Loader

Hari-Hari Bersama Tan

TAN tidak pernah mau beribadah. Namun, jika diminta berbaris di antara orang yang meneriakkan nama-nama tuhannya, Tan mau saja. Ia suka karena dapat uang dan tentunya nasi barang sehari. Tapi, sejujurnya, Tan bukan orang yang suka bertemu tuhan. Ia lebih suka bersenang-senang tiap malam, mampir dari ranjang ke ranjang. Katanya, mumpung masih muda. Namun, perlahan teriakan-teriakan Tan menjadi suatu mandat. Banyak orang tersentuh. Banyak orang mengultuskan Tan.

Tan tidak pernah ingat mati, sampai entah bagaimana ceritanya, Tan terbangun di sebuah kuburan. Ia telentang di tanah dingin, lelembut di kanan-kiri yang tampak biasa saja, berwajah asli masih wujud manusia—bedanya, mereka tentu saja melayang-layang. Para lelembut menertawai Tan dan ia sendiri jadi bingung.

“Kok, aku bisa lihat hantu?” pikir Tan sambil bangkit dari posisi telentang tadi.

Sambil masih terduduk kebingungan, Tan mendengar suara yang memekakkan kupingnya. Ia refleks menutup telinga, seperti orang-orang yang melakukan itu kala petir tiba-tiba menyambar bumi. Suara yang sungguh tidak enak didengar itu seperti campuran suara gerbang berkarat, berbahan baja yang hanya bisa dibuka oleh tiga puluh Agung Hercules, bercampur suara desing pendingin ruangan.

“Tan Elang,” seru suara besar yang keluar dari pintu raksasa di ujung posisi Tan terduduk. Mata Tan memicing dan memutuskan untuk lebih fokus pada datangnya seseorang dari arah gerbang. Bayangan yang ia lihat begitu tinggi, begitu tidak terjamah, gelap dan seperti pohon willow raksasa.

Akhirnya, Tan memberanikan diri untuk menjawab panggilannya, “Ya, Anda memanggil saya?”

“Ikut kami sekarang,” balas pemilik suara menggelegar itu. Tan bingung, tapi ia tak bisa menolak. Pasalnya, setiap ia ingin lari, ada tangan yang mencengkeram belakang lehernya seperti seseorang mencekik bayi kucing. Tan menjadi sangat kecil, kakinya mengayun-ayun sejauh sepuluh meter dari tanah, sebabnya hanya karena entah tangan siapa yang ada di belakang lehernya.

***

“Jadi, begitu doang ceritanya?” tanya Sampar, saat Tan menceritakan tentang awal mula pekerjaannya saat ini sambil menikmati secangkir teh bersama Sampar. Keduanya berada di ruangan penuh buku mengitari dinding ruang teh milik Tan. Ada banyak kunang-kunang di langit-langit, hingga Tan tak perlu membayar listrik yang kerap mati ketika ia masih hidup dulu. Semua yang ia dapatkan sebagai Pengantar, gratis dan tanpa biaya, walau tentu saja apa yang ia dapat kini ada harga pantasnya. Semua sesuai dengan bagaimana hidup Tan di dunia dulu.

Sambil menaruh cangkir tehnya, Tan menjawab Sampar, “Ya, situ maunya aku cerita apa? Memang cuma begitu saja ceritanya.”

“Ah, nggak asyik! Cerita apa gitu kek, biar saya tenang masuk portal,” balas Sampar kecewa, walau ia tetap saja tinggal dan tak henti meminum teh yang Tan suguhkan. Lalu, Sampar pun bertanya lagi, “Ngomong-ngomong, kok ini teh rasanya seperti daun peria sih? Pahit betul!”

“Jangan manis-manis, nanti kau jadi sepertiku. Lagipula stok gula di sini sedang habis. Sudah, kau nikmati saja sebelum pergi. Kau ini, sudah mati saja masih banyak omong, apalagi waktu dulu kau masih hidup ya?” jawab Tan malas, sedikit menceramahi pula. Enaknya jadi Pengantar, ia bisa menceramahi tanpa perlu menjadi musuh sejuta umat manusia.

“Wajar dong. Dulu saya pas masih hidup kan kerjanya teriak-teriak di depan Monumen Nasional. Banyak acara dulu tuh saya, dapat uang, makan enak, punya mobil, tujuannya karena membela tuhan pula. Nah, harusnya saya ini masuk surga kan?” tanya Sampar pada Tan.

