Metaruang | Dua Kata
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17336
post-template-default,single,single-post,postid-17336,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Dua Kata

 

Oleh Isabel Allende

 

IA BERKELANA dengan nama Belisa Crepusculario bukan karena ia telah dibaptis dengan nama itu atau dinamai ibunya, tapi karena ia sendiri telah mencari, sampai kemudian menemukan puisi “kecantikan” dan “senja”, lantas menyelubungi dirinya sendiri di dalam sana. Ia mencari nafkah dengan menjual kata-kata. Ia menjelajahi seluruh penjuru negeri dari pegunungan dingin yang tinggi ke pantai yang terbakar. Ia akan berhenti di pameran-pameran dan di pasar, di mana ia biasa mendirikan empat tiang yang ditutupi oleh tenda kanvas; tempat ia berlindung dari matahari dan hujan untuk melayani pelanggannya. Ia tak perlu menjajakan dagangannya karena dari pengembaraannya yang jauh ataupun dekat saja, semua orang tahu siapa dirinya.

Beberapa orang menunggunya dari tahun ke tahun, dan ketika ia muncul di desa dengan bungkusan di bawah lengannya, mereka akan membentuk antrian di depan tenda lapakannya. Harganya adil. Untuk lima centavos, ia akan menghantarkan ayat-ayat dari ingatan, tujuh ia akan meningkatkan kualitas mimpi, sembilan ia akan menulis surat cinta, dan dua belas centavos ia akan menciptakan penistaan untuk musuh yang tak dapat didamaikan. Ia juga menjual cerita. Bukan cerita fantasi, tapi tetap cerita yang panjang. Kisah-kisah nyata yang dibacakannya dalam sekali bercerita, dan ia tak pernah melewatkan satu kata pun. Dan seperti inilah bagaimana cara ia menggendong berita dari satu kota ke kota lain. Orang-orang membayarnya untuk menambahkan satu atau dua baris kata: anak laki-laki kami lahir, nyaris meninggal, anak-anak kami menikah, hasil panen dibakar di ladang. Ke mana pun ia pergi, kerumunan kecil berkumpul untuk mendengarkan ketika ia mulai membuka mulutnya, dan begitulah cara mereka belajar tentang perbuatan satu sama lain — tentang kerabat jauh, tentang apa yang sedang terjadi dalam perang sipil. Bagi siapa saja yang membayar lima puluh centavonya dalam jual-beli ini, dia akan memberikan hadiah kata rahasia untuk mengusir kesedihan. Bukan kata yang sama untuk semua orang, tentu saja, sebab hal itu akan memicu penipuan kolektif. Setiap orang menerima kata-katanya sendiri, dengan jaminan bahwa tidak ada orang lain yang akan menggunakannya dengan cara seperti itu di alam semesta atau di alam yang melampauinya sekalipun.

Belisa Crepusculario dilahirkan ke dalam keluarga yang begitu miskin dan saking miskinnya, mereka bahkan tidak memiliki nama untuk diberikan kepada anak-anaknya. Ia datang ke dunia begitu saja dan dibesarkan di sebuah negeri yang tak ramah; di mana pada beberapa tahun tertentu hujan menjadi longsoran air yang meruntuhkan segalanya di depan mata kepala mereka dan yang lainnya ketika tak setetespun air jatuh dari langit dan matahari malah membengkak untuk mengisi cakrawala dan dunia menjadi gurun. Hingga ia berusia dua belas tahun, Belisa tak memiliki pekerjaan atau kebajikan selain dari kelaparan yang bertahan dan kelelahan berabad-abad. Selama satu kekeringan yang tak berkesudahan, peristiwa itu akhirnya terjadi – peristiwa di mana ia akhirnya harus mengubur empat adik laki-laki dan perempuannya. Ketika ia menyadari bahwa giliran berikutnya adalah dirinya sendiri, ia memutuskan untuk melintasi dataran  menuju laut, dengan harapan bahwa dengan begitu mungkin saja ia mengelabui kematian di sepanjang cara.

