Loader

Herry ‘Ucok’ Sutresna: Menulis Adalah Sebuah Kebutuhan

Sekitar pukul 21:15, Sabtu malam (13/8), hujan masih turun di Jalan Kerang, Buah Batu, Bandung. Mata kami terus mencari nomor rumah seseorang. Kami langsung menuju alamat yang dituju setelah mendapati kiriman pesan di ponsel.

Ia telah menunggu di teras rumahnya. Kami segera memarkirkan motor dan duduk di kursi kayu yang berada di teras. Dengan berbalutkan celana pendek dan kaus lekbong Born Against, ia tampak tak terlihat kedinginan sedikit pun. Tanpa kaca mata, rambut sudah sedikit memutih di beberapa sisi, dan perawakannya menjadi gempal. Sosok yang berada di hadapan kami adalah Herry ‘Ucok’ Sutresna (Babap Herry, Rap Master Cox, Dirty ‘Rap’ Herry, Herry Boogaloo, Ucok Homicide, Ucok Bajang, Ucok Bars of Death, Ucok Grimloc) atau siapa pun kalian menyebutnya. Ia adalah seorang raper gaek asal Bandung yang kini tengah menggarap proyek solo. Ia pun sedang melanjutkan proyek unit hip-hop bernama Bars of Death.

Malam yang cukup dingin. Kami ditemani martabak kubang, kue, dan kepulan asap sigaret ketika mewawancarainya. Pertanyaan yang kami layangkan mengenai musik, literatur, konflik munisipal-agraria hari ini, kondisi Bandung dengan pernak-perniknya, hingga hal-hal yang sifatnya personal.

Berikut wawancara Metaruang dengan Herry ‘Ucok’ Sutresna:

 

 

Metaruang

Pada lagu Post-Mortem Hip-Hop terselip The Force Majeure-nya Boysetsfire. Sejauh mana pengaruh Nathan Gray dalam musikalitas yang Ucok garap?

 

Ucok

Sepertinya tidak begitu signifikan. Saya bukan die-hard fans Boysetsfire, namun ada poin yang membuat Boysetsfire begitu menarik kala itu. Sebetulnya pertemuan saya dengan musik mereka berawal ketika saya sudah mulai bosan dengan band-band hardcore punk yang biasa saya dengarkan di akhir 90-an. Saya mulai mencari musik punk politikal dalam tradisi punk lain, mulai dari struktur dan format yang berbeda. Tentunya pula masih dalam tahap yang saya suka musikalitasnya, di luar jebolan-jebolan Dischord. Karena, mungkin jebolan Dischord sudah barang tentu hafal karakternya seperti apa kan. Lantas dari situ kemudian saya menemukan Catharsis, Still Life, Torches to Rome dan tentunya Boysetsfire, saya ingat pertama kali dengar pas split EP-nya dengan Snapcase. Namun, saya pun tidak begitu mengikuti Boysetsfire. Mungkin dikarenakan sarana dan kondisi kala itu kurang begitu menunjang saya dalam mendapatkan referensi lain soal Boysetsfire. Saya hanya mendengar satu EP dan dua album pertama mereka. Jadi, otomatis apabila ditanya seberapa pentingnya Boysetsfire, mungkin tak begitu berpengaruh banyak. Tapi dua album pertama mereka itu, The Day The Sun Went Out dan After The Eulogy, itu luar biasa. Tapi ya itu, hanya sebatas tataran musik saja, urusan selesai. Saya jarang mendapatkan wawancara mereka dan informasi lain tentang Boysetsfire. Tidak seperti rasa antusias saat saya berupaya menelusuri Refused hingga membedah liner notes dan teks-teks lain di luar album mereka kala itu, atau ketika menemukan Articles of Faith dan menyimak teks-teks yang beririsan dengan keterlibatan anggotanya dalam Partai Komunis lokal, memeriksa koneksi soal artistiknya, musik emo politisnya atau aspek lain di luar musikalitasnya. Untuk Boysetsfire hanya berhenti di tataran musik. Sampai sekarang saya tidak lagi menyimak musik mereka, apalagi pasca reunian.

 

 

Metaruang

Dalam Membakar Batas, Ucok mengulas The Weakerthans. John K. Samson, sosok yang menjadi figur representatif perlawanan lewat sastra, terutama puisi. Apakah ia menjadi inspirasi seorang Ucok dalam menulis lirik? Terlebih, ia merilis sebuah buku kumpulan puisi bersama istrinya.

 

Ucok

Nah, The Weakerthans itu rada antik. Ketertarikan awal kepada The Weakerthans sebetulnya bukan gara-gara Propagandhi. Tapi dalam upaya yang sama pas mencoba mencari bentuk lain dari punk politikal yang selama ini ada, seperti proses menemukan Boysetsfire. Karena terus terang setelah Less Talk More Rock saya tidak lagi begitu menyimak Propagandhi. Saat itu, saya mendapati mereka masuk di dalam katalognya G7 Welcoming Comittee, salah satu label yang saya ikuti rilisannya sejak mereka merilis album Bakunin’s Bum, grup proyekan drummer Godspeed You! Black Emperor. Saya ingat pada suatu hari membaca resensi The Weakerthans di satu fanzine, lupa fanzine apa tepatnya, yang sedikit menyebutkan ini band baru Samson pasca keluar dari PropagandhiSaat menemukannya pertama kali saya agak terkejut, bukan sebuah anti-klimaks pula. Hanya saja The Weakerthans itu sangat begitu subtil. Sangat jauh jika mendengar Propagandhi era dia masih di sana. Saya merasa The Weakerthans itu lebih cocok jadi soundtrack pacaran. Musiknya folk sederhana. Tapi jujur saya sangat menyukainya, terutama album Left and Leaving. Sensasinya serupa saat saya pertama kali menemukan As Friend Rust ketika tahu Damien Moyal itu eks Culture dan Morning Again. Mungkin, bisa dibilang The Weakerthans itu bentuk emo lain dari tradisi DC, meskipun mereka berasal dari Kanada. Kala itu sebelumnya saya berkutat dengan Rites of Spring, Embrace dan kawanannya. Emo-emo politikal yang sangat jauh dengan bentuk dan eskalasi lirik emo satu dekade kemudian yang menyebalkan. Tapi kalo urusan penulisan lirik kayaknya tidak banyak pengaruh yang saya dapat dari Samson dan The Weakerthans. Saya tidak menemukan hal baru dari musik politikal yang digadang The Weakerthans, karena memang liriknya tidak sepolitis saat dia di Propagandhi, jika tidak bisa dibilang tidak politis. Sama halnya seperti pertemuan saya dengan Boysetsfire, untuk urusan dengan The Weakerthans pun hanya berhenti di album. Saya tidak begitu mendalami relevansinya dengan beberapa isu politis yang ia gadang, ataupun keterlibatan Samson dalam kesusastraan di Kanada. Sekali lagi, hanya berhenti di musik. Meski demikian semua albumnya saya suka, termasuk yang Reunion Tour, judul album yang aneh, padahal bukan album dokumentasi tour.

 

 

Metaruang

Samson menghadiahkan Left and Leaving dan juga sepucuk tembang “Letter of Resignation” bagi kawan-kawan lamanya di Propagandhi. Apakah “Membaca Gejala dari Jelaga” dan “Kepada Kawan” dari album Fateh didedikasikan bagi kawan-kawan di masa lalu juga?

