Metaruang | Harlah 1 Tahun Perjuangan Tamansari Melawan: Berbagi Kasih Sayang di Titik Api
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17188
post-template-default,single,single-post,postid-17188,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Harlah 1 Tahun Perjuangan Tamansari Melawan: Berbagi Kasih Sayang di Titik Api

“……… Bukan mengenai hitam di atas putih dalam bentuk sertifikat, dan bukan mengenai peningkatan kualitas kehidupan. Juga bukan sebuah indikator indeks kebahagiaan sebuah kota. Ini mengenai rasa kepedulian. Kepedulian untuk memberikan pengertian bahwa penggusuran bukan salah-satunya cara untuk meningkatkan kualitas hidup ataupun menciptakan indeks kebahagiaan yang tinggi.”

Prabowo Setyadi, dalam wheatpaste, “Kami Bertahan dan Kami Bahagia”

 

JIKA kalian mengunjungi rangkaian acara Hari Lahir (Harlah) 1 Tahun Perjuangan Tamansari Melawan yang diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, kalian akan melihat kutipan tulisan pada wheatpaste di belakang masjid al-Islam dan bekas bangunan reruntuhan belakang Balubur Town Square (Baltos). Wheatpaste itu berisi semacam pledoi, tertata rapi di sebelah foto-foto warga yang masih bertahan. Bentuknya seperti kertas biasa namun sarat makna, mewakili seluruh perasaan mereka yang terancam liarnya rezim ekskavatoris di tanah sengketa ini.

Wheatpaste merupakan karya seni turunan dari street art yang lazim ditemui di tembok-tembok jalanan. Berupa kertas-kertas bekas, koran, bahkan sisa poster, yang dikreasikan sedemikian rupa oleh sang seniman hingga menjadi sebentuk gambar yang melekat pada dinding bangunan. Gambar-gambar tersebut merekat berkat adonan lem kanji yang akan sulit dikelupas. Kita akan menemukan ragam wheatpaste poster ini terpacak pada reruntuhan bangunan di kampung Tamansari. Karya-karya mereka mengingatkan kita bahwa semangat perjuangan tak akan luntur dan terkelupas dari memori segenap warga, meski bangunan hancur dan rata dengan tanah.

Sedari tanggal 13 – 15 Juli 2018 kemarin, kampung kota tepat di bawah jembatan Pasopati itu disulap menjadi lokasi festival yang artistik oleh warga Tamansari dan kawan-kawan solidaritas. Lampu kerlap-kerlip, wheatpaste, pameran artefak aksi, pameran foto, kolektif market, hingga podium panggung yang menyerupai labirin rangkaian mozaik. Kita seakan dibawa ke Le Mans, pinggiran kota Perancis, yang kampung kotanya kalah bersolek dengan gedung-gedung megah menjulang tinggi.

Ada momen menarik saat pemotongan tumpeng simbol satu tahun perjuangan. Warga Tamansari, Pekayon (Bekasi), dan Dago Elos, sama-sama naik ke atas podium panggung, meneriakkan ikrar melawan peliknya penggusuran.

“Kita dulu dijajah sama Jepang dan Belanda, sekarang kita dijajah sama bangsa kita sendiri. Maka kita harus lawan! Lawan, lawan terus!” ucap warga RW 11 Tamansari Pak Sambas, dengan suara lantang.

Rupanya, semangat kebersamaan serta kepedulian akan sesama manusia telah membawa Utok yang jauh-jauh dari Puntang, Garut, untuk ikut menghadiri rangkaian acara Harlah 1 Tahun Perjuangan Tamansari Melawan. Meski ia tidak terlalu intens mengikuti perkembangan kasus proyek Rumah Deret di Tamansari, baginya kegiatan ini adalah bentuk solidaritas terhadap warga Tamansari, sekaligus membuktikan bahwa perlawanan itu tetap ada.

Pasalnya, menurut Utok, proses perjuangan mempertahakan ruang hidup memang amat rumit, ganjil, jika bukan dipersulit sekaligus diperkarakan dan tentu melelahkan, karena mediasi-mediasi selalu menguntungkan pihak lawan, para elit oligarki dan kelas borjuasi yang menukangi sederet sengketa.

Utok menuturkan pandangannya soal negara, yang tak lain hanyalah sekrup dalam sistem kapitalistik. “Ya, saya tidak percaya dengan pemerintah. Mengapa? Justru mereka (pemerintah) hadir untuk menjembatani kepentingan kapitalis (baca: pemodal). Contohnya penggusuran, sederhananya kita dipaksa menikmati apa yang tidak kita nikmati,” jelas Utok. “Memang pembangunan ini untuk siapa?”

***

Harlah ini tentunya memberi kesan tersendiri bagi warga yang masih bertahan. Tak terkecuali Bu Iis dan pak Budi, orangtua dari dua anak laki-laki bernama Zalfa dan Arbi. Mereka mengaku merasa bahagia telah berjuang selama kurun waktu 1 tahun terkahir. Banyak sekali, menurutnya, cerita yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya selama perjuangan ini, yang tentu masih akan berlangsung.

“Yang pasti menurut saya, kesan yang didapat yaitu menjadi tahu soal hukum Undang-Undang Pokok Agraria, menambah banyak pengetahuan, dan tahu tentang arti solidaritas dari mahasiswa. Intinya, perjuangan ini memiliki kesan yang berarti,” ucap bu Iis saat ditemui di stand Kolektif Market.

Kolektif Market ketika itu tengah dipadati pengunjung. Lukisan-lukisan mural di dinding menjadi latar hiruk pikuk ibu-ibu warga Tamansari yang fokus memasak dan menjajakan berbagai makanan. Di sudut lain kolektif market, kawan-kawan solidaritas berjaga di lapakannya masing-masing, menjual poster, pin, dan barang-barang lainnya untuk donasi.