Tanah itu terkikis, terbelah dengan retakan yang dalam, penuh dengan batu, fosil pohon dan semak berduri, dan kerangka binatang yang diputuskan oleh matahari. Dari waktu ke waktu ia bertemu dengan keluarga yang, seperti dirinya, sedang menuju ke selatan, mengikuti bayang-bayang air. Beberapa dari mereka telah memulai pawai sambil membawa gembolan mereka di punggung atau di gerobak kecil, tetapi mereka hampir tak bisa menggerakkan tulang mereka sendiri, dan setelah beberapa saat, mereka harus meninggalkan harta mereka. Mereka menyeret diri mereka dengan penuh kesakitan, kulit mereka berubah menjadi biawak dan mata mereka terbakar oleh sorotan yang bergema. Belisa menyambut dengan lambaian ketika ia lewati mereka, tetapi ia tak dapat berhenti, karena ia tak memiliki amunisi kekuatan yang dapat dibuang untuk tindakan belas kasih. Orang-orang berjatuhan di pinggir jalan, tetapi ia begitu keras kepala dan itu membuatnya selamat ketika ia menyeberangi neraka itu dan akhirnya mencapai tetesan air pertama – benang halus yang hampir tak terlihat yang memberi pakan vegetasi yang kerempeng dan lebih jauh lagi mengalir ke bawah sana, melebar ke aliran kecil dan rawa-rawa.

Belisa Crepusculario menyelamatkan hidupnya. Dan dalam proses penyelematannya, secara tidak sengaja, ia menemukan sebuah tulisan. Di sebuah desa yang dekat dengan pantai, angin meniup sebuah halaman koran di kakinya. Ia ambil kertas kuning rapuh itu lantas berdiri, terpaku padanya. Ia tak dapat menentukan maksud dan tujuannya, sampai rasa ingin tahu mengalahkan rasa malunya. Ia menghampiri seorang pria yang tengah memandikan kudanya di kolam berlumpur, kolam di mana ia telah memadamkan rasa hausnya.

“Ini apa ya?” Ia bertanya.

“Itu halaman olahraga koran,” pria itu menjawab, menyembunyikan rasa terkejut gara-gara kedunguannya. Jawabannya membuat gadis itu tercengang, sebab ia tak ingin terlihat kurang ajar maka ia hanya bertanya tentang pentingnya lalat yang tersebar di halaman.

“Itu adalah kata-kata, Nak. Di sini dikatakan bahwa Fulgencio Barba mengalahkan El Negro Tiznao di ronde ketiga.”

Saat itulah Belisa Crepusculario tahu bahwa kata-kata membuat jalannya sendiri di dunia tanpa seorang tuan. Siapa pun, dengan hanya sedikit kecerdikan, dapat menyesuaikan kata-kata dan melakukan bisnis dengannya. Ia membuat penilaian cepat tentang situasinya dan menyimpulkan bahwa selain menjadi pelacur atau bekerja sebagai pelayan di dapur orang kaya, ada beberapa pekerjaan yang memenuhi syarat bagi orang sepertinya. Baginya, mendagangkan kata-kata sepertinya akan menjadi sebuah jalan alternatif yang terhormat. Sejak saat itu, ia bekerja sebagai pedagang kata-kata, dan ia tak pernah tergoda oleh profesi yang lain. Pada awalnya, ia menawarkan barang dagangannya tanpa menyadari bahwa kata-kata dapat ditulis di luar surat kabar. Ketika ia belajar dari keadaan yang tak teduga, ia menghitung kemungkinan tak terbatas dari perdagangannya dan dengan tabungan yang dimilikinya, ia membayar seorang imam sebesar dua puluh peso agar si imam mengajarinya membaca dan menulis. Dan dengan tiga koin yang tersisa, ia membeli kamus. Ia menuangkan huruf-huruf dari A sampai Z di atas kamus dan lantas melemparkannya ke laut, sebab niatnya di sini bukanlah menipu pelanggannya dengan kata-kata per paket.