 

Ucok

Membaca Gejala? Ya, hanya saja “kawan-kawan” kayaknya terdengar jamak, sedangkan lagu itu saya tulis untuk satu orang sebetulnya, untuk Aszy, MC partner saya di Homicide dulu. Beberapa waktu lalu saya pun sempat ditanya perihal hal ini saat ngobrol-ngobrol diskusi restrospektif di S.14 beberapa bulan lalu, dan pas peluncuran buku di Kineruku kemarin. Saya ditanya perihal lagu apa yang paling sulit ditulis selama rentang hidup saya. Saya jawab ada dua lagu. Keduanya ada di album Barisan Nisan, yakni “Barisan Nisan” dan “Membaca Gejala dari Jelaga”. Karena buat saya sendiri, album Barisan Nisan itu adalah album Homicide yang paling personal dibandingkan dengan album Homicide yang lain. Jika didengarkan lagi, teks dalam Membaca Gejala dari Jelaga itu adalah lanjutan dari Barisan Nisan itu sendiri. Karena memang dua lagu itu dikerjakan dalam satu waktu proses yang sama. “Barisan Nisan” lebih seperti manifesto personal, pengingat bagi saya sendiri, sedangkan “Membaca Gejala dari Jelaga” adalah surat pengingat personal saya untuk Aszy yang pada waktu saya menulis album itu, Aszy memutuskan tidak terlibat lagi dengan Homicide. Aszy adalah salah satu sahabat terdekat saya, bukan hanya melulu sekedar teman satu grup musik. Jadi jujur saja, sulit membuat ‘surat pengingat’ yang biasa-biasa. Jadi jika harus dibuat sekalipun itu harus berupa rima yang teknik penulisannya yang tidak biasa juga. Dalam wilayah artistik (rima) urusan saya dengan Aszy selalu berupa kompetisi. Saya dan Aszy berusaha selalu saling mengungguli satu sama lain dalam perkara menulis lirik saat Homicide dulu, meski kita berangkat sama-sama dalam mengolah penggayaan dan mempertajam teknik rima kami dulu. Jadi jika ada lagu buat Aszy, lagu itu harus secara teknis melampaui apa yang pernah kami capai, baik secara bars, flow, cadence, silabel pada larik, rima dalam, rima luar. Semuanya. Lagu itu yang paling sulit saya selesaikan saat itu.

“Membaca Gejala dari Jelaga” adalah surat sekaligus ajakan bagi dia untuk kembali lagi, meskipun pada akhirnya tidak pula kembali. Hingga akhirnya Homicide membubarkan diri, ia hanya sempat ngerap di dua lagu di album terakhir Homicide. Namun di kemudian hari, setelah dia selesai dengan segala urusan personalnya, Aszy balik lagi pada kawan-kawan. Nangkring lagi, berkumpul lagi dan mabuk lagi (tertawa). Kemudian berangsur normal kembali setelahnya. Oleh karena itu sekarang kami bisa menulis album baru di bawah Bars of Death.

Soal “Kepada Kawan” itu lain perkara. Sudah lama saya pingin membawakan sajak Chairil Anwar. Ada dua penyair yang pengaruhnya sangat besar dalam perjalanan saya selama ini; Chairil Anwar dan Wiji Thukul. Saya berkesempatan dulu membawakan puisi Thukul saat Homicide dulu, tinggal Chairil Anwar yang belum. Jadi ketika saya menulis album Fateh pasca Homicide bubar, rasanya itu waktu yang cocok. Alasan memilih “Kepada Kawan” lebih dikarenakan pilihan-pilihan teknis, karena saya membacakan puisi itu di atas beat hip-hop dan ambient, selain memang alasan bahwa itu adalah salah satu puisi Chairil Anwar favorit saya. Ini salah satu puisi yang jarang dibahas dan diwajibkan baca saat kita SD dulu, seringnya kan puisi-puisi Chairil yang bertemakan perjuangan kemerdekaan seperti “Kerawang Bekasi” dan “Diponegoro”. Saya paham juga sih, agak menyusahkan buat guru Bahasa Indonesia kita di SD pas menjelaskan larik “Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan” dan urusannya dengan larik rock ‘n’ roll“Pilih kuda yang paling liar, pacu laju”. (tertawa)

 

 

Metaruang

Dalam Lyssa Belum Tidur, Ucok mengulas Scritti Politti. Adakah kesan yang masih dirasakan sampai hari ini tentang Scritti Politti di mata Ucok?

 

Ucok

Hubungan saya dengan musik Scritti Politti itu cukup aneh. Oleh karenanya saya membahasnya dalam “Mengunjungi Kembali Scritti Politti”. Sederhananyamasa lalu Scritti Politti itu ada di depan saya. Sedangkan masa depannya Scritti Politti ada di belakang saya. Aneh memang. Saya mulai menyukai Scritti Politti itu saat kelas 4 SD, karena itu musik mainstream saat itu. Di mana zaman-zaman itu dihiasi deretan musik new wave seperti Man At Work, R.E.M, Scritti Politti dan pop-pop lain tahun itu. Namun saya mulai tidak menyukainya saat memasuki SMP dan sudah terlalu khusuk dengan hip hop. Di kemudian hari—tepatnya saat memasuki masa kuliah—saya kembali membuka arsip-arsip musik dan mulai mendengarkan Scritti Politti kembali. Hingga akhirnya menyadari satu hal bahwa album Scritti Politti yang bagus itu justru terletak pada album-album awal mereka. Album yang pertama kali saya perdengarkan, Songs to Remember dan Cupid & Psyche 85 itu justru sudah sangat pop. Nah, rilisan mereka sebelum itu berbeda 180 derajat, sangat avant­-garde pada eranya. Sepintas malah mirip This Heat. Silakan cek tiga EP mereka, termasuk yang John Peel Session, lalu bandingkan dengan Songs to Remember atau Cupid & Psyche 85. Jauh lebih antik dan sangat politikal.

 

Metaruang

Selain menggambar, bermusik, dan mabuk, Ucok pun sepertinya intens dalam dunia tulis-menulis. Seberapa perlukah seorang Ucok menumpahkan isi pikirannya, inikah yang disebut Katarsis?

 

Ucok

Menulis itu bagi saya adalah sebuah kebutuhan. Namun, tidak semua wilayah kepenulisan itu saya sukai dan menjadi katarsis. Ada wilayah yang lebih seperti kewajiban, meski tidak ada seorangpun yang menyuruh saya. Lebih merupakan komitmen kolektif. Seperti yang beririsan dengan aktivisme dan segala macam tetek bengeknya. Misalnya, kronologis fenomena politik hingga press release insiden tertentu, menulis pengantar diskusi, membantu membuat analisa ekonomi politik tentang peta daerah perampasan lahan di sepanjang jalur tol yang bakal dibangun, atau pabrik semen baru yang sedang dibangun di satu daerah di Jawa Barat. Saya tidak punya latar belakang menulis analisa dan riset, jadi bisa dipahami bagaimana pain in the ass-nya hal itu. Bukan saya tidak suka aktivismenya, hanya saja aktivitas menulis di wilayah itu cukup sulit dan tengatnya tidak bisa seenaknya sehingga efeknya cukup membuat pusing.

Wilayah kepenulisan yang sering saya jadikan katarsis adalah kegiatan menulis catatan retrospektif, kadang dalam bentuk esai, kadang dalam bentuk puisi dan rima. Dan menulis yang saya sangat senangi adalah menulis tentang musik. Mulai dari mengulas album baru yang luar biasa, menulis tentang band yang ajaib hingga menulis obituari musisi yang saya idolakan. Meskipun akhir-akhir ini tidak banyak juga tulisan yang saya hasilkan, namun saya tetap bersedia menyediakan energi untuk tetap menulis soal musik. Tidak seproduktif dahulu memang, tapi menulis tentang musik akan selalu jadi hiburan selama saya mendengarkan musik. Misalkan terakhir saya menulis tentang Kendrick Lamar. Menulis tentang albumnya seperti bagian dari menikmati album itu. Dari kaca mata saya—sebagai bagian dari generasi 90an—Kendrick Lamar itu aneh sekali. Saya tak begitu suka dengan album pertama dan keduanya. Namun saat mendengarkan album ketiganya, To Pimp a Butterfly, yang neo-soul itu, kekaguman saya seketika jatuh pada album itu. Bagaimana bisa Kendrick Lamar yang tak pernah ada dalam sejarahnya melibatkan Sun-Ra bahkan dalam sample sekalipun kemudian menulis album seperti itu. Bagaimana proses MC yang punya andil terlibat dengan Taylor Swift kemudian menulis album ketiganya dan membawa serta nuansa Jalal Mansur Nuriddin dan Umar Bin Hassan dengan begitu luar biasa. Wilayah kepenulisan itulah yang sekiranya saya senangi.

