Metaruang | Ginan Koesmayadi
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17117
post-template-default,single,single-post,postid-17117,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Ginan Koesmayadi

Saya tersenyum kecil, teringat pada proses metamorfosis roh—kesadaran manusia—yang ditulis Friedrich Nietzsche dalam bukunya, Thus Spoke Zarathustra. Unta ada pada urutan pertama metamorfosis. Ketika saya perintah, ia berlutut dan dengan taat memanggul beban-beban yang diletakkan di punggungnya. Ia merepresentasikan kesadaran manusia yang merendahkan diri, menghunjam kesombongannya sendiri.

—Melampaui Mimpi, Ginan Koesmayadi.

 

Ginan Koesmayadi adalah satu dari banyak murup lentera di dalam pekat gulita orang-orang yang tersisih dan terabaikan. Jika ada sosok yang mengusung semangat Penny Rimbaud atau Ian MacKaye dalam bermusik dan menyulam simpul kawanan; yang mengukuhkan keteguhan dan kesetiaan Alessandro Lucarelli pada klub sepak bola kecintaannya; mengobarkan api Dionysian di setiap hari-hari yang dijalaninya, maka sosok itu tak lain adalah dirinya.

Terlahir dengan nama lengkap Deradjat Ginandjar Koesmayadi, dan terlahir di Kota Kembang, Bandung, pada 13 Juli 1980. Dalam riwayat akademiknya, Ginan tercatat sebagai alumni TK Perwari Bandung, SD Sejahtera Bandung, SMP 1 Bandung, SMA 2 Bandung, serta mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjajaran. Semasa hidupnya, Ginan telah meraih penghargaan Fellow Ashoka pada tahun 2011, Pemain Terbaik di ajang Homeless World Cup Paris 2011, serta penghargaan Levi Strauss dan Copioneer Award pada tahun 2012.

Semenjak usia 13 tahun, narkoba bagi Ginan telah menjadi karib terdekatnya. Banyak jenis obat-obatan, minuman keras, serta ganja, telah ia cicipi pada usia yang sedini itu. Saking karibnya, Ginan pernah hampir meregang nyawa di kampusnya akibat overdosis. Beruntung, di kala itu ada sosok yang sigap menolong. “Di toilet gedung C saya terkapar gak sadarkan diri karena OD. Untung ada kang Bimbim (anaknya Bagir Manan) yang mendobrak pintu toilet. Kalo gak, mungkin saya sudah tewas waktu itu,” ungkap Ginan begitu lirih dalam salah satu video liputan Rumah Cemara bersama InstaSunda yang tengah mewawancarai dirinya.

Ginan dinyatakan positif mengidap HIV akibat penggunaan jarum suntik tidak steril semenjak tahun 2000. Hal itu membuatnya begitu terpukul. Banyak teman-teman, saudara, hingga masyarakat di tempat tinggalnya sontak menjauhi dirinya. Dari situlah Ginan menganggap bahwa “kesepian adalah rumah”. Kendati pasca vonis diagnosa yang dialamatkan padanya, tidak serta-merta membuat Ginan pupus harapan dalam melanjutkan hidupnya. Bersama empat kawannya, Ginan mendirikan komunitas Rumah Cemara, masih di tahun 2003, dengan harapan ingin menghapuskan stigma dan diskriminasi terhadap penyalahguna narkoba dan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Harapan Ginan dan keempat kawannya, khususnya dalam upaya menginisiasi Rumah Cemara, adalah untuk betul-betul mewujudkan Indonesia Tanpa Stigma—yang merupakan kampanye Rumah Cemara—di  mana semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk maju, serta memperoleh layanan HIV dan NAPZA (Narkotik, Psikotropika, Zat Aditif) yang bermutu.

Berawal dari lokasi semula di Setra Sari, lalu kemudian beralih menuju ke seputaran Jalan Gegerkalong Girang, Ginan bersama keempat kawannya memfasilitasi beberapa kegiatan yang menjadi fokus utama Rumah Cemara. Program awal yang diinisiasi oleh Ginan dan kawan-kawan selain Indonesia Tanpa Stigma adalah Treatment Center, yang menjadi program yang menyasar para pecandu narkoba.