Suatu pagi di bulan Agustus, beberapa tahun kemudian, Belisa Crepusculario tengah duduk di tendanya, di tengah-tengah plaza, dikelilingi oleh hiruk-pikuk hari berbelanja. Ia mendagangkan argumen hukum kepada seorang lelaki tua yang telah berusaha selama enam belas tahun untuk mendapatkan pensiunnya. Secara tiba-tiba, ia mendengar suara teriakan dan kuku-kuku kuda yang bergemertakan. Ia mendongak dari tulisannya dan melihat, pertama: awan debu, dan kemudian sekelompok penunggang kuda datang berlari ke alun-alun. Mereka yang berkuda adalah anak buah dari seorang Kolonel. Mereka dikirim atas perintah El Mulato – seorang raksasa yang dikenal di seluruh penjuru negeri berkat gerak cepat belatinya dan bakti pada atasannya. Baik Kolonel dan El Mulato telah menghabiskan hidup mereka dengan bertempur dalam perang sipil, dan nama-nama mereka sangat lekat dengan kehancuran dan musibah. Para pemberontak menyerbu penjuru kota seperti perusuh, terbungkus dalam kebisingan, mandi keringat, dan meninggalkan badai ketakutan pada jejak-jejaknya. Ayam-ayam mengepakkan sayap, anjing-anjing berlarian menyelamatkan diri, wanita dan anak-anak belingsatan agar tak terekam oleh mata, sampai satu-satunya jiwa yang tersisa di pasar adalah Belisa Crepusculario. Ia belum pernah melihat El Mulato, terlebih ia terkejut ketika melihat raksasa itu berjalan ke arahnya.

“Aku mencarimu,” teriaknya, menunjuk dengan cambuknya yang melingkar pada Belisa, bahkan sebelum kata-kata itu keluar, dua pria telah bergegas menghampirinya – menabrak kanopi dan menghancurkan tinta tangannya – mengikat tangan dan kakinya, dan melemparkan perempuan itu layaknya tas laut di pantat si raksasa El Mulato. Dan lantas mereka bergemuruh menuju bukit-bukit.

Beberapa jam kemudian, tepat ketika Belisa Crepusculario hampir mati, jantungnya seakan melompat-lompat di atas tanah yang disebabkan oleh gemertak sepatu kuda. Mereka berhenti, dan empat tangan kekar menurunkannya. Belisa Crespusculario mencoba berdiri di atas kakinya dan memegangi kepalanya untuk tetap menegadah, tetapi daya dan upayanya gagal. Ia merosot ke tanah, tenggelam dalam mimpi yang membingungkan. Perempuan itu terbangun beberapa jam kemudian berkat suara-suara yang berseliweran ketika malam di kamp, belum sempat ia menyortir suara apa saja, ia malah mendapati dirinya menatap lurus ke tatapan tak sabar dari El Mulato sebagai pemandangan pertamanya. El Mulato berlutut di sampingnya.

“Nah, akhirnya sekarang kau ada di sini, gadis,” katanya. Untuk mempercepat kelima indra Belisa Crespusculario, ia menunjuk kantin miliknya dan kemudian menawarinya seteguk minuman keras yang dicampur dengan bubuk mesiu.

Belisa Crespusculario menuntut penjelasan atas perlakuan kasar semacam itu, dan El Mulato menjelaskan bahwa Kolonel membutuhkan jasanya. Raksasa itu mengizinkannya membasuh muka, dan kemudian membawanya ke ujung kamp, tempat dimana seseorang yang paling ditakuti di seluruh negeri tengah bermalas-malasan di tempat tidur gantung yang dirangkai di antara dua pohon.