Tradisi menulis saya, meski tak bisa secara pasti, dimulai saat saya mulai mengenal dan tertarik dengan zine. Meski sebelumnya saya sudah menulis ulasan-ulasan di zaman awal masuk kampus, namun zine lah yang sebetulnya benar-benar mengemansipasi saya menulis. Kurang lebih sekitar tahun 1995-1996-an dan berkenalan dengan banyak kawan yang juga berkecimpung di sana, dan saya mulai aktif submisif hingga membuat zine personal. Sebelumnya belum pernah terbayang perihal apa yang didapat dari zine bisa berdampak signifikan. Perbedaan ulasan-ulasan di zine tahun itu begitu kentara dengan ulasan-ulasan yang kawan-kawan tulis hari ini—entah itu di zine cetak atau dalam format webzine. Jika dahulu masih dalam sebatas ulasan-ulasan pendek hanya sebagai informasi kecil untuk kawan lain, sekarang semakin variatif hingga pada kritik konten. Mungkin kalau dahulu lebih pada alasan terbatasnya rilisan dan mendapatkan rilisan untuk diulas kala itu begitu luar biasa perjuangannya. Berbeda dengan hari ini, di mana dalam sehari kita mungkin bisa mengakses segundukan diskografi album dari unit-unit musik yang kita cari. Pengalaman berharga itulah yang mungkin membentuk hasrat saya dalam menulis, terutama menulis di wilayah musik yang saya suka. Besar harapan selama saya masih mendengarkan musik, hip-hop terutama. Nampaknya saya akan masih tetap menulis tentang musik. Dan dalam waktu dekat, newsletter hip-hop saya dan Iwan, Uprock ’83, akan saya ubah format menjadi format zine dan selama ini pun memang newsletter itu memang tak hanya soal literasinya saja, suka kami barengi dengan mixtape meski tidak reguler.

 

 

Metaruang

Sejak kapan sebenarnya Ucok bersentuhan dengan bacaan-bacaan, dengan buku-buku yang “angker” itu? (Seperti yang terpampang dalam lyric sheet Tha Nekrophone Days)

 

Ucok

Haha, angker? Sulit untuk mengecapnya angker, apalagi di era kuliah dulu. Itu bacaan reguler yang beredar di kawan-kawan. Misalnya, siapa yang tidak membaca Catatan Pinggir pas jaman kampus dulu? Masa-masa itu saya justru banyak mendapat referensi bacaan dari kawan-kawan. Pertama kali membaca Nietzsche, justru saya dikenalkan oleh Kimung (eks Burgerkill). Di antara kawan-kawan, mungkin pada zaman itu Kimung yang paling ‘gila’ mendalami sastra, dan Nietzsche terutama. Dia suka melakukan hal-hal aneh, dari mulai membaca puisi di tiang bendera saat panas terik hingga aksi pembacaan puisi teatrikal di tempat-tempat ganjil. Makanya, apabila kembali pada mengapa membaca buku Tan Malaka, atau terbitan Insist dan AK Press ya itu semua lahapan kawan-kawan sehari-hari. Saling mengingatkan tiap edisinya, meminjamkannya pula dari satu kawan ke kawan lain. Yang paling ‘populer’ itu buku Catatan Seorang Demonstran dari Soe Hok Gie atau majalah AJI, Independen. Yang punya cuma satu dua orang, biasanya keadaaanya sudah lusuh parah, habis berkeliling ke semua kawan untuk dibaca, itu awal-awal kuliah. Majalah Independen itu lebih cult lagi, karena terlarang, jadi biasanya difotokopi. Begitu pula nasibnya Days of War, Nights of Love, itu cukup populer di antara kawan-kawan skena punk akhir 90an. Tradisi-tradisi diskusi buku di kawan-kawan kala itu juga cukup intens, bahkan bisa dibilang seperti obrolan kantin. Kita bisa menemukan debat bodoh namun seru antara kawan yang menggandrungi Sartre dan ada yang mengidolakan Camus. Mereka bisa ribut gara-gara debat surat Camus dan Sartre. Meskipun menggelikan saya bisa merasakan itu sebagai tanda begitu dinamisnya dan begitu laparnya kita terhadap literatur, gagasan dan petualangan.

Saya lebih dahulu mengenal musik ketimbang literatur. Jadi ketika di kemudian hari menemukan banyak hal pada bacaan, saya seperti pernah mengenalnya sebelumnya di musik. Banyak hal-hal yang saya baca di sastra, seperti pernah saya temukan (juga rasakan) di rekaman-rekaman band punk atau band tertentu. Misalnya ketika membaca naturalisme Popper itu rasanya seperti pernah mendengarkannya di Bad Religion. Juga cerita tragedi Sisifus, atau Notes from Underground-nya Dostoyevsky. Tentang lanskap dunia ini memang bobrok dan perihal melampaui nihilisme. Itu semua rasanya cukup familiar terdengar di album punk dari Nausea, Crass hingga Dead Kennedy. Selain menjadi “penemuan kembali”, perkara ini senantiasa beririsan dengan wahana musik tempat saya dan kawan-kawan nikmati. Momen-momen diskusi di angkringan-angkringan sastra kala itu pun selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi saya.

 

 

Metaruang

Dalam tulisan maupun lirik yang Ucok buat, sedemikian sarat ia dengan hal-hal yang provokatif, yang mengajak, sekaligus menantang. Tujuan bikin yang seperti itu sebenarnya apa?

 

Ucok

Sudah jelas kayaknya, bagi saya provokasi adalah bagian dari tujuan penulisan lirik. Paling tidak memprovokasi pemikiran, thought-provoking. Sejak masih ada Lephe pun, itu sudah jelas tujuan Homicide dibentuk, paling tidak dalam konteks hip-hopnya jika tidak dalam bentuk provokasi politik. Maka dari itu, dahulu kita pernah kasus di sebuah acara hip-hop pertama di Bandung, yang diisi tidak hanya kawan-kawan dari bandung tapi juga grup-grup hip-hop dari Jakarta hingga Surabaya. Homicide kala itu dapat kesempatan main terakhir sebagai tuan rumah. Nah, saat itu kita memainkan lagu El Hiphop Este Muerto yang di kemudian hari jadi Semiotika Rajatega pas kami rekam di albumJika diingat-ingat kembali, mungkin itu hal yang bodoh. Namun justru itu bagian dari provokasi sebenarnya, kami tak menyesalinya meski dipikir-pikir sekarang itu hal tolol. Tapi ya, jika merunut pada tradisi hip-hop, hal demikian memang lumrah. Karena hip-hop memang dibentuk dari tradisi konfrontatif dan kompetitif.

 

 

Metaruang

Ucok menyebut GY!BE adalah sebuah pengalaman relijius-transenden/spiritual dalam hidup (Gutterspit). Hal itu tersirat dari catatan avontur saat menghadiri konser mereka di Malaysia. Seberapa berpengaruhnya Efrim Menuck dkk. bagi segala aspek yang berhubungan dengan kerja kreatif atau bahkan pribadi seorang Ucok?

