Metaruang | Harry Roesli: Ken Arok
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17169
post-template-default,single,single-post,postid-17169,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Harry Roesli: Ken Arok

 

Harry Roesli, Ken Arok
Label: La Munai
Rilis: Mei 2018 (Reissue)

 

 

“Jangan biarkan lampu meja kerja ini padam,”

 

Tutur Lahami Roesli seraya membuka diskusi bertajuk “Bincang Rock Opera” yang diadakan di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Bandung. Ucapan Lahami tersebut merupakan kata terakhir Sang Maestro sebelum meninggal dunia 14 tahun silam.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 dan RMHR mulai ramai. Hari itu, Jumat (1/6), merupakan diskusi pembahasan rilis ulang album Ken Arok, salah satu album terbaik dari Harry Roesli yang sempat dirilis pada tahun 1977. Mei kemarin, album ini dirilis ulang oleh La Munai Records dalam format piringan hitam yang dicetak dalam jumlah terbatas.

Dalam diskusi tersebut, hadir empat orang pembicara yakni Aat Suratin, budayawan sekaligus sahabat dekat Harry Roesli, Kania Roesli, istri Harry Roesli, Harry Pochang, rekan kerja almarhum di Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), serta Gerry, perwakilan dari Iramanusantara dan La Munai Records.

Acara berlangsung sebentar saja, tak ada sesi tanya jawab yang cukup mendalam sehingga hadirin terlihat pasif dan acara pun hanya berlangsung seperti talk show biasa saja. Untunglah, suasana RMHR seolah membawa saya ke dalam kenangan-kenangan tentang Harry Roesli, tak terkecuali ke dalam nuansa album Ken Arok yang sempat dibahas tadi.

Pasca diskusi, Saya bergegas ke ruang depan RMHR. Saya mengobrol dengan Gerry yang juga sedang ada di sana. Ia menceritakan bagaimana kedekatannya dengan RMHR. Sejak kecil, ibunya sering mengajaknya ke sini untuk cek kesehatan ke tempat ini. Lama-kelamaan, Gerry penasaran tentang almarhum dan mulai bertanya pada ayahnya perihal karya-karya Harry Roesli.

“Bisa dibilang saya dari kecil sudah main ke sini,” kekeh Gerry.

Habis bahan obrolan, saya dan Gerry bengong sejenak. Di salah satu sudut ruangan,tampak lima buah foto terpasang di dinding dengan ukuran yang cukup besar. Foto paling atas adalah Marah Roesli, kakek Harry, dokter hewan, sekaligus penulis salah satu roman terkenal dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai. Tepat di bawahnya, foto ayah dan ibu Harry dipasangkan. Ayah Harry adalah seorang jenderal, sedangkan ibunya dokter anak. Dulu, Ibunda Harry menggunakan RMHR ini sebagai tempat praktek kerjanya, sedangkan di bawah tampak foto Harry diapit keempat kakak perempuannya; Harry tampak manja dengan gaya seperti seorang bayi besar. Tubuhnya yang gemuk duduk tak keruan sedangkan keempat kakaknya tampak berdiri formal.

“Harry kalau di luar saja aktivis, di rumah mah dia paling dimanja. Maklum anak bungsu sekaligus laki-laki satu-satunya,” ujar Kania seraya menghampiri saya yang terbengong-bengong.

Menyoal Ken Arok, jelas tak bisa lepas dari peran Kania Perdani Hardiman atau yang lebih sering disapa Kania Roesli. Album tersebut merupakan momen pertamanya berkolaborasi dengan Harry Roesli sekaligus pemersatu anak muda Bandung yang saat itu terpecah ke dalam dua kelompok besar; kelompok ajojing dan kelompok gunung.

Menurut Aat dalam diskusi sebelumnya, saat itu anak muda Bandung terbagi ke dalam dua golongan. Kelompok ajojing, yakni kelompok remaja kelas menengah yang gandrung party dari satu rumah ke rumah lainnya, juga kelompok remaja gunung alias anak muda yang hobi berkesenian dan mendaki. Kania yang saat itu merupakan ketua ekstrakurikuler vokal grup di salah satu SMA favorit di Bandung, merupakan bagian dari kelompok ajojing, sedangkan Harry adalah kebalikannya; ia aktif dalam kesenian dan hobi kongkow-kongkow dengan anak teater.

