Metaruang | Bilven: Literasi Tidak Hanya Soal Membaca dan Menulis Saja
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
15594
post-template-default,single,single-post,postid-15594,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Bilven: Literasi Tidak Hanya Soal Membaca dan Menulis Saja

 

BILVEN adalah seorang pemimpin redaksi penerbit Ultimus. Ultimus sendiri merupakan sebuah penerbitan sekaligus ruang sosial antar komunitas bercengkrama. Bersama kawan-kawannya ia telah lama memfokuskan diri di medan wacana kiri.

Ia bersama rekan Ultimus pernah beberapa kali diintimidasi aparat akibat kegiatannya yang cenderung tak disukai kubu fundamentalis yang datang baik dari latar ham-kam-nas, juga mereka yang berlatar eskatologis.

Namun, segenap gangguan dan terror demikian tak lantas membuat pemuda ini jengah. Ia tetap menerbitkan buku-buku yang notabene tak disukai oleh rezim (sejarah mencatat tak satupun rezim yang sedang berkuasa membuka diri terhadap kritik dari oposisi yang muak terhadap kekuasaan, Indonesia tak terkecuali).

Bagi Bilven, bangsa hebat itu dihuni oleh individu-individu yang senantiasa solid bagi kelas-kelas tertindas. Buku-buku revolusioner adalah pijar perlawanan bagi bangsa yang didera gulita akibat rakus kepentingan kelas yang berkuasa. “Namun, buku revolusioner tanpa pembaca gigih adalah emas di negeri yang lapar, laksana kilau yang mubazir”, ucapnya kemudian. Pria dengan optimisme “kiri” berbinar di matanya itu, tak pernah menyerah pada kekalahan. Baginya perjuangan kelas yang tertindas akan tetap ada.

Setelah Festival Indonesia Menggugat (FIM) pertama dan kedua dihelat, hajat ketiga diadakan dengan tema Pekan Literasi Kebangsaan. Sebagai sebuah ajang perhelatan produk literasi kebangsaan yang diadakan di Bandung, event ini diikuti berbagai produk budaya alternatif yang menggagas serta memaknai kembali arti kebangsaan. Setelah berbagai gerakan anti negara-bangsa, di antaranya gerakan Islamis yang sarat muatan rasisme, represi otoritas terhadap Papua sebagai legitimator atas eksploitasi yang dilakukan kapitalisme negara dan manca negara, pembersihan aliran Syiah dan Ahmadiyah, dan juga pembubaran berbagai komunitas buku—jika orang masih percaya bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang sadar akan sejarahnya, maka pembakaran buku tentu merupakan sebuah penghianatan terhadap daya dan upaya manusia.

Pekan Literasi Kebangsaan (1 – 7 Desember, 2016) agaknya menjadi sebuah oase di tengah berbagai problem kebangsaan, khususnya dalam arti ke-Indonesia-an. Oase, karena hal itu menjadi sebuah optimisme yang justru hadir saat berbagai wacana anti kebangsaan tengah dikukuhkan.

Barangkali, Bilven dan kita memang berhak merasa optimis. Optimisme yang baik adalah optimisme yang berdialog. Berikut adalah perbincangan kami dalam memaknai kembali kebangsaan. Dengan gaya santai dan tak lupa humoris, Bilven memberi jawaban atas segala pertanyaan yang kami utarakan. Di Gedung Indonesia Menggugat, gugatan terhadap penindasan oleh kolonial dinyatakan dengan memukau. Wawancara ini berusaha menangkap spirit tersebut.

Selamat membaca.

Metaruang
Menggagas sebuah acara bernafas kebangsaan, namun bung mengundang beberapa individu progresif, Rony Agustinus dan Martin Suryajaya. Sebagai salah satu pimred penerbit Margin Kiri, Rony kerap menerbitkan karya-karya Amerika Latin yang notabene muak pada negara. Martin Suryajaya yang dalam Dialektika Materialisme Historisnya, justru menerjemahkan Negara sebagai bentuk artikulasi kepentingan penguasa yang selamanya akan bersebrangan dengan kelas-kelas tertindas. Bagaimana pendapat bung?

