Loader

(Her)storiografi Negritude: Suara Subversif yang Senyap

Kerap disebut sebagai ‘saudara jauh dari seberang Atlantik’-nya Harlem Renaissance, Negritude merupakan gerakan sastra dari dunia Francophone di awal abad ke-20 yang membangun kesadaran akan nilai-nilai ke-Afrikaan dan solidaritas ras kulit hitam yang tak memandang batasan negara. Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan anti-kolonialisme dan diskriminasi berdasarkan warna kulit yang juga seringkali disebut sebagai bagian dari black internationalism. Negritude melahirkan banyak penulis berpengaruh dari metropol maupun tanah koloni Prancis, seperti Aime Cesaire, Leopold Sedar Senghor, Leon Gontran Damas, dan Rene Maran. Trio Senghor, Damas dan Cesaire didaulat sebagai geist dari Negritude, dan karyanya banyak dirujuk oleh para sejarawan yang menggeluti topik ini. Kisah hidup ketiga tokoh ini juga telah diabadikan dalam beberapa biografi.

Namun, meskipun kajian tentang Negritude bertambah secara kuantitas, tidak banyak buku sejarah yang mengulas gerakan ini dengan mengacu pada karya-karya penulis Negritude perempuan; hampir semuanya didominasi oleh cerita penulis lelaki. Padahal, Negritude juga memiliki figur-figur penulis perempuan yang penting. Seperti misalnya duet Nardal Bersaudara; Paulette dan Jane yang sering menulis di jurnal La Depeche Africaine dan La Revue du Monde Noir; Suzanne Cesaire di Tropique; dan Suzanne Lacascade yang menulis Claire-Solange.Tulisan pertama tentang sejarah Negritude sendiri ditulis oleh Jean-Paul Sartre (1948), yang kemudian diikuti oleh beberapa penulis lain seperti Sylvia Washington (1973), Lilyan Kesteloot (1991), Brent Hayes Edward (2003), dan R. Rabaka (2015).

Buku yang mengulas tentang Negritude cukup marak diterbitkan khususnya dalam lima tahun terakhir. Penulisan sejarah sastra memang makin berkembang di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, dengan fokus yang mulai meluas dan mulai melirik tema-tema yang sebelumnya dianggap tidak lazim di kalangan akademia barat seperti penulis-penulis dari global south atau pendekatan postkolonialisme. Karya termutakhir yang secara eksklusif mengulas Negritude adalah karya Rabaka (2015), The Negritude Movement : W.E.B. Du Bois, Leon Damas, Aime Cesaire, Leopold Senghor, Frantz Fanon, and the Evolution of an Insurgent Idea. Buku anyar lainnya yang membahas Negritude dalam kerangka sejarah transnasional kulit hitam adalah Baron de Vastey and The Origins of Black Atlantic Humanism oleh Marlene Daut (2017).

Kalau penasaran dengan kisah dan sepak terjang penulis perempuan Negritude, baru ada satu buku yang menulis tentang itu, Negritude Women, karya Sharpley-Whitings (2002). Bandingkan dengan bahasan yang jauh lebih ekstensif untuk penulis laki-laki.

Gap dalam historiografi ini membuat saya jadi bertanya-tanya apa iya peran penulis perempuan memang tidak sesignifikan para lelaki dalam gerakan transnasional macam Negritude? Bagaimana gambaran penulis perempuan dalam historiografi Negritude? Dan mengapa cerita penulis perempuan seperti tenggelam dibandingkan para penulis lelaki?

Penulis perempuan dalam historiografi Negritude

Selain Sharpley-Whitings, sejarawan lain hampir tidak pernah membahas penulis perempuan Negritude. Terkadang nama mereka disinggung, namun tidak pernah dibahas secara ekstensif. Edwards mendedikasikan satu chapter tentang penulis perempuan dalam bukunya. Peran perempuan yang paling penting menurut Edwards adalah membuat salon di Paris, yang berguna sebagai hub dari jaringan transnasional solidaritas kulit hitam yang menghubungkan Negritude dengan New Negro Movement dari Amerika. Salon-salon ini memang jadi tempat nongkrong berbagai macam orang, bukan cuma penulis dari Paris, tapi juga pelajar, pelancong dan penulis dari Amerika dan Karibia.

