Metaruang | Brad Will
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17075
post-template-default,single,single-post,postid-17075,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Brad Will

Tak hanya merekam aksi pendudukan pusat kota Oaxaca oleh Popular Assembly of the Peoples of Oaxaca (APPO), tepat 26 Oktober 2006, Brad Will pun mendokumentasikan mautnya sendiri.

Brad Will yang mempunyai nama lengkap Bradley Roland Will, lahir pada 14 Juni 1970 di Evanston, Illnois, Amerika Serikat. Sedari kecil Brad tumbuh besar di pemukiman kumuh Kenilworth, yang notabene bukanlah tipe kota yang melahirkan orang-orang radikal. Brad sendiri adalah anak bungsu dari empat bersaudara Keluarga Will. Ayahnya sendiri adalah seorang insinyur sekaligus atlet american football di tim Yale. Dari riwayat akademiknya, Brad tercatat sebagai pelajar New Trier High School pada 1988, serta mahasiswa fakultas Bahasa Inggris Allegheny College, Meadville, Pennsylvania. Sulit rasanya menandingi apa yang telah Brad garap dalam berbagai bidang dan profesi. Komitmennya dalam segala hal yang dia garap, tak pernah main-main. Seseorang yang mempunyai perawakan mirip salah satu tokoh It’s a Wonderful Life itu, yakni Jimmy Stewart yang jangkung dan bersahaja, Brad jelas bukan seseorang yang semangat kerja dan kreativitasnya rentan amblas di tengah jalan.

Semasa hidupnya, Brad dikenal sebagai seorang punk yang mengagumi Crass, anarkis-katalis, jurnalis-kombatan, videografer kampiun, penyiar radio progresif, pembaca yang rakus, avonturir yang kerap menggantang ancaman, aktor satirical performance art yang militan, teknisi sound dan lighting panggung yang piawai, pengidola sekaligus murid bengal Allen Ginsberg serta Hakim Bey, dan juga seperti apa kata sahabat-sahabatnya, dia seorang pecinta yang payah. Ibu dan ketiga kakak Brad justru memaparkan lebih jauh lagi tentang sosoknya. Di mata ibu dan kakak-kakaknya, Brad adalah anak yang berbeda, unik, namun bukan seorang pemalas. Selain aktif, ketiga kakaknya gandrung dengan olahraga, sedangkan Brad sama sekali tidak. Dia lebih menyukai fiksi ilmiah dan fantasi. Bukannya bergabung dengan klub american football, dia malah bekerja sepulang sekolah, sebagai tukang kirim bunga, pengatur rak perpustakaan, atau penjual langganan surat kabar.

Setelah lulus dari New Trier High School, Brad kemudian memulai kuliahnya di Alleghany College. Di kampus itulah kemudian Brad mulai menggandrungi Grateful Dead, membaca On the Road milik Kerouac, hingga tak luput menghabiskan berjam-jam waktu senggangnya untuk melahap puisi-puisi penyair Beat Generations. Namun tak hanya itu, Brad pun menjadi lebih banyak teler dan berbagi pipa ganja dengan Matt Felix, seorang pecinta lingkungan dari New Hampshire, yang kemudian memperkenalkan Brad dengan Earth First!

Earth First! sendiri adalah sebuah bentuk kegiatan aktivis lingkungan yang radikal. Aksi-aksi langsung serta penampilan teatrikal yang menjadi bagian integral kolektif Earth First! kemudian mengantarkan Brad melancong ke daerah West Coast, tepat ketika dia lulus tahun 1992. Dia mengikuti jejak Hippie ke Boulder, Colorado. Di sana dia mengambil kelas kepenulisan kreatif yang diajarkan Allen Ginsberg di Jack Kerouac School of Disembodied Politics, yang mana kelas itu adalah salah satu program yang digagas oleh Naropa University. Pada momen itulah Brad mulai melesapkan setiap pemikiran dan gagasan Ginsberg dalam hidupnya.

