Metaruang | Collapse: Nietzsche, Bukowski, sampai Justin Vernon
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
6
post-template-default,single,single-post,postid-6,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Collapse: Nietzsche, Bukowski, sampai Justin Vernon

 

Andika Surya kita kenal sebagai gitaris A.L.I.C.E. Ia pun mengisi formasi beberapa band mulai dari Blind to See, Restrain, Pitfall, Megamaut, dan Tragedi.  Tahun 2016 ini, Andika hadir dengan proyek solonya dengan nama Collapse. Di proyek solonya ini, Andika menghadirkan nuansa dan atmosfer yang berbeda dari beberapa proyek musikalnya bersama band-band yang pernah ia tunggangi. Dengan mengusung alternative-rock / post-hardcore / gloomy yang meminjam tone a la Nothing hingga Title Fight. Namun dengan polesan musikal khas Andika Surya sendiri.

10 Agustus 2016, Collapse merilis debut mini album pertamanya yang bertajuk “Grief EP”. Mini album ini dirilis di bawah naungan Royal Yawns Records dalam bentuk kaset dan CD. Dalam proses pengerjaan mini album ini, Andika Surya dibantu oleh Alyuadi (Heals), Dawan (Haul) dan Kiki (Fuzzy, i).

Metaruang berkesempatan untuk mewawancarai Andika Surya perihal kesibukannya dengan proyek solonya itu. Juga perihal hal-hal lain yang berkaitan dengan kerja kreatifnya baik di A.L.I.C.E maupun di Collapse.

Simak wawancaranya berikut.

Metaruang
Setelah malang-melintang di Restrain, Blind to See, Pitfall, Megamaut, Tragedi juga A.L.I.C.E, apa yang membuat Andika Surya akhirnya menginisiasi proyek solo Collapse?

Collapse
Ya itu, mencoba eksplor dan mengetahui self-limitsampai mana, mencoba sesuatu yang baru. Dan kebetulan saya punya stok riff dan aransemen yang entah mau digunakan untuk apa.

Metaruang
Dilihat dari pengemasan sampul Grief EP, terkesan begitu konseptual. Pesan atau hal apa yang ingin Collapse sampaikan di debut rilisannya kali ini?

Collapse
Dari dulu saya suka rilisan yang insert-nya banyak foto dan tulisan, kayanya seru aja. Dari cover sih sebenernya itu menggambarkan suasana gundah dan gelisah versi saya, insert dan sleeve-nya ya dokumentasi ketika rekaman dan beberapa foto saya waktu kecil.

Metaruang
Mungkin Jane Doe, Calcullating Infinity juga Option Paralysis acap kali dijadikan album rujukan musik-musik  “menghitung”, tak terkecuali bagi A.L.I.C.E. Lantas, album apa yang memantik lahirnya komposisi musik Collapse yang notabene terbilang baru ini?

Collapse
Jeff Buckley – Grace, Bon Iver – S/T, Foo Fighters – The Colour and the Shape, Saves The Day – Stay What You Are, Title Fight – Floral Green, dan masih banyak lagi.

Metaruang
Sejauh mana sastra berpengaruh pada lirik-lirik Collapse? Terlebih dalam sampul Grief EP, terselip kutipan dari dialog dokumenter penyair Bukowski.

Collapse
Saya sebenernya gak hobi baca buku-buku yang tebal meskipun di kamar saya ada beberapa buku yang saya baca dari hasil rekomendasi teman. Saya sebenernya orangnya lebih visual, lebih suka liat gambar. Tapi gatau kenapa ketika baca Nietzsche, Tolstoy dan nonton dokumenter Bukowski dan George Carlin kayaknya relevan aja gitu ke keadaan yang sedang saya alami.

Metaruang
Buku sastra apa saja yang kiranya mempunyai kesan tersendiri bagi Andika Surya?

Collapse
Nietzsche – Thus Spoke Zarathustra. Ada cerita personal di antara buku ini, saya dan Samsu (Royal Yawns/Ex-A.L.I.C.E.).