Salon yang paling terkenal adalah salonnya Nardal, yang dikenal dengan nama Cercles d’amis atau Circle of Friends. Tempat ini tidak pernah sepi dari penulis, seniman, pelajar, maupun orang-orang yang datang karena sekadar penasaran. Edwards menyebut Cercle d’amis yang dinamis ini sebagai tempat kelahiran Negritude, dan Nardal Bersaudara sebagai ‘bidan’nya.

Contoh Salon di Paris

 

Walaupun Sharpley-Whitings setuju tentang pentingnya peran Cercle d’amis dalam Negritude, ia menolak sebutan ‘bidan’. Istilah ‘bidan’ secara tidak langsung mengkerdilkan peran para penulis perempuan. Menurutnya, Nardal Bersaudara dan juga penulis perempuan lainnya berhak disebut sebagai arsitek dari Negritude dan memiliki peran sama penting dengan trio Senghor, Damas, dan Cesaire.

Nardal Bersaudara adalah penecetus ide sekaligus pemilik salon tempat berkumpulnya para tokoh Negritude, yang menjadi tempat pembelajaran informal yang popular di kalangan perempuan dan laki-laki. Para perempuan di salon turut aktif dan kritis dalam kegiatan diskusi rutin. Mereka juga tidak absen untuk ambil bagian dalam tulis menulis. Nardal bersaudara dan perempuan penulis Negritude giat menulis di berbagai forum dan jurnal tentang solidaritas kulit hitam dan politik asimilasi Prancis kala itu.

Paulette bahkan merupakan salah satu pendiri jurnal La Revue de Monde Noir, sedangkan Suzanne Cesaire mendirikan Tropique. Keduanya merupakan jurnal yang banyak menerbitkan tulisan tentang kesadaran dan solidaritas ras kulit hitam.

Namun, gambaran tentang peran penulis perempuan tetap marjinal. Bukan cuma dibiarkan dalam keheningan dan absen dalam historiografi akhir abad ke-20, kisah perempuan penulis Negritude sudah direduksi sejak periode yang sama. Salah satu contohnya adalah gambaran mengenai Suzanne Cesaire di berbagai biografi tentang suaminya, Aime Cesaire. Ia seringkali dibayang-bayangi figur suaminya. Suzanne digambarkan sebagai penulis brilian karena suaminya, karena menyadur ide-ide suaminya yang lebih tenar.

Mengapa suara perempuan ‘bisu’? 

Margaret Ezel dalam bukunya yang berjudul Writing Women’s Literary History menulis satu kalimat yang menarik. “Menulis sejarah literatur perempuan bisa dibandingkan dengan melakukan penelitian arkeologi, menerima warisan, dan menanam kembali kebun ibu”.

Kesannya rumit betul ya, sama seperti trayek kereta bawah tanah di Paris, kota metropol impian para penulis Negritude dari tanah koloni. Menulis sejarah perempuan secara umum saja sudah sulit, apalagi sejarah perempuan yang menulis, peliknya tentu berlipat ganda. Seperti penelitian arkeologi, perlu kesabaran dan ketekunan untuk ‘mengekskavasi‘ sumber-sumber tentang perempuan. Mungkin Ezel agak sedikit lebay dengan kebun-kebunannya, tapi kira-kira kalimat tersebut bisa dikorelasikan dengan kenyataan bahwa cerita tentang perempuan selalu terus-menerus menghadapi problematika labeling.

Seringkali dianggap sebagai narasi yang eksklusif dari sejarah mainstream, sejarah perempuan acapkali diembel-embeli label ‘subaltern’, ‘feminis’ atau ‘alternatif’. Sehingga tidak begitu mengherankan sebenarnya kalau buku-buku sejarah Negritude terdahulu, dan mungkin juga buku sejarah tentang gerakan transnasional lain, tidak mengikutsertakan cerita tentang penulis perempuan.