Belisa Crespusculario tak mendapati wajah Kolonel, sebab ia berbaring dalam bayangan daun yang menipu, pun bayangan permanen akan dirinya selama bertahun-tahun sebagai bandit. Tapi ia membayangkan sosoknya melalui cara ajudan raksasanya itu memanggil atasannya dengan begitu khidmat, yang berarti atasannya itu pastilah menampakkan kejahatan. Tapi kemudian Belisa terkejut oleh suara si Kolonel, yang lembut dan termodulasi dengan baik bak seorang profesor.

“Apakah kau seseorang yang menjual kata-kata itu?” Ia bertanya.

“Siap sedia melayani Anda,” saut Belisa dengan gagap sembari mengintip ke dalam kegelapan dan berusaha melihatnya lebih jelas. Kolonel berdiri, dan berbalik menghadapnya. Belisa melihat kulit gelap dan sepasang mata seekor puma ganas. Dari situ Belisa segera menyadari bahwasanya ia tengah berdiri di hadapan pria paling kesepian di dunia.

“Aku ingin menjadi presiden,” Tuturnya dengan lancar.

Kolonel lelah menunggangi tanah terkutuk itu. Ia lelah mengobarkan perang-perang yang tak berguna dan kekalahan-kekalahan yang dideritanya hingga tak ada satupun dalil yang dapat merubahnya menjadi kemenangan. Selama bertahun-tahun ia tidur di udara terbuka, digigiti nyamuk, makan iguana dan sup ular, tetapi kerisihan kecil itu bukanlah alasan mengapa ia ingin mengubah takdirnya. Apa yang benar-benar mengganggunya adalah teror yang terpancar dari mata para rakyat. Ia rindu berkuda menuju kota di bawah lengkungan kemenangan, dengan bendera-bendera cerah dan bunga yang bertaburan di mana-mana. Ia ingin bersorak dan diberi telur yang baru saja panen, ia juga merindukan roti yang baru dipanggang. Orang-orang melarikan diri saat melihatnya, anak-anak gemetaran, dan para perempuan keguguran sebab mereka ketakutan. Ia kelewat kembung dengan segala sesuatu halnya tersebut, hingga ia memutuskan untuk menjadi Presiden. El Mulato menyarankan agar mereka pergi ke ibu kota, bergegas ke Istana, dan mengambil alih pemerintahan, seperti cara biasa mereka merampas harta dan benda tanpa izin siapa pun. Namun, Kolonel, tak ingin menjadi tiran yang lain, sudah ada cukup banyak dari mereka sebelum ia ada, dan, selain itu, jika ia melakukan cara tersebut, ia tak akan pernah memenangkan hati rakyat. Itu adalah cita-citanya untuk memenangkan suara populer dalam pemilihan umum pada Desember.

“Dan untuk melancarkan tujuan tersebut, aku harus berujar layaknya seorang calon presiden. Kau bisa menjual kata-kata untuk sebuah pidato?” Si Kolonel bertanya pada Belisa Crespusculario.

Ia telah menerima banyak pekerjaan, tapi tak ada yang seperti ini. Ia tak berani menolak, sebab ia takut El Mulato akan menembaknya di antara kedua mata, atau lebih buruk lagi, bahwa si Kolonel akan menangis. Namun, ada yang lebih dari itu, ia merasakan dorongan untuk membantunya karena ia merasakan kehangatan yang berdenyut di bawah kulitnya, hasrat kuat untuk menyentuh pria itu, mengelusnya, dan memeluknya erat-erat.