Ginan dan kawan-kawanya di Rumah Cemara pun menginisiasi program pelayanan serta mobilisasi sumber daya seperti Metadhone Maintenance Treatment (MMT) dan Rehabilitasi. MMT sendiri adalah program atau kelas bagi pecandu yang ingin berhenti dari pemakaian zat (terutama heroin), dan diganti dengan zat lain yang legal serta yang disubsidi oleh pemerintah, yaitu Metadhone. MMT diadakan oleh Rumah Cemara selama dua kali dalam seminggu. Sedangkan Rehabilitasi adalah tempat pemulihan bagi orang-orang yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Program lain yang digagas Rumah Cemara adalah Sport for Development, yang menurut Ginan sendiri program itu berupaya menjadikan olahraga sebagai salah satu aktivitas yang dapat menyatukan masyarakat luas. Dari situlah kemudian menjadi kendaraan sosialiasi yang dimanfaatkan Ginan dan kawan-kawannya di Rumah Cemara untuk menyasar lebih banyak audiens, khususnya dalam membuktikan bahwa mantan korban penyalahguna narkoba dan ODHA mampu menorehkan prestasi.

Lentera dari Paris van Java untuk sepak bola Indonesia

Alessandro Lucarelli tetaplah Alessandro Lucarelli, dan Ginan Koesmayadi pun tetaplah Ginan Koesmayadi. Namun jika meneroka sosok keduanya, hal yang akan dengan mudah kita amini adalah bahwa keduanya adalah sosok yang loyal, setia, serta kukuh berjuang bersama tim sepak bola kecintaannya. Jika Lucarelli bakal selalu diingat suporter Parma di seantero dunia karena perjuangan serta kesetiaannya pada klub yang pernah terjerembab pada kasta keempat Liga Italia akibat dinyatakan bangkrut, maka Ginan pun akan selalu diingat karena perjuangannya bersama tim nasional Homeless World Cup dari Rumah Cemara yang telah membuktikan kiprahnya di turnamen level dunia.

Sama halnya dengan Lucarelli, di dalam diri Ginan, tersimpan elan juang serupa. Bermula dari program Football for Change dari Rumah Cemara yang menggunakan sepak bola sebagai media kampanye mereka, pada akhirnya mengantarkan sebagian pemain Rumah Cemara—termasuk Ginan—yang juga positif HIV, terpilih sebagai anggota tim street soccer Indonesia bersama empat orang lain dari LSM yang bergerak di bidang tunawisma, untuk berlaga di ajang Homeless World Cup. Sampai pada titik ini, Ginan dan kawan-kawan Rumah Cemara berhasil menjadikan sepak bola sebagai terobosan dan upaya penyadaran agar tidak memberikan stigma kepada ODHA. Dengan bertanding sepak bola, bisa diketahui juga bahwa ODHA pun mampu beraktivitas layaknya orang biasa.

Berangkat dari kecintaannya terhadap sepak bola, Ginan kemudian mengusulkan Rumah Cemara untuk menjadi pengorganisir Homeless World Cup bagi Indonesia pada tahun 2009. Setelah melewati proses administrasi yang begitu panjang, Rumah Cemara akhirnya didapuk sebagai National Organizer Homeless World Cup untuk Indonesia. Lantas pada 2010, Rumah Cemara pun menerima undangan untuk berpartisipasi pada Homeless World Cup 2010 di Brasil.

Kendati Rumah Cemara berhasil menerima undangan berlaga dan diharapkan mengirimkan delegasinya pada ajang Homeless World Cup 2010, namun kiprah awal mereka tak berjalan mulus. Rumah Cemara mesti mengubur harapannya saat mereka gagal tampil untuk kali pertama di ajang Homeless World Cup 2010. Kegagalan itu tak pelak disebabkan karena ketiadaan biaya untuk memberangkatkan para delegasi, mulai dari pemain hingga ofisial, serta untuk ongkos operasional lainnya. Tapi setahun berselang, mimpi Ginan dan kawan-kawan untuk berlaga di ajang itu akhirnya terwujud. Kesempatan tim nasional Indonesia bertanding di ajang Homeless World Cup 2011 di Paris, didapat setelah mereka menerima sumbangan dari pihak swasta serta Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Sebelum mengantungi kepastian berlaga dalam turnamen yang diikuti oleh 72 negara bagi mereka yang “bermasalah dengan rumah” itu, Ginan mulanya bernazar apabila tim Homeless World Cup menemui jalan untuk berangkat ke Paris, dia akan menempuh perjalanan kaki dari Bandung menuju Jakarta. Alhasil, setelah impiannya untuk berlaga di Homeless World Cup itu terkabul, Ginan pun membayar nazarnya dengan melakoni jalan kaki sebagai perwujudan rasa syukur.

