Loader

Ben dan Kopiah Haji

 

PRIA SEPERTI BEN hanya ada satu di hidup saya dan saya bersyukur akan hal itu. Tanpa Ben, mungkin saya sedang dicincang oleh lusinan suku pedalaman; atau saya tak akan pernah beranjak dari ratusan teori menjemukan yang membuat saya bosan dan terkadang membuat saya tak ingin dilahirkan ke dunia.

Pria paruh baya dengan rambut yang telah seluruhnya putih itu kali pertama saya temui di sebuah simposium di Sydney. Ia mengepalai lembaga riset tentang Asia, sebagaimana yang tertera di brosur undangan. Pekerjaannya sendiri, saya kira, malah lebih dari sekedar apa yang tertulis di brosur itu.

Kolega dari Universitas Barkeley memperkenalkan saya pada Ben. Rupanya, Ben telah membaca tesis saya tentang konflik dunia timur. Saya sempat pesimis pada karya usang itu. Karya itu saya buat ketika saya masih bertitel mahasiswa. Lebih lanjut bahkan, saat saya bertemu Ben, saya hanyalah kerani rendahan lembaga donor yang masa kontraknya tak sampai menunggu satu purnama lagi untuk habis.

Ben adalah pria yang menyayangi kedua anaknya lebih dari ayah manapun, saya kira. Meski kedua anaknya telah berkeluarga, secara rutin, hampir setiap sore, ia mengirim pesan singkat ke ponsel kedua anaknya. Sekedar menanyakan kabar, atau berbasa-basi tentang rencana akhir pekan.

“Kadangkala mereka membalas pesan saya. Lebih sering sih, tidak sama sekali,” kata Ben, “namanya juga seorang bapak, harus bertanggung jawab, kan?”

Seusai simposium, kami menghabiskan dua kaleng bir Corona tanpa es di bar. Dua minggu setelahnya, Ben memberi saya selembar tiket pesawat, paspor dan visa, dan surat dinas yang ia berikan dengan mimik bangga, “Sebagian golongan masyarakat di sana menaruh curiga sama bule kayak kamu. Tunjukkan surat ini jika kau terkena masalah. Tapi aku harap sih, kamu ya jangan cari gara-gara, ok?”

***

Saya sungguh terkesan dengan tanggung jawab yang disandang Ben. Anaknya yang pertama, seorang insinyur di bidang telekomunikasi, bekerja untuk perusahaan sosial media terkenal di Silicon Valley, Amerika. Sedangkan anak bungsunya berkarir di kemiliteran.

“Anak bungsuku nampaknya terobsesi padaku. Ia pernah tidur sambil memeluk senapan mainan saat umurnya baru tiga tahun,” Ben menyalakan cerutu, menawarkan satu pak ke hadapan saya.

“Kuba?”

“Ini imitasi.”

“Ah, saya kira…”

“Anda tentu tak sudi membuat negara komunis itu kaya hanya gara-gara cerutunya nikmat, bukan?”

Ben tertawa dan saya terbatuk setelah menghisap cerutu pahit itu.

Saya disokong Ben sejumlah dana untuk melakukan riset di Asia. Tepatnya di Asia Tenggara, di sebuah negara kepulauan yang membuat saya jatuh cinta dengan segala apa yang negara itu miliki. Ben memberitahu saya, jika riset saya berhasil, ia akan membantu saya mengerjakan proyek selanjutnya dan secara otomatis, saya pun menjadi bagian dari dunia Ben.

Selama saya melakukan riset, Ben cukup aktif membantu saya menyuplai beragam data. Galibnya, rekan sesama riset sayalah yang seharusnya melakukan hal itu. Namun, seorang dosen perguruan tinggi yang saya tunjuk untuk menjadi pembantu riset, lebih sering menaruh curiga dengan bertanya tentang suatu hal lebih dari dua kali, meski pertanyaannya datang di waktu yang berbeda dengan rentang waktu yang agak berlainan.

“Anda benar-benar tak percaya tuhan?” kata sang dosen.

