Metaruang | Festival: Kakofoni dari Titik Api
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16771
post-template-default,single,single-post,postid-16771,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Festival: Kakofoni dari Titik Api

 

Kami terbiasa membangun dari berangkal

Kami tidak pernah terbiasa dengan basa-basi penangkal

Solusi penyelamat dari satu despot dengan ribuan pengawal

Yang kota ini perlukan adalah kewarasan massal

Mengkudeta mall dan aspal dengan festival

“Abrasi”, BRNDLS feat. Morgue Vanguard

 

I

Terdapat setidaknya 14 festival rakyat yang dihelat sepanjang 2014 sampai 2018 dengan tujuan spesifik mempertahankan lingkungan dan ruang hidup warga. Semangat yang terkandung di dalamnya sedikit berbeda dengan helatan festival akbar yang didanai pemerintah atau sekelompok korporasi yang, jika tidak mengusung tema pariwisata (baca: disneyfikasi kota), maka diadakan dalam rangka CSR.

Festival sendiri berasal dari bahasa Latin dengan akar kata ‘festa’, atau pesta dalam bahasa Indonesia. Jika dirunut secara etimologis, dalam Festival and Legends karya Roberston, festival adalah: “an event ordinarily celebrated by a community and centering some characteristic aspect of that communiy and its religion or tradition… Next to religion and folklore, a significant origin is agricultural.” Karenanya, festival mempunyai corak yang khas, karena dasar materialnya (ruang lingkup alam masyarakatnya) berbeda-beda.

Semangat maritim akan diusung masyarakat pesisir pantai, dan semangat agraria akan diusung masyarakat yang corak produksi dominannya agraris. Lantas, bagaimana dengan kaum urban, kampung kota, atau bahkan warga kota sendiri? “Festival often serve to fulfill specific communal purposes. The celebrations offer a sense of belonging for religious, social, or geographical groups, contributing to a group cohesiveness. The may also provide entertainment, which was particularly important to local communities before the advent of mass-produced entertaintmen.” (Festival and Legends, Robertson Noel).

Merujuk paparan di atas, festival kota dan kampung kota  memiliki dua kegunaan: sebagai entertainment (hiburan, pasar), dan sebagai sarana untuk merekatkan (cohesiveness) jaringan antar individu dan komunitas atas apa yang mereka miliki, baik dalam konteks spasial (ruang hidup), identitas yang dicurahkan dari aspek spasial (status warga kota), serta identitas simboliknya (agama, komunitas).

Masyarakat metropol yang identik dengan konsumerisme dan aspek alienasi bawaannya, akan senantiasa dilarikan ke festival-festival yang entertaining. Dari Jazz gunung sampai kuliner jajan pasar di Kota Tua Jakarta. Tentu saja, di dalamnya, masyarakat digerakkan untuk terus mengkonsumsi. Kapitalisme pada dasarnya telah menyediakan obat bagi kegalauan eksistensial warga metropol, void itu diisi dengan konsumsi, setelah mengkonversi mereka ke level spektakel.

Artinya, bukan lagi sebuah festival sebagai inisiasi rakyat lah yang dihelat. Festival kehilangan elan partisipatorisnya, sekaligus diredupkan semangat kohesivitasnya, jika segelintir EO, pemkot, dan korporat, hanya menginginkan profit (dan modal elektoral) dari sirkulasi rupiah di serangkaian perhelatannya. Entah didudukkan di sebelah mana tepatnya masalah perkotaan, masalah urban, dan ketimpangan sosial, dalam sebuah festival yang dihadiri oleh warga kotanya sendiri.

II

Festival Taman Kota yang dihelat di Palembang, pada 30 Maret tahun 2014 lalu, adalah sedikit contoh dari festival yang digagas, dibentuk, dan dirayakan, oleh sesama rakyat dalam konteks kesadaran akan ruang publik. Dalam Manifestival Kampung Kota (Sangkakalam, 2014), Festival Taman Kota yang dihelat kawan-kawan di Palembang ini bermula dari penolakannya atas bentuk privatisasi ruang publik. Festival pun dihelat dengan  serangkaian acara, dari mulai panggung musik, sastra, mural, bahkan workshop kilat.

Festival dalam konteks serupa kemudian bermunculan. Arak-Arakkan Budaya Kedaulatan Petani Urutsewu (Kebumen), Bandung Big Heart (Bandung), Festival Kampung Kota Dago Elos (Bandung), Festival Guyub Murup (Kulon Progo), Festival Tamansari Melawan (Bandung), Panggung Rakyat Melawan Racun (Sukoharjo), Dermayu Ora Meneng, Batubara Membunuhmu (Indramayu).

Festival-festival tersebut dapat pula dibaca dalam kosakata Lefebvreian, yakni sebagai ruang sosial yang dibentuk (dan diperjuangkan) oleh tindakan sosial (social action) yang konkrit, yang sifatnya kolektif. Tindakan sosial ini membubuhi “makna” pada bagaimana ruang spasial dikonsepsikan oleh mereka yang mengisi dan menghidupkan ruang tersebut.