Iis menikmati suasana malam itu. Uap hangat mengepul dari mangkuk plastik di tangannya, hasil masakan dari tangan ibu-ibu warga Tamansari lain. Dengan antuasias, Iis bertutur kembali tentang pengalamannya ditipu oleh pemerintah (baca: Pemkot Bandung).

Sejak dulu, Iis mengaku selalu manut pada peraturan pemerintah. Namun janji setelah janji lagi-lagi diingkari, dan Iis pun sadar bahwa kata-kata pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya hanyalah omong kosong belaka.

Ketika ditanya apa yang akan ia lakukan jika pemkot Bandung datang, dengan segala ambisi serakahnya, Iis menjawab dengan tegas: “Allhamdulilah, saya dan keluarga tetap melawan dan bertahan!”

***

Jauh hari sebelum acara terlaksana, lelaki itu sengaja datang lebih awal ke Tamansari sejak Rabu, 11 Juli 2018 silam, hanya untuk bersilaturahmi dengan kawan-kawan solidaritas Bandung. Ia adalah Bimbim Sombanusa, yang berperawakan kurus-jangkung, berkulit cokelat dan memakai anting hitam di telinga kirinya. Seorang musisi folk yang lahir di Maluku, Bimbim giat bersolidaritas untuk korban gusuran di beberapa titik api yang ada di Indonesia.

Bimbim mendengar kabar mengenai kasus sengketa lahan Tamansari untuk proyek Rumah Deret dari sahabat karibnya di Bandung. Menurutnya, perampasan lahan adalah bentuk perusakan atas nilai hak asasi manusia. Karena penggusuran dengan dalih pembangunan kota sama merugikan bagi rakyat.

Ketika disinggung mengenai keberpihakan politis musisi atau seniman, baginya tak hanya musisi saja yang harus punya keberpihakan politis, namun semua orang. “Aku pikir bukan musisi saja yang harus punya sikap, tetapi semua manusia. Karena aku tumbuh dari keluarga yang baik, dan ayahku pernah bilang bahwa sesama manusia harus saling tolong-menolong. Karena kita punya tangan, mata, hati, dan kaki yang sama,” ungkap lelaki itu.

Bimbim memang tumbuh dari keluarga yang cukup religius. Semasa kecilnya, ia sering mendapat wejangan-wejangan tentang kemanusiaan seusai shalat subuh berjamaah bersama ayahandanya. Hal itu juga kiranya yang membawa Bimbim sampai ke Tamansari. Pelantun tembang Gadis Telaga ini menulis lagu dari pengalamannya yang aktual. Dengan giat bersolidaritas, ia menciptakan karya karena ia langsung bersentuhan dengan kondisi objektifnya.

Langkah awal membangun perjuangan otonom

Tak hanya tentang perayaan semata, Harlah 1 Tahun Perjuangan Tamansari Melawan, memiliki orientasi jangka panjang untuk membangun sebuah aksesibilitas yang demokratis atas sumber ekonomi. Salah satu panitia acara dan kawan solidaritas Tamansari Melawan, Babaw, mengamini hal itu.

“Sebenarnya acara (Harlah) ini bukan untuk hura-hura saja. Di sisi lain ada poin penting, yaitu untuk memperpanjang langkah perjuangan. Karena bentuk perjuangan itu tidak hanya aksi demonstrasi dan aktivasi ruang saja,” kata Babaw.

Tamansari Kolektif Market

 

Ia merujuk pada Koletif Market yang tersedia di acara tersebut. Namun tentu saja, gagasan besarnya yang ditetaskan terhadap laku yang paling insidental di mana pun ialah merubah corak produksi dari watak kapitalistik menjadi sosialisme. Persaingan predatoris berganti menjadi kebersamaan dalam membereskan kontradisi pokok pada basis material. Walaupun untuk mencapai hal itu tak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan dengan sistematis, perlahan, dan memulainya dari hal-hal yang sederhana bersama kawan-kawan lainnya.

Koletif Market yang tersedia di acara kemarin, merupakan titik berangkat membangun perjuangan otonom. Para warga yang bertahan, terutama ibu-ibu, saling membantu menjajakan barang dagangannya. Mereka belajar mengelola ekonomi koletifnya, yang bukan relasi upahan melainkan berbagi hasil yang dihitung dengan seadil-adilnya sesuai dengan kesepakatan bersama.

Tak hanya warga, Babaw pun mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru selama 1 tahun berjuang bersama warga Tamansari. Seiring berubahnya ruang dan waktu, ia mendapati kenyataan bahwa negara (baca: Pemkot Bandung ) sama sekali tidak berperan di dalam masyarakat dan malahan mengusir rakyat dari ruang hidup yang telah dihuni selama puluhan tahun itu.

***

Irama musik dangdut dari Orkes Dangdut Ceria Band menutup rangkaian acara kali ini. Warga Tamansari, kawan solidaritas dan hadirin, berjoget bersama menikmati syahdunya sisa malam. Mungkin ancaman penggusuran dari pemkot Bandung bisa datang kapanpun, namun warga akan tetap bahagia dan bertahan, karena banyak limpahan kasih sayang datang dari mereka yang sadar akan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Artikel terkait:

Rudetnya Rumah Deret Tamansari Bandung

Maraton Puisi: Peluru Kata di Puing Kota

Satu Malam di Tamansari dan Perenungan tentang Rumah

 

___

Dokumentasi: Figia

 

Rinaldi Fitra Riandi, mahasiswa Universitas Pasundan

No Comments

Post A Comment