Di antara kedua kutub anak muda Bandung tersebut, hadirlah Pochang yang menjadi jembatan di antara mereka. Berbeda dengan Harry yang lebih akrab dengan anak teater, Pochang lebih supel untuk bergaul dengan kelompok ajojing dan menggeluti dunia disko keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. “Nah, dulu Pochang ini dikenal dengan nama Pochang Disko,” kenang Kania sambil tertawa saat Pochang menghampiri kami bertiga—saya, Kania, dan Gerry.

Dalam setiap pentasnya, Pochang Disko seringkali memutar musik disko Afrika Utara. Menurutnya, musik ini bisa turut menggaet kelompok anak ajojing termasuk Kania di dalamnya. Dari sinilah hubungan anak gunung dan ajojing mulai terjalin hingga membuka gerbang kerja sama di kedua kutub anak muda saat itu.

***

Menurut Pochang, Ken Arok merupakan salah satu proyek ambisius Harry. Pada awalnya, Harry tergiur melihat pementasan terjemahan Jesus Christ Superstar yang digelar oleh Remy Sylado dan kelompoknya di Orexas pada tahun 1973. Dari sanalah ia lantas coba-coba melakukan eksperimen lewat pementasan teater bawah tanah.

Dalam ingatan Pochang, terdapat beberapa naskah yang masih membekas dalam ingatannya. Tak terkecuali pentas “Sangkuriang” dan “Kuda Lumping” yang dipentaskan pada tahun 1973. Harry seringkali melakukan eksperimen yang berada di luar nalar, tak manut naskah, serta cukup sembrono saat di atas panggung. Pada pentas “Kuda Lumping” misalnya, dalam pagelaran tersebut, Harry yang berperan sebagai penunggang kuda lumping mengganti properti kuda lumping menjadi sebuah motor trail. Harry menggas motor tersebut dari bawah panggung sambil menyembur-nyemburkan api seperti layaknya pementasan kuda lumping pada umumnya. Walhasil, teater yang diadakan di sebuah bioskop kecil di bilangan Singaparna, Garut, berujung pada sebuah kecelakaan yang menggelikan; Tirai panggung terbakar kena sembur Harry.

“Ujungnya kita di-blacklist sama yang punya bioskop,” kenang Pochang tergelitik.

***

Pementasan Ken Arok sendiri cukup memikat banyak kalangan. Tak terkecuali media baik lokal maupun arus utama tergiur untuk memberitakan pentas yang diadakan ‘Si Berandal Bandung’ ini. Dengan embel-embel membawa anak SMA, Harry sukses mementaskan rock-opera ini di gedung-gedung megah yang tersebar di kota besar di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Harry melakukan pementasan pertamanya di Gedung Merdeka (sekarang Gedung Asia Afrika) pada 12 April 1975. Pentas lantas dilanjutkan berturut-turut ke Taman Ismail Marzuki (Jakarta), Jakarta Convention Center (JCC), hingga berlanjut ke daerah lain di Jawa Tengah.

Meski terbilang sukses, pementasan “Ken Arok” tak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa pementasannya, Harry seringkali ‘terciduk’ sensor Orde Baru. Salah satunya adalah pementasan di GOR Jateng, Semarang, bulan Desember 1976.

Saat pertengahan pentas, tentara menggeruduk panggung dan menahan Harry Roesli selama beberapa hari. Meski demikian, hal tersebut bukan menjadi masalah yang cukup signifikan. Berkat bantuan ayah Harry, Jenderal Roeshan Roesli, Harry dapat dengan mudah bebas berlenggak-lenggok kembali. “Waktu itu tentara nerobos panggung pas kita lagi pentas,” ujar Kania.

“Harry sudah biasa ditangkap. Saking biasanya, tiap dikasih tahu ada penangkapan bapak cuma ketawa saja di rumah. Besoknya, udah main lagi kaya biasa,” tambahnya sambil mengisap rokok dalam-dalam.

Dalam setiap karyanya, Harry memang tergolong kelompok subversif bagi Pemerintahan Orde Baru. Bakat Marah Roesli, sang kakek dalam meracik kata-kata membuat lirik-lirik buatan Harry menjadi satire yang khas termasuk dalam Ken Arok yang menyinggung isu-isu sosial pada masa itu seperti praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dalam tubuh pemerintahan hingga indoktrinasi sejarah palsu di kurikulum pendidikan dasar.

Album Ken Arok yang dirilis Musca Studio ini pada dasarnya bukan merupakan versi asli dari pementasan. Menurut Kania, durasi pementasan sendiri lebih dari 50 menit dan banyak kata vulgar yang terpaksa dipotong sana-sini. “Album itu direkam di studio, bukan live saat pentas,” jelasnya.