Bilven
Rony datang bukan sebagai pembicara. Memang Marjin Kiri hadir dalam pameran buku PKL. Martin pun berbicara panjang lebar soal sejarah politik. Saya menangkap beberapa point yang menyatakan bahwa beberapa filsuf politik jauh sebelum Marx, mengambil sikap apatis terhadap kebebasan, dalam hal ini kesetaraan. Namun balik lagi, bagaimana kebangsaan itu dimaknai. Kalau orang bicara soal kebangsaan dari buku-buku pemerintah, tentu setiap hal progresif akan dimaknai sebagai makar. Itu yang terjadi dalam kurikulum yang diterapkan di sekolahan pada rezim Soeharto. Kebangsaan dimistifikasi. Sesuatu yang tadinya adalah sebuah ide yang terbuka menjadi sakleksetelah dimistifikasi. Dia berubah jadi agama yang intoleran. Agama yang saklek kan selalu reaksioner. Segala yang tidak sesuai dijustifikasi sebagai bid’ah, makar. Sebagai sebuah ide, “kebangsaan” itu terbuka. Progresifitas di satu sisi adalah sebuah usaha menuju bangsa yang ideal. Bukankah para founding father kita itu individu-individu progresif? Tempat ini (Gedung Indonesia Menggugat, red.) adalah titik awal Bung Karno dalam merintis kebangsaan. Saat itu Indonesia belum ada. Kebangsaan tidak identik dengan Gusdur atau Megawati saja. Makanya kembali lagi, bagaimana kita memaknai “kebangsaan”.

Metaruang
Bangsa Indonesia adalah sebuah contoh bangsa yang terbuka. Kita tahu bagaimana bangsa Israel identik dengan nujum “tanah yang dijanjikan”, lalu Jerman di era Hitler memaknai bangsa sebagai hal absolut yang mengesahkan pembantaian bangsa-bangsa diluar ras ideal yang ditentukan pada saat itu. Bagaimana peran Pekan Literasi Kebangsaan berusaha memaknai kembali kebangsaan di Indonesia?

Bilven
Perhelatan ini bertujuan untuk menggugat arti kebangsaan yang dipahami saat ini. Dalam beberapa kasus terkini, negara kerap kali menggusur sipil dengan alasan ilegal. Padahal ada sertifikat. Jika memang ilegal kan bisa dilegalkan. Dan rata-rata yang digusur lemah di mata hukum. Orang-orang yang kena gusur rata-rata orang miskin, maka dari itu mereka lemah. Dalam kasus ini,pemerintah sama sekali tidak sedang berusaha mengentaskan kemiskinan, janji yang mereka umbar dengan bergairah saat kampanye. Dan melihat respon dari para mahasiswa terhadap kasus tersebut kan miris. Kalian bisa lihat sendiri lah. Mereka cenderung apatis dan cuek, lebih memusingkan bagaimana agar mendapatkan pekerjaan yang nyaman. Tema hari pertama hingga sekarang hari kelima, berusaha menjawab pertanyaan itu.

Di hari pertama, kita bahas soal peran mahasiswa dalam percaturan politik. Tujuannya agar mereka tergugah.

Hari kedua kita mengulas  berbagai kebusukan Orba, salah satunya dengan memutar film dokumenter tentang penggusuran. Lihat aja kepemimpinan Jokowi. Janji kampanyenya dia menyatakan menghentikan penggusuran sewenang-wenang. Kleru iki, kleru. Ahok juga gitu. Dia janji untuk membenahi soal yang sama. Tapi nyatanya beberapa tanah yang masih berstatus sengketa digusur juga. Sengketa itu artinya masih dalam proses hukum. Apakah negara yang tidak menaati badan hukumnya bisa dibilang sudah berkebangsaan dengan baik? kan asu. Majalengka belum lama ini disikat untuk pembuatan bandara. Lalu kasus pabrik semen di teluk Genoa, Rembang, dan Papua. MA sudah membuat keputusan pencopotan izin operasi. Tapi tetep aja mereka gak hengkang juga. Kita sedang berbangsa loh? Ngeri amat.

Hari ketiga tentang media, membahas UU ITE. UU yang menyikapi segala bentuk kritik terhadap pemerintah lewat media sosial dengan ancaman hukuman selama lima tahun penjara. Pemerintah kok gak mau dikritik. Kita berbangsa loh? Ngeri amat.

Hari keempat membahas soal buruh. Pembahasannya melingkupi permasalahan kesejahteraan, upah, jam kerja, dan lain-lain. Negara mengusahakan kehidupan layak bagi kaum buruh atau pemilik modal. Hari keempat menggugat itu.

Hari kelima bahas soal diskriminasi identitas. Sunda wiwitan kan udah ada sejak dulu. Masa ngurus KTP dipersulit gara-gara agamanya gak diakui. Selain itu kita bahas para penyandang difabel. Mereka juga kan orang Indonesia. Tapi seringkali mereka mengalami diskriminasi. Kita juga bahas persoalan Syiah dan Ahmadiah. Terakhir yang paling langgeng, yang komunis. Para pendiri bangsa Indonesia kan komunis? Mereka yang dicurigai didiskriminasi. Dituduh makar lah, pemberontak lah. Sementara para keturunan Orba, yang jadi gerbang masuknya modal asing, adem-adem aja. Kan eksploitasi, salah satunya Freeport, yang dampaknya dahsyat kalo dirunut dari situ. Jadi yang makar itu negara atau siapa? Nah untuk menggugat itu aja sulitnya luar biasa, bung, agar pemahaman sampai ke masyarakat. Ngeri amat.