“Yah; begitulah.”

“Mengagumkan.”

“Apanya yang mengangumkan?”

“Usaha anda untuk sampai sejauh ini.”

Saya tergoda untuk membalasnya. Tapi saya memilih posisi orang lugu.

“Apakah di negri ini ada yang namanya hantu?”

“Banyak sekali hantu di negri ini. Tiba-tiba membuat kegaduhan tanpa meninggalkan jejak,” jawabnya sambil menyeringai.

Sialan. Saya jadi ingat pesan Ben.

Saya pun sempat merasa heran. Data-data antropologi, peta geopolitik, bahkan isu-isu yang tengah beredar di masyarakat saat itu, Ben kuasai dan dengan mudah membacakannya pada saya via telepon. Seolah data-data itu kudapan harian Ben yang ia hafal seperti menghafal nama hari dalam satu minggu.

Kemudian tibalah hari yang secara tiba-tiba, di periode 2000-an, Ben membatalkan seluruh riset saya. “Aku percaya pada kemampuanmu. Kini saatnya kau berada di lapangan,” nada bicaranya tegas, membuat saya tak bisa menolak, seolah suaranya tidak keluar dari telepon genggam melainkan dari sosok Ben sendiri yang tengah mengorek telinga saya. Mulanya memang terbit rasa kecewa, tapi upaya Ben dalam meyakinkan saya, akhirnya membuat saya tergerak untuk melaksanakan apa yang disebut Ben, “Program Asia”.

***

Berkat bantuan dari kolega yang telah lebih dulu berada di lapangan, saya tak menemukan kesulitan berarti. Ternyata mereka pun (saya hanya ingat Mat dari Australia dan Debora si jurnalis kawakan dari Amerika) sama-sama menjalin kerja-sama dengan lembaga Ben. Saya seolah mendapatkan keluarga di tempat yang jaraknya ribuan mil dari rumah.

Kami pun menjalin kontak dengan beberapa penguasa. Dan, yang tak kami duga-duga, mereka ternyata seratus kali lebih cerdik dan licin. Adakalanya kami harus menjaga jarak dengan para pentolannya. Saya mewanti-wanti pada diri saya sendiri bahwa ini bukanlah proyek Timur Tengah, meski berdasar informasi dari Debora, karakter sebagian penduduknya memang tak segan-segan untuk menjadikan tanah airnya sendiri sebagai gurun pasir. Dua kata yang disebut terakhir, Debora ucapkan dengan agak perlahan, sambil menirukan gaya tanda kutip.

Masa kerja pertama kami berakhir dengan ditandai beralihnya tampuk kekuasaan tak lama setelah tumpah-ruahnya mahasiswa ke jalanan Ibu Kota. Saya bersulang bersama Mat dan Debora. Gelas dan botol wine itu berdenting sampai pagi, saling berpagut dengan mulut yang terus melebarkan senyum. Sampai akhirnya Mat dan Debora masuk kamar dan terdengar lenguhan panjang dan derit kasur. Sementara saya cuman duduk menghadap tembok dengan menggigit bibir bagian bawah, sampai kuning sinar matahari menembus korden.

Di saat momen yang seharusnya membahagiakan itu, mendadak saya jadi merasa kesepian. Saya menelepon Ben. Namun, belum sempat saya ungkapkan perasaan saya, Ben menyela ucapan saya lalu pamit dan meminta untuk tak dihubungi barang dua jam, “Kamu tahu ini penting sekali dan menyangkut nasib kita bersama, ok?”

Saya menyalahkan diri saya sendiri saat itu sebab Ben, rupanya, tengah memikirkan nasib kami, meski suasana di tempat kami bermukim saat itu bisa dikata mulai kondusif. Peralihan kekuasaan yang sedang terjadi bukan berarti mereka yang menang itu mendapati apa yang mereka dambakan. Jika saja hal itu terjadi, kami harus segera memberi salam perpisahan bagi negeri tropis kesukaan kami ini, mungkin untuk selamanya.