Mata Tan melirik, wajahnya seakan prihatin dengan apa yang Sampar tanya. Ia menggeleng pelan, mengecek arloji, lalu kembali menoleh pada Sampar, “Betulan membela tuhan? Atau cuma cari duit buat cicilan mobilmu sih? Pokoknya, jangan harap macam-macam dulu. Aku pun nggak tahu kau bakal masuk ke mana, aku cuma Pengantar. Lagipula, aku bukan tuhan. Aku tak punya wewenang untuk menjebloskan dirimu ke kavling yang kau inginkan. Di sini bukan perumahan.”

Sampar kecewa, tapi ia diam saja. Lagipula, betul juga apa yang Tan bilang. Sampar kini tidak punya siapa-siapa. Apa yang orang-orang bilang agar memiliki banyak teman seiman dan akan mendoakanmu ketika mati, rasanya tidak berlaku lagi di sini. Menuju portal yang belum tahu kapan dibuka itu, Sampar hanya bisa bergantung pada dirinya sendiri, pada apa yang ia percayai sendiri. Tidak ada urusannya dengan orang lain. Dia hanya bisa berharap akan melenggang mulus ketika portal terbuka. Syukur-syukur tidak dimakan makhluk Lorong Api.

“Nah, sudah waktunya. Ayo ikuti aku,” ujar Tan lagi. Ia bangkit dan berjalan ke arah salah satu pintu di dinding penuh bukunya. Setelah menggumamkan beberapa kata terkait Sampar, pintu itu perlahan membuka. Satu lorong gelap tampak panjang dan jauh sekali. Di ujungnya ada tangga menuju entah apa. Inilah saat-saat terakhir Sampar bisa mengobrol dengan Tan. Besoknya pasti tidak tahu lagi akan ke mana. Bahkan, Tan sendiri tidak tahu Sampar akan ke mana. Tugasnya hanya sampai sini.

“Terima kasih atas waktu dan tehmu deh kalau begitu. Semoga kita tidak perlu bertemu lagi ya,” lanjut Sampar sambil bercanda. “Jadi, aku ini arwah ke berapa?” tanya Sampar lagi.

“Kau bisa diam tidak sih? Banyak tanya sekali. Tapi, demi menyenangkan dirimu sebelum masuk portal, aku akan beritahu. Kau baru arwah ke empat ratus. Masih ada enam ratus arwah lagi yang harus kuantar. Jadi, sekarang pergilah! Jangan ganggu pekerjaanku,” tukas Tan. Ia melambai saat Sampar memasuki lorong. Wajah lelaki yang diantar olehnya begitu pasrah. Tan prihatin, tapi ia bukan siapa-siapa. Ia hanya penjemput dan pengantar arwah. Setelah Sampar berjalan agak jauh hingga mendekati tangga, pintu portal pun tertutup. Tibalah saatnya bagi Tan untuk melanjutkan tugas ke arwah lain.

***

Pada hari ke empat puluh sembilan setelah Dayana dimakamkan, Tan sudah menunggui gadis itu di bawah pohon beringin Pekuburan Sentral Santiong. Tan merokok khidmat, memainkan asap-asapnya seperti permainan anjing-anjing di Lorong Api. Lalu, ia menerawang lagi ke arah keluarga Dayana yang sedang nyekar. Kira-kira begitulah kegiatan keluarga Dayana satu minggu sekali. Mampir ke makam Dayana, menyirami kuburannya dengan air, dan menaburi bunga wangi. Padahal, mereka tidak tahu kalau Dayana tidak suka bunga. Karena bunga-bunga, Dayana selalu tak bisa mendekat ke makam untuk mendengar doa-doa setiap keluarganya datang.

Dayana kini berjalan pelan ke arah Tan. Wajahnya layu, beberapa kali menghirup napas panjang. Ia menoleh sekali dan menatap ibunya yang menangis sesenggukan seperti baru hilang harta.

“Pergi sekarang?” tanya Tan setelah mematikan rokoknya.

Dayana hanya mengangguk. “Habis ini memang ke mana? Apakah aku akan masuk neraka? Aku cukup sering melawan Mami soalnya,” balas Dayana.

Tan hanya tersenyum, bersimpati. Karena senyuman itu, Dayana kembali semangat. Tentu saja Tan tidak bisa bilang apa-apa, karena dia juga tak tahu nasib gadis muda itu.