Ginan menempuh perjalanan kaki itu sejak Sabtu, 6 Agustus 2011. Dengan mengawali perjalanan dari Bandung, pada hari yang sama, perjalanan Ginan berakhir di Cianjur sore harinya. Pada Minggu, 7 Agustus 2011, Ginan meneruskan perjalanannya dan selesai hingga Cipanas, Bogor. Jarak yang dia tempuh dengan berjalan kaki mencapai 135 kilometer. Dalam perjalanan itu, Ginan ditemani enam pendamping yang menaiki sepeda motor dan mobil. Mereka bertugas memantau kondisi fisik Ginan selama berjalan kaki dari titik keberangkatan hingga ke lokasi terakhir.

Dokter yang menangani Ginan, Melania Yusnita, mengatakan bahwa Ginan memiliki rekam medik yang sehat meski mengidap HIV. Jumlah partikel virus HIV yang terdeteksi masih di bawah 5.000 dan ketaatan minum obat untuk AIDS yang harus dikonsumsi teratur mencapai 90 persen. Dibantu pola hidup dan makan yang sehat, tingkat kebugaran Ginan seperti orang yang tidak mengidap HIV. Kebugaran itulah yang nyatanya berbuah manis dengan keberhasilannya tiba di kampus Universitas Indonesia, Depok, pada Senin, 8 Agustus 2011, pukul 21.00 WIB. Kondisi Ginan memang sempat menurun karena luka di kakinya yang hanya diperban. Namun perjuangan Ginan kala itu setidaknya bisa membuka mata masyarakat bahwa ODHA pun mampu menempuh sebuah perjalanan jarak jauh hanya dengan berjalan kaki.

Sejalan dengan periuk yang berkerak serta lesung yang berdedak, kiprah Ginan dan kawan-kawan di Homeless World Cup pun tak bisa dianggap sepele. Indonesia yang menjadi satu-satunya wakil Asia, mampu melangkah hingga ke perempat final. Dalam laga yang telah dilakoni kala itu, Indonesia mampu mengalahkan Italia, Denmark, Belanda, Nigeria, hingga sang juara bertahan Homeless World Cup, yakni Skotlandia. Tak main-main, dalam turnamen itu, buah dari kerja keras Ginan sebagai kapten tim dan penyumbang empat gol pun dibayar tuntas dengan merengkuh gelar pemain terbaik di ajang Homeless World Cup 2011.

Awalnya Ginan masih merasa tidak percaya bahwa dirinya adalah peraih gelar pemain terbaik. Gelar yang Ginan rengkuh bukan hanya karena penilaian juri atas permainannya di atas lapangan. Dengan hanya mencetak empat gol, itu tentu sangat sulit. Namun, kriteria lain yang membuatnya berhak menyabet gelar pemain terbaik adalah dirinya dianggap kapten tim yang bermain secara fair play tinimbang pemain atau kapten tim lain. Artinya, dia pun dianggap bisa membangkitkan semangat rekan-rekan di lapangan, memotivasi, membuat perubahan yang signifikan, serta mampu mendongkrak timnya dan bisa membalikkan keadaan saat tertinggal skor yang cukup jauh.

Setelah pencapaian-pencapain kolektif dan individu yang ditorehkan Rumah Cemara serta Ginan, sejak saat itu pula Rumah Cemara terus berkembang. Ginan merasakan stigma-stigma negatif sedikit demi sedikit mulai terkikis. Manakala Rumah Cemara menginisiasi program penggalangan dana bertajuk #1000untuk1 demi mewujudkan mimpi berlaga kembali pada turnamen Homeless World Cup 2012 di Meksiko, dukungan masif pun berdatangan kepada mereka. Aksi #1000untuk1 tak hanya melibatkan kawan-kawan di Bandung saja, melainkan juga melecut solidaritas kawan-kawan di Jakarta yang menginisiasi IAC (Indonesia Aids Coalition), Surabaya, Jogja, Makassar, Purwokerto, Sumedang dan beberapa kota lain.