Metaruang
Lirik-lirik Collapse cenderung solipsis, semacam ada suara dari narasi seorang Andika Surya yang memandang dunia begitu kaotisnya. Bagaimana sikap reflektif dalam Grief EP itu hadir?

Collapse
Ya kalau tak ada kekacauan maka tak ada kebebasan. Justru disitu letak keindahannya. Saya berusaha ga membatasi diri saya begitupun ketika saya masih di A.L.I.C.E. Inti lain dari Grief itu sendiri kan mempercayai diri kamu sendiri dan menjadi manusia yang unggul.

Metaruang
Seorang Andika Surya dikenal sebagai seorang pelaku musik yang menggadang tema menjurus ke politik di dalam musiknya, apakah unsur politis ini begitu signifikan dalam karya yang digarap Andika Surya? Baik itu saat tengah di A.L.I.C.E atau pun saat di Collapse.

Collapse
Sekarang saya berusaha berbuat baik untuk saya sendiri saja. Entah itu suatu perilaku politis atau bukan sekarang saya ada di posisi sebagai penonton, menyaksikan kacaunya lingkungan sekitar kamu maupun dunia ini, ketika kamu lahir di Indonesia kamu sudah otomatis mendapatkan tiket sirkus dengan kursi paling depan. Jadi nikmati saja, amati dan tertawakan.

Metaruang
Di salah satu lagu A.L.I.C.E yang berjudul “Semua itu yang Kita Sembah Tak Lebih dari Konstelasi”, A.L.I.C.E memasukan aforisma Nietzsche di awal lagu. Adakah Andika Surya pun mengafirmasi sikap Nietzsche dengan segala skeptisismenya?

Collapse
Kita harus mencintai hidup dan hidup dijalani dengan penuh keberanian. Manusia harus siap menghadapi segala tantangan karena itu yang membuat manusia itu menjadi besar, namun manusia harus lepas dari nilai-nilai dan norma-norma tertentu untuk menjadi bebas. Nah dalam musik inilah saya melepaskan diri saya dari dosa dan nilai-nilai yang membelenggu dan berusaha mengekspresikan kebebasan saya, dalam bentuk aransemen musik, narasi, literatur, visual atau apapun.

Metaruang
Latar belakang apa yang menginisiasi terlahirnya Popcore (Awesome Popcore)? Siapa saja yang terlibat di dalamnya?

Collapse
Itu kalau ga salah yang bikin Peter Damascus, saya cuman diajak untuk mengisi dan mensupport acara itu.

Metaruang
Di cover volume 3 Popcore (Awesome Popcore), terkesan begitu provokatif dengan menyelipkan wajah Habib Rizieq yang disandingkan dengan wajah Klu Klux Clan. Apakah itu ada kaitannya dengan demo 4 November kemarin? Bagaimana pendapat seorang Andika Surya mengenai gejala radikalisme agama saat ini?

Collapse
Itu yang bikin Si Peter tuh, hahaha. Ah, radikalisme mah sudah ada dari dulu, warisan turun-temurun, semakin salah maka pengikutnya semakin percaya bahwa itu kebenaran. Kita cuma ngerti sukses dunia akhirat itu dengan ukuran surga. Jadinya cuma cari jalan pintas buat cepet masuk surga.

Metaruang
Dalam “The Shape of Punk to Come” , Lyxzen tidak menyertakan lirik lagu dalam liner notes album Refused itu. Melainkan 12 bab yang ditulis tentang eksplanasi per lagu; 1 bab 1 lagu. Lengkap dengan pandangan politis Refused sendiri. Tak hanya itu, Lyxzen pun membentuk sebuah kolektif diskusi yang ada di Vallmovagen, Umea, Swedia. Seberapa jauh pengaruh sosok Lyxzen bagi seorang Andika Surya selain di ranah musikalitasnya?

Collapse
Secara musikalitas ya The Shape Of Punk To Come kaya manual book untuk saya, “Lyxzen” juga masih “true” sampai sekarang. Itu pun menjadi ide awal untuk A.L.I.C.E. dan Collapse tuh, mendobrak sesuatu dan meraih progresivitas.

