Metaruang | Citra Perempuan Masa Silam yang Dibawa Pulang Sejarawan Asing
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
43
post-template-default,single,single-post,postid-43,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Citra Perempuan Masa Silam yang Dibawa Pulang Sejarawan Asing

 

Judul : Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVII-XIX
Penulis : Peter Carey , Vincent Houben
Alih Bahasa : Peter Carey
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, Maret 2016
Hal : 112 halaman

 

Keprihatinan, seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan, seperti halnya optimisme semua itu adalah pertanda rasa ikut memiliki. Atau rasa terpanggil. Barangkali karena tanah air memang bukan cuma sepotong geografi dan selintas sejarah. Barangkali karena tanah air adalah juga sebuah panggilan. – (Goenawan Mohamad)

Peter Carey bersama dengan Vincent Houben kali ini berkolaborasi membuat buku pengantar hasil penelitian. Mereka mengangkat tokoh-tokoh besar perempuan-perempuan Jawa abad 17-18. Peter Carey adalah sejarawan Inggris yang khusus meneliti sejarah Jawa. Selama 40 tahun ia berkecimpung menjadi sejarawan.Carey telah membuahkan karya biografis berjudul Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro yang menuai pujian dari berbagai kalangan. Vincent Houben sendiri merupakan sejarawan asal Belanda yang aktif menulis dan telah menghasilkan buku, antara lain Kraton dan Kumpeni;Surakarta and Yogyakarya. Tidak heran jika buku yang menjadi kolaborasi keduanya, seputar sejarah Kerajaan Jawa.

Banyak dari kita tidak peduli dengan peninggalan sejarah. Salah satunya naskah kuno yang ditulis oleh nenek moyang. Hubungan arsip dan naskah kuno dengan buku ini sangat erat, dapat terlihat dari sumber yang dipakai Peter dan Vincent dalam membuat buku sejarah ini, antara lain Babad Jatuhnya Yogyakarta, Babad Diponegoro,arsip Kolonial Belanda dan sumber pendukung lainnya. Khususnya tentang kehidupan perempuan pada masa itu. Bahwasanya pada masa silam, banyak sekali perempuan hebat di tanah Jawa.

Pada abad 18, perempuan Eropa sedang memperjuangkan hak perempuan dari pengekangan dan pemasungan oleh kaum patriarki. Indonesia, sejak abad 17, di tanah Jawa sendiri sudah terdapat korps prajurit éstri. Bersumber dari catatan Rijklof van Goens (1619-1682), duta besar luar biasa Belanda yang diutus ke keraton Mataram memberikan informasi mengenai korps prajurit éstri yang terdiri dari 150 perempuan muda. Mereka bukan hanya dilatih memainkan senjata, melainkan juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik.

Meski begitu, hal itu tidak membuat mereka menjadi subjek secara utuh. Perempuan-perempuan tersebut masih menjadi “hadiah” bagi para lelaki. Rijklof menjelaskan bahwa pasukan jarang diambil sebagai selir raja, namun tidak jarang mereka dihadiahkan kepada bangsawan untuk dijadikan istri (Carey, 2016: 19). Sebagai istri bangsawan, mereka dianggap lebih beruntung daripada selir. Hal yang mengingatkan kita pada kisah Drupadi yang diperistri Pandawa setelah Arjuna menang dalam sayembara untuk kaum bangsawan. Memang tak jarang perempuan pada masa itu dibesarkan untuk menjadi cantik atau bahkan objek seksualitas, demi kesuksesan mereka menjadi selir atau perempuan peliharaan kerajaan.

Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing dengan Raden Ajeng Kartini (kita memperingati Hari Kartini pada 21 April). Kartini dikenal sebagai pelopor kesetaraan derajat perempuan dan laki-laki. Namun, ada beberapa pahlawan perempuan yang “pamor”-nya jarang terdengar. Sebut saja, Nyi Ageng Serang seorang Raden Ayu yang berani angkat senjata untuk membantu putranya, Pangeran Serang II dengan memimpin pasukan berkekuatan 500 orang di kawasan Serang-Demak pada bulan pertama perang Jawa. Dalam catatan, penulis pun mengatakan bahwa mustahil untuk membuat biografi untuk Nyi Ageng Serang karena data yang terdapat pada arsip-arsip kolonial Belanda dan naskah kuno jumlahnya sangat sedikit. Itu akan menjadi tantangan besar untuk meneliti sejarah perempuan pada abad yang lampau.

Buku ini merupakan sebuah buku pengantar sejarah yang cukup lengkap. Cukup memantik siapapun untuk mengambil satu atau dua nama buat dikaji lebih dalam. Nilai tambah dari buku ini adalah terdapatnya foto dan ilustrasi yang memperkuat isi buku tersebut. Sumber foto berasal dari Universiteits Bibliotheek, Leiden. Membuktikan bahwa masih banyak arsip sejarah Indonesia di Belanda yang patut orang Indonesia pelajari lebih lanjut. Membaca buku ini seperti melihat kepulangan identitas pahlawan perempuan Jawa yang jarang masyarakat Indonesia ketahui.

 

Dwirulianti Midori Putri

Dwirulianti Midori Putri. Lahir di Jepang. Kini masih belajar menulis karya sastra yang berkualitas. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis.

No Comments

Post A Comment