Metaruang | Buruh Menuliskan Perlawanannya
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16800
post-template-default,single,single-post,postid-16800,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Buruh Menuliskan Perlawanannya

 

Judul Buku: Buruh Menuliskan Perlawanannya
Penulis: Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Martono, Hermawan, Lami, Fresly Manulang, Salsabila, Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryanti.
Editor: Bambang T.D, Syarif Arifin, Abu Mufakir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu
Penerbit: LIPS (Lembaga Informasi Perburuhan Sedane), Tanah Air Beta
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Yogyakarta 2015

 

“Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pramoedya Ananta Toer

 

Dari kawasan-kawasan industri, dari ruang-ruang produksi hingga jalanan yang dipenuhi ribuan orang dan teriakan-teriakan perlawanan, buruh menuliskan perlawanannya. Dari melawan penindasan yang dilakukan perusahaan hingga melawan kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suami, semua ditulis oleh 15 buruh ini dengan semangat menyebarluaskan api perlawanan.

Penindasan berupa upah yang tidak dibayar, kondisi kerja buruk hingga kerja hampir 12 jam lebih dijalani buruh demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Tanpa bermaksud membela Rezim Militeris Soeharto, pasca runtuhnya rezim Kapitalisme Negara Orde Baru, nasib buruh malah kian tersiksa dibawah ketiak Rezim Pasar Neoliberal. Hausnya pasar akan tersedianya buruh murah menjadikan negara dunai ke-3 berlomba-lomba menyediakan buruh murah. Tak terkecuali Indonesia.

Melalui Fleksibilisasi hubungan kerja yang mewujud dalam sistem kerja kontrak dan outsourcing, buruh dapat dipekerjakan kapanpun dan dibuang kapanpun –jika perusahaan sudah tidak membutuhkannya lagi. Atas tidak jelasnya status inilah buruh mulai melawan dan mendirikan serikat.  Dari orang ke orang, divisi ke divisi, pabrik ke pabrik, para buruh ini terus mengabarkan dan mengajak buruh lainnya untuk melawan. Ada yang menang, ada yang kalah. Namun, pelajaran yang paling penting adalah kesadaran bahwa penderitaan yang mereka alami itu disebabkan oleh kapitalisme, dan karenanya buruh pun akan membawa semangat perlawanan di tempat dan di waktu yang berbeda, sebagaimana Gito Martono. Gito merupakan buruh BUMN PT. Jasa Marga yang bekerja sebagai pengemudi ambulance. Tugasnya adalah mengevakuasi dan melakukan pertolongan pertama korban kecelakaan dari pintu Tol Padalarang hingga Pasteur. Memunguti potongan tubuh yang terburai dan berserakan di jalan, kadang terpaksa Gito lakukan, demi menyambung hidup.

Perkenalan Gito dengan hak-hak buruh bermula ketika istrinya dipaksa membayar sejumlah uang oleh Rumah Sakit tempatnya bekerja. Karena harus meluangkan waktu untuk mengurus anak, istri Gito memutuskan untuk berhenti sebagai perawat kendati kontrak belum habis. Hal inilah yang diklaim pihak Rumah Sakit untuk memaksanya membayar. Dari sinilah Gito mulai membaca UU Perburuhan. Gito akhirnya sadar PT. Jasa Marga perusahaan BUMN tempatnya bekerja ternyata sama sekali tak memenuhi hak-hak dasar perburuhan. Ia mulai resah dan gelisah, obrolan sehari-harinya dengan teman kerjanya kemudian diisi seputar hak-hak perburuhan. Tentu ini sama sekali tak mudah. Ketika pada tahun 2010 perusahaan-perusahaan mulai mengalihkan tugas penyediaan tenaga kerja ke vendor yang lain (outsourcing), banyak buruh PT. Jasa Marga di-PHK, salah satunya Gito.