Sepanjang malam dan sebagian besar waktu di hari berikutnya, Belisa Crepusculario mencari perbendaharaan kata-katanya yang cukup untuk pidato presiden. Ia diawasi secara ketat oleh El Mulato, yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari kaki pengembara dan payudara yang masih perawan. Ia membuang kata-kata kasar, dingin, kata-kata yang terlalu berbunga-bunga, kata-kata yang dikenakan dari pelecehan, kata-kata yang menawarkan janji-janji yang tidak mungkin, kata-kata palsu dan membingungkan, sampai semua yang ia tinggalkan adalah kata-kata yang pasti menyentuh pikiran laki-laki dan intuisi perempuan. Sambil memanggil pengetahuan yang telah ia beli dari pastor untuk dua puluh peso, ia menulis pidato di selembar kertas dan kemudian memberi isyarat kepada El Mulato untuk melepaskan tali yang mengikat pergelangan kakinya ke pohon. El Mulato mengantarnya sekali lagi pada Kolonel, dan sekali lagi Belisa merasakan denyutan kegelisahan yang telah menyergapnya ketika pertama kali ia melihatnya. Ia menyerahkan kertas itu dan menunggu seraya El Mulato melihatnya, memegangnya dengan hati-hati di antara jempol dan ujung jari.

“Kertas ini apa isinya hah?” Kolonel akhirnya bertanya.

“Anda tak tahu caranya membaca?”

“Perang adalah hal yang aku tahu.”

Belisa membaca pidato itu dengan keras. Ia membacanya tiga kali agar kliennya itu bisa memahat kata-kata pidato di ingatannya. Ketika selesai, ia melihat emosi di wajah para prajurit yang telah berkumpul untuk mendengarkan, dan melihat bahwa mata si Kolonel berkilauan dengan antusias, sebab ia yakin bahwa dengan kata-kata itu kursi kepresidenan akan menjadi miliknya.

“Jika mereka telah mendengarnya tiga kali, dan anak-anak masih berdiri di sana dengan mulut ternganga, itu pasti berarti hal-hal yang sangat bagus, Kolonel” El Mulato sepakat.

“Baiklah, madam. Berapa banyak aku berhutang padamu?” tanya pemimpin itu.

“Satu peso, Kolonel.”

“Ah, Kecil.” katanya, membuka kantong yang dia kenakan di ikat pinggangnya, berat dengan hasil dari perampasan terakhir.

“Satu peso ini memberi Anda bonus. Saya akan memberi Anda dua kata rahasia,” kata Belisa Crepusculario

“Untuk apa?”

Belisa Crespusculario menjelaskan bahwa untuk setiap lima puluh centavos yang dibayarkan klien, ia akan memberinya hadiah kata untuk penggunaan eksklusifnya. Kolonel itu mengangkat bahu. Ia sama sekali tak tertarik dengan tawarannya, tetapi ia tidak ingin bersikap tidak sopan kepada seseorang yang telah melayaninya dengan baik. Perempuan itu berjalan perlahan ke bangku kulit tempat si Kolonel duduk, dan membungkuk untuk memberinya hadiah. Laki-laki itu mencium aroma kucing gunung yang menguar dari si pedagang kata, panas berapi-api memancar dari pinggulnya, ia mendengar bisikan rambutnya yang mengerikan, dan napas manis membisikkan dua kata rahasia yang adalah miliknya sendiri.

“Kata-kata itu milik Anda,” Ia berkata seraya melangkah mundur, “Anda bisa memakainya sesuka hati.”

El Mulato menemani Belisa ke pinggir jalan, matanya memikat seperti anjing liar, tapi ketika ia mengulurkan tangan untuk menyentuh si pedagang kata-kata, ia dihentikan oleh longsoran kata-kata yang belum pernah ia dengar sebelumnya; sebab ia percaya akan kutukan dari kata-kata yang tak bisa dipatahkan, nyala hasratnya itu lantas padam.

