baramu dan menobatkan ulang tahta merah pada neraka. Menguburmu dalam peti mayatmu sendiri, menukar derita dengan pulih.

Kalian tersedak lautan api. Hantu anak bangkit dan menari.***

 

 

___

Ilustrasi: Lana Syahbani

 

Freelancer berbasis di Jakarta. Sedang aktif memetik bass di Future Collective dan Baruno.

No Comments

Post A Comment