Loader

Brutalitas Aparat Terhadap Elemen Solidaritas Tamansari, Bandung

Warga Tamansari didampingi massa solidaritas kembali menggelar aksi massa di depan Balai Kota Bandung pada Kamis, 12 April 2018. Aksi massa tersebut bertujuan untuk menuntut pihak Pemerintah Kota Bandung agar segera memberhentikan proyek Rumah Deret yang sampai saat ini masih terus berjalan.

Massa aksi mulai melakukan long march menuju Balai Kota pada pukul 10.15 WIB, melewati Universitas Islam Bandung, Universitas Pasundan dan Bandung Istana Plaza.

Beberapa mobil polisi dan sejumlah petugas Dinas Perhubungan terlihat berjaga di lokasi ketika massa aksi sampai di gerbang Balai Kota di Jalan Wastukencana. Setelah beristirahat sejenak, massa aksi mulai melakukan orasi di depan gerbang tersebut.

Pada pukul 11.49 WIB, humas dari Pemerintahan Kota Bandung keluar untuk menemui massa aksi. Ia meminta seorang perwakilan dari massa aksi untuk masuk ke dalam. Namun massa aksi menolak. Mereka sepakat sejak awal hanya akan menemui Pemkot bersama-sama, tidak melalui perwakilan.

Massa aksi dipukul hingga dilarikan ke rumah sakit

Hingga pukul 12.30 lebih, pihak Pemkot belum memenuhi tuntutan massa aksi untuk menemui mereka di luar. Akhirnya, massa aksi memutuskan untuk memblokade jalan.

Hal ini sempat menimbulkan pertikaian antara aparat kepolisian dengan massa aksi. Massa aksi dan pihak kepolisian saling mendorong satu sama lain. Berdasarkan pantauan Metaruang, seorang massa aksi bahkan sempat berdebat dengan aparat kepolisian.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil Pengendali Massa (Dalmas) datang ke lokasi. Petugas Dalmas pun turun dan membentuk barisan, ikut menghadang gerbang Balai Kota bersama aparat kepolisian lainnya.

Kekerasan pun pecah. Aparat kepolisian memukul dua kawan solidaritas Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP), yakni Dimas dan Ehenk. Salah satu warga, Eva Eriani, juga menjadi korban kekerasan aparat. Mereka bertiga diseret masuk ke dalam mobil Dalmas.

Berdasarkan keterangan saksi, aparat awalnya sempat memukul Dimas hingga berdarah. Eva kemudian menghadang polisi untuk melindungi Dimas. Mereka berdua kemudian dibantu oleh Ehenk, sebelum akhirnya diseret oleh polisi ke dalam mobil Dalmas.

Setelah beberapa waktu, Eva diperbolehkan keluar. Dimas dan Ehenk masih ditahan di dalam.

Hingga pukul 14.00 WIB, Dimas dan Ehenk masih ditahan. Massa aksi kemudian bersekapat untuk bergerak ke depan Polrestabes, menuntut agar Dimas dan Ehenk dilepaskan. Setelah 40 menit memblokade jalan, akhirnya aparat kepolisian melepaskan dua orang tersebut.

Untuk diketahui, Dimas dan Ehenk keluar dari mobil Dalmas dalam keadaan terluka. Jaket Dimas sobek dan salah satu sepatunya hilang. Sedangkan Ehenk keluar dengan kondisi gigi ompong.

Kejadian bentrok yang kedua meletus pada pukul 16.40 WIB. Terjadi konfrontasi antara massa aksi dengan polisi. Pentungan dan tendangan dari aparat melayang di segala arah.

Tiga orang massa solidaritas yang berada di barisan paling depan tak kuasa menahan pukulan dan tendangan dari aparat kepolisian. Mereka pun jatuh dan diseret masuk Balai Kota. Setelah diseret ke dalam Balai Kota, mereka disiksa lebih lanjut oleh aparat.

Kekerasan yang dilakukan aparat ini mengakibatkan dua di antara tiga peserta aksi tersebut harus dilarikan ke Rumah Sakit Sariningsih. Salah satu dari mereka bahkan memiliki luka retak di tangannya.

Konfrontasi antara massa aksi dan aparat terus berjalan, hingga akhirnya massa aksi terpaksa membubarkan diri.

Intimidasi aparat terhadap pers

Anggota pers mahasiswa Suaka dari Universitas Islam Negeri, Muhammad Iqbal, sempat mengambil gambar di dalam Balai Kota, terkait pemukulan polisi terhadap dua orang peserta aksi. Ketika salah satu anggota kepolisian melihat hal ini, Iqbal diseret olehnya.

Polisi tersebut kemudian meminta Iqbal untuk menunjukkan kartu persnya, setelah Iqbal mengaku bahwa dirinya adalah seorang wartawan.

“Polisi itu minta kamera, dia minta foto-foto yang diambil saya dihapus,” ucap Iqbal, seperti dikutip dari rilis Tim Advokasi Jurnalis Independen.