Lebih lanjut, dalam The Production of Space misalnya, Lefebvre memberi penegasan pada ruang sosial sebagai produk spasial historis yang diproduksi guna memberi koridor gagasan dan tindakan. Dan bukan melulu produksinya yang abstrak (sense of belonging), melainkan juga kontrol dan kemudian hegemoni. Untuk itu pula, festival yang dihelat di titik konflik baik dalam pembacaan spasial urbanis maupun materialis mesti mengukuhkan kembali otonomi warga, kemandirian warga, atas akses ekonomi dan pola-pola produksinya.

Musuh yang dilawan, adalah agenda besar, yang hendak merenggut warga dari kemandirian produksi. Mengkonversi petani menjadi seseorang yang tuna-tanah, menjadi buruh, dan mengikat mereka ke dalam jaringan akumulasi profit sebagai semata mur dan baut. Tapi lewat festival di segenap titik api, petingkah kapitalisme yang tabiatnya menaklukkan ruang untuk akumulasi kapital nir-limit itu, untuk beberapa waktu dapat dihalau. Konsolidasi dapat kembali digalakan, peta perlawanan kembali digelar, dan harapan dapat kembali ditabung, sembari sesekali berteriak “preman-aparat-korporat, brengsek!” dengan diiringi pekik distorsi gitar.

III

Komite Rakyat Kebon Jeruk bersama Aliansi Rakyat Anti Penggusuran telah menginisiasi Warung Solidaritas di Kebon Jeruk. Tempat yang didirikan di lahan bekas penggusuran PT. KAI itu diperuntukkan sebagai arena pengaktivasian ruang, baik untuk interaksi sosial bersama warga maupun kegiatan-kegiatan kesenian dari kawan-kawan yang bersolidaritas. Seiring dengan itu, warga pun membangun basis ekonomi mikro dan kreatif mandiri antar sesama.

Resital musik di titik api dapat secara efisien memungkang harmoni dan suar perlawanan dalam satu lemparan. Selain dapat mendatangkan animo yang masif, edukasi serta penyampaian semangat juang dapat dengan mudah merembes ke khalayak. Seniman dan musisi yang hadir di panggung-panggung mungil ini, bahkan di beberapa tempat hanya berkalang tanah saja, sahih mempraktikkan perannya sebagai seniman yang mematahkan mitos menara gading artistik, dan menempatkan jiwanya bersama warga yang sedang berjuang. Kontan, tak perlu diragukan lagi materi-materi album mereka berikutnya jika di antara dari kita ada yang penasaran.

Selain di Dago Elos yang mengetengahkan musik sebagai acara puncak, di Jogja pun digelar panggung solidaritas atas penggusuran rakyat Kulon Progo terdampak pembangunan bandara NYIA. Panggung solidaritas itu diberi tajuk “Gugur Bumi Gugur Pertiwi” yang digelar pada 14 Desember 2017 bertempat di Kedai Kebun Forum, Tirtodipuran, Yogyakarta. Bahkan sebelum helatan itu dimulai, tepatnya tanggal 3 dan 5 Desember 2017, kawan-kawan di Jogja telah menghelat panggung solidaritas bagi warga Kulon Progo di Pendopo LKiS dan Tugu Jogja. Tak hanya mimbar bebas solidaritas, sederetan seniman musik lintas daerah pun mengisi ketiga acara itu.

Tak ketinggalan pula kawan-kawan di Tangerang Selatan pun menghelat acara yang bertajuk “Solipiknik” pada 9 Desember 2017 di Kedai Kopi Nikung. Acara itu adalah bentuk aksi solidaritas dan penggalangan donasi bagi keberlangsungan perjuangan kawan-kawan di Kulon Progo dan untuk Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP) di Bandung. Dalam rangkaian acara Solipiknik, dihelat beberapa sesi acara dari mulai pameran foto, live mural, workshop cukil dan lukis daun, pemutaran film dokumenter, hingga diskusi. Namun sama halnya dengan FKK dan Gugur Bumi Gugur Pertiwi, Solipiknik pun menampilkan sesi musik sebagai penutup rangkaian acaranya.

Dari sederet resital di titik-titik api itu, kita bisa menarik kesimpulan bahwa musik tak hanya bekerja sebagai eliksir yang sifatnya sementara saja. Ia tidak hanya sebagai obat kekalutan efemeral bagi rakyat yang tengah tertindas, untuk lantas selanjutnya mangkat begitu saja.

Harapannya, lewat serangkaian festival, dan sejumput resital-resital di titik api lain, adalah untuk menyulut api solidaritas semesta. Elan juang lewat musik ini akan meruang inap di banyak kawan-kawan yang hadir saat helatan berlangsung. Ketika rezim terus menghadirkan “kebisingan-kebisingan” di hadapan rakyat, nyalak distorsi dan kakofoni menghantamnya tepat di tragus telinga mereka. Ketika suara ketertindasan rakyat dibungkam, resital musik di titik api mesti menggodam.

 

___

Disusun oleh: Rinaldi Fitra Riandi, Fajar Nugraha, F. Ilham Satrio

Visualisasi: F. Ilham Satrio

Metaruang

Bergerak, mengakar, kritis.

No Comments

Post A Comment