Dalam hal negritude, kolonialisme pun berperan dalam menihilkan suara perempuan dalam sejarah. Colonialism breeds a gendered space. Rasisme, yang mana merupakan landasan esensial dalam praktek kolonialisme, selalu mensyaratkan hadirnya seksisme. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena ras dan gender selalu nempel bagai dua sejoli yang tidak terpisahkan. Imaji untuk ‘imperium’ dan ‘bangsa baru’ selalu dijelmakan sebagai figur maskulin, sehingga menempatkan penulis perempuan Negritude dan (mungkin) juga perempuan gerakan transnasional lainnya dalam zona pinggiran.

Layaknya keadaan ‘udah jelek, idup lagi!’, menurut Mae Henderson penulis perempuan di jaman kolonial menghadapi ‘double racism’ atau rasisme berlapis. Bukan hanya didiskriminasi karena warna kulit dan ras, tapi juga karena jenis kelamin. Jaman itu, seperti tiap dekade lainnya, memang memiliki resep tersendiri untuk gambaran tentang perempuan kulit hitam yang dianggap ‘layak’.

Dalam Femme Noir, yang ditulis oleh Senghor sendiri, tertulis perempuan kulit hitam harus lembut, cantik, boleh berpendidikan tapi tetap berperan sebagai ‘the mother of Africa’. Ide ini didukung pula oleh atmosfir politik asimilasi Prancis kala itu yang berusaha memasukkan perempuan kulit hitam dalam ruang ekspresi kultural Prancis, namun dengan ‘standar-standar tertentu’. Seperti iklan diskon besar-besaran dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Queen of Africa’ di panggung-panggung teater kala itu adalah Josephine Baker, yang mana merupakan perwujudan paripurna untuk pandangan kolonial Prancis terhadap perempuan kulit hitam; eksotis, sensual dan sedikit primitif- atau singkatnya, seorang doudou.

Doudou adalah sebutan untuk perempuan kulit hitam yang punya kesan layaknya objek seksual, dinikahi orang kulit putih dan memiliki anak berdarah campuran. Di Indonesia, mungkin mirip-mirip dengan nyai.

Josephine Baker

 

Alhasil, penulis perempuan Negritude adalah sebuah anomali yang tidak cocok dengan keadaan masyarakat kolonial, maupun masyarakat imaji ‘bangsa baru’, yang mana juga berpengaruh untuk eksistensinya dalam historiografi Negritude. Selain itu, jumlah yang lebih sedikit (kira-kira tidak lebih dari seperempat penulis laki-laki) juga menjadi salah satu faktor kurangnya kemunculan penulis perempuan Negritude dalam historiografi.

Penulis perempuan Francophone baru marak pada dekade 60’ dan 70’an, yang muncul dengan ide-ide feminisme yang lebih kuat dibandingkan dengan wacana tentang persatuan ras.

 

Pustaka

  • Ajayi, Omofolabo. “Negritude, Feminism, and the Quest for Identity: Re-Reading Mariama Bâ’s “So Long a Letter” in Women’s Studies Quarterly 25, no. 3/4 (1997): 35-52.
  • Edwards, Brent Hayes. The Practice of Diaspora : Literature, Translation, and the Rise of Black Internationalism. Cambridge: Harvard University Press, 2003.
  • Ezell, Margaret J. Writing Women’s Literary History. Baltimore: The Johns Hopkins Univ Press, 1993.
  • Henderson, Mae G. Speaking in Tongue and Dancing Diaspora: Black Women Writing and Performing. New York: Oxford Univ Press, 2014.
  • Rabaka, Reiland. The Negritude Movement : W.E.B. Du Bois, Leon Damas, Aime Cesaire, Leopold Senghor, Frantz Fanon, and the Evolution of an Insurgent Idea. London: Lexington, 2015.
  • Sartre, Jean-Paul. Anthologie de la nouvelle poésie nègre et malgache de langue française. Paris : Presses Universitaires de France, 1948.
  • Sharpley-Whiting, T. Denean. Negritude Women. Minneapolis: University of Minnesota Press, 2002.
  • Stephens, Michelle Ann. Black Empire : The Masculine Global Imaginary of Caribbean Intellectuals in the United States, 1914-1962. Durham: Duke University Press, 2005.
  • Washington, Sylvia. The Concept of Negritude in the Poetry of Senghor. Princeton: Princeton University Press, 1973.

 

___

Ilustrasi: Abdul Majid Gofar

 

No Comments

Post A Comment