Metaruang
Dari beberapa sumber, ada pernyataan dari Andika Surya tentang kekagumannya pada Justin Vernon (Bon Iver / Volcano Choir). Hal itu terbukti kala menghadiri konser Bon Iver di Singapura tempo lalu. Bagaimana pendapat mengenai album Bon Iver terbaru “22, A Million” ? Yang digadang-gadang oleh banyak media musik asing atau pun lokal sebagai album esensial 2016.

Collapse
Nah itu, sama aja kaya saya dengerin Refused atau Converge. Suasana dan feel nya sama. Saya suka sesuatu yang beda aja, dan ada nilai progresnya. Bon Iver tuh akan selalu menjadi misteri, di setiap albumnya pun begitu, albumnya harus didengerin minimal 10 kali dulu baru bisa suka atau ngerti. Selain musiknya saya suka dia dari sisi estetika personalnya juga.

Metaruang
Selama Andika Surya di A.L.I.C.E dan band lain, sangat begitu kentara perbedaan musikalitasnya dengan Bon Iver. Misalkan saat di A.L.I.C.E menggadang konsep golden harvest hardcore (mathcore, crust, punk, hardcore) , begitu pun di band lain atau Collapse saat ini. Adakah implementasi musikalitas Vernon ini hadir di dalam karya-karya musikal seorang Andika Surya saat di A.L.I.C.E atau di Collapse?

Collapse
Di Collapse saya sempet mengcover beberapa lagu Bon Iver. Biar ada perbedaan aja dengan band lain, biar gak bosen lah dan biar gak di cap band genre ini itu. Jelas Vernon sangat berpengaruh dari segi musikalitas maupun spiritnya.

Metaruang
Selain Saves The Day, Turnover dan Basement, Andika Surya pun menyebutkan Title Fight sebagai salah satu influence bagi Collapse. Bisa ceritakan bagaimana pengaruh Title Fight bagi Collapse? Terutama album Hyperview (2015) yang kami kira ada spirit yang sama dengan nomor-nomor di Grief EP.

Collapse
Menurut saya album itu mendobrak term hardcore secara generik aja, meskipun gak sama namun kurang lebih mirip kaya Fugazi yang mendobrak term punk di masanya.

Metaruang
Pasca penggarapan video klip “Memberangus di Kaki Langit” yang dinobatkan sebagai video klip terbaik Rollingstone tahun 2015, bisa diceritakan hal apa saja yang berkesan dari prosesi penggarapan video klip itu? Bagaimana pula sosok mendiang Ewing di mata seorang Andika Surya?

Collapse
Yang berkesan ya karena semua dibantu sama kawan-kawan, semuanya gak ada yang dibayar, benar-benar sukarela dan ikhlas mau bantu, terharu aja gitu dengan hasilnya sampai kaya gitu dan diapresiasi banyak orang, ketika Ewing meninggal ya dia meninggalkan sesuatu yang berharga dan akan dikenang oleh kawan-kawan saya.

Metaruang
Tahun ini saat konser No Problem dari Teenage Death Star, Collapse melakukan debut aksi panggungnya. Siapa saja yang membantu seorang Andika Surya saat tampil di konser itu? Lantas mengapa pula mesti membawakan salah satu nomor dari Trophy Eyes yang berjudul “Chlorine”?

Collapse
Chlorine Itu lagunya Title Fight dari album Hyperview, yang bantu sekarang ada Alyuadi (Heals), Dawan (Haul) dan Kiki (Fuzzy, i)

Metaruang
Setelah lahirnya Grief EP, agenda apalagi yang ingin disuarakan Andika Surya lewat Collapse? Baik di tataran musikal maupun sikap politisnya.

Collapse
Ya mumpung masih muda, saya ingin mempertahankan idealisme saya terus. Karena ketika kamu menjual idealismemu, seketika itu juga kamu jadi sampah sejarah yang berkarat.

 

Pewawancara: Dedi Sahara & Fajar Nugraha

Metaruang

Bergerak, mengakar, kritis.

Tags:
No Comments

Post A Comment