Loader

Filth, atau McAvoy yang Brengsek Itu

 

Judul: Filth (2013)
Sutradara: Jon S. Baird
Produksi: Steel Mill Pictures, Film i Väst

 

Anda pikir anda tahu James McAvoy? Pikirkan lagi. Penampilannya kali ini di film Jon S. Baird yang merupakan adaptasi novel Irving Welsh,“Trainspotting”, bisa dibilang menakjubkan.Filth (2013) termasuk tidak biasa. Tidak ada yang manis atau halus, tentang aspek-aspek dari film ini. Filth telah memenuhi apa yang ditawarkan oleh judul itu sendiri. Satu kata yang saya dapat berikan pada film ini: Kotor.

Filth merupakan film yang sangat mungkin menghasut kebencian penonton film-film Pop di seluruh negeri. Di situ terdapat seks, obat-obatan terlarang, seks (lagi), obat-obatan terlarang (lagi), kekerasan, korupsi, kebejatan, bahkan lebih banyak seks dan obat-obatan terlarang (lagi-lagi). Filth bahkan benar-benar memenuhi ekspektasi penonton ketika mereka sekedarmendengar judulnya. Sekaligus merupa pengalaman yang tak terlupakan, setidaknya bagi saya.

Film ini dibuka dengan kemunculan seorang wanita berpenampilan menggoda bernama Carole (Shauna Macdonald). Ia berlakon cukup unik dengan suaminya, Bruce (James McAvoy). Pasangan yang telah dikaruniaiseorang anak ini telah hidup berpisah. Namun Bruce masih menyimpan asa untuk bisa bersama kembali. Langkah pertama yang ingin ia lakukan adalah memperbaiki jabatannya sebagai detektif, karena pada saat yang sama, pos promosi untuk menjadi inspektur ikut dibuka. Kesempatanitu datang dalam suatukasus pembunuhan mahasiswa asal Jepang.

Tapi, bukan hanya Bruce yang akan memanfaatkan kasus itu untuk mengincar peluang promosi; ia punya saingan empat orang detektif. Di antaranya seorang rookie bernama Ray Lennox (Jamie Bell), dan wanita cantik bernama Amanda Drummond (Imogen Poots). Uniknya, bukan mereka yang memberikan tekanan kelas berat pada Bruce—ia memiliki sikap bebas dalam bekerja—masalah justrumuncul dari tekanan emosi dan mental Bruce sendiri yang masih terbelenggu dalam upaya kembali meraih cinta istri dan anaknya.

Pada awalnya,Filth akan tampak seperti sebuah upaya saling tipu antar karakter untuk meraih posisi tertinggi. Ekspektasi kita sebagai penonton secara tidak langsung telah diarahkan ke sana; disajikan sebuah konflik terkait pembunuhan;disisipi sebuah fakta bahwa akan ada promosi bagi para detektif selepas tahun baru itu. Menariknya, alur yang kompleks justru hanya menjadi sebuah trik guna membuka jalan bagi penonton menuju sebuah studi psikologis tokoh, menyangkut obsesi atau hasrat.

Aneh memang; karena sepanjang film,kita justru dibawa masuk ke dalam petualangan yang sangat bertolak belakang dengan isu di atas. Kita tak pernah beranjak jauh dari lekasnya narasi yang berani, penuh komitmen, dalam usahanyamencampur adukkan komedi buat mengundang senyum, berikuthal-hal yang sesungguhnya kerap kali terlihat menyimpang terlalu jauh,seandainya menilik misi utama sesederhana “promosi jabatan”. Permainan kotor berisikan aksi vulgar, karakter yang sangat akrab dengan seks, alkohol, hingga narkoba, perlahan mungkin akan memunculkansikap meremehkan. Namun, dengan caranya yanghalus juga hadir transisi yang implisit, yang boleh jadi menyelamatkan Filth.

Ya, tanpa disadari, setelah semua pesta gila penuh ingar-bingar yang film ini sajikan—bermain-main di tema sensitif seperti rasisme dan homoseks—dari usaha rumitnya untuk masuk ke alam imajinasi hingga hal sesederhana penggunaan mesin fotokopi, Jon S. Baird seperti paham betul bagaimana menggeser warna cerita yang ia adaptasi dari novel milik Irving Welsh. Ia hendak menuju poin utama,yakni psikis tokoh. Ia semakin beruntung sebab tema tadi sesungguhnya sangat mudah untuk dijabarkan. Lepaskan karakter agarmenghancurkan dirinya sendiri. Biarkan penonton menilai, dan sistem itu akan berjalan dengan baik.

Seiring alur bergerak, sedikit banyak rahasia-rahasia ikut terkuak. Rahasia tentang diri Bruce Robertson perlahan melunturkan aroma komedinya dan menggantinya dengan sisi kelam sekaligus depresif. Ada masa lalu yang berusaha dihindari Bruce melalui narkoba dan seks; sesuatu yang gelap yang menghancurkannya dari dalam, membentuk dirinya yang baru sebagai Bruce yang menjijikan. Narasi Baird yang memang mengesankan, perpindahan cepatnya dari drama kriminal komedi ke studi karakternya cukup mengejutkan. Dan pada akhirnya, ketika semuanya terungkap oleh sebuah twist mengejutkan, yang lalu diakhiri oleh lantunan depresi Creep milik Radiohead.Ada keputusasaan luar biasa di sana.

McAvoy adalah jagoan kita.Sosok anti-hero brengsek, mudah dibenci dengan segala tindakan destruksi dan amoralnya. Narasi Baird sertaperforma yahud McAvoy juga sanggup menghadirkan simpati yang sama besarnya. Kita tahu kapasitas McAvoy, pria Skotlandia itusudah mencoba semuanya, dari superhero komik, pemimpin mutant popular, sampai polisi korup. Di sini, McAvoy tidaklah hanya memesona, ia adalah alasan mengapa Filth bisa tampil sekotor ini.

 

Tags:
No Comments

Post A Comment