Bagi Brad, sosok yang justru lebih berpengaruh tinimbang Ginsberg adalah Peter Lamborn Wilson, sang penulis manifesto The Temporary Autonomous Zone, atau yang biasa dikenal dengan pseudonim Hakim Bey. The Temporary Autonomous Zone sendiri adalah sebuah pengkajian “anarki-ontologis”, “terorisme puitis”, serta catatan-catatan dari garda depan. Karya itulah yang kemudian mengantarkan Brad pada wacana anarkisme serta menjadi pedoman bagi jalan pedang kombatannya yang dia tempuh kelak. Di mata Wilson, Brad adalah mahasiswa yang banyak bicara di kelas karena tidak membayar iuran pendidikan. Namun bagi Wilson, Brad pun adalah anak muda yang sangat enerjik, cerdas, sembrono, nekat, rasa penasaran yang meletup-letup, namun mampu membuat kawan-kawannya terpukau tanpa polah-petingkah yang macam-macam.

Gagasan anarkisme yang Brad pelajari dari Wilson, baginya bukanlah sebuah ideologi tunggal, namun lebih seperti sejumlah filosofi yang saling beririsan. Dia ingin mempelajari semuanya. Dia sering mampir ke toko buku Blackout Books di kawasan Alphabet City, New York. Lalu setelah itu dia kerap menghilang selama berhari-hari untuk membaca buku-buku yang dibeli, dipinjam, dicuri, atau diambil dari tempat sampah. Dia membaca tulisan Marcos hingga Kroptokin. Dan dari situlah kemudian Brad bergabung dengan Ruckus Society, Earth First!, hingga gerakan Reclaim The Streets. “Dia adalah orang yang paling tidak sektarian yang saya kenal” ucap Dyan Neary, seorang perempuan istimewa di hidup Brad. “Dia akrab dengan golongan anarko-primitivis yang memandang bahasa sebagai bentuk opresi, dan anarkis sosial, yang menulis buku dan membangun sekolah. Itu mempermudahnya dalam memperkenalkan ide-ide baru pada orang-orang.”

Ketika berada di New York, Brad terlecut untuk menginiasi sebuah afinitas atau kolektif squatting dalam cakupan Lower East Side. Dari gerakan yang diinisiasinya itu, muncul istilah “freeganism”. Tak hanya berkisar di aktivitas squat dengan menghidupkan kembali kantung-kantung pemukiman tak terpakai menjadi sebuah tempat kegiatan kolektif, Brad dan kawan-kawannya mulai mencari cara alternatif untuk bertahan hidup dengan mengelola makanan atau sayuran sisa dari supermarket maupun manufaktur panganan. Dia beserta kawannya dengan gigih terus menjalani kerja-kerja kolektif itu. Yang tentu saja hal itu pun semakin membuat Brad tak hanya lekat dengan gerakan environmental Earth First! saja, namun juga dengan kolektif The Fall Creek Tree Village di Eugene, Oregon.

Nama Brad semakin mencuat ketika dia berusaha untuk mencegah utusan Guillani yang hendak menghancurkan sebuah gedung tak terpakai di Fifth Street, Lower East Side. Di dalam gedung itu sendiri, Brad awalnya hendak menjadikannya sebagai objek squat berikutnya bersama kawan-kawannya. Namun ketika kru konstruksi tiba di gedung untuk mulai menurunkannya, dia kukuh berdiri di atas atap sambil melambaikan tangannya. Usahanya kala itu terhenti, pembongkaran tetap dilakukan. Awak konstruksi akhirnya meratakan bangunan yang di dalamnya ada sebuah kafe, tempat pertemuan, dan ruang pertunjukan. Setelah peristiwa pembongkaran itu, Brad berbicara dalam program radio yang diproduksi oleh Paper Tiger Television, yakni ABC Survives, Fifth Street Buried Alive. Di program itulah Brad menceritakan sebetapa berengseknya Guillani yang semena-mena membongkar gedung itu.

Kami sedang membuat rumah dari bangunan yang runtuh. Bagian dalam gedung membutuhkan perbaikan, dan kami menghidupkan kembali bangunan itu. Nyaris kokoh seperti rumah tinggal baru. Dan satu-satunya alasan itu berdiri adalah karena ada orang tinggal di dalamnya. Kami mengganti balok serta pilar-pilarnya. Kami membangun kembali lantai. Kami melapisi dinding dan membuat bangunan itu betul-betul ‘hidup’. Apa yang mereka lakukan? Mereka membunuhnya. Bangunan itu berusia lebih dari seratus tahun. Namun mereka meratakannya dalam kurun waktu singkat.” papar Brad pada siaran ABC Survives, Fifth Street Buried Alive. Setelah dia muncul dalam program itu, Brad kemudian menjadi proponen media anti-korporat dan menjadi host dari rubrik acaranya sendiri di Steal This Radio, sebuah stasiun radio propaganda yang bermarkas di Lower East Side.