 

Ucok

Mungkin bisa dilihat seberapa banyak saya menulis tentang Godspeed You! Black Emperor selama ini. Hahaha. Itu alasan saya kemudian mengapa saya menulis banyak tentang mereka, karena saya ingin banyak kawan-kawan mendengarkan GY!BE kala itu. GY!BE itu datang saat saya sudah letih akan semua hal. Keluar dari PRD, beberapa kawan-kawan dekat yang meninggal hingga kondisi politik yang semakin edan di Indonesia kala itu termasuk menyaksikan banyak teman kemudian merapat ke rezim dan politik yang kita benci kala itu. Keterpurukannya multi dimensi. Personal dan politis. Tapi, di satu sisi, saya masih menjejakkan kaki di wilayah yang masih sama. Nah, GY!BE itu menolong saya untuk kemudian kembali lagi—bukan untuk menjadi optimis—namun membuka jendela kecil untuk melihat bahwa hidup ini tidak perlu narasi-narasi besar untuk sebuah perubahan. Poin di situlah yang membuat GY!BE begitu berjasa bagi hidup saya.

Dan rasanya bagi saya tidak ada lagi band yang bisa membuat pencerahan sedemikian subtil sekaligus memprovokasi. Coba pikirkan saja oleh kalian, musik nir-lirik dengan durasi tiap lagunya rata-rata 15-20 menit. Apakah jika kalian ada di posisi GY!BE, kalian akan berpikir orang-orang yang mendengarkan musik kalian akan tersadarkan? Kendati itu dibuat atas tujuan sebuah musik penyadaran. Apakah Menuck dan kawan-kawan itu berpikir pula bahwa musik yang mereka buat bisa merubah dunia atau (minimal) membuat seseorang tersadarkan akan dunia yang sudah chaotic ini dan arus-arus emansipatoris sudah sebegitu kompleks banalnya. Namun, untuk GY!BE sendiri itu memungkinkan. Bahwa kita tidak perlu menggadang narasi-narasi agung, yang terpenting ada wilayah-wilayah yang mesti kita jaga sebaik mungkin. Maka dari itu, jika merujuk pada semboyan mereka,“Long Live Little Bit of Autonomy”, sahih rasanya dengan apa yang mereka gadang pula. Little bit. Sedikit saja cukup. Hal itulah yang mereka maksudkan, yang kemudian begitu menginspirasi saya.

Dari segala penemuan yang berkaitan dengan GY!BE akhirnya mirip sebuah pengalaman spiritual. Dari mulai menemukan album F-Sharp A-Sharp Infinity lewat sahabat saya Nana Nishkra, hingga album demi album hingga menyaksikan mereka manggung. Tapi, saya yakin memang sebuah pengalaman spiritual itu mungkin seperti itu. Tidak hanya sesuatu yang beririsan dengan hal yang vertikal saja, tapi yang melibatkan segala macam hal dan momen.

 

 

Metaruang

Di catatan Gutterspit, kadang Ucok menekankan “kewarasan”. Apa maksud dari kewarasan ini dan bagaimana kita meraihnya? Apakah agama formal kita masih relevan dan berpengaruh?

 

Ucok

Kewarasan adalah hal diperlukan untuk ‘hidup’. Semua orang mungkin pernah mengalami masa muda di mana ada di fase kerap mempertanyakan banyak hal. Kemudian, tradisi atau insting mempertanyakan sesuatu itu sedikit-sedikit terkikis oleh tradisi dan pragmatisme baru. Di mana yang menggantikannya adalah hal-hal yang lebih ‘logis’, misalnya upaya mencari makan. Yang saya maksud upaya menjaga kewarasan itu adalah ketika upaya untuk tetap mempertanyakan segala hal yang mulai tersaturasi oleh hal-hal yang lebih pragmatis dalam hidup. Pembiasaan itu yang sebenarnya saya maksud menjaga kewarasan.

Namun, dalam satu hal lain, kita memang punya tendensi untuk tidak waras yang begitu besar. Bertemu sesuatu lantas kita mempercayainya secara blatant. Memberi ruang yang begitu luas untuk kompromi-kompromi yang sangat begitu tidak penting. Kewarasan pula yang kemudian bisa menolong kita untuk menghitung kompromi karena kompromi pun bagian dari menjaga perkara itu pula. Kompromi sadar dan tidak sadar itu berbeda, padahal kadar komprominya sama (tertawa). Contohnya misalnya, saat kalian kerja, kewarasan berguna untuk menghitung rencana-rencana selanjutnya melampaui pragmatisme. Setelah kompromi itu akan seperti apa dan bagaimana. Jadi, hal itu tidak menjadi sebuah kompromi yang permanen dan kemudian menyerah pada keadaan. Entah apa urusannya dengan pertanyaan kalian tentang irisannya dengan agama. Saya rasa agama dan hal-hal absolut lainnya, termasuk atheisme, adalah salah satu yang punya andil besar dalam hal ketidakwarasan, dari dulu sampai sekarang. Tapi tentu saja agama punya sisi yang masih sangat relevan sebagai pemasok kewarasan.

 

 

Metaruang

Menurut kau, pemahaman yang bagaimana yang bisa menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran?

 

Ucok

Wah, ngeri sekali pertanyaanya. Saya kurang begitu tahu jawabannya (tertawa). Karena saya tidak seprofetik itu. Untuk hal-hal besar, saya sudah kehilangan optimisme. Saya pesimis dengan banyak hal. Sejujurnya, saya juga tidak punya keyakinan bahwa revolusi bakal terjadi dalam waktu dekat meskipun krisis sudah sangat akut. Atau dalam satu hari satu malam pulau Jawa berubah menjadi Perancis era 1968, misalnya. Jadi, jika ditanya formula apa yang bisa menyelamatkan kita dari dekadensi ini, pandangan saya sama suramnya dengan kondisi yang kita temui hari ini. Meskipun saya yakin, selalu ada hal yang bisa dilakukan. Tapi, menurut saya, setiap orang itu perlu pesimis untuk tahu bahwa di depan tidak ada apa-apa. Kendati demikian, hal itu tidak membuat kita berhenti di situ. Namun pesimis yang saya maksud adalah sebuah milestone yang membuat kita terus berpikir tentang hal-hal yang akan kita lakukan selanjutnya, bukan membuat kita menjadi diam, tapi kemudian melampauinya. Makna ‘melampaui’ ini yang kadang suka dipandang keliru banyak orang, seperti halnya anti-kapitalisme itu bukan berarti ‘menolak’ kapitalisme, tapi melampauinya. Pemikiran jumud seperti itu yang sering berujung ke anggapan sinis seperti “anti-kapitalis kok pake komputer?”, atau anti-kapitalis itu harus kelaparan, hidup harus susah dan tidak boleh tamasya dan dilarang senang-senang. Anggapan yang gagal melihat persoalan kapitalisme itu sebetulnya terletak pada begitu dominannya pasar sebagai penentu utama produksi dan pertukaran yang berdampak pada soal pengaturan pembagian tenaga kerja. Jadi melihat kapitalisme itu bukan sebagai sebuah fase sejarah dan oleh karenanya bisa dilampaui tanpa harus kembali ke zaman batu. Ini sebetulnya bukan hanya tanda-tanda kita ini tidak paham persoalan tapi juga miskin imajinasi, paling tidak imajinasi apa yang dimaksud dengan ‘melampaui’ itu.

 

 

Metaruang

Seorang Ucok kental dengan anarkisme, adakah tanggapan mengenai gerakannya dewasa ini?