Selama bulan September, Oktober, dan November, si Kolonel menyampaikan pidatonya yang bukan terbuat dari kata-kata yang bersinar dan tahan lama, dan karenanya kata-kata yang keluar dari mulutnya akan berubah menjadi abu ketika ia berbicara. Ia mendaki gunung dan lewati lembah, ia juga melintasi negara, naik ke kota-kota dengan udara kemenangan, berhenti di desa yang bahkan paling terlupakan sekalipun. Di mana hanya tumpukan sampah yang mengkhianati kehadiran manusia. Ia datang untuk meyakinkan para warga negara untuk memilihnya. Sementara ia berkicau dari sebuah platform yang didirikan di tengah-tengah alun-alun, El Mulato dan orang-orangnya membagikan permen dan melukis nama si Kolonel di semua dinding yang berembun keemasan. Tidak ada yang memperhatikan, kalaupun ada, hanyalah segelintir orang saja; mereka semua terpesona oleh kejelasan usulan dan saran Kolonel dan kejelasan puitis dari argumennya, yang terinfeksi oleh keinginan kuatnya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dari rekam jejak, dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, mereka bahagia. Ketika si capres telah menyelesaikan pidatonya, para tentaranya akan menembakkan pistol ke udara dan menyalakan petasan, dan ketika akhirnya mereka pergi, sebuah harapan yang rombongan capres itu tinggalkan bertahan selama berhari-hari di udara, seperti kenangan indah dari sebuah ekor komet. Dengan seketika Kolonel menjadi capres terfavorit. Tak satupun pernah menyaksikan fenomena seperti itu: seorang pria yang muncul dari perang saudara, ia dipenuhi dengan bekas luka lalu sekarang berbicara layaknya seorang profesor, seorang laki-laki yang kesohorannya menyebar ke setiap sudut tanah dan merebut hati bangsa. Pers memusatkan perhatian mereka padanya. Newspapermen datang dari jauh untuk mewawancarainya dan mengulang frasanya. Kemudian di sisi lainnya, jumlah pengikut dan musuhnya terus bercucuran.

“Semuanya lancar dan terkendali, Kolonel,” ujar El Mulato, setelah dua belas minggu sukses berkampanye. Namun capres itu tak mendengarnya. Ia malah mengulangi kata-kata rahasianya, sebab ia semakin terobsesi. Ia mengatakan kedua kata rahasia itu ketika ia sedang mendayu-dayu dengan nostalgia; ia menggumamkan kedua kata itu dalam tidurnya; ia membawanya bersama di atas kuda; ia memikirkannya sebelum menyampaikan pidatonya yang terkenal; dan ia mendapati dirinya menikmati kata-kata rahasianya dalam waktu senggang yang ia punya. Dan setiap kali ia memikirkan kedua kata itu, Belisa Crepusculario melintas di pikirannya, indranya meradang dengan kenangan akan aroma liar, suhu tubuhnya yang berapi-api, bisikan rambutnya, juga napas manisnya di telinga. Sampai kemudian ia mulai pergi berkeliling seperti tengah mengigau, di situ anak buahnya menyadari bahwa ia mungkin akan mati sebelum ia duduk di kursi kepresidenan.

“Ada apa denganmu, Kolonel?” Begitu El Mulato sering bertanya dan akhirnya suatu hari pemimpinnya mogok dan mengatakan kepadanya sumber kebingungannya: dua kata yang terkubur seperti dua belati di perutnya.

“Katakan padaku apa kedua katanya dan mungkin kata-kata itu akan kehilangan sihirnya,” saran ajudannya yang setia.

“Aku tak bisa memberi tahumu kata-kata rahasia itu, sebab kata-kata itu hanya untukku,” jawab Kolonel.

Tak tega menyaksikan kelayuan ketuanya yang terlihat seperti seorang lelaki dengan hukuman mati di kepalanya, El Mulato mengayunkan senjatanya ke atas bahu dan berangkat mencari Belisa Crepusculario. Ia mengikuti jejaknya melewati seluruh negeri yang luas itu, sampai ia menemukan perempuan itu di sebuah desa di ujung selatan, duduk di bawah tendanya sambil membaca serentetan berita. El Mulato menancapkan kedua kakinya lebar-lebar di depan si pedagang kata-kata, senjata bertengger manis di tangannya.

“Kau! Kau ikut denganku!” Titahnya.