Tak lama, saya pun mendapati kabar baik dari Ben. Setidaknya untuk beberapa waktu, Ben hendak memberi saya seorang asisten. Secara resmi saya naik jabatan menjadi mandor proyek, lengkap dengan seorang asisten dan rumusan agenda dari Ben yang sedang dalam perjalanan untuk kami pelajari dan kami kerjakan di kemudian hari.

Saya bekerja cukup erat dengan asisten saya. Ia perempuan lajang dan itu, katanya, adalah hal yang tak lazim di negara yang memandang perempuan harus sudah berumah tangga sebelum umurnya menginjak kepala tiga. Sejauh ini tampaknya ia tak merasa risih menyoal konvensi yang kuat mengakar di masyarakatnya itu. Bahkan, saya anggap ia perempuan yang cerdas dengan pikiran terbuka.

Namanya Laksmi, sebelum menjadi asisten saya, Laksmi adalah seorang penulis yang aktif di sebuah kantung budaya yang mempunyai jaringan yang telah lama mapan. Beberapa budayawan di lembaga itu sempat menjalin kontak dengan Ben dan Debora. Saya tak tahu persis proyek apa yang mereka jalani waktu itu. Saya baru tahu dari Laksmi, kurang-lebih, tak jauh berbeda dengan apa yang kami lakukan. Semacam lembaga think-tank yang mendapat arahan langsung dari Ben.

Tiba-tiba saya jadi takjub sendiri. Ben mempunyai orang-orang yang tangguh, baik di lapangan maupun di balik layar. Dan selama saya mengenal orang-orang seperti Debora, Mat, dan Laksmi, tak pernah sekali pun saya mendengar kabar sumir mengenai Ben. Orang tua yang rambutnya putih semua itu tak menampakkan celah sedikitpun. Ingatan saya tentang pertemuan di sebuah simposium di Sydney bertahun-tahun lalu semakin menjelaskan bahwa gurat kasar di pipinya, gaya bicaranya yang diplomatik, serta sorot matanya yang alim itu, adalah aset bangsa kami yang berharga dan tak bisa ditukar oleh apapun.

Masa penantian (Mat mengatakan bahwa penantian program anyar artinya liburan yang cukup) saya dan Laksmi berpetualang, seperti turis mancanegara lainnya. Meski saya sudah mengunjungi tempat-tempat yang bisa jadi belum dikunjungi para turis bule, saya masih takjub akan kekayaan budaya yang dimiliki negara ini. Tak heran beragam proyek keluar dan masuk, beragam program yang berhasil bekerja pun sebanyak program yang gagal, di negeri yang perlahan membuat saya betah ini.

Karena sudah mempunyai pengalaman yang serba mendadak dengan Ben, belum sempat saya menerima rumusan program darinya, Ben mengontak saya. Ia memberi saya pilihan apakah meneruskan sekolah di Australia, atau kembali ke rumah saya, Amerika, dan meneruskannya di sana.

“Ben, tolong katakan pada saya, apakah anda sedang mendepak agen anda?” kata saya di telepon.

“Ha ha ha… Ayolah, tak ada secuil pun niat kami mendepakmu. Ini proyek besar, rupanya terdapat perubahan pada anggaran dasar.”

“Dan itu artinya?”

“Artinya, selama perubahan-perubahan itu belum kami rampungkan, kamu kami beri jatah liburan dengan bonus gelar doktoral. Bukankah itu mengasyikkan? Lagi pula, untuk sementara, Debora dan Mat bisa mengatasi situasi. Kamu pun masih bisa berkoordinasi dengan Nyonyamu itu. Ah, atau, jangan-jangan, kamu ingin Laksmi turut serta? Ha ha ha… Baiklah, itu bisa kami atur!”

***

Ini tahun kelima saya menjalani liburan di negeri sendiri setelah separuh hidup saya dihabiskan di negeri orang. Beruntung ada Laksmi di sisi saya. Kami menyewa sebuah apartemen dan kami tinggal berdua saja. Kami tidur di bawah selimut yang sama dan ranjang yang sama.