Bagi Ginan, sepak bola menjadi salah satu jalan yang membuat dirinya bisa kembali bahagia menjalani hidup kendati telah positif mengidap HIV. Dia bisa menyalurkan kreativitasnya di tengah keterbatasan kondisi tubuh dengan sistem imunitas yang terus digerogoti virus. Dia ingat betul bagaimana tubuhnya pernah berada dalam kondisi terlemah semenjak mengidap HIV. Suatu waktu, kekebalan tubuh Ginan hanya berada dalam kisaran angka 138. Jauh dari angka kekebalan tubuh (CD 4) manusia normal yang berada di angka 450. Namun berkat sepak bola dan juga aktivitas olahraga lainnya yang ditekuni Ginan, kondisi tubuhnya justru berangsur bugar serta pantas pula dirinya disebut sebagai atlet yang paripurna. Karena semua itulah, maka tak ayal, pantas kiranya Ginan disebut menyaingi serta melampaui pula apa yang Lucarelli torehkan lewat sepak bola. Jika Lucarelli disebut sebagai “Pahlawan dari Ferrero” serta “Serenada dari Parma untuk Sepakbola”, maka pantas rasanya menjuluki Ginan sebagai “Lentera dari Paris van Java untuk Sepakbola Indonesia”.

Musik Melawan Stigma: dari Mood Altering sampai Jeruji

Sepak bola dan musik adalah bagian integral dalam hidup seorang Ginan. Siapa sangka, bahwa kecintaan Ginan terhadap sepak bola bisa kita telisik jauh-jauh hari sebelum ia dan Rumah Cemara berlaga di Homeless World Cup. Lewat salah satu lagu milik Mood Altering yang berjudul “Persib atau Mati”, cukup alasan untuk membuktikan bahwa Ginan tak hanya menggandrungi sepak bola, dia sangat mencintainya dan bahagia untuk terus memainkannya. Sampai-sampai lewat musik pun, ia tetap menceritakan sepak bola, khususnya tentang klub yang ia dan banyak orang-orang berdarah sunda lainnya cintai semenjak dalam fetus, yakni Persib Bandung.

Bersama dengan Boni (gitar), Giga (bass), dan Shendy (drum), Ginan membentuk Mood Altering pada 1 Agustus 2003. Mood Altering sendiri pertama kali dibentuk berangkat dari motivasi untuk bisa sembuh dari adiksi obat-obatan. Baru setelah itu Mood Altering menyaru sebagai motor kampanye dari Ginan serta personil lain untuk mengubur stigma serta diskriminasi terhadap pengguna narkoba dan ODHA. Musik yang diusung oleh Mood Altering sendiri mengadopsi sound mulai dari Soundgarden, Deftones, hingga Coheed & Cambria. Setelah beberapa lama, ada perubahan formasi dengan masuknya Ikbal menggantikan posisi Boni di gitar, masuknya Rofie mengisi gitar 2, dan kemudian Sunny yang mengganti Shendy di posisi drum. Tempat monumental sekaliber Lapas Banceuy telah menjadi saksi bisu sebagai venue pertama Mood Altering bermain.

Dalam kantung diskografinya, Mood Altering telah merilis debut pada Februari 2011 yang berisikan sebelas nomor, baik dari single lama maupun terbaru. Kala itu, setelah malang-melintang dari satu panggung ke panggung, dari studio show ke studio show lainnya, Mood Altering memutuskan merilis debut itu secara gratis dengan membuat pewartaan dalam bentuk poster “Unofficial Release Album”, yang ditempel di sudut-sudut kota Bandung hingga gang-gang kecil. Pada poster yang memuat kabar itu, mereka menjelaskan bahwa album itu dibagikan secara gratis sepenuhnya. Tempat-tempat seperti di Rumah Cemara sendiri, Common Room, Errorizer Merch and Recs, Rock n Rebel, Aesthetics, Mordor, dan Dalka CD Store, merupakan tempat semua orang bisa mendapatkan CD album gratis dari Mood Altering itu.

Apa yang dilakukan Mood Altering dalam merilis albumnya itu bukan tanpa maksud. Mood Altering adalah katalis sekaligus stimulan bagi para pendengarnya, terlebih dengan merilis sample albumnya dengan secara cuma-cuma. Di dalamnya berisi sebelas nomor yang beberapa di antaranya adalah “Back from the Dead”, “Atur Aja!”, “Kambuh”, “Mutilasi Sosial”, “Euthanasia”, “Persib atau Mati”, hingga “Tuan”. Di medan gagasan dan lirikal, ia tak melampung pukat di imajinasi para pendengar, atau dalam kata lain bahwa semua nomor Mood Altering tak perlu pembacaan melelahkan untuk mengetahui apa yang tengah disuarakan. Jelas bahwa Mood Altering menaruh lirik-lirik optimisme serta semangat seseorang yang tengah bangkit dari keterpurukan akan adiksi obat-obatan. Kendati beberapa nomor berbicara tentang klub sepak bola kecintaan hingga hal yang transenden, tetap saja lirik pembakar semangatnya yang dominan.