Memasuki tahun 1998, dia bersama karibnya yang bernama Hazel, berbicara di Ecosaloon, sebuah forum aktivisme mingguan yang diselenggarakan pada Selasa malam di klub malam Wetlands Preserve. Presentasi mereka menautkan perjuangan untuk mempertahankan hutan di Pacific Northwest dengan perjuangan melawan gentrifikasi Manhattan Lower East Side. Setelah membantu mengorganisir Buy Nothing Day dan protes Reclaim the Streets di Times Square, Brad pergi menuju Seattle untuk mendokumentasikan protes Anti-WTO. Setelah itu, dia pun bergabung dengan Direct Action Network (DAN) dan Independent Media Center (IMC) distrik New York. Pada titik itu kemudian Brad tergabung sebagai reporter ataupun jurnalis Indymedia yang memang bertugas mengabarkan laporan langsung dari titik api.

Pada tahun 2000, Brad melancong ke Praha, Republik Ceko, untuk memprotes KTT IMF serta berpartisipasi dalam kegiatan yang terkait dengan gerakan Anti-globalisasi selama tahun itu. Mobilitasnya sebagai jurnalis-kombatan, tak pelak mengantarkannya menuju Ekuador, Argentina, Chiapas, serta ke Brasil untuk mendukung gerakan tani tanpa tanah di negara itu. Di sela-sela perjalanannya ke luar negeri, Brad kembali ke New York dan tetap terlibat dalam komunitas gerakan lokal. Pada Agustus 2001, misalnya, dia turut andil dalam Forum Dumpster Diving yang diadakan di Wetlands Preserve 161, Hudson Street.

Brad pun bergabung dengan para partisipan untuk eksplorasi makanan sisa yang dapat diolah kembali bersama Tribeca, dan ditemani oleh kru TV dari PBS Life 360. Dalam sesi acara itu, Brad menghibur peserta dengan menyanyikan lagu tentang dumpster diving saat partisipan tengah berjalan di sepanjang Canal Street. Dalam beberapa tahun terakhir, Brad telah mengalihkan fokusnya ke pembuatan film dokumenter untuk jaringan Indymedia dan media alternatif lainnya. Di sela-sela pembuatan film dokumenter, Brad sesekali bekerja sebagai teknisi panggung yang meliputi tata suara dan penerangan. Brad membuktikan bahwa dia tetap seorang kombatan yang berkomitmen. Buktinya adalah ketika dia disibukkan dengan kerja-kerja di dapur keredaksian, dia tetap berpartisipasi dalam acara Majelis Umum yang dihelat oleh New York Metro Alliance of Anarchists pada 8 April 2006.

Selama musim panas 2006, Brad terus melakukan rekaman video aksi-aksi demonstrasi. Salah satunya adalah sebuah protes pada tanggal 15 Juni di Konsulat Meksiko, sebagai tanggapan atas serangan polisi ke planton (perkemahan) guru. Pada 29 Juni, dia merekam dan membantu mengorganisir protes terhadap Victoria’s Secret di Mal Manhattan. Sedangkan setelahnya, Brad pun mendokumentasikan sebuah aksi protes yang diselenggarakan oleh Wetlands Activism Collective, yang menjadi bagian dari protes nasional atas pengeksploitasian hutan boreal Kanada dan pulp, hutan AS Selatan, yang mencetak sekitar 395 juta katalog setiap tahun. Tak lama kemudian, Brad pergi ke pertemuan antara Earth First!, Rendezvous, dan CrimethInc. Dia juga membantu mengumpulkan uang untuk temannya Daniel McGowan, yang dipenjara karena dituduh berpartisipasi dalam serangkaian tindakan penghancuran properti.