Iqbal diseret masuk ke dalam mobil Dalmas, ia diintimidasi dan diberi bogem di pelipisnya hingga memar. Terpaksa, dokumentasi yang telah Iqbal dapatkan harus dihapus.

Bukan kejadian kekerasan yang pertama

Kekerasan yang menimpa warga Tamansari RW 11 dan massa solidaritas ketika mereka tengah memperjuangkan hak hidupnya bukan cuma terjadi kali ini saja. Beberapa waktu sebelumnya, massa solidaritas yang tergabung dalam ARAP juga sempat dipukuli dan dilempari batu oleh preman setempat.

Kejadian itu terjadi pada 6 Maret 2018, ketika warga tengah melaksanakan sidang gugatan di PTUN Bandung. Warga mendapat kabar bahwa alat berat di Tamansari tiba-tiba beroperasi, sehingga sebagian massa solidaritas dan warga kembali ke Tamansari dan mendokumentasikan kegiatan alat berat. Namun, tiba-tiba terjadi pengejaran dan pengeroyokan. Berdasarkan pantauan Metaruang kala itu, tercatat 4 orang massa solidaritas dikeroyoki oleh preman.

Menyikapi ini, massa solidaritas dan warga kemudian melakukan aksi untuk menduduki alat berat (ekskavator) pada malam harinya. Namun, di tengah perjalanan menuju ke lokasi alat berat, massa aksi dilempari batu, dipukuli dan dikeroyok oleh preman. Sejumlah 19 orang tercatat mengalami luka-luka, 5 di antaranya mengalami luka serius.

Massa aksi kemudian melakukan aksi kembali pada 7 Maret 2018 di depan Balai Kota untuk menuntut agar Pemkot menghentikan proyek rumah deret dan menindak para pelaku kekerasan.

Bukannya merespon laporan warga dan massa solidaritas, pihak kepolisian justru bertindak sebagai pelaku kekerasan. Seakan-akan, mempertahankan hak hidup dan bersolidaritas membantu rakyat merupakan tindakan kriminal dan ilegal.

Berapa lagi korban yang harus jatuh, hanya demi mempertahankan hak hidupnya?

[KRONOLOGI TAMANSARI MELAWAN] 10. 15 Massa aksi mulai longmach menuju balkot dengan rute UNISBA – BIP – BALKOT (pintu wastu). 10.42 Massa aksi berangkat dari UNISBA dan UNPAS menuju balkot. 11.07 Massa aksi sampai di balkot. Pintu gerbang merdeka ditutup. 11.16 Massa aksi sampai di pintu gerbang Wastu. 11.45 Massa aksi berdiri dan berorasi kembali 11.49 Humas pemkot menawari perwakilan masuk ke dalam tapi massa aksi menolak. 12.22 Pihak Pemkot belum juga menemui massa aksi. 12.24 Massa memblokade jalan. 12.30 Massa aksi memblokade seluruh jalan, namun terjadi dorong2an dengan polisi. Sempat ada cekcok antara polisi dgn salasatu massa. 12.38 Massa aksi merapat lagi ke gerbang. 13.00 Dalmas keluar dari mobilnya, menghadang pintu gerbang balkot. 13.18 Terjadi represi. Tiga kawan dipukuli. Afin, Prima, Dimas. Satu warga dan 2 kawan (Eheng & Dimas) dibawa ke dalam mobil dalmas yg ada di dalam balkot. Teh Eva sudah keluar Dimas dan Eheng masih di dalam. Dimas diancam akan dilaporkan ke kepala sekolahnya. 13.57 Massa aksi bersiap menuju polrestabes untuk mengokupasi. *informasi tambahan Dimas dipukuli hingga berdarah. Teh Eva melindungi Dimas. Eheng melindungi teh Eva dan Dimas. Tapi, Teh Eva diperintahkan keluar oleh polisi. Teh Eva gamau, karena Dimas ditahan. Namun akhirnya Teh Eva keluar. Di dalam tertinggal Dimas dan Eheng. 14.11 Massa aksi memblokade jalan depan Polrestabes 14.16 Mobil dalmas (di dalamnya ada ehenk dan dimas) meninggalkan lokasi balai kota menuju ke arah lurusan jln wastu kencana. *informasi tambahan Iqbal (pers dari suaka UIN) sempat masuk kedalam balaikota dan memoto Dimas dan Eheng ketika diinterogasi. Tapi kameranya direbut polisi dan diminta menghapus foto padahal Iqbal menunjukan kartu pers. Polisi mengancam kartu pers dilepaskan asal menghapus foto interogasi. Akhirnya foto dihapus. 14.30 mobil dalmas pergi kearah polres (ehenk dan dimas tidak ada di dalam). 14.34 Dimas dan Ehenk dibebaskan. Bergabung lagi bersama massa. … lanjut di bawah #BandungMelawanPenggusuran #TamansariMelawan

A post shared by A.R.A.P (@aliansirakyatantipenggusuran) on

_

Dokumentasi: ARAP

___

Disusun oleh Syawahidul Haq, Rinaldi Fitra, Ilyas Gautama, Astika | Militansi, Metaruang 2018

No Comments

Post A Comment