Metaruang | Buku tentang Buku
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
11
post-template-default,single,single-post,postid-11,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Buku tentang Buku

 

Judul: Rumah Kertas
Judul Asli: La cassa de papel
Penulis: Carlos María Domínguez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Cetakan: Pertama, September 2016
Tebal: vi + 76 hlm, 12 x 19 cm
Penerbit: Marjin Kiri
ISBN: 978-979-1260-62-6

 

“I have always imagined that Paradise will be a kind of library”, kata Jorge Luis Borges. Sastrawan Amerika Latin itu membayangkan surga adalah tempat yang dipenuhi buku. Berada di antara tumpukan buku, bagi Borges—mungkin bagi kita juga—adalah hal yang sangat mengagumkan.

Tapi, apakah buku hanya memberikan kebahagiaan?

Buku tidak bisa dipisahkan dari bibliofil. Seorang bibliofil tentunya sangat mencintai buku. Atas dasar mencintai itu, bibliofil harus menanggung resiko yang berbahaya. Mengoleksi buku atau membangun perpustakaan memang hal yang menyenangkan, tapi kita juga harus rela merawatnya. Dan merawat sesuatu rupanya tidak sederhana.

Hal-hal menakjubkan tentang dunia perbukuan bisa kita temukan dalam Rumah Kertas yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dari novel La casa de papel karya Carles María Domínguez. La cassa de papel pada tahun 2002 meraih Lolita Rubial Prize dan sudah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa.

Carlos María Domínguez adalah sastrawan yang lahir di Buenos Aires, Argentina, tahun 1995. Sejak tahun 1989 ia tinggal di Montevideo, Uruguay. Ia telah menulis banyak novel antara lain: Bicicletas negras (1991), La mujer hablada (1995) yang meraih penghargaan Premio Bartolomé Hidalgo, Tres muescas en mi carabina (2002), dan La costa ciega (2009). Selain menulis fiksi, ia juga menulis karya-karya non-fiksi seperti biografi sastrawan Juan Carlos Onetti, Construcción de la noche (1993), serta sejarah perfilman Uruguay, 24 ilusiones por segundo: La historia de Cinemateca Uruguaya (2013).

*

Novel tipis ini diawali dengan sebuah tragedi: Bu dosen Bluma Lennon mati tertabrak mobil di tikungan jalan ketika menikmati buku puisi Emily Dickinson yang baru ia beli di Soho. Peristiwa itu menyebabkan polemik di lingkungan akademis. Tetapi ‘aku’ (narator) tidak tertarik dengan polemik itu, karena ia harus fokus mempersiapkan diri untuk menggantikan posisi Bluma di Jurusan Sastra Amerika Latin. Dan selanjutnya, kisah pengembaraan dimulai karena sebuah buku La línea de sombra, terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad.

Di dalam Rumah Kertas hanya terdapat empat bab yang padat. Latar waktu berganti begitu cepat. Misalnya, Carlos tidak menceritakan secara rinci apa yang terjadi ketika musim ujian menuju liburan panjang (hlm. 11). Ia hanya menuliskan dengan singkat apa yang akan dilakukan aku ketika musim ujian dan akan menghadapi liburan panjang. Setelah itu, waktu sudah terlewati satu minggu.

Carlos sangat apik membangun karakter lewat deskripsi tempat. Penggambaran sebuah rumah yang dipenuhi ribuan buku, mulai dari ruang tengah, kamar tidur, dapur, garasi, bahkan kamar mandi, telah menggambarkan bahwa tokoh itu adalah seorang penggila buku. Tokoh yang dibicarakan dalam novel ini tidak ada dalam realitas fiktifnya. Tokoh itu hadir lewat dialog-dialog panjang yang dilakukan oleh narator dan tokoh lain. Keseluruhan isi novel ini juga hadir dalam dialog yang panjang.

Membaca Rumah Kertas membawa kita ke dalam percakapan tentang buku. Buku bisa menjadi hal yang mengerikan bahkan menentukan hidup seseorang. Dalam kehidupan seorang bibliofil, buku tanpa disadari dapat membuat sempit seisi rumah dan menjadi pekerjaan besar untuk merawatnya.

Pada masa kediktaktoran militer di Argentina, buku seperti sebuah teror. Banyak orang membakari buku di toilet, menguburnya di bawah fondasi rumah, atau menyimpannya di sudut-sudut yang tak terjangkau, karena buku dianggap sangat berbahaya.

Selain hal yang mengerikan tentang buku, kita akan mengetahui bagaimana bibliofil bekerja. Dalam salah satu dialognya, tokoh bernama Delgado, seorang bibliofil, mengatakan: “Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. …” (hlm. 27). Sebuah pekerjaan yang sulit, tapi seorang bibliofil sangat menikmatinya.

Untuk menikmati sebuah buku, seseorang akan punya caranya sendiri. Ada yang biasa membaca ditemani musik, membaca sambil berbaring, atau membaca dalam keadaan sepi. Di dalam Rumah Kertas, kita akan menemukan cara membaca yang unik. Seperti Carlos Brauer, seorang bibliofil tangguh, biasa menikmati karya-karya penulis Prancis abad 19 dengan diterangi cahaya lilin. Dan temannya ketika membaca Goethe harus memutar opera Wagner.

Kita juga akan mengetahui tips-tips untuk merawat buku. Delgado harus memesan lemari khusus untuk menyimpan bukunya. Lemari itu terbuat dari lapacho, kayu tak berkerak yang tak tembus serangga. Lemari itu juga harus dipasangi pelapis kaca karena buku jelas-jelas mengundang debu, selain juga harus disemprot anti serangga karena siapa tahu kayunya masih tembus serangga. Ngengat adalah musuh berbahaya bagi bibliofil.

Carlos María Domínguez juga melancarkan kritik untuk dunia kepenulisan. Ia membicarakan penulis yang lebih mementingkan ketenaran daripada menghasilkan karya yang bagus. “Aspirasi sastra mereka tak ubahnya kampanye politik,” tulis Carlos, “atau tepatnya taktik militer, yang dikerahkan untuk merobohkan tembok-tembok ketidakterkenalan, penghalang tak tertembus yang cuma bisa diatasi oleh segelintir orang untuk mencapai status terpandang.” (hlm.15).

Penerjemahan Rumah Kertas ini bisa dibilang sebuah jalan yang berhasil untuk mengenalkan karya sastra Amerika Latin, bahkan karya sastra dunia kepada para pembaca Indonesia. Di dalam novel tipis ini, kita akan menemukan ribuan buku. Novel yang sangat referensial untuk melacak peta kesusastraan.

 

 

M. Nasrulah Fajri

M. Nasrulah Fajri lahir di Karawang, 4 Juli 1996. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia. Anggota ASAS UPI. Menulis puisi dan catatan-catatan lainnya.

No Comments

Post A Comment