Brad mendokumentasikan mautnya sendiri di Oaxaca

Hingga Oktober 2016, di Oaxaca, Meksiko, terus berkecamuk konflik yang berlangsung lebih dari tujuh bulan. Konflik itu melibatkan kubu massa aksi anti-Ruiz dengan paramiliter maupun polisi huru-hara yang dikerahkan oleh Ruiz. Dalam peristiwa itu pula, telah mengakibatkan setidaknya tujuh belas kematian dan ratusan lain luka-luka. Dalam rentang waktu itu pula, pusat kota Oaxaca praktis diduduki oleh massa aksi dari Popular Assembly of the Peoples of Oaxaca (APPO).

Tuntutan utama dalam aksi itu jelas untuk menuntut Gubernur Oaxaca, Ulises Ruiz, yang dianggap korup dan melakukan kecurangan saat pemilihan umum 2004, segera turun dari tampuk kekuasaan. Konflik itu sendiri mulai berkobar sedari Mei 2006 manakala polisi anti huru-hara melakukan penembakan pada massa aksi, yang di dalamnya tergabung serikat guru lokal. Sejak saat itu, mencuatlah eskalasi konflik dan perlawanan di Oaxaca. Para massa aksi sepakat untuk memobilisasi massa lebih luas dan membentuk satu aliansi bernama Popular Assembly of the Peoples of Oaxaca (APPO). Tentu saja hal itu ditempuh untuk terus melawan gubernur Ruiz.

Para massa aksi menuntut pemecatan atau pengunduran diri Ruiz, yang mereka tuduh telah melakukan korupsi secara masif. Beberapa laporan lain, termasuk dari pemantau hak asasi manusia internasional, mensinyalir bahwa pemerintah Meksiko menggunakan regu kematian, eksekusi mati, dan bahkan melanggar standar Geneva Conventions yang melarang penyerangan dan penembakan pada petugas medis yang tidak bersenjata—yang pada saat kejadian tengah mendatangi massa aksi yang terluka.

Brad, yang kala itu bepergian dengan visa turis, telah tiba di Oaxaca pada awal Oktober 2006 untuk mendokumentasikan aksi pendudukan oleh APPO. Di luar prediksi, aksi pendudukan pada tanggal 26 Oktober, meledak menjadi pemberontakan melawan pemerintahan serta paramiliter dan polisi anti huru-hara yang dikerahkannya. Kamera video Brad menelisik melalui kaca pecah untuk mengamati komputer yang rusak, menyorot kepulan asap hitam yang berasal dari mobil SUV yang terbakar; merangkak di bawah truk untuk memata-matai sekelompok orang yang diduga polisi yang tak memakai seragam. Brad menyelinap menuju mereka bersama gerombolan kecil sembari menenteng batu dan mercon, melawan pria-pria yang bersenjatakan 38 dan AR-15.

Brad mafhum apa yang menjadi tugasnya: Rekam itu semua! Pemandangan dari mulai ban terbakar, pemberontak berbalaclava yang memasukkan kain ke dalam botol penuh bensin, petani yang membawa parang, dapur darurat, klinik medis untuk massa aksi, hingga bus gratis yang diambil-alih oleh petani dan nelayan. Bahkan di sebuah pemakaman jalanan, wanita-wanita tua menyanyikan sebuah lagu radikal dengan tinju mengarah ke udara; di sebuah tenda merah di malam hari, seorang ayah menghantam kotak perak yang memuat jenazah putranya. Sungguh pengalaman visual dan auditif yang mengerikan bagi Brad.

Nahas, dalam momen itu, Brad terkena dua kali tembakan yang menghantam langsung pada jantungnya. Dua menit sebelum penghabisan, Brad merangkak menuju pintu yang ia tahu kemungkinan memuat pria-pria bersenjata. Sebelumnya, massa pro Ruiz berseru di radio-radio lokal. “Si ves a un gringo con camara, matalo!” (Kalau kamu melihat orang asing yang membawa kamera, bunuh dia!). Itulah kata-kata terakhir yang terdengar di video Brad sebelum dia merekam kepulan asap serta letupan senjata api. Dia pun kemudian tumbang. Hanya “No esten tomando fotos!” (Berhenti mengambil gambar!) yang barangkali didengar Brad untuk terakhir kali.