 

Ucok

Entahlah, terlalu dini untuk menyimpulkannya. Secara tradisi gerakan, anarkisme baru beranjak kurang dari dua dekade dan itu pun dengan inkonsistensi yang sering menginterupsi. Tapi kalo boleh dibandingkan dengan era awal, gerakannya sekarang jauh lebih terorganisir. Maklum, di awal-awal perkembangannya anarkisme baru mencuat dari ide menjadi praktek.

Tapi sejujurnya, jika membicarakan konteksnya yang lebih besar, yaitu ‘gerakan kiri’, nyaris tak ada yang namanya gerakan kiri di Indonesia hari ini. Tradisi gerakan kiri Indonesia itu mati di tahun 60an. Meskipun masih kita temukan sisa-sisa dari tradisi gerakan kala itu, namun tak sebesar dahulu. Jadi seharusnya Kodam dan BIN itu tak usah terlalu khawatir, hahaha. Kalian bisa bandingkan dengan fenomenanya sebelum 60an bahkan di era sebelum kemerdekaan, kala itu sumbangan berbagai pihak itu sangat luar biasa. Ada kalanya, gerakan kiri itu kecil namun sangat mempengaruhi. Pada tahun ’98 pun saya tak yakin bakal hadir gelombang yang begitu besar jika tidak ada sumbangsih gerakan kiri yang bergerak secara klandestin. Bagi saya, sumbangan kawan-kawan PRD saat tahun-tahun itu besar sekali. Klandestin menyebar kemana-mana. Dari diskusi di indekos-indekos ke protes aksi di jalanan. Meskipun pada akhirnya gerakan Reformasi itu pun tak bisa disebut sebagai gerakan kiri. Yang kita temukan hari ini adalah sisa-sisa dari tradisi gerakan kiri yang terfragmentasikan hingga ke level yang paling menggelikan. Sampai titik yang minta dimaklumi sebagai dialektika lapangan, seperti fenomena orang-orang yang dahulunya bagian dari gerakan kiri namun hari ini menjabat sebagai komisaris perusahaan, bagian dari rezim keruk sampai jadi caleg partai yang dulu ia lawan, seolah partai itu bukan masalah hari ini.

Balik lagi ke soal anarkisme, saya melihat hasil sumbangan dari kawan-kawan di banyak titik—yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu—mulai terlihat hari ini. Ini mengingat anarkisme yang terbilang baru dalam mozaik ideologi perlawanan rakyat. Apa yang terjadi di Kulon Progo misalnya, kental sekali di sana corak anti-otoritarian yang hadir dalam gerakan warganya. Juga gerakan warga di Makassar, dalam melawan penggusuran misalnya. Dalam wilayah pemikiran, generasi baru kawan-kawan hari ini bisa dibilang lebih serius dibanding kawan-kawan terdahulu di era awal 2000-an atau bahkan akhir 90-an yang masih eksklusif di lingkaran-lingkaran skena hardcore/punk. Beberapa indikatornya bisa dilihat dari beberapa kolektif diskusi, kelompok belajar dan media online yang mendedikasikan diri tak hanya untuk menerjemahkan literatur, mengarsipkan tulisan tapi juga menganalisa fenomena ekonomi politik mutakhir dari kacamata anti-otoritarian, termasuk sebagai alternatif ketika angin topan pemilu datang di musim-musim tertentu.

Yang paling penting hari ini adalah keterlibatan lebih banyak kawan-kawan lain dalam gerakan warga di akar-rumput. Ya, di sanalah kalo mungkin ingin membicarakan pergerakan dalam praksisnya. Karena di sana pertarungan yang sebetulnya, di tempat-tempat perampasan ruang hidup berlangsung, politik upah murah diberlakukan dan infrastruktur-infrastruktur mesin besar rezim keruk dibangun. Festival-festival atau sejenisnya seharusnya menjadi gerbang. Karena memang diperlukan pada titik tertentu, misalnya sebagai medium yang memperkenalkan satu kawan dengan yang lainnya. Ruang-ruang diskusi selayaknya dijadikan pintu gerbang menuju ke pengorganisiran sebuah gerakan. Beberapa indikatornya bisa dilihat dari beberapa kolektif diskusi, kelompok belajar dan media online yang mendedikasikan diri tak hanya untuk menerjemahkan literatur, mengarsipkan tulisan, tapi juga menganalisa fenomena ekonomi politik mutakhir dari kacamata anti-otoritarian. Misalnya seperti anarkis.org, yang menjadi situs produksi, reproduksi dan distribusi wacana dan praktik anarkisme dalam bahasa Indonesia. Juga berupaya mengembangkan gagasan-gagasan teoritis, kesatuan taktis, tindakan kolektif, dan disiplin juga federalisme.

 


Metaruang

Dalam lirik dan catatan personal di Gutterspit, tak sedikit pembaca menemukan nada kekecewaan (Ucok bicara tentang harapan). Bagaimana menyikapi hal itu? Kekecewaan terbesar seperti apa yang sebenarnya mengganggu?

 

Ucok

Ya jelas itu. Dan memang umumnya tulian retrospektif saya biasanya soal kekecewaan, karena itu lebih penting untuk ditulis. Kemenangan harus dirayakan dan kekalahan dan kekecewaan harus ditulis. Soal penyikapannya mungkin itu lah alasan utama mengapa saya kemudian pesimistik, pesimis yang mungkin merujuk pada upaya atau strategi personal. Karena saya yakin, potensi kecewa hari ini begitu besar sekali. Misalkan ketika momen copras-capres kemarin, bagaimana banyak kawan yang mendukung Jokowi dengan paradigma lesser of two evils. Sebegitu besarnya energi yang dihabiskan untuk dukung mendukung presiden yang bisa dibayangkan jika energi dan biaya sebesar itu dari komunitas bila dipakai dalam pengorganisiran warga dan membuat alternatif di luar kotak suara. Saya tak habis pikir argumen alternatif seperti itu kemudian dibalas dengan celoteh ad-hominem, “alah kalau masih punya KTP ga usah ngomong anarkis-anarkisan”, “alah, anak kecil masih minta uang saku ke orang tua pake ngomong anarkisme segala”. Ini membingungkan, what tha fuck, im a grown ass man, i got three kids. Next time those people want to encounter, they should come up with better shots. Strategi personal menghadapi kekecewaan ini juga yang berguna ketika berhadapan dengan kondisi-kondisi di lapangan yang heart-breaking, seperti ketika pernah satu saat ditolak warga yang tergusur untuk membantu mereka, karena warga lebih percaya pada ormas-ormas primordial yang tak hanya fasis tapi juga sebenarnya sudah kelihatan motifnya membantu karena ingin uang. Dengan strategi personal seperti itu saya bisa terbiasa dengan kekecewaan tanpa harus kemudian berhenti setelahnya.

 

 

Metaruang

Sebagai bapak, dan sekarang Lyssa sudah sebesar ini semenjak zine-nya dilansir kurang-lebih sepuluh tahun silam, apa terasa ada kewajiban tertentu untuk menjelaskan bahwa selama ini bapaknya ngapain? Misal, mereka melihat tato Amorfati itu, atau baca koleksi bacaan Ucok dan bertanya-tanya, “Bap teh kerjanya apa?”. Apa keluarga pernah protes menyangkut kegiatan atau sesuatu tentang Ucok?