Tan mengajak gadis itu berjalan ke arah kota, berkeliling melihat pinggiran kota yang ramah pejalan kaki. Dayana merasa nyaman. Semua orang tampak ramah. Tan lalu mengajaknya ke sebuah rumah dengan gaya klasik dan sederhana. Dindingnya berbatu bata merah muda. Keduanya masuk pintu dan sampailah mereka di ruang minum teh.

“Wah, tempat minum teh!” pekik Dayana senang.

Tan kembali tersenyum. Tanpa berkata-kata, ia mempersilakan Dayana masuk dan duduk, sementara ia akan membuat teh saat Dayana melihat-lihat rak buku para Pengantar.

“Banyak sekali buku. Rasanya aku akan betah kalau berhari-hari di sini. Kalau saja dulu kita ketemu waktu aku masih hidup,” gumam Dayana senang.

Tan tertawa kecil. “Kalau kau masih hidup, ya kita tidak bisa ketemu dong. Memang sudah takdirnya kita ketemu saat kau meninggal,” balas Tan ramah.

Terdengar suara denting sendok beradu dengan keramik. Pelan dan memberikan waktu agak lebih lama bagi Dayana untuk menikmati kelebihan waktu kematiannya. Tan agak kasihan dengan gadis itu, sebab dia masih muda. Tewasnya cukup tragis, tapi hal itu bukanlah hal yang bisa Tan beberkan bahkan pada seorang arwah.

“Silakan diminum tehnya.”

Dayana mengambil cangkir dan menghirup aroma teh yang nikmat sekali. Sambil melihat-lihat sekeliling, ia mulai membuka obrolan. “Apakah kerja di tempat begini diberi gaji?”

“Tentu saja. Cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri, gratis dan cepat pula,” jelas Tan.

Dayana mengangguk lalu bertanya lagi, “Memang naik apa kalau Mas Tan jalan-jalan?”

“Kadang-kadang naik Finiks kadang bola-bola cahaya saja. Saya juga tidak tahu namanya.”

Lalu, seperti yang sudah Tan duga, gadis muda itu mengangguk lagi. Terbersit suatu pertanyaan di benak Dayana yang sejak mengikuti Tan. Ia menyeruput sebentar tehnya, lalu mulai bicara, “Mas Tan ini perempuan atau laki-laki? Kok sepertinya antara keduanya gitu.”

Tan terbahak. Sambil ikut menikmati tehnya, ia menjawab, “Kalau kamu panggil saya Mas, berarti kamu yakin kalau saya ini lelaki. Tapi, kalau sejak tadi kamu panggil Mbak, ya saya pasti perempuan toh?”

“Iya juga ya.” Dayana ikut tertawa.

“Lagipula, bagi Pengantar seperti kami, jenis kelamin kami ya sudah tidak penting lagi. Baik perempuan atau laki-laki menurut makhluk mortal seperti kalian, kami tetap bertugas mengantar kalian sampai portal. Yah, kata atasan kami, supaya tidak banyak arwah penasaran berkeliaran. Biasanya, arwah penasaran hanya butuh bantuan untuk diselamatkan.”

“Apakah dulu Mas Tan juga sempat jadi manusia? Kalau iya, kenapa sekarang bisa jadi Pengantar?” tanya Dayana, persis seperti bocah taman kanak-kanak. Polos.

“Ya ceritanya panjang. Saya pernah melakukan dosa besar dan hal itu hanya bisa diperbaiki dengan mengantar seribu arwah ke portal akhir,” jawab Tan.

“Kematian dan kehidupan ulang. Sakitkah? Kalau Mas Tan sendiri, apa rasanya menjadi Pengantar? Sakitkah kala mengingat masa lalu?”

“Sakit, tentu saja. Sebab, saat kau membayar dosa-dosa ini, kau tidak akan pernah lupa asal-usulmu dan kau harus kesakitan mengingatnya. Kata Atasanku, itulah balasan dari dosa-dosaku yang bagai buih di lautan. Aku harus membayarnya dengan merasakan sakit walau aku sudah mati. Aku bahkan tidak seberuntung dirimu, yang mati lalu langsung diantar ke portal. Kalau dihitung dengan tahun makhluk mortal, mungkin usiaku puluhan tahun sekarang,” jawab Tan lengkap. Rasanya, ia ingin bercerita pada gadis mungil itu, tentang dirinya. Namun, ia terikat Hukum Kematian. Ia tak boleh membeberkan rahasia tentangnya dan alasan dia menjadi Pengantar.

