Metaruang | Identitas Sejarah Hungaria dalam Karya Film dan Literatur
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16893
post-template-default,single,single-post,postid-16893,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Identitas Sejarah Hungaria dalam Karya Film dan Literatur

Identitas kultