Metaruang | CIA-CCF = Dukun Santet Kebudayaan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17343
post-template-default,single,single-post,postid-17343,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

CIA-CCF = Dukun Santet Kebudayaan

Judul: Finks, Bagaimana CIA Mengelabui Para Sastrawan Besar Dunia

Penulis: Joel Whitney

Alih Bahasa: Muhammad al-Mukhlishiddin

Penerbit: Yayasan Pustaka Jungkir Balik (2018)

Halaman: 522 hlm.

 

 

Peran serta CIA lewat CCF dalam Perang Dingin antara blok barat dan blok timur ibarat kerja dukun santet dalam hal kebudayaan. Kerja-kerjanya bisa dikata ‘mistik’ dan seluruhnya berada di balik layar, dari apa yang vulgar di permukaan yang biasanya terkonsentrasi di ranah militer, atau jargon-jargon politik AS maupun Soviet kala itu.

Soviet bisa tiba-tiba gaduh gara-gara hak cipta Doctor Zhivago yang meroketkan nama Boris Pasternak sekaligus membunuhnya pelan-pelan. Muslihat yang sama juga diterakan pada Ernest Hemingway lewat kebijakan editorial majalah The Paris Review. Atau seperti apa yang terjadi pada penulis fiksi sejarah, John Berger, yang harus dicekal tujuh tahun lamanya. Penyensoran keras juga dilakukan majalah Encounter terhadap karya Emily Hahn, akibat redaksinya (yang disetir CIA tentu saja) kerepotan menangani artikel Hahn yang seorang pakar Cina dan kontributor The New Yorker itu, dalam hal mengritik kebijakan luar negeri AS.

Bermula dari sebuah Long Telegram kiriman George F. Kennan dari Moskow yang menduga agen Soviet telah menyusup ke ragam organisasi di seantero dunia. (hal. 45-46). Mulai dari sini, bila para penulis, jurnalis, dan ikon kultural serta warga negaranya sendiri tidak berpihak pada CIA, pada kebijakan negaranya yang paranoid itu, maka mereka secara terang-terangan berada di pihak lawan, yakni komunisme. Paham yang digambarkan komponen kebudayaan pada masanya sebagai antek setan.

Pendirian Kantor Koordinasi Kebijakan (OPC) dan Divisi Organisasi Internasional (IOD), salah satunya dipicu oleh laporan Kennan, dan tak menunggu lama dari situ CCF terlahir. CCF (Congress for Cultural Freedom) berdiri pada 26 Juni 1950 dan dihuni oleh banyak agen propaganda yang bekerja di radio, buku, film, seni, musik, buruh, hingga perhimpunan mahasiswa. Pada 1952 OPC yang mula-mula berada di bawah Departemen Negara digabungkan dengan CIA. Dari sini lahir payung baru untuk urusan propaganda, operasi terselubung, dan perang urat syaraf.

Di bawah raksasa ini terdapat majalah-majalah baru, biasanya berada di bawah kedaulatan CCF dan disetir oleh CIA melalui pelbagai front. Dari mulai majalah fenomenal The Paris Review (Plimpton, Matthiesen, dan ‘Doc’ Humes menjadi sorotan utamanya), Mundo Nuevo dan Combate di Amerika Latin, der Monat di Perancis, Encounter di Inggris, serta Jiyu di Jepang. Fungsi budaya di era Perang Dingin ini tidak hanya sebagai pengaman apa yang terjadi di basis, melainkan menyeret sekuntum puisi atau sebuah novel agar sama tajam dengan sebilah bayonet yang ditusukkan ke bagian punggung lawan.

Dalam kaitannya dengan Perang Dingin, yang dinyatakan CIA bahwa budaya sebagai senjata, fungsinya lebih banyak melegitimasi kekerasan yang dilakukan aparatus negara dalam misi-misi intervensionis dan imperialisnya atas suatu negara. Sehingga yang termasuk di dalamnya, baik sastra, film, atau seni rupa, bukan lagi sebagai kedok dari sebuah ideologi dan aparatus tertentu, melainkan menjadi senjata itu sendiri.

Asupan ideologi terbaik tak lagi datang dari buku-buku teori, dari filsafat, bahkan untuk batasan tertentu, juga bukan datang dari agama. Melainkan datang dari budaya. Ideologi datang menunggang sastra, menunggang film dan musik. Seseorang tidak akan bertanya lebih jauh mengapa salah seorang dalam novel memilih A atau B, kebebasan seperti apa yang sedang didera, determinasi apa yang sedang mengkondisikannya, dll. Untuk dasar itu pula lah mereka tak akan bertanya atau bahkan pura-pura tidak tahu perihal siapa yang membekingi ekspresi budaya (materialnya) di belakang aktivitas-aktivitasnya itu.

Di era-era Perang Dingin ini juga metode Kritik Baru mendapat panggung utamanya. Manual dalam mengkaji teks sastra ini berutang banyak pada pemahaman bahasa yang ditemukan Sir William Empson dalam Seven Types of Ambiguity: “Pencapaian istimewa Empson dalam Seven Types of Ambiguity,” adalah caranya membahas puisi yang sekaligus merupakan acuan dalam menyikapi sastra yang menurutnya penting dalam sebuah kritik… eksak, bisa diajarkan, dan kelihatannya terlepas dari perdebatan politis pada jamannya. (hlm. 39)

Saat metode kritik akademis lainnya menekankan konteks historis suatu teks sastra, Kritik Baru berusaha menelaah teks secara ahistoris, sebagai sistem yang tertutup dan utuh dalam dirinya sendiri. Tak hanya pada susastra, CIA pun mengirim Boston Symphony Orchestra melakukan tur Eropa pertamanya dan secara terselubung menajai pameran pertama ekspresionisme abstrak di Eropa. (hlm. 45)

Sebagaimana pendekatan ahistoris bernama Kritik Baru terhadap sastra, cat yang ditorehkan Jackson Pollock tidak membawa narasi Marxis atau anti-imperialisme seperti yang terdapat dalam mural-mural Diego Rivera. Ekspresionisme Amerika ini justru menyoroti kebebasan individu dalam suatu kampanye terselubung melawan realisme sosial, sebuah aliran yang didanai secara terang-terangan oleh Franklin D. Roosevelt selama masa Depresi. (hlm. 46)

Dana spionase

Tentu saja kerja-kerja budaya butuh dana besar. Namun CIA tidak secara gamblang mengucurkan sejumlah dana kepada para organ dan front tempat para agennya bekerja. Ambil contoh The Paris Review, majalah itu tidak seperti pengemis dana hibah yang dikucurkan oleh suatu ideologi tertentu. Tapi CCF secara diam-diam memang mempunyai aturan bahwa media cetak yang editorialnya memancarkan ‘nilai-nilai Amerika’ yang umumnya sejalan dengan kebencian pemerintah AS atas komunisme akan didahulukan apabila mengajukan permohonan donor (hlm. 27), dan kepada siapa lagi kalau bukan CIA-CCF?

Masalah pendanaan Quest, media cetak asuhan CCF di India, diadakan dari subsidi silang CCF serta laman advertorial perusahaan minyak (hal. 240). Sementara Combate, salah satu front media cetak CIA di Kosta Rika, pendanaannya berasal dari tempat yang sama seperti majalah lain dalam kerajaan penerbitan CIA, khususnya melalui sebuah organisasi bernama Lembaga Internasional Riset Buruh, atau ILLR. Inilah sisi FEC (Free Europe Committee) dari CIA, front sama yang digunakan untuk dukungan propaganda pada kisruh Boris Pasternak.

Uang CIA untuk Combate dilarikan dahulu melalui Kaplan Fund di New York. Kalau pinjaman eksternal pertama Paris Review dari CIA diselubungkan melalui harta dari ragi Fleischmann dan yayasan front lainnya, uang CIA untuk Combate milik Norman Thomas dan Jose Figueres berasal dari harta hasil anggur dan tebu Jacon M. Kaplan; inilah uang dibalik Welch’s Grape Juice. Setelah Kaplan mengeluarkan 35.000 US Dollar sekali, CIA mengucurkan lebih dari satu juta dolar ke ILLR melalui Kaplan Fund. (hal. 279)

Yang mencengangkan lagi adalah, Liga Muslim di India jaman kemerdekaan juga didanai oleh Aga Khan (uang Aga Khan, kebetulan, disaring melalui anaknya Sad Ruddin—membantu mendanai Paris Review. Dana itu berandil dalam memecah faksi-faksi yang ditakuti Inggris di india, yakni Muslim dan Hindu. (hal. 231). Hal yang sama didera oleh para raksasa donor seperti Ford yang menjadi langganan sekaligus mempersilakan lembaganya menjadi semacam pipanisasi dana CIA.

Lembaga terkait ACCF (American Committee fot Cultural Freedom), yang mendapatkan gelontoran dana sebesar 737.610,22 US Dollar per-tahun hanya dari CIA dan front CIA (1953-1954) rupanya turut berkontribusi terhadap permainan kotor rasisme dan supremasi kulit putih di Amerika dengan cara membuat daftar “terduga” pendukung komunis, di antaranya Civil Right Congress yang difitnah terus-menerus oleh media, hingga puncaknya pada peristiwa pembunuhan keji seorang kulit hitam oleh, secara tidak langsung, regulasi Jim Crow (segregasi sekolah dan wilayah). (hal. 62)

Ragam keburukan yang nyata terjadi di tingkat internal Amerika atas politik paranoianya itu, jelas bukan sebagai tauladan anti-komunisme terlebih pijakan ihwal kebebasan berbudaya. Organ-organ dan tindakan keji ACCF yang menodongkan bayonet itu menyisakan sejarah kelam, bahwa ternyata tindakan rasisme di Amerika punya benang merah dengan iklim perang dingin, yang mana Amerika begitu berambisi.

Ketika majalah independen kiri J.P Sartre, Les Temps Modernes, menerbitkan sebuah artikel yang menghubungkan FBI dengan KKK, ACCF menanggapi dengan terburu-buru, dan meminta anggotanya untuk menuliskan serangkaian bantahan di Preuves. Salah satunya berjudul “Egalitarianisme aux USA” karya Ernest van den Haag, sang pendukung buta segregasi. (hal. 183)

Lain halnya dengan apa yang menimpa John Berger, yang memenangi Man Booker Price (1972) atas novelnya “G”. Berger mengkritik penghargaan terhadap dirinya sendiri sebagai tindakan kolonialis, dan mendonasikan hadiahnya pada Black Panthers meski ia tahu karirnya dicekal oleh media-media asuhan CIA di Amerika (hal. 170).

Ernest Hemingway pun menjadi tauladan tersendiri dalam kisah ini. Hemingway mendonasikan uang pada partai komunis Kuba dan diketahui memancing bersama Castro dan Guevara pada awal masa jabatan mereka (dalam sebuah lomba memancing pada Mei 1960 yang dimenangkan Castro, Hemingway menjadi juri). Clancy Sigal mencatat, “Ketika rezim Batista tumbang, Hemingway ‘mendoakan’ Fidel, dan kemudian mendonasikan hadiah Nobel Sastranya pada Castro. Sejak itu pemerintahan revolusioner baru itu menghormati ‘Ernesto’ dengan julukan anak angkat Kuba.”

Dengan Castro berkuasa, Hemingway—yang kembali dari Spanyol—terlibat dalam pergolakan di seputar Operasi Truth dengan mengecam media AS karena sikap mereka menghantam Kuba, dan dia bahkan mencium bendera Kuba. “Saya senang bisa kembali ke sini, karena saya menganggap diri saya orang Kuba,” katanya. “Simpati saya beserta Revolusi Kuba dan segala kesulitan kami. Saya tidak ingin dianggap sebagai Yanqui.”

Sarjana Kennet Kinnamon mengenang bagaimana dokter Hemingway, Dr. Jose Luis Herrera Sotolongo, menghubung-hubungkan Hemingway dengan Fidel Castro. Hemingway pernah menyokong penggulingan diktator Gerardo Machado pada 1930-an dan pernah mendukung partai komunis Kuba dengan donasi sebesar 20.000 US Dollar selama masa revolusi Kuba. (hal. 314)

Tapi, apa kata George Plimpton (begawan kultural dari The Paris Review) soal ini? Plimpton mengirimi Hemingway surat terbuka milik Norman Mailer, rekan sesama penulis, pada Januari 1961. Dan duta besar AS di Kuba belum lama itu memberi tahu Hemingway bahwa masa mukimnya yang berkepanjangan di Kuba dianggap tidak patriotik di Amerika Serikat. Lebih jauh, surat itu menyarankan agar Hemingway memilih jalur non-blok daripada Soviet.

CIA tampaknya hendak bermain cantik dengan tidak mengetengahkan “memilih jalur Amerika” dan menekankan “memilih jalur nonblok daripada Soviet.” Hemingway untuk beberapa waktu memang kembali ke Amerika. Namun tragis, bak kena santet, ‘Papa’ Hemingway diintai terus-menerus oleh agen FBI. Hal tersebut membuatnya stress setengah mampus dan memilih akhir hayat yang memerikan: bunuh diri.

Psikosis Paranoid sampai Manik Depresi

Terdapat keunikan kasus, khusus bagi mereka di era Perang Dingin itu, Amerika mengidap semacam paranoia kolektif. Robert Cowell anggota ACCF yang juga seorang penyair, harus diseret masuk ke rumah sakit jiwa oleh empat orang polisi setelah gagal membuktikan Elizabeth Ames, pengurus Yaddo, sebagai mata-mata komunis. Novelis Malcolm Cowley, seorang anggota pengurus Yaddo, menceritakan kembali pada temannya Ernest Hemingway, perubahan suasana yang terjadi kemudian. Cowley mencatat “akhir bahagia” setelah Ames dinyatakan bersih. Tapi, dia melanjutkan bahwa Lowell “kehilangan kewarasannya” pada waktu-waktu selanjutnya dan “mesti diborgol dengan susah payah oleh empat orang polisi dan dibawa untuk diopname. Psikosis paranoid adalah perkiraan dokternya.” (hlm. 56)

Dalam insiden itu, Cowley melihat adanya psikosis kolektif, bukan sekedar psikosis perseorangan. “Yang kita saksikan adalah paranoia yang mewabah seperti campak menyebar di lingkungan sekolah. Tidak lama setelah itu,” Cowley mengakhirinya, kolumnis dari Washington “Drew Pearson melakukan siaran terkenalnya tentang [Sekretaris Departemen Pertahanan Negara James] Forrestal dan bagaimana saat dibawa ke rumah sakit jiwa ia berteriak, ‘Rusia mengejarku!’ Bangsa besar ini mengadopsi saran seorang paranoid Sekretaris Departemen Pertahanan dalam kebijakan-kebijakannya. Barangkali inilah jaman paranoia, jaman delusi akan perburuan dan keagungan internasional. Barangkali orang-orang seperti Forrestal dan Robert Lowell adalah duta dan Yesus jaman ini.” (hal. 56)

Psikosis adalah suatu gangguan jiwa dengan gejala umum seperti kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan, pikiran, kemauan, motorik, dst. Sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak lagi sesuai dengan realitas dan sulit dimengerti oleh orang sekitarnya. Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan serta ide-ide yang salah yang sifatnya permanen. Istilah paranoid ini dipergunakan pertama kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863, untuk menunjukkan suatu kecurigaan yang berlebihan.

Gejala-gejala psikosis paranoid antara lain, 1) sistem waham yang kaku, kukuh dan sistematis, terutama waham yang bernada pengejaran, perburuan, persembunyian, dan rasa keagungan diri sendiri 2) pikirannya dikuasai ide-ide yang tidak sesuai dengan realitas, kaku, dan memaksakan pandangannya 3) mudah timbul rasa curiga. Sedangkan faktor penyebab psikosis antara lain adanya over confidence; tak adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferioritas.

Dalam bahasa Žižekian, paranoia seperti ini disimbolkan dengan serangan ikan hiu dalam film Jaws. Hiu yang menjalankan fungsi sebagai penyatu dari ‘multitude of fears’ itu menyatukan ragam jenis ketakutan (paranoia), demi mempertukarkannya dengan satu jenis ketakutan saja, seperti yang sudah-sudah, yakni komunisme. Dalam cara seperti ini, pengalaman kita akan realitas akan jauh lebih sederhana. Karena semua telah ditemukan musuh utamanya dari pelbagai persoalan hidup, yakni komunisme si antek setan.

Atas dasar itu pula, DSM edisi selanjutnya mesti mempertimbangkan untuk memasukkan komunisme-paranoia, atau gangguan mental yang menyebut segala permasalahan ini bersumber dari para komunis, sebagai gejala kelainan mental. Kelainan yang, seperti dipaparkan Cowley, akan juga mewabah dan menyebar ibarat campak. Atau lebih mewujud wabah fantasi dalam makna Žižekian.

Ragam realitas yang sengaja diburamkan oleh sejarah dunia ini, mampu Joel Whitney tuliskan dengan nada satir yang berhasil memeras kesia-siaan dari sebuah ‘santet’ kultural yang dipiloti dari jarak jauh, misalnya, oleh Frank Wisner (Kepala Departemen Strategis CIA) yang mengalami goncangan mental dan memicu depresi yang melumpuhkan untuk, bertahun-tahun kemudian, juga melakukan bunuh diri. (hal. 98)

Bagi Amerika jelas sudah. Kudeta adalah aktivitas yang dilakukan baik dengan pena atau pun dengan pedang. Finks adalah sejarah dari sebuah masa lalu yang sengaja dilipat, tentang bangsa dan negara, tentang organ dan individu. Sejarah bagi mereka harus dibangun melalui disinformasi dan didukung dengan penyaniayaan, represi militer, pengeboman, dan penyogokan (apa yang disebut badan itu sebagai “tindakan eksekutif”). Lalu bagi generasi selanjutnya peristiwa itu diberi polesan sastrawi oleh para sastrawan hebat yang koceknya dipenuhi uang oleh CIA.

Di Indonesia sendiri, kita belajar banyak melalui serangkaian delusi pasca 65’. Kehadiran Finks (diterbitkan Pustaka Jungkir Balik), semakin melengkapi radar kemawasdirian bagi siapapun yang hendak berlaku waras di tengah kubangan kapitalisme yang hampir meliputi segala lini hidup. Keputusan yang terlampau lugu dari para sastrawan besar dunia itu, tak menutup kemungkinan terus berlangsung hingga hari ini. Diidap oleh seniman yang tumpul nurani dan sikap politiknya. Sokongan dana korporat (siapa yang tahu CIA tengah mencuci uangnya di yayasan Ford?) dan pemerintah bobrok kini tak hanya berupa sogokan terhadap nurani, melainkan tindakan anal tanpa pelumas yang terang-terangan dirayakan.

 

 

Bacalah lebih lanjut:

  1. Red Scare Racism and Cold War Black Radicalism, James Zeigler, University Press of Mississippi (2015)
  2. The Plague of Fantasies, Slavoj Žižek, Verso (1997)
  3. DSM V, American Psychiatric Assocation (2013)
  4. Kekerasan Budaya Pasca 65’, Wijaya Herlambang, Marjin Kiri (2013)
  5. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Maramis, W.F, Airlangga University Press (1980)
  6. The Pervert’s Guide to Ideology, Slavoj Žižek, Dir. Sophie Fiennes (2012)

 

F. Ilham Satrio

F. Ilham Satrio (Juni, 1989) | buruh pabrik onderdil

No Comments

Post A Comment