Loader

FFWD (Fast Forward) Records: “Karena Modalnya Cuma Punya Segini”

 

Metaruang
Apa sih record label itu?

Marine Ramdhani
Menurut kamu apa? (Sambil tertawa). Hmm… records label itu perusahaan yang bergerak di bidang produksi, promosi, distribusi, sama lisensi buat sebuah band. Di situ sih cakupannya. Intinya lebih ke servis. Ya, mungkin kalo kita sih lebih mengembangkan band. Soalnya band buat kita tuh kayak aset paling berharga, jadi mereka tuh kaya anak kita gitu. Kalo nggak ada main, ya dimainin. Kalo nggak ada panggung, dibuatin panggungnya. Jadi kita tuh berusaha seperti bapaknya aja.

Metaruang
Awal mulanya FFWD terbentuk tuh gimana? Siapa aja yang terlibat di dalamnya?

Marine Ramdhani
Yang terlibatnya Helvi Syarifudin, Didit, sama saya sendiri. Awalnya pengen bikin label pop. Jadi Bandung Pop Label gitu, tapi karena udah ada Bangkok Pop Label sih jadi nggak jadi (tertawa). Ya, awalnya cuman obrolan sederhana aja, kebetulan waktu itu kan masih jarang records label, terutama di Bandung. Waktu dulu Helvi kan jadi managernya Puppen, Didit terlibat banyak di Pas Band, Puppensama Pure Saturday. Saya yang sering beli produknya mereka, jualin putus. Awalnya gitu.

Metaruang
Kenapa sih dinamakan Fast Forward? Apa ada arti filosfis di balik nama itu?

Marine Ramdhani
Maju terus! (tertawa). Gak ada. Ya, gitu, spontan aja. Intinya dari seneng aja sama nama itu, terus biar mudah diingat.

Metaruang
Ada kesulitan nggak waktu pertama kali bikin records label?

Marine Ramdhani
Sulit. Harus nyari radio yang mau muter, bikin press release, foto, ngerekam kaset. Semuanya susah gitu (tertawa), sampe nggak ngerti mau ngapain. Apalagi rilisan pertama kita bukan band lokal, tapi band luar. Lebih sulit lagi jadinya. Tapi berharap dengan rilisan internasional, ada band lokal yang seperti itu.

Metaruang
Kenapa FFWD lebih cenderung bergerak di indie label, kenapa nggak major label?

Marine Ramdhani
Lebih cenderung ke indie label, hmm… kenapa ya? Ya, karena kurang modal (sambil tertawa). Pengen bikin kayak Aquarius, ya pengen, tahun ‘99 gitu ya bayangin aja. Tapi karena modalnya cuma punya segini, link-nya cuman punya segitu, ya udah aja jalanin apa yang kita punya.

Metaruang
Dewasa ini makna indie sudah mulai ambigu. Menurut kalian, sebenarnya indie itu apa?

Marine Ramdhani
Gatau saya juga (tertawa). Dari tahun ‘99, ya, label indie ada perbedaan dengan major label, dari segi distribusi, promosi, sama produksi. Kalau misalkan sekarang, yang kata orang-orang sales major label, ya major label tuh udah nggak ada, kata orang-orang Aquarius dan lain-lain. Karena bisnis mereka udah pindah ke real estate atau i-tunes. Musika tuh kaya gitu sekarang. Kalo dulu emang distribusinya terbatas, terus idealis. Kalau sekarang kan gak seperti itu.

Metaruang
FFWD dikenal sebagai records label yang mengusung scene pop, kenapa kalian memilih scene atau idealisme pop ini?

Marine Ramdhani
Karena waktu itu rilisan pertama kita The Cherry Orchard, sama ya emang sikap aja, terus karena kita emang cenderung suka sama musik pop.

Metaruang
Selain musik pop, apa kalian mendengarkan juga genre musik lain seperti heavy metal, punk, atau Norwegian black metal? 

Marine Ramdhani
Ngedengerin, semuanya saya dengerin. Black metal saya dengerin pas SMA. Semuanya sih.

Metaruang
Menurut kalian bagaimana perkembangan musik dewasa ini? Apakah ada perbedaan dengan era sebelumnya, misalnya di era 90’an?

Marine Ramdhani
Bedalah pasti, pasti berkembang. Dari iklim industrinya, dari pelakunya (musisinya) juga berbeda. Kalau dulu, ya, gimana kita bisa menjadi besar. Kalau sekarang, “bagaimana kita bisa me-maintained.”.

Metaruang
FFWD pernah memproduksi band-band indie pop internasional seperti The Cherry Orchard, Placebo, The Postmarks, Ivy, Club 8, dan Tiger Baby. Awal mulanya gimana? Kenapa bisa?