Namun bukan hal itu yang justru membuat kami selama ini bertahan. Kami seharusnya sudah kembali ke negerinya dua tahun lalu jika Ben tidak menahan kami, “Agen lapangan baru tengah dilatih dan menemukan masalah langka yang berbahaya,” katanya, tegas seperti biasa. Wataknya sebagai mantan jenderal terasa kentara jika situasi menjadi sedemikian genting. Kami pun patuh dan tetap memantau perkembangan dengan saksama.

Yang saya tahu, keadaan memang berubah drastis di negeri Laksmi. Setahun belakangan, negeri itu dalam keadaan serba gawat. Aliran listrik beberapa kali diputus pemerintah. Bank-bank di negara itu tiba-tiba kolaps. Para taipan dan pengusaha memindahkan tabungannya ke rekening bank lain di luar negeri. Juga, tak hanya uang yang berpindah rekening bank, melainkan hampir sejuta penduduknya pun diberitakan menyebrang ke negara tetangga.

Kabar yang kami dapat dari Mat (yang merasa jengah dengan program barunya itu dan memilih dipindahtugaskan ke negeri Gajah Putih), bahwa api konflik berasal dari sebuah pidato. Orang yang memberi pidato itu telah lama dijadikan sasaran, “Dan tak sedikit yang menanti lidah orang itu keseleo,” kata Mat. Mendadak, saya jadi teringat Debora yang telah mengabarkan potensi khaos, jauh hari saat saya masih jadi peneliti. Debora mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari komplotan yang tengah berkuasa di sana, dan ia ikut Mat angkat kaki.

Berita belum selesai. Yang mengejutkan justru datang dari keluarga Laksmi.

Meski Laksmi, sejauh yang saya kenal selama ini, merupakan sosok tangguh dan cerdas, derai air mata tetap membekas di pipinya setelah ia menerima telepon dari nun di sana: rumah ibu dan ayahnya habis dibakar orang. Laksmi sudah menduga hal itu akan terjadi. Kedua orang tuanya memang sosok yang keras kepala. Para tetanggalah yang menolong mereka, dan mencegah massa –yang entah berasal dari daerah mana—bertindak lebih brutal terhadap dua orang yang mereka tuduh sebagai “kafir” di rumah tersebut. Laksmi belum menadapatkan kabar pasti ke mana ibu dan ayahnya akan mengungsikan diri.

Diam-diam saya mengontak Ben tak lama selepas saya menenangkan nyonyaku yang gerak-geriknya seperti orang kebakaran janggut.

“Ayolah, di sini jam dua subuh, tauk!” jawab Ben di telepon.

“Ah, maaf, maaf. Tapi ini hal genting yang harus saya sampaikan.”

“Keaadan memang sedang genting. Apa yang bisa kubantu malam-malam begini?”

“Ini tentang Laksmi. Bisakah saya mendapatkan kontak salah seorang agen di lapangan?”

“Aku agen lapangannya. Memangnya, ada apa dengan nyonyamu? Bukankah sudah kami beri tahu agar seluruh sanak keluarganya angkat kaki untuk sementara dari sini?”

“Anda sedang berada di lapangan?”

“Tentu saja! Saya kok jadi menyesal telah mengirim kamu liburan. Tapi pun, saya menyesal belum dapat mengembalikanmu ke gelanggang. Jadi, ada apa dengan Laksmi? Ayo, lekas.”

“Orang tuanya masih berada di sana.”

“Baiklah. Esok kami atasi. Kami kabari perkembangannya. Sekarang saya mau tidur.”

Dua belas jam kemudian, seluler saya dikirimi sebuah foto. Dua orang renta mengenakan pakaian yang lusuh; kedua mata mereka sipit, kulit mereka putih langsat. Di samping kedua orang tua itu, yang merupakan orang tua Laksmi, berdiri gagah sosok Ben. Ia memakai janggut putih dan baju gamis panjang, lengkap dengan kopiah haji di kepalanya.

___

Ilustrasi: Abdul Majid Gofar

 

No Comments

Post A Comment