Selang beberapa tahun, tepatnya pada 28 Oktober 2016, Grimloc Records resmi merilis album Stay True dari Jeruji. Album itu adalah marka bagi Jeruji di mana Ginan didapuk sebagai juru vokal menggantikan Aldonny Supriadi yang sebelumnya hengkang. Dari pengakuan Ginan di belakang panggung saat Jeruji menjadi salah satu pengisi line up sesi musik Festival Kampung Kota 2017 di Dago Elos, Bandung, ia akui bahwa sangat senang sekali bergabung mengisi vokal salah satu band punk yang dahulunya ia idolakan. “Ibarat mimpi masa remaja yang menjadi nyata,” tuturnya. Ginan menjalani hari-hari luar biasa bersama Jeruji. Kendati kendaraan musiknya kini dikenal lebih politikal, namun tetap saja gagasan Ginan yang lesap dalam band, tetap berpihak pada mereka yang tersisih dan tertindas.

Bila di Mood Altering Ginan secara langsung mengampanyekan upaya melawan stigma serta diskriminasi terhadap korban penyalahgunaan narkoba dan ODHA, di Jeruji pun ia melanjutkan hal serupa. Bersama Jeruji, Ginan melakukan kampanye ke beberapa kota lewat berbagai ajang musik. Salah satunya, konser bertajuk Tribute for People Living with HIV untuk menyebarkan informasi dan menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan bagi korban penyalahgunaan narkoba serta ODHA. Musik yang telah menjadi kekasihnya itu telah membuat pepat segala keropos dalam jiwanya. Sebuah kebahagiaan bisa menghasilkan nomor-nomor anthemic—baik selama di Mood Altering maupun Jeruji. Keyakinan lain ihwal musik bagi Ginan, memang mendaku layaknya eliksir yang telah menyembuhkan berjumput rasa sakit dalam dirinya.

Murup Dionysian

Pada tahun 2014, Ginan menulis sebuah buku berjudul “Melampaui Mimpi” bersama Sundea Matahari. Buku itu memuat memoar seorang Ginan semenjak masa kanak-kanak hingga dewasa. Di dalam buku itulah termaktub fragmen-fragmen dari kisah masa lalu Ginan, terlebih saat mulai terjerat adiksi obat-obatan. Tak hanya memuat bersukat-sukat cerita masa lalunya saja, di dalamnya Ginan menulis bagaimana perjuangannya dilakoni dengan elan juang para Dionysian yang mencintai hidup, yakni Amor Fati. Terasa kentara bagaimana Ginan dengan begitu bergairah seolah tak ingin membiarkan harapan dan mimpi-mimpinya akan hari esok beringsut jadi tembilang.

Di mata salah seorang sahabatnya di Rumah Cemara, yakni Jimmy, Ginan tak hanya kawan biasa. Ginan adalah satu paket komplit kreasi Tuhan yang dianugerahkan kepada banyak orang yang mencintainya. Iaa sangat hangat, ceria, tak pernah terlihat murung, selalu optimis, dan selalu menyediakan energi melampaui kilang pertamina untuk mengerjakan banyak hal. Terkadang sosok bertato dan selalu tersenyum ini dianggap sebagai guru yang kerap mengajarkan banyak hal pada kawan lainnya di Rumah Cemara. Ia yang selalu mewanti-wanti untuk menghargai perbedaan dan jangan pernah lelah untuk membantu sesama. Salah satu aforisma andalan Ginan yang bakal diingat selalu oleh kawan-kawannya adalah: “Di dunia ieu mah euweuh nu teu mungkin. Nu teu mungkin ngan neuleug sirah sorangan” (Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Yang tidak mungkin adalah menelan kepala sendiri).

Selain bermain musik dan olahraga, Ginan adalah seorang kampiun penyayang anak-anak. Menurut Jimmy, Ginan mempunyai dua anak asuh bernama Fijar dan Firgi. Fijar sendiri kini duduk di bangku kelas 6 SD, sedangkan Firgi telah berada di kelas 3 SMP. Kini Fijar telah pindah ke Kupang, namun lain halnya yang masih bermukim di Bandung. Ginan begitu mencintai keduanya. Dan bukan hanya itu saja, Ginan adalah sosok yang menekankan pentingnya kunjungan silaturahmi ke tempat tinggal sesama kawan. Dia yang paling rewel di antara kawan-kawannya perihal yang satu itu. Ginan pun tak pernah menolak dan selalu bersedia untuk memberi ruang tinggal bagi orang-orang yang tak punya rumah, yang salah satunya ialah merumahkan pengamen jalanan.