Dari pintu tol ke pintu tol yang lainnya di Jawa Barat, Gito berkeliling menyebarkan ide pentingnya perusahaan untuk memenuhi hak-hak buruh. Ia mengajak kawan-kawannya untuk menolak menandatangani kontrak kerja baru yang diikuti dengan satu persatu hak buruh yang hilang. Seperti, masa kerja yang seharusnya 4 tahun menjadi nol kembali. Ini berdampak pada hak-hak lain yang hilang seperti cuti, upah dll.

Kendati, mendapat penolakan bahkan intimidasi perusahaan, Gito dan kawan-kawan buruh PT. Jasa Marga lainnya mulai melakukan protes. Berawal dari membuat serikat sebagai alat perjuangan, buruh PT. Jasa Marga mulai mengadakan pendidikan, mogok dan aksi-aksi untuk menuntut haknya.

Kasusnya masih belum ada kejelasan hingga kini. Namun, semangat perlawanannya terus begelora di jiwanya. Ia kini aktif mengadvokasi kawan-kawan buruh lainnya bersama FSP PPMI-SPSI (Federasi Serikat Pekerja Percetakan Penebitan Media Informasi-Serikat Pekerja Seluruh Indonesia).

“Dalam semangat menghadapi kesulitan akan muncul kecerdasan, dan dalam kelengahan menikmati kemenangan, akan nampak kebodohan baru.”

Hermawan

Hal lain yang perlu dicatat adalah transformasi kesadaran buruh akibat kontradiksi-kontradiksi yang dihadapi buruh sehari-hari. Hermawan adalah salah satunya, kendati awalnya ia bekerja sebagai informan manajemen di PT. Kahatex, namun kontradiksi-kontradiksi yang ia temui ketika mengikuti buruh aksi, mogok hingga pendidikan mengubah 180 derajat kesadaran Hermawan tentang buruh. Bahkan ia mendirikan serikat dan hingga kini masih aktif sebagai Presiden Serikat Buruh KSN (Konfederasi Serikat Nasional).

Semua perlawanan-perlawanan yang dituliskan oleh ke 15 buruh tersebut banyak dipengaruhi oleh Serikat Buruh. Melalui berbagai macam hal yang dipelajari di serikat buruh, dari hal-hal yang bersifat membantu buruh untuk melawan hingga mereka yang menghambat dan melemahkan perjuangan buruh, seperti politik elite serikat hingga pengkhianatan anggotanya. Melalui serikat, buruh ditempa dan diasah dalam berorganisasi dan membangun basis-basis perlawanan.

Bersama serikat, buruh melawan belenggu perbudakan perusahaan

“Dari pertemuan ke pertemuan. Dari demonstrasi ke demonstrasi di berbagai lokasi. Dari kenyataan hidup yang saya alami sehari-hari, akhirnya saya menyimpulkan; buruh harus berserikat dan berjuang.”

Muryanti

Apa yang akan Anda atau pasangan Anda lakukan jika perusahaan tempat Anda atau pasangan Anda bekerja tak memberikan cuti hamil? Mungkin Anda akan keluar dari pabrik atau memilih mengubur dalam-dalam mimpi untuk mempunyai momongan demi tetap mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mendesak.

Pilihan yang kedua dipilih oleh 200 orang buruh borongan[1] di PT. Alim Rugi[2] untuk tetap melanjutkan hidup dibawah kondisi kerja dan hak-hak dasar perburuhan yang dilanggar perusahaan. Mereka terpaksa hidup berkeluarga tanpa memiliki anak karena perusahaan tak mau memberikan cuti hamil bagi buruh untuk melakukan proses persalinan.

Bekerja dari Senin sampai Sabtu dan dua kali longshift (perpanjangan jam kerja), buruh borongan juga dipaksa kerja lembur pada hari Minggu. Bahkan Salsabila (nama samaran) sempat menulis bahwa ia pernah terpaksa bekerja full seminggu selama satu bulan. Kondisi inilah yang mendorong Salsabila untuk melawan. Ia mulai membicarakan hal ini dengan teman-teman buruh borongan. Hingga pertemuan dengan serikat membuat Salsabila semakin berani untuk melawan. Diawali oleh Salsabila yang melawan dengan memaksa perusahaan untuk memberikan cuti hamil, buruh borongan lainnya kemudian satu persatu mulai berani memutuskan untuk mengandung dan memiliki anak.