Sebagai pengagum Harry Roesli, Gerry menambahkan bahwa ternyata ada orang yang merekam pementasan menggunakan recorder. Hasil rekaman tersebut dikopi sangat terbatas sehingga sulit untuk menemukan kembali keberadaannya.

Sepanjang perjalanan karier Harry Roesli, Ken Arok jelas merupakan titik awal Harry dalam mengeksplorasi nada pentatonis Gamelan Jawa dengan instrumen jazz dan fusion yang kebanyakan menggunakan instrumen diatonis. Harry sendiri cenderung menyebut pementasan Ken Arok dengan sebutan shock rock Gamelan. (Tyson, 2016:7)

Dalam Ken Arok, Harry terbilang cukup gila dalam memainkan instrumen. Tak hanya berupa alat musik, Harry juga menggunakan barang sehari-hari sebagai bagian dari upaya eksplorasi bunyi dari mulai pintu, level panggung, dan banyak lainnya. Harry juga menggunakan properti lain berupa wayang golek dan memadukannya ke dalam teater lain yang lebih eksperimental dalam satu pertunjukan sehingga Ken Arok bukan hanya sekadar opera, melainkan pentas kabaret, wayang golek, dan juga gondang yang dikemas ke dalam satu pertunjukan.

“Sehabis pentas, kita juga baru sadar dibandingkan opera, Ken Arok justru lebih mirip broadway,” ungkap Pochang.

Pochang juga menambahkan, selain berusaha mengeksplorasi nada Barat dan lokal, anak muda pada masa itu juga kesulitan untuk menggali informasi lebih jauh tentang rock-opera itu sendiri. Keadaan hiburan pada masa itu dikuasai oleh pemerintah sehingga anak muda yang ingin bereksplorasi dengan lagu Barat terpaksa harus meyadap siaran radio lewat saluran ilegal atau yang lebih dikenal dengan sebutan black box radio.

“Makanya kita bingung kenapa anak sekarang sulit untuk berkarya, padahal enggak perlu ribet-ribet dianggap subversif,” ketus Kania menyalip pembicaraan.

***

Mendengarkan Harry Roesli adalah mendengar instabilitas yang cantik. Dalam The Philosophy of Rock-nya yang dirilis pada tahun 1971, Harry jelas memperlihatkan karakteristik musik yang hendak ia bawakan lewat analogi “Peacock Dog” yang beritme tak keruan ataupun “Malaria” dengan lirik dengan metafora aneh yang sangat membingungkan.

Meski demikian, hal itulah yang justru membuat Harry tetap bertahan sebagai penggelitik ideologi paling setia di era Orde Baru (Orba). Alih-alih menciptakan stabilitas, si Peacock Dog ini justru dengan cantik menggelitik keteraturan yang ditawarkan pemerintah dengan musik avant garde yang berusaha mengeksplorasi musik dengan ritme dan instrumen yang diatur seenak jidat.

Debut seni Harry Roesli pertama kali diperlihatkan di salah satu Festival di Bandung medio 1971. Harry saat itu tampil pertama kali bersama grupnya, Harry and His Gang yang berisi kumpulan mahasiswa ITB yang tertarik dalam kajian sastra bersama W.S. Rendra (Tyson, 2016:12). Penampilan Harry terbilang cukup memukau, kolaborasi jazz dengan nada pentatonis Gamelan Sunda serta metafor lirik yang unik dan mudah dicerna seperti “Malaria” ataupun “Peacock Dog” membuat musik Harry dapat diterima berbagai elemen masyarakat.

Ken Arok dalam konteks ini merupakan salah satu karya Harry yang terbilang sangat berhasil. Dikemas dalam bentuk rock-opera ala Jesus Christ Superstar -nya Andrew-Lloyd Webber, Roesli memadukan konsep teater Broadway, musik progressive-rock ala Yes, Pink Floyd, ataupun Genesis dengan Gamelan Sunda sehingga apabila didengar sekilas, ingatan kita mungkin tertuju pada Gamelan Supra di Era Soekarno ataupun eksperimentasi Guruh Gipsy dan Eberhard Schoener dengan Bali Agung-nya.

Berdurasi 40 menit, pentas Ken Arok Harry Roesli berupaya menyampaikan pesan terkait semangat muda Ken Arok menentang institusi-institusi yang berkuasa, dari mulai agama hingga Tunggul Ametung yang berkuasa di Tumapel pada masa itu.