Kebiasaan unik yang dimiliki Ginan apabila tengah bersama sahabat-sahabatnya adalah ketika makan bersama. Menurut sahabat-sahabatnya, jika Ginan tengah makan Ginan selalu terlihat nikmat. Menu makanan yang Ginan lahap setiap kali tengah makan bersama hampir satu meja penuh. Dan yang paling membuat sahabatnya menggelengkan kepala adalah semua menu itu kerap dilahap habis tanpa tersisa. “Nyaah, tong sok dipicen!” (Sayang, jangan sampai dibuang!), ucapan keramat itu yang kerap didengar sahabatnya manakala Ginan selesai memborong semua menu makanan.

Sosok Fijar dan Firgi tentu istimewa dalam hidup Ginan, sosok lain yang menurut Jimmy juga istimewa dalam hidup Ginan adalah sang Ibu, yang merupakan sosok perempuan yang tak tergantikan di hidup Ginan. Dan apabila kita sempat menyaksikan pergumulannya dengan sang Bapak pada sebuah acara talk show di televisi swasta, kita dapat merasakan kasih sayang sekaligus humor yang tak kalah kental di antara keduanya.

Lebih jauh lagi, Jimmy menuturkan bahwa salah satu hal unik lain dari Ginan yang dikenang oleh sahabat-sahabatnya adalah pelukannya. Setiap bertemu hingga hendak pamit pulang, Ginan selalu memeluk dengan penuh kehangatan. Dan yang paling berkesan serta akan selalu dikenang oleh Jimmy adalah pelukan Ginan pada Kamis siang, 21 Juni 2018. Saat bertemu dengan Ginan, seperti biasa dia memberikan pelukan yang hangat pada sahabatnya itu. “Tingali yeuh beuteung urang geus tahuan deui!” (Lihat nih perut saya sudah berotot lagi!), ucapan itu yang membuka obrolan hal lain antara Jimmy dan Ginan. Selayaknya seorang sahabat yang telah lama tak berjumpa, mereka bertukar cerita satu sama lain, bersendau-gurau, hingga menertawakan banyak hal.

Ajal tak ada yang mampu menebak, dan perjumpaan itu menjadi kali terakhir Jimmy bertemu dengan sahabatnya, Ginan Koesmayadi. Setelah memutuskan pamit pada pukul 16.30, karena mesti pergi untuk memenuhi janjinya bertemu dengan orang lain, selang beberapa jam dari sana Jimmy dikirimi kabar yang sontak merubuhkan dirinya. Sekitar pukul 18.30, Ginan dikabarkan pingsan di kediamannya. Tak lama kemudian pihak keluarga langsung membawanya ke Rumah Sakit Advent, Bandung. Baru sekitar pukul 22.00, Ginan dikabarkan telah mangkat.

Kepergian Ginan tentu menuai duka cita mendalam bagi sanak famili hingga sahabat-sahabatnya. Tentu saja, kehilangan sahabat terbaik umpama kecolongan jadwal keberangkatan pada suatu destinasi yang kesempatan untuk mengulang upaya itu tak pernah ada lagi.

Pada akhirnya kita semua akan mengenang Ginan tak hanya sebagai “Lentera dari Paris van Java untuk Sepakbola Indonesia”, seorang vokalis energik di atas panggung, atau seperti apa yang Ginan sendiri kerap elu-elukan, seorang journey walker. Ginan lebih dari itu. Ia seseorang yang tak akan membiarkan sedikitpun hasrat hidupnya menempias. Ia adalah biru aleksandrit yang mencuat ketika yang lainnya tengah kelabu. Ia adalah lulabi yang akan menenangkanmu sebelum terlelap, di suatu malam dengan halimun kesepian yang pekat; adalah himpunan energi yang kapasitasnya melampaui mega-kilang minyak dunia; satu dari sekian nyala api yang memberanikan diri berkoalisi dengan halilintar; dan seorang punk dengan Amor Fati di kedua bilah tangannya.

 

___

Dokumentasi: Ginan saat tampil bersama Jeruji di Festival Kampung Kota 2017, oleh Hanas Duvan C.

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

No Comments

Post A Comment