Hari keenam kita akan berusaha cari benang merahnya. Hari ketujuh penutupan, tapi bukan akhir tentunya. Kita akan kembali mengadakan acara serupa sampai acara semacam ini jadi rutinitas, khususnya di Bandung.

Metaruang
Bung bicara soal “sosial kapital”?

Bilven
Festival ini kan gak ada pemodal sama sekali. Ya tentunya bukan tanpa modal sama sekali. Kita di sini gotong royong. Semua yang terlibat membangun kepercayaan satu sama lain. Kita menguatkan jaringan dan kepercayaan. Kalo berangkat dari modal kita akan runtuh oleh pemodal yang lebih besar. Acara ini bertujuan menguatkan jaringan berbagai komunitas. Dari situ kita berjalan. Tanpa pemodal sama sekali.

Contoh sosial kapital yang paling kentara, pernah dilakukan oleh Jokowi. Misalnya dengan program Nawacitanya. Dia berusaha membangun kepercayaan rakyat sebagai modal untuk mencari dukungan.

Tema kebangsaan kita pilih sebagai pencarian bentuk untuk mewadahi segala bentuk literasi seluas-luasnya, baik yang individu juga komunal. Kalo angkat tema sastra kan ada festival Ubud Writer. Jogja punya festival penerbitan alternatif. Nama Indonesia menggugat juga belum jelas menggugat apa. Gedung ini punya sejarah di mana seorang Soekarno yang asalnya seorang terdakwa beralih menjadi penggugat terhadap penjajah. Bandung mewarisi semangat penggugatan itu. Di pekan literasi ini, kita bersama-sama mencari sekaligus meniupkan kembali ruh yang sempat lenyap sekian lama. Tujuan penggugatan harus ditentukan bersama.

Di sini berbagai produk literasi ada. Pemutaran film, pementasan teater, musik, berbagai diskusi buku dan komunitas, penerbit alternatif. Selain itu ada kopi gratis dari bermacam-macam komunitas kopi. Dari produk kebudayaan tersebut kita bisa membaca dunia. Dunia kan luas. Produk literasi juga beragam. Literasi tidak hanya soal membaca dan menulis saja. Lewat acara semacam ini diharapkan akan bisa membangun kesadaran untuk berbudaya. Budaya yang kualitatif. Bukan budaya media mainstream yang melulu bikin masyarakat jadi pasif.

Metaruang
Produk literasi yang paling berkesan untuk bung?

Bilven
Di buku banyak. Beberapa yang membuat saya terkesan, banyaknya yang bisa dijadikan acuan oleh pergerakan. Tentang G30S PKI ada John Roosa. Sejarah Gerakan Kiri. Buku-buku karya Muhidin juga bagus. George Junus Aditjondro itu booming, yang bahas Cikeas.

Metaruang
Kalo produk literasi yang umum diketahui, ada yang bikin bung terkesan?

Bilven
Ada. Film Arifin C.Noer, Pengkhianatan G30S PKI. Film itu kan menunjukan bagaimana sebuah propaganda bisa mempengaruhi masyarakat secara luas. Itu berkesan sekali. Menggugah. Film itu harus diputar lagi dan setelahnya diadakan sesi diskusi. Ketika sebuah propaganda sensitif disensor, itu justru salah. Sama sekali tidak mendidik. Ada satu contoh kasus yang konyol. Di ITB pernah screening film Forty Years of Silence dibubarkan tentara.

Metaruang
Setelah Pekan Literasi Kebangsaan, akankah acara serupa berkesinambungan di Bandung. Apa rencana kawan-kawan selanjutnya?

Bilven
Rencana selanjutnya lebih dinamis. Kita bisa mengadakan pekan literasi kemanusiaan, perempuan, disabilitas, pelanggaran HAM. Tapi yang jelas “pekan literasi” menjadi frasa depan yang akan tetap dipertahankan. Literasi itu membuka mata, selanjutnya menggugah kesadaran. Tujuannya jelas, untuk memaknai kembali kebangsaaan dan disusul dengan dorongan ke arah demokrasi yang kualitatif

 

 

Pewawancara: Agus Yuli Prasetyo & Dedi Sahara

 

 

 

Metaruang

Bergerak, mengakar, kritis.

Tags:
,
No Comments

Post A Comment