 

Ucok

Saya lebih memilih mereka tahu sendiri dan pada suatu hari menanyakannya pada saya dibanding saya menjelaskannya sebelum dia tahu. Ya untuk beberapa hal saya menyediakan jawaban sesuai usianya. Di kemudian hari banyak hal yang mereka tahu sendiri. Mereka suka mencari-cari sendiri perihal bapaknya di Google misalnya, ketika berkumpul dengan sudara-saudaranya yang lain. Saya baru tahu soal ada laman Wikipedia saya dari Lyssa dan Nayla malah. Saya sendiri tak pernah cerita mengenai band, aktivitas musik saya dan hal lain sebagainya. Hal-hal seperti itu yang seringkali mereka cari tahu dengan sendirinya. Pernah ada waktu Ababil menemukan lagu “Rima Ababil” di Youtube dan akhirnya bertanya “Bap, itu lagu Babap ya? Judulnya nama Abil ya? (nama panggilan Ababil)”. Nampaknya di hari-hari ke depan seiring mereka tumbuh akan lebih banyak lagi pertanyaan mereka buat saya dan harus saya jawab (tertawa). Pernah pula dia protes. “Bap, kata guru di Sekolah, tatto itu gak boleh, lho. Susah cari penghapusnya”. Tapi, sekali lagi, hal-hal semacam itu adalah sebuah proses yang selalu saya jalani dan saya nikmati. Sedari dahulu saya selalu mencari tahu dan mempersiapkan jawaban yang cocok dengan umurnya.

 

 

Metaruang

Sebagai pribadi yang dikenal banyak orang, tak sedikit pemuda yang menjadikan Ucok sebagai panutan, dalam hal menulis atau musik atau hal lainnya. Kabar santernya: Ucok mau maju di pilwalkot periode mendatang. Nah, apa pernah merasa risih dengan anggapan dan perlakuan orang selama ini sama Ucok?

 

Ucok

Ya betul, saya akan maju dalam pilwalkot New York tahun depan. Soal rujukan sosok, justru salah besar apabila menjadikan saya rujukan atau sosok ideal dalam tulis-menulis. Kalau kalian baca-baca lagi tulisan saya, itu ngaco berat. Dari soal struktur sampai diksinya pun ngaco parah. Apalagi soal EYD, amburadul. Maka dari itu, apabila dijadikan sebagai sosok acuan atau panutan dalam tulis-menulis, itu kekeliruan parah. Banyak kawan-kawan yang jauh lebih bagus dan kapabel dalam tulis-menulis yang lebih layak dijadikan panutan. Kemarin pun agak malas pula sebenarnya untuk membukukan tulisan-tulisan. Namun, karena selain alasan Taufiq yang keukeuh menyarankan saya membukukannya, saya pun menerimanya atas alasan pengarsipan. Begitu pula jika ada kesempatan lain untuk mengumpulkan tulisan lainnya. Kalau memang ada orang yang menjadikan saya sebagai sosok ideal, sudah barang tentu dia orang sesat (tertawa). Mesti sesegera mungkin disadarkan. Bawa air kelapa, tumpahin di kepalanya.

Ini juga berhubungan dengan perkara mistifikasi seperti itu tentang diri saya. Terus terang saya, mungkin kala zaman dahulu sekitar 5 sampai 10 tahun ke belakang, akan begitu marah, alergi atau apalah itu. Salah satu alasan mengapa saya membubarkan Homicide karena hal-hal patronistik seperti itu. Ada proses-proses dimana hal itu membuat saya muak dan tak nyaman diperlakukan seperti demikian. Sialnya, kala itu saya sendirian di Homicide. Tidak ada yang merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan kala itu. Aszy, Lephe juga Kiki sudah tidak ada. Jikalau ada Iwan, levelnya berbeda. Karena dia mungkin baru bergabung. Saya selalu berpikir kalau mereka tidak ada, mending saya buat proyek solo saja. Oleh karena itu Homicide saya pikir harus disudahi.

Nah, kembali lagi pada hal-hal menggelikan barusan. Berangsur-angsur, saya jadi terbiasa untuk menerimanya. Karena saya tak mau membiarkan apa yang jadi persepsi orang menentukan apa keputusan saya. Lama kelamaan saya tidak marah-marah lagi, bahkan seringnya saya jadikan lelucon. Mentertawakan diri sendiri itu banyak manfaatnya. Saya menjadi terbiasa meski seringnya itu kontra-produktif pula. Pernah ada kasus, dimana ada seseorang yang begitu rewel ke saya. Bertanya-tanya banyak hal via WhatsApp. Namun, saya tetap membalasnya dengan santai dan apa adanya. Suatu hari orang itu datang ke Grimloc. Saat datang, saya persilahkan masuk dan duduk. Namun pada saat itu, orang itu sontak langsung terdiam dan kelihatan sangat begitu gugup. Tidak secerewet saat mengobrol di WhatsApp. Hanya menunduk dan beberapa kali menanyakan seputar hal remeh. Dalam hati saya mengumpat, bahwa kemarin-kemarin dia begitu banyak bicara menanyakan ini-itu, namun pada saat bertemu malah diam membatu. Saat itu dia hanya membawa CD-CD Homicide dan Fateh, dan meminta saya untuk menandatanganinya. Lantas setelah itu pulang begitu saja tanpa ada obrolan yang begitu signifikan. Hanya basa-basi receh saja. Jika dipikir-pikir, hal itu jadi kontra-produktif kan?.

Saya berusaha membiasakan diri ke banyak kawan lain untuh merubuhkan keberjarakan apapun yang menjadikan adanya perasaan canggung atau apalah namanya yang dihadirkan oleh ‘mitos’ itu. Saya ingin semua kawan itu menganggap saya orang biasa seperti kebanyakan lainnya. Saya berangkat dari lingkaran-lingkaran yang tidak menyukai hal-hal seperti itu. Persis di era 90an saat zaman HeartAttack, ketika memandang seorang rockstar itu adalah sebuah omong kosong. Sampai sekarang, saya masih mencari kiat-kiat untuk menghadang hal-hal semacam itu di banyak level. Membiasakan membuka lingkaran-lingkaran obrolan ke kawan-kawan baru, bahkan ke mereka yang umurnya jauh di bawah saya dan nyaris seumur dengan anak saya. Mencoba pula mematahkan hierarki apapun dalam hal pembicaraan.

Maka dari itu, kembali ke pernyataan kalian tadi ihwal saya dijadikan sosok ideal. Menurut saya, tak ada hal ideal dalam diri saya. Dalam banyak hal saya sama brengseknya dengan yang lain. Ketidakberjarakan apapun itu baru yang namanya ideal. Yang jadi pertanyaan, apabila kemudian hal itu jadi totem, dan dilihat banyak orang, akan jadi begitu menggelikan. Kadang-kadang, saya selalu mencari cara untuk mendemistifikasi saya sendiri di banyak orang, meski ada kalanya capek juga.

________________

Sebenarnya sesi interview telah berakhir. Namun, obrolan terus berlanjut, babat alas dan wacana sekenanya. Berikut kilasan obrolan kami selanjutnya dengan Herry Sutresna alias Ucok Homicide alias MV.

Tentang Skena di Bandung

Tidak perlu menunggu dalam rentang waktu bertahun-tahun. Hari ini, di Bandung banyak muncul band-band luar biasa. Yang saya maksud di sini adalah saya selalu melihat band-band potensial itu, adalah band-band yang punya passion, semangat eksplorasi tinggi hingga all out dalam kerja kreatif musiknya. Apresiasi lebih saya layangkan bagi band-band yang selalu mencari bentuk-bentuk baru atau menemukan relasi dan relevansi dengan keseharian dalam musiknya meski tidak berbentuk baru. Dan itu lumayan banyak saya temui di Bandung. Meskipun beberapa tahun ke belakang agak-agak pesimis. Namun, akhir-akhir ini mulai memunculkan geliatnya kembali.