Dalam pentasnya, Harry menyuguhkan penampilan yang ‘berisik’, ‘asal-asalan’ dan cukup eksperimental. Pentas ini juga dipadukan dengan tata suara buruk, lampu menyorot ke sana-sini, dan pantulan bayangan dari wayang golek yang menciptakan lanskap sureal yang chaos. Dalam konteks ini, harry justru menyindir keras Orde Baru yang pada saat itu menginginkan stabilitas, kenyamanan, dan kesenian yang terstruktur. Hal ini lantas diamini Harry lewat frasa pertama dalam Ken Arok :

“Aku Ken Arok yang engkau tunggu / Engkau beli kaset, mendengarku / Uang delapan ratus, tidak sedikit / Wahai, teman kau tertipu / Coba jika uang itu kau jajankan rujak asinan / Pastilah puas perutmu itu / tapi kini t’lah terlanjur, uangmu itu disayang”

Alih-alih menciptakan karya seni berkualitas yang layak dipentaskan di televisi, Harry justru mengobrak-ngabrik aturan seni dan menawarkan hal yang avant-garde atau bisa dibilang tidak berguna. Lewat frasa di atas, jelas Harry secara blak-blakan bilang bahwa pentas yang diadakan di gedung pertunjukan terbesar se-Bandung Raya itu adalah kegiatan percuma. Buang-buang uang.

Meski demikian, pertunjukan tersebut berlangsung ramai. Pentas lantas dilanjutkan ke ibu kota Jakarta. Tak jauh dari Bandung, pementasan Ken Arok di Jakarta pun dilakukan di gedung pertunjukan super megah seperti Senayan Convention Hall (Sekarang Jakarta Convention Centre (JCC)), Balai Sidang Jakarta, dan Taman Ismail Marzuki sehingga jumlah penonton yang ‘budek’ pun banyak tak terkira.

Terkenalnya Harry Roesli ini sendiri lantas menjadikannya salah satu nama besar dalam pergerakan seni rakyat di Indonesia. Harumnya nama Harry ini lantas membuat Ken Arok terus dipentaskan hingga April 1976 atau terhitung satu tahun sejak Ken Arok pertama kali dipentaskan. Pentas ini sendiri digelar di Dago Tea House, Bandung. Uniknya, dalam pementasan satu tahun Ken Arok yang berbarengan dengan perilisan Titik Api ini, Harry tak hanya mengundang penonton untuk umum. Harry juga turut mengundang ratusan anak jalanan dan puluhan waria untuk berkumpul bersama di tempat yang notabene merupakan tempat kumpulan kelas menengah ke atas tersebut.

Meski terbilang cukup sukses, Ken Arok pun tak lepas dari patron Orde Baru. Dalam salah satu pentas yang diadakan di GOR Jateng, Semarang, Pementasan Ken Arok justru dibubarkan karena dianggap subversif oleh TNI. Alih-alih menghindar, si berandal ini justru lebih memilih main cantik. Satu tahun pasca acara tersebut, Harry berkomitmen untuk mengikuti Safari Bianglala yang diusung oleh Partai Golongan Karya (Golkar) pada tahun 1977. Walhasil, berkat partisipasi dan juga pangkat ayahnya di militer, Harry dapat terus berkarya dengan sinting di tahun-tahun selanjutnya.

Tak dapat disangkal, Harry adalah salah satu penggelitik terbaik di zaman Orde Baru. Meski tak mengambil jalan keras layaknya Iwan Fals sebelum pertemuan dengan Setyawan Jody, Harry justru mengambil jalan yang kompromis. Dari tubuh beringin Golkar, Harry cukup iseng berbisik layaknya Ken Arok versinya sendiri;

“Tunggul-Tunggul Ametung, kau akan mati sekarang.”

***

Waktu sudah beranjak larut, pukul 10 malam. Saya berpamit pulang pada Gerry, Pochang, dan Kania Roesli. Saya ambil ponsel, tancap earphone dalam-dalam. Sayup-sayup terdengar kebisingan itu; “Tunggul-Tunggul Ametung, kau akan mati sekarang.” Harto sudah lama mati, namun masih banyak Tunggul Ametung lain yang berkutat di meja kekuasaan. Nampaknya, itu alasan Harry agar menjaga lampu di meja kerjanya tetap menyala.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adam D. Tyson. 2011. Titik Api : Harry Roesli, Music, and Politics in Bandung, Indonesia. Indonesia 91 (1) :1-34

Hera Diani. 2001 October 21. Harry Roesli: Taking Shots at Terror. The Jakarta Post

Republika. 2007. Musisiku. Jakarta : Penerbit Republika.

 

Novandy Fiardillah, mahasiswa prodi Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran. Aktif menulis di gilanada.com dan Warta Kema Unpad sebagai reporter.

No Comments

Post A Comment