Apa yang menimpa Salsabila dan buruh borongan lainnya, sering kita temukan ketika kita membaca buku Buruh Menuliskan Perlawanannya. Kebanyakan dari mereka memulai perlawanan atas apa yang mereka alami di perusahaan yang menindas mereka. Mulai dari larangan Shalat akibat tak diperbolehkan meninggalkan pekerjaan, hingga bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Para penulis, yang merupakan buruh itu, akhirnya memutuskan untuk mendirikan serikat atau bergabung dengan serikat yang ada untuk memulai perlawanan mereka.

Di serikat buruh, penulis belajar mengorganisir perlawanan terhadap kesewenang-wenangan perusahaan. Dari mulai belajar hukum perburuhan, sejarah perburuhan dan belajar analisa menggunakan konsep Materialisme Dialektika Historis dan Ekonomi-Politik. Hingga belajar mengorganisir pertemuan dan aksi massa. Blokade Tol dan melumpuhkan kawasan industri merupakan kemenangan-kemenangan kecil yang mereka peroleh setelah berkali-kali harus tiarap di bawah bentakan atasan juga hentakan sepatu lars. Bahkan, salah satu penulis yang bernama Budiman sempat menuliskan kemenangan kecilnya pada 2012, yang bentrok melawan sepasukan preman dan ormas bayaran PT. Rapippack untuk menghadang konvoi buruh.

Serikat juga bahkan menjadi tempat belajar bagi Sri Jumiati untuk memperjuangkan hak sejak dalam rumah. Tak hanya mendapatkan penindasan di tempatnya bekerja, Sri Jumiati mesti menghadapi siksaan dari suaminya sepulang bekerja atau ketika hendak berangkat. Perkenalannya dengan kawan-kawan di serikat membuatnya sadar bahwa perlakuan suaminya terhadapnya tak akan berhenti sampai ia mati. Oleh karenanya ia memberanikan diri untuk melawan. Walaupun ia sempat jatuh lagi ke lubang yang sama, Sri Jumiati akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah dan tak akan pernah menginjakkan kakinya kembali di sana. Serikat kemudian menjadi rumah Sri, hari-harinya dipenuhi dengan pendidikan, advokasi hingga aksi massa. Bersama serikat buruh, Sri Jumiati terbebas dari belenggu kekerasan rumah tangga dan penindasan perusahaan.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian dan perlawanan-perlawanan buruh yang tak sempat tertuliskan. Banyak yang tercatat, dan masih banyak yang luput tercatat. Kisah kehidupan, perjalanan, kemenangan dan kekalahan buruh akan menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi para aktivis, mahasiswa dan buruh itu sendiri dalam berjuang menciptakan keadilan untuk semua.

Jika buruh mampu menuliskan perlawanannya, maka hal apa yang akan Anda tulis dan wariskan untuk anak-cucu kelak?

 

Catatan:

[1] Buruh borongan adalah buruh yang bekerja di tempat yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang sama dengan buruh tetap. Tapi dibedakan perhitungan upahya. Jika buruh tetap mendapatakan upah berdasarkan upah minimum, buruh borongan berdasarkan satuan hasil.

[2] Nama perusahaan disamarkan oleh penulis. PT. Alim Rugi merupakan perusahaan yang berlokasi di Bekasi ini memproduksi kardus untuk produk kemasan. Mempekerjakan sekitar 600 buruhnya, PT. Alim Rugi memberikan upah dibawah  UMK Kota Bekasi 2011, Rp. 1.286.421. Di tahun tersebut PT. Alim Rugi masuk di dalam sektor I Rp. 1. 414.163.

 

Ilyas Gautama lahir 22 Mei 1997. Tercatat sebagai mahasiswa FISIP UNPAS

No Comments

Post A Comment