Itu pula yang menjadi alasan mengapa saya membentuk Grimloc Records satu hari dulu. Saya ingin menciptakan ruang-ruang posibilitas itu. Menemukan hal-hal baru di Bandung. Merilis album-album keren dari band-band di kota tempat saya bernaung. Saya sangat terinspirasi sekali oleh Dischord. Yang secara khusus memberikan atensinya di wilayah DC dan relasi sosial yang komunitasnya hasilkan. Mereka berpikir bahwa yang tahu kota mereka adalah mereka sendiri. Metode itu yang saya terapkan di Grimloc. Saya kurang begitu mengikuti –misalkan beberapa skena-skena musik di kota lain, meskipun iya, tentunya tidak sepaham apa yang terjadi di kota sendiri. Karena saya sendiri masih perlu menggali apa yang masih tertimbun dan apa yang bisa dilakukan di Bandung—khususnya di skena musik lokal. Kadang, saya pun sesekali merasa sulit untuk menjelaskan ke orang-orang bahwa Grimloc itu bukan record label konvensional seperti pada umumnya.

Grimloc tidak menerima submisi demo dan merilis band-band di luar Bandung. Saya tidak pernah membewarakan bahwa saya menerima demo atau membuat listening session untuk menyeleksi demo. Paling susah menjelaskan perkara ini ke kawan-kawan di luar kota tanpa harus terdengar sok eksklusif. Kalau untuk kawan-kawan di Bandung sudah jelas, bahwa keputusan untuk merilis berangkat dari kita sendiri lewat proses penemuan saya sendiri secara langsung.

Nah, selama ini memang selalu menjadi PR untuk menjelaskan hal-hal ini kepada kawan-kawan di luar kota tanpa harus salah persepsi berfikir bahwa saya sombong. Padahal, saya dan kawan lain di Grimloc tidak ada niat sedikitpun untuk sok adigung. Saya, sekali lagi, besar di skena punk yang memiliki interest besar dalam hal self-empowerment. Poin utama saya membentuk label rekaman ini adalah aspek desentralisasinya itu. Bahwa kalian semua bisa membuat label rekaman kalian sendiri. Kalau misalkan kalian kesulitan karena tak ada label rekaman di kotanya, justru itu kewajiban kalian untuk membuat label rekaman sendiri di kota kalian sendiri. Dan saya akan dengan senang hati membantu kawan-kawan di kota lain bagaimana membentuk sebuah label rekaman. Sekali lagi, poinnya di situ. Saya selalu saja menemui kendala yang kasuistik dalam mengkomunikasikan hal itu ke kawan-kawan di luar kota.

Jika membicarakan band-band potensial di Bandung, hari ini mungkin banyak. Namun, yang benar-benar bagus itu sedikit. Kadar “sedikit” Bandung bisa dibilang agak lumayan pula. Ada semacam sensasi takjub saat mendengarkan SSSLOTHHH pertama kali. Sama rasanya saat menemukan Hark! It’s a Crawling Tar-Tar pertama kali dulu, dan mungkin yang terkini; Flukeminimix misalnya. Hal-hal demikianlah yang tak sulit tergantikan dan sulit pula mendapatinya secara reguler. Peluangnya kadang hanya 1 dari 50 yang memang benar-benar bagus. Tapi, tidak menutup kemungkinan, bahwa akan selalu bermunculan band-band bagus. Saya yakin di luar sana—tepatnya di setiap pojokan Bandung—ada band atau musisi brilian yang belum terekspose secara masif. Dalam kurun waktu setiap tahun, pasti selalu ada saja yang muncul.

Kemarin-kemarin saya menemukan Ametis saat menontonnya manggung di basement Unisba. Dan entah kenapa, saya selalu saja menemukan mereka yang bagus-bagus justru di tempat-tempat seperti itu. Bukan di sebuah konser besar atau helatan festival musik. Pertama kali menonton ALICE pun bukan di panggung yang besar. Flukeminimix sendiri saya temukan saat mereka tengah tampil di Commonroom. Hingga belakang ini saya baru tahu bahwa Faris pun mengidolakan GY!BE. Lantas menemukan kesinergian dalam musikalitasnya. Bahkan ada beberapa band yang luar biasa bagus tapi sampai sekarang saya belum sempat menonton mereka live, The End of State salah satunya.

Yang justru jadi kekhawatiran paling besar saya di Bandung itu justru dari skena hip-hopnya. Begitu dekaden akhir-akhir ini. Tidak ada progress yang signifikan. Dahulu, mungkin secara kuantitas tidak terlalu bagus namun secara kualitas oke, atau sebaliknya. Apabila hari ini, yang saya temukan justru semakin parah. Secara kuantitas tidak, secara kualitas pun tidak. Saya selalu mendambakan skena hip-hop Bandung itu bisa seperti Jogja yang begitu luar biasa.

Tentang Aktivisme

Saya sudah tak mengikuti kabar dari PRD semenjak 2002. Namun, sampai saat ini, saya masih beririsan dengan kawan-kawan yang dahulu dari PRD. Terutama dengan mentor-mentor saya zaman dahulu. Saya masih berkomunikasi dengan mereka sampai sekarang. Bertemu untuk sekedar ngopi, diskusi perihal isu politik hari ini. Saya begitu menghargai mereka semua. Bagi saya, mereka itu adalah guru. Dan apa yang disebut guru, mesti dihormati. Tanpa kehadiran mereka saya agak sulit membayangkan bagaimana saya dulu dapat mengenal teori-teori ekonomi politik secepat itu di era itu—yang selama ini bagi saya perannya sangat besar sekali sebagai pintu gerbang pembuka bagi wawasan dan gagasan saya di kemudian hari.

Zaman dahulu mereka itu punya tradisi kelas namanya Kurpol, kependekan dari Kursus Politik. Kurpol sendiri semacam kelas-kelas yang digelar di kosan atau rumah seorang kawan yang sebelumnya telah ditentukan. Terdiri dari 6 sampai 10 orang. Tradisi Kurpol itu setelahnya menular hingga saat ini. Menolong kami melewati tebalnya Das Kapital yang 3 volume itu. Proses itu dirasakan sangat berguna sekali bagi kawan-kawan di zaman itu untuk memahami bangunan teori ekonomi-politik Marx.

Kurpol kerap diadakan jauh hari sebelum Franz Magnis menulis kritik terhadap Das Kapital itu sendiri. Kami pada waktu itu dikenalkan lewat fotokopian stensilan yang kawan-kawan PRD buat, lengkap dengan intisarinya yang sangat sederhana. Mengapa sederhana? Karena mereka sangat berkepentingan untuk menjelaskan itu semua pada buruh atau kaum miskin kota yang tidak dididik di universitas dengan pemahamaan filsafat yang rumit-rumit itu. Maka dari itu, kenapa anak-anak punk kala itu banyak pula yang ikut. Karena dengan metode penyampaian sederhana semacam itulah banyak orang yang kemudian tidak sulit untuk mengerti.

Bagi saya, PRD itu satu organisasi yang sangat luar biasa dan sangat begitu signifikan kala itu. Meskipun pada akhirnya terfragmentasikan karena berbeda pandangan, ada yang memutuskan keluar dan segala macam. Namun sekali lagi, meski pernah konflik dalam tataran praktek dan sempat bersebrangan, saya menganggap orang-orang PRD zaman dahulu adalah orang-orang yang berjasa dan memang konsisten. Dedikasi yang mereka berikan luar biasa. Mayoritas mentor-mentor saya kala itu DO semua (tertawa). Gara-gara sumbangsih dan dedikasi di lapangannya yang luar biasa.