Marine Ramdhani
Gatau ya kenapa bisa (tertawa). Awalnya sih seneng aja, terus mereka percaya, terus kita coba memutarnya di radio. Kita terapin standar langkah-langkah label kayak ngirim press release dan segala macem ke radio.

Metaruang
Apa ada relasi ke sana?

Marine Ramdhani
Nggak ada. Karena tahun 90’an, band-band pop ini banyak banget yang pengen rilis di Asia. Club 8 aja belum pernah main tahun segitu, belum pernah live.

Metaruang
Apa pendapat kalian tentang pembajakan yang semakin marak dilakukan di Indonesia dan banyak merugikan industri musik Indonesia, terutama untuk label musik indie dan para musisinya?

Marine Ramdhani
Ya gimana sih, itukan terjadi di mana-mana. Jangankan kita, pemerintah aja gak bisa apa-apa. Label sebesar kayak Aquarius atau Sony aja gak bisa apa-apa. Yang penting kita masih tetep kreatif aja. Jadi biarin aja, lagian pemerintah juga gak bisa diharapkan lagi.

Metaruang
Apa ada kesulitan setiap kali rilis album dalam bentuk fisik seperti CD, vinyl, atau kaset di era digital dewasa ini?

Marine Ramdhani
Ada. Apalagi kita kan label yang lahir di era fisik. Kesulitannya dari segi teknik, distribusi, dan lain-lain. Sampai di tahun 2009 sama 2013 kita sempet vakum, gak rilis apa-apa. Kita emang sengaja vakum, ngeliatin perkembangan, dipelajari semuanya sampai dapet. Terus kita mulai lagi.

Metaruang
Kalo ngadain konser musik atau tur musik, seperti tur The Sigit di California dan Hongkong tahun 2009, apa ada kesulitan? Dan apa saja yang kalian persiapkan untuk itu semua?

Marine Ramdhani
Susah, karena modal sendiri yang itu mah. Ya itulah kita modalin The Sigit-nya biar bisa ke sana. Selain modal, kita harus siap mental juga. Semua band-band yang ada di FFWD hampir semuanya pernah ke sana dan semuanya diundang. Bukan kita yang ngajuin. Terus emang timing-nya aja pas. Tahun 2002 tuh banyak banget label pop di Asia Tenggara kayak di Filipina, Thailand, Jepang. Awalnya sih anak Singapura datang ke sini nongkrong bareng, terus dikasih CD Mocca dan dibawa ke sana. Udah dari situ nyebar ke Thailand, Jepang, terus Korea, Taiwan, Hongkong, sama Filipina.

Metaruang
Band apa yang albumnya pernah FFWD rilis dan sangat sukses di pasaran?

Marine Ramdhani
Ukuran suksesnya apa dulu? Penjualan?

Metaruang
Ya, dari segi penjualan.

Marine Ramdhani
Kalau secara penjualan sih, Mocca yang album pertama. Kalau dari angka ya. Setelah itu link kebuka. Radio yang tadinya bilang “apaan sih kamu?”, sekarang pada nyamperin, pas tahun 2002 itu. Tahun 2002 kan banyak media yang underestimate.

Metaruang
Apa cuman Mocca? Atau ada lagi, kayak The Sigit, mungkin?

Marine Ramdhani
Ya, efeknya kan kaya gitu. Setelah Mocca sukses, ya kita berpikir kalau kita harus serius nih. Gimana si Mocca ini bisa menolong yang lainnya. Setelah itu baru ngerilis Homogenic, ngerilis Polyester Embassy, Rock N Roll Mafia, sama The SigitTapi kalau kita nggak ngerilis Club 8 sama The Cherry OrchardMocca juga gak bakal ada. Jadi awalnya dari mereka itu.

Metaruang
Konser musik internasional apa saja yang pernah Anda tonton?

Marine Ramdhani
Wah, banyak banget (tertawa). King Of Conveniencebahkan ada yang kita adain sendiri juga. MGMT, Belle & Sebastian, Tame Impala, Mogwai, The Cure, Club 8, Bombay Bicycle Club, The Horrordan lain-lain. Kebanyakan kita yang bawa sih.

Metaruang
Apa harapan kalian untuk perkembangan musik dan industri musik di Indonesia?

Marine Ramdhani
Tambah baik aja, tambah berkembang. Terus bisa bersaing dengan industri musik di luar negeri.

Metaruang
Ada saran buat temen-temen yang ingin terjun di bidang industri musik seperti Anda?

Marine Ramdhani
Ya percaya diri aja (tertawa).

Pewawancara & Foto Dokumentasi: Dedi Sahara

Metaruang, 2016

 

 

No Comments

Post A Comment