Bersama dengan Brad, dua massa aksi lain, yakni Esteban Zurita López dan seorang guru bernama Emilio Alonso Fabián, juga tewas. Beberapa lainnya terluka. Pasca peristiwa itu, surat kabar harian Mexico City El Universal menerbitkan foto-foto orang-orang bersenjata yang diduga sebagai pejabat lokal. Sebuah organisasi berita Oaxaca pun mengklaim bahwa Pedro Carmona, seorang politisi lokal dan anggota Partai Revolusioner Institusional, disinyalir adalah pihak yang menembak Brad. Puncaknya, selama konferensi pers pada 29 Oktober 2006, walikota Oaxaca, Manuel Martínez, mengatakan bahwa empat pria, semua pejabat publik setempat, ditahan sehubungan dengan penembakan itu.

Dalam laporan awal mengenai penembakan itu, ada kesalahan penulisan nama lengkap Brad yang harusnya “Bradley Roland Will”, lantas tampil dengan nama “Bradley Roland Wheyler” serta “William Bradley Roland”. Berita ihwal kasus penembakan itu menyebar dengan begitu cepat dan menuai berbagai tanggapan. Beberapa kelompok media independen, aktivis, dan organisasi lain mengeluarkan pernyataan yang mengutuk insiden itu. Subcomandante Marcos yang mewakili Zapatista turut mengecam penembakan aparat Oaxaca pada massa aksi. Petisi berupa dukungan serta solidaritas bagi Brad, korban tewas lain, serta warga Oaxaca pun ditandatangani oleh banyak akademisi dan aktivis, termasuk Noam Chomsky, David Graeber, Naomi Klein, Michael Moore, Arundhati Roy, Starhawk, dan Howard Zinn.

Di Oaxaca, massa aksi APPO menyisir rambut panjang Brad dan membalutnya dengan pakaian putih. Mereka mengalungkan salib emas di lehernya dan memasukkannya ke peti mayat. Tak ada pidato berapi-api, hanya tangisan menjadi-jadi. Fox, presiden Meksiko ketika itu, menjadikan kematian orang asing itu sebagai alasan untuk menginvasi Oaxaca dengan 4.000 polisi federal. Duta besar A.S., seorang kaki tangan Bush asal Texas, menyalahkan para guru sekolah atas kekerasan itu dan berkata bahwa kematian Brad “menegaskan perlunya penegakan hukum dan ketertiban.” Dalam rentang waktu beberapa bulan setelahnya, APPO dibasmi. Calderon menerapkan undang-undang yang mengizinkan polisi untuk menyadap telepon dan menahan orang tanpa surat penangkapan atau tuduhan.

Seorang fotografer berita Meksiko, memotret pria-pria yang diduga adalah penembak Brad. Di dalam foto itu terlihat segerombolan tukang pukul berpakaian preman yang berlari menuju Brad dan orang-orang APPO dengan pistol serta senapan AR-15. Jaksa wilayah Oaxaca, yang setia pada Ruiz, dengan berat hati mengeluarkan surat penangkapan untuk dua orang, komandan polisi Orlando Manuel Agular dan Abel Santiago Zarate. Tapi dalam konferensi pers dua minggu kemudian, sang jaksa mengumumkan teori lain. Penembakan Brad murni adalah rekayasa yang menipu, yang direncanakan oleh APPO. Versi lainnya, Brad hanya terluka di jalan. Peluru yang mematikan ditembakkan dari jarak dekat oleh seseorang anggota APPO dalam perjalanan menuju rumah sakit. Apapun versi kronologinya, tetap saja, hakim membebaskan tersangkanya.

Brad Will adalah simbol perlawanan seorang buruh lensa sekaligus kombatan yang tak pernah mengenal kata menyerah. Kendati sosoknya telah tiada, dia telah meninggalkan legasi berharga bagi jurnalis independen hari ini. Sesayup suara David Rovics yang mendedikasikan sebuah lagu untuk mendiang Brad, begitu juga halnya dengan Dyan Neary, kekasih Brad yang saat kejadian penembakan, tengah berada di Hawaii. Di hari kematian Brad, Dyan tengah duduk di taman dan menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan Brad. Dia menyanyikan “Hobo’s Lullaby” dari Woody Guthrie. Dyan ingin menyanyikan lagu favorit Brad, “Angel from Montgomery”. Dia berusaha keras mendengar suara lirih Brad menjadi John Prine, sedangkan Dyan adalah Bonnie Raitt: “Just give me one thing that I can hold on to / to believe in this living is a hard way to go.”

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

No Comments

Post A Comment