Ia telah menunggu-nunggu. Ia ambil tinta, melipat kanvas dari kios kecilnya, mengatur syalnya di sekitar bahunya, dan tanpa kata mengambil tempatnya di belakang pelana El Mulato. Mereka tidak menukarkan sepatah kata pun dalam semua perjalanan; Keinginan El Mulato atas dirinya telah berubah menjadi kemarahan, dan hanya ketakutannya pada lidah perempuan itu yang mencegahnya untuk mencabik-cabiknya dengan cambuk yang ia punya. El Mulato juga tidak ingin mengatakan padanya bahwa Kolonel tengah dirundung mendung, dan bahwa mantra yang dibisikkan ke telinganya telah melakukan apa yang belum bisa dilakukan oleh banyak peperangan selama bertahun-tahun. Tiga hari kemudian mereka tiba di perkemahan, dan segera, di hadapan mata pasukan, El Mulato mengantarkan tahanannya ke depan si capres.

“Aku membawa penyihir ini ke sini agar kau dapat membalas kata-katanya, Kolonel,” kata El Mulato, sambil menunjuk laras senjatanya di kepala wanita itu. “Dan kemudian ia bisa mengembalikan kejantananmu.”

Kolonel dan Belisa Crepusculario saling menatap, mengukur satu sama lain dari kejauhan. Orang-orang kemudian tahu bahwa pemimpin mereka tidak akan pernah membatalkan sihir kata-kata terkutuk itu, karena seluruh dunia bisa melihat mata rakus-puma itu melunak ketika perempuan itu berjalan ke arahnya dan meraih tangannya dalam genggaman kedua tangan si pedagang kata-kata.

 

Catatan:

Diterjemahkan oleh Nede Nur Sari dari kumpulan cerpen The Stories of Eva Luna (Harper Collins 1991)

ISABEL ALLENDE LLONA (lahir di Lima, Peru, 2 Agustus 1942) adalah seorang pengarang Chili yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku-bukunya telah lebih dari 35 juta kopi yang terjual dan diterjemahkan ke dalam 27 bahasa.

Pada 1973, sandiwara Allende El Embajador (Duta Besar) dipentaskan pertama kali di Santiago. Pada 11 September tahun yang sama, pamannya, Salvador Allende, digulingkan setelah sebuah kudeta berdarah dan dibunuh ketika direbutnya La Moneda (kediaman resmi presiden Chili). Tahun 1975, Isabel Allende mengasingkan diri di Venezuela. Di sana, ia bekerja untuk surat kabar Caracas El Nacional dan sebagai guru di sekolah menengah.

Karya-karya Allende terkenal karena penceritaannya yang hidup dan penuh emosi. Allende menggunakan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang penuh dengan perasaan untuk menjelaskan berbagai hal dalam bukunya. Gaya penulisan yang ‘langka’ ini merupakan gaya khas Allende. Buku Allende, Paula (1994), adalah kenangan masa kecilnya yang menggugah di Santiago, dan tahun-tahunnya di pembuangan. Buku itu ditulis dalam bentuk surat kepada anak perempuannya, Paula, yang terbaring koma di rumah sakit (ia meninggal karena porfiria pada 1992). Selain The House of Spirits dan Paula, buku lainnya adalah Portait in Sepia, City of the Beast, My Invented Country.

___

Ilustrasi: Adinda Rizky Primafera

 

Nede Nur Sari. Lahir pada 12 April 1998 di Bandung. Sudah menyusahkan sejak dalam rahim; Menolak dilahirkan, maka Ibu harus menahan kedua kakinya di udara selama 12 Jam untuk mengeluarkan jabang bayi perempuan itu. Ia kini malah tumbuh dengan ukuran mini dan menjalani studi di Bahasa dan Sastra Inggris UPI 2016. Sedang giat menerjemahkan karya fiksi dan non-fiksi demi ketahanan swasembada pangan, serta sedang tekun menahan sumpah serapah setiap kali bercokol di lingkaran studinya.

No Comments

Post A Comment