Membicarakan soal reformasi—saya pikir seperti banyak hal di pojokan planet bumi manapun—tak akan pernah selesai membicarakan perubahannya. Bagi saya dan kawan-kawan lain kala itu, Reformasi adalah pintu gerbang ke wilayah yang lebih luas lagi. Reformasi itu dari katanya saja sudah begitu borjuis. Mau me-reform suatu tatanan, dan itu secara jelas bukan tahap finalnya. Imajinasi politik di luar pada saat itu jauh lebih dari itu. Tapi, walau bagaimanapun, Reformasi adalah gerbang untuk posibilitas-posibilitas lain sampai sekarang. Kita bisa lebih bebas lagi membicarakan sesuatu tataran ideologis kekiri-kirian. Meskipun tak seleluasa apa yang kita bayangkan seperti kemarin yang disikat saat diskusi atau bincang buku. Tapi, setidaknya kita masih bisa melakukan hal demikian yang dahulu mungkin sulit atau bahkan tidak memungkinkan.

Tentang Kanal-kanal Pencerahan

Ada beberapa label rekaman yang saya subscribe dan ikuti terus. Ada pula yang didapat secara tidak sengaja saat punya waktu untuk ongkang-ongkang sambil menjelajah dari berbagai sumber. Untuk hari ini, menemukan hal keren yang tidak disengaja itu gampang sekali. Apabila dahulu, menemukan sesuatu secara tidak sengaja itu mustahil.

Misalkan akhir-akhir ini sedang iseng baca Redbull Academy atau Cuepoint, lalu menemukan tautan Soundcloud atau source konten musiknya pada tulisan-tulisan di web itu. Saya rajin memantau kanal-kanal YouTube, Bandcamp atau Soundcloud label rekaman yang saya ikuti. Hingga mencari referensi dari beberapa webzine yang secara khusus membahas ihwal musik yang saya gemari, terutama di hip-hop. Di luar hip-hop mungkin tak terlalu banyak saya ikuti, terlebih rilisan-rilisan metal, sudah begitu jarang sekali saya ikuti. Tapi sesekali selalu saja menemukan rilisan menarik.

Seperti contoh kasus saat saya menemukan Raspberry Bulbs secara tidak sengaja, punk black metal ngaco. Kemudian juga Cobalt, mendengarkan album barunya yang keren itu. Brengsek sekali, bisa jadi album teranyar mereka itu salah satu album terbaik di 2016. Sampai hari ini saya belum bisa berhenti mendengar album ini. Ada nuansa Neurosisnya plus dengan vokal black metal namun tidak lantas jadi black metal. Wajib dengar. Arian sebetulnya yang merekomendasikan, dia suka mengirim pesan via WhatsApp tengah malam, biasanya rekomendasi musik, kalo gak gambar-gambar tak senonoh dan foto-foto polisi ganteng. Dia terobsesi dengan Krishna Murti dan Turn Back Crime (tertawa).

Kadang dari penelusuran pula, saya menemukan banyak musik aneh dan menarik lainnya, misalnya pasca mencari-cari album Panopticon sebelum Roads to the North, saya menemukan unit black metal-anarchist lain seperti Anti Freeze. Belakangan saya menyimak Raime. Sebelumnya, mereka hanya merilis EP dan EP, baru tahun ini mereka merilis album penuh, Tooth. Mereka memainkan industrial, dubstep dengan drones dan bumbu ambient yang gelap, sound yang stripped-down dan gitar seperti post-hardcore a la Fugazi dan Unwound. Antik sekali pokoknya. Russian Circles yang baru saya rasa lebih bagus dari beberapa album terakhir mereka.

Kalau di hip-hop sendiri, sudah paling wajib untuk mendengarkan KA. Dalek album baru yang berjudul Asphalt for Eden pun bagus. Namun seperti biasa, kesan pertama saat mendengarkannya tidak jauh dari “Kok jadi begini?” Selalu saja merasakan ada yang kurang. Tapi saat kali kedua-ketiga mendengarkannya kembali, saya belik takjub. Sepeninggal Oktopus, saya pikir Dalek akan berangsur jelek. Namun perkiraan saya salah. Oktopus keluar dan diganti oleh seorang gitaris dari sebuah band noise eksperimental Destructo Swarmbot. Bayangkan, seorang gitaris, bukan lagi beatmaker seperti Oktopus. Setelah mendengarkan Asphalt for Eden, ternyata masih sama berbahayanya seperti dahulu. Yang membedakannya mungkin pola produksi yang berbeda. Namun tetap saja berbahaya.

Suatu waktu, saya mendengarkan lagi album Dalek yang Abandoned Languange. Yang kala itu saya cap sebagai album terburuk. Namun saat didengarkan lagi di kemudian hari, saya pikir mirip Torche. Kemudian suatu hari saya mengobrol dengan James Russel (founder Public Guilt/Araca Records) di Bandung, kebetulan dia kini mengajar di satu lembaga bahasa di sini karena ingin menetap sementara di Bandung. Saya cerita pada dia bahwa ada nuansa Torche di Abandoned Languange. Kemudian dia menertawakan perkataan saya. Dia bilang memang pada zaman penggarapan album itu, Dalek sedang suka-sukanya sama Torche dan ingin manggung juga tur bersama. Jadi karena alasan itu, Dalek berupaya memproduksi lagu dengan nuansa musik mereka katanya. Antik kan? (tertawa). Hal itu baru ketahuan setelah mendengarkannya entah keberapa kali. Sangat begitu jenius. Tadinya saya pikir Abandoned Languange itu album paling jelek.

Saya juga sedang menggemari BLACKIE. Noise rap juga, dengan sajian yang lebih brutal. Hampir mirip dengan Death Grips lah, namun bedanya Death Grips lebih kekinian. BLACKIE ini agak sinting, sendirian dia. Saat manggung hanya membawa iPhone dan 8 buah speaker ukuran sedang. Lengkap dengan fuzz yang langsung dicolok ke mixer. Segitu saja. Ketika musik diputar, dia langsung komat-kamit. Total-trance. Tapi justru itu yang membuatnya keren. Saya langsung terkesan saat pertama kali mendengarkan EP-nya yang self-titled itu. Kemudian makin tercengang saat melihat klip penampilan panggungnya yang lebih sinting dan punk. James bilang dia kenal dekat dengan BLACKIE, jadi ada ide untuk mendatangkannya ke Indonesia. Belakangan BLACKIE lumayan populer, gara-gara Kanye West memutarnya di acara fashion show yang dia helat.

Kalau untuk hip-hop dalam rasa lain, mungkin Sage Francis jawabannya. Dari dahulu hingga sekarang tetap konsisten dengan bentuk hip-hopnya yang emo itu. Atmosphere juga bagus. Nah, Ras Kass pun mesti kalian dengar. Pada dasarnya akar Kass itu hip hop gangsta pantai barat, tapi punya kedalaman lirikal dengan tema atheis-agnostik yang kental. Bisa dibayangkan seorang hip-hop gangsta namun berbicara soal filsafat di lirik-liriknya, itu anomali. Lantas cerita yang dibangun pun begitu personal dan tebal dengan nuansa emosional mirip Sage Francis. Bisa cari albumnya yang terakhir bersama Apollo Brown.

Kalau baca fanzine hip-hop sih jarang. Namun saya sering memantau beberapa webzine semisal Ambrosia Head, Unkut, Cuepoint dan tentu saja Red Bull Academy. Unkut adalah salah satu yang paling parah. Saking ortodoksnya, bisa dibilang level puritanismenya di hiphop serupa FPI. Kanal musik hip-hop militan yang selalu menghajar yang baru-baru. Yang lebih menggelikan namun antik, mereka punya club listening yang bernama Conservative Rap Coallition. Entah orang-orang macam apa yang ada di balik kanal itu (tertawa). Tapi jujur saya tetap memantaunya. Kumpulan tulisan berak mengenai hip-hop yang jenius.

 

 

___

Dokumentasi foto: Herry Sutresna

___

Pertanyaan disusun oleh: Fajar Nugraha , F. Ilham Satrio, & Rifal Nur Goib, Metaruang 2016

No Comments

Post A Comment