Dayana menyeruput lagi tehnya, lebih khidmat. Ia bersenandung kecil sambil matanya menyapu sepanjang dinding penuh sekat-sekat buku.

“Apa aku bisa jadi asistenmu, Mas Tan?” tanya Dayana penuh harap. “Aku cukup suka buku,” lanjutnya.

Tan tersenyum, tapi berikutnya ia menggeleng. “Sayangnya tidak bisa. Kau sudah punya kehidupan barumu di depan sana. Itu yang kau dapat dari Atasanku.”

“Yah, sayang sekali. Berarti aku hanya transit saja.”

“Nah, kalau begitu, ayo berangkat? Aku antar sampai portalmu.”

Tan berdiri dan berjalan pelan menuju pintu yang Sampar lewati juga. Ia mengucap mantra-mantra pendek dan cepat, hingga tak terdengar di kuping makhluk mortal seperti Dayana. Setelah Tan selesai, matanya yang sedari tadi tertutup, kini membuka. Ia berbalik dan memanggil Dayana, “Sini. Kau bisa pulang.”

Dayana cepat-cepat menghabiskan tehnya. Walau berat meninggalkan dunia mortal, ia tetap melangkah menuju portal. Tan berdiri sigap di sisi pintu dan tetap memasang senyum.

“Kau tidak masuk?”

“Tidak, tugasku hanya sampai pintu. Sisanya, silakan berjalan sendiri menyusuri lorong hingga ke tangga di depanmu nanti,” jelas Tan.

Dayana menunduk. Ia lalu menghirup napas sangat lama dan mengembuskannya perlahan, seolah-olah itu adalah oksigen terakhir di muka bumi yang bisa masuk paru-parunya.

“Sampai bertemu lagi,” ucap Dayana.

Tan menggeleng, “Tidak, kita tidak akan bertemu lagi.”

Tak ada salam tambahan. Dayana melangkah mantap menyusuri lorong, menuju tangga yang sebelumnya juga mengantar Sampar untuk ke entah. Seiring langkah gadis itu, Tan hanya berdiri mematung dan tetap tersenyum. Habis sudah kuota arwahnya untuk hari ini. Besok dia akan kembali mencari arwah dari dalam daftarnya.

***

Arwah-arwah yang Tan jemput dan antar hingga portal, tak melulu baru meninggal kemarin sore. Beberapa dari mereka telah lama tersesat dan mendekam di dunia entah. Sampai mereka ditemukan oleh Tan, mereka barulah bisa diberi pilihan apakah akan tetap menjadi arwah penasaran atau pergi menerima takdir baru mereka. Tak ada yang bisa kabur. Pilihannya, menerima takdir atau penasaran terus hingga tak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka di bumi ini.

Hari itu, saat Tan sedang memikirkan tentang berbagai kemungkinan arwah penasaran yang akan dijemputnya, ia kembali mengingat masa itu. Sambil berjalan menyusuri pinggiran trotoar, Tan menuju kawasan Senayan. Ia hendak menjemput seorang arwah yang tak pernah pergi dari sana, terus mengangkangi gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai hantu.

“Bumi,” panggil Tan dari kejauhan gerbang. Walau makhluk mortal tak bisa mendengarnya, tiga kali panggilan Tan pada lelaki bernama Bumi, bisa membuat sang arwah penasaran itu melesat bagai magnet menuju Tan.

“Kau?”

“Tan,” jawab Tan singkat lalu melanjutkan, “ayo lekas pergi.”

“Tidak, aku menunggu kawanku. Apa kau tidak dengar, mereka masih berdiri di luar sana meneriakkan namanya,” balas Bumi lagi.

Tan melihat sekeliling, beberapa mahasiswa tengah duduk di luar gerbang, makan nasi kotak dan bahkan bergantian orasi dengan temannya. Ada pula orang-orang berpakaian gamis panjang, bersorban dan tengah meneriakkan pujian pada Tuhan.

“Kawanmu tidak akan datang. Lagipula, kau bukan lagi makhluk mortal,” jelas Tan pada akhirnya, hanya demi mengajak Bumi pergi dari sana dan menerima kenyataan.

“Apa kau gila? Aku tidak mungkin bukan makhluk mortal. Lihat, aku masih berdiri dengan dua kaki.”

Tan mulai kehilangan kesabaran. Ia berjalan menjauh dari sana dan mulai berteriak lagi, tiga kali. “Bumi. Bumi. Bumi!”

Bumi terperanjat, karena ia terseret. Kali ini lebih kencang dan ia bahkan tak bisa melepas diri dari magnet aneh yang melekat antara dia dan Tan.

“Kau?!”

“Hanya Pengantar sepertiku yang bisa memanggil arwah penasaran. Kau sudah cukup lama diberi waktu oleh Atasanku, dan ini saatnya kau pergi. Duniamu bukan di sini lagi,” jelas Tan panjang lebar.

Susah payah Bumi menolak, tetapi Tan segera mengucap mantra dan membawa Bumi melesat bersamanya. Seekor burung Finiks menghampiri dan Tan segera duduk di punggungnya. Ia menjadi kecil, berdua bersama Bumi di balik punggung Finiks.

Setelah ia melesat cepat, tibalah Tan di ruang minum teh. Ruang tunggu terakhir bagi para arwah untuk pergi menuju portal. Di sana, ia akan bercerita panjang lebar tentang apa saja, tentang buku-buku di ruangannya, bahkan tentang kehidupan ketika ia masih mortal. Ia tak pernah benar-benar menceritakannya, karena ia akan melanggar Hukum Kematian. Namun, cerita itu berhasil menenangkan para arwah yang belum percaya kalau mereka sudah mati.

“Ini ruang kerjamu?” tanya Bumi segera setelah ia sampai di ruang teh.

“Ya, ini semacam ruang kerjaku. Dari sini aku bisa melihat apa saja.”

Bumi berkeliling, seperti arwah yang sudah-sudah, ia tentu saja takjub dengan menjulangnya koleksi buku Tan. “Buku-buku ini seperti kepunyaan kawanku. Samar-samar aku mengingat buku-buku seperti ini dalam pikiran mortalku.”

“Segera setelah kau masuk portal di depan sana, pikiran mortalmu akan hilang. Lenyap. Kau akan terlahir baru.”

“Tapi, aku tak bisa. Aku tak mungkin meninggalkan kawanku di luar sana. Perjuangannya untuk umat masih panjang,” jelas Bumi.

Tan yang sedari tadi menyiapkan teh, mulai berhenti mengaduk larutan pekat itu. Ia menghela napas, mungkin kali pertama dirinya bernapas sebagai Pengantar.

“Apa kau yakin bahwa kawanmu membela umat? Apakah bukan karena uang, politik, atau keegoisan pribadi?”

“Tidak! Aku yakin dia benar-benar membela umat dan menginginkan yang terbaik.”

“Aku turut prihatin, tapi kurasa, kawanmu tidak begitu. Kalau dia memang seperti yang kau katakan, kematianmu tidak akan penasaran.” Tan berhenti berkata, sebab ia hampir saja membocorkan rahasia langit yang tak boleh siapa pun tahu, kecuali para Pengantar dan Atasan.

Belum sempat Bumi mencicipi teh buatan Tan, pintu besar di hadapannya berbunyi kerit. Tan berhenti mengaduk dan ia segera mengumumkan bahwa saat akhir bagi Bumi telah tiba.

“Sungguh malang, kau bahkan tak sempat mencicipi tehku. Mari kuantar,” ucap Tan penuh wibawa.

“Tunggu! Tunggu sebentar.” Bumi berjalan menuju portal dan berbalik.

“Apa lagi?”

Bumi kini menatap Tan, ia berkata, “Apa kau bisa mengirimkan pesan pada kawanku jika kau kemungkinan bertemu dengannya?”

“Tentu saja. Permintaan terakhir para arwah, jika ada, selalu aku kerjakan. Setidaknya hal itulah yang bisa kuberikan pada kalian.”

“Kalau begitu, sampaikan padanya jika nanti ia hendak masuk portal lagi, mari berjuang bersama-sama lagi,” kata Bumi. Ia tersenyum dan berbalik, berjalan mantap menuju portal akhir.

Tan hanya melambai, memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan bergumam pelan, “Kau keras kepala sekali. Sudah kubilang, kau tak akan bertemu kawanmu itu.

***

14 Mei 1998

 

“Bumi!” teriak seseorang pada Bumi, selaku pimpinan aksi dari segi mahasiswa.

Bumi yang hendak berdiri dari istirahatnya beberapa menit, menatap kedatangan seorang lelaki yang tidak suka teh pahit macam peria.

“Ada apa, Sampar?” tanyanya pada si lelaki yang menghampiri.

“Tan Elang kabur! Aku pergoki dia di belakang mobil stasiun televisi tengah menerima sejumlah uang.”

“Tidak mungkin! Elang itu tokoh kita semua. Kita semua menghormatinya karena ia jujur dan membela kaum mahasiswa!”

“Tidak. Dia bahkan memberi bantuan untuk biaya kehidupan keluargaku dan memerintahkan untuk mundur. Dia bilang, kita wajib mundur, semua sudah tidak bisa diperbaiki,” jelas Sampar lagi.

Bumi mengumpat dalam hati. Ia lalu mencengkeram bahu Sampar dan berkata, “Dengar, kau tak perlu membual. Aku percaya Tan Elang bukan orang yang kau katakan! Dia serius membela bukan karena duit.”

“Terserah kau lah! Yang jelas, aku sudah tahu Tan dari dulu dan dia ikut kita orasi sampai long march, karena ia bisa dapat uang banyak. Kalau kau masih mau berdiri di sini, silakan saja. Jangan salahkan aku jika kau dihantam aparat,” ucap Sampar. Ia pun berlalu dan menarik mundur grup demo yang ia bentuk bersama teman-temannya. Sementara itu, perlahan-lahan grup Bumi pun berangsur mundur. Desas-desus tentang Tan Elang yang dikangkangi uang mulai menyebar. Namun, Bumi tetap pada pendiriannya untuk berdiri sampai panji kebenaran ditegakkan.

***

Menjelang akhir demo yang tak berkesudahan karena mengatasnamakan Tuhan, Bumi hendak berkunjung ke rumah Tan, bermaksud menanyakan apakah benar kalau Tan hanya provokator bayaran? Ia tak bisa percaya dan segera mendatangi kawan baik yang dikenalnya lewat aksi massa selama satu bulan. Diikutinya Tan sampai menuju gang dekat rumahnya agar ia bisa mengobrol lebih leluasa jika di rumah Tan.

Namun, saat Tan hendak menyeberang, satu sepeda motor mengebut dan menabraknya dengan segera. Tak hanya itu, dua tembakan dilepaskan. Tanpa bisa melakukan apa-apa, Bumi terperanjat, mulai berlari menuju tubuh Tan yang bersimbah darah. Ia berteriak-teriak histeris.

Tan terbatuk-batuk. Darah mengucur dari balik tangan yang menahan dada kirinya. Ia hanya sempat menggumam, “Berhenti demo.”

“Tan! Maksudmu bagaimana?!”

“Ja…ngan…. Ma…ti. Se…per…ti. A…ku,” tutup Tan. Bumi mulai memanggil sekitar untuk meminta bantuan, tapi sesampainya di rumah sakit, nyawa Tan tak tertolong.

Dua hari setelah kejadian itu, koran-koran nasional pun ramai oleh berita tentang terbunuhnya wanita-wanita keturunan Tionghoa. Salah satu yang Bumi kenal adalah mahasiswi kampusnya yang bernama Dayana. Bumi tak mempercayai berita itu, bahwa pelakunya adalah Tan Elang. Tan tak mungkin membunuh orang. Namun, pertanyaan yang menggelayut dalam pikirannya, tak pernah bisa terjawab. Tan sudah terlanjur pergi.

***

Rekaman itu terus berputar dalam benak Tan Elang, Sang Pengantar yang diminta membayar dosa karena perbuatannya. Ia tak bisa melupakan berbagai kejadian yang sampai merenggut nyawanya, serta apa pun yang membuat teman-temannya ikut terseret pada sebuah konspirasi yang ia lakukan karena uang. Ia butuh uang, setengah mati.

Namun, harga nyawa ternyata tak sebanding. Apa yang kini ia lakukan adalah menjadi Pengantar sampai ia dapat mengantar seribu arwah ke takdir baru. Ia harus menunggu waktu sampai ia bisa kembali menjadi mortal, terlahir baru.

Karena itulah, ia tak pernah bisa menjawab permohonan Bumi untuk mengirimkan pesan pada kawannya jika bertemu di ruang tehnya. Sebab apa yang Bumi cari, tentu adalah dirinya.

 

 

___

Ilustrasi: Lana Syahbani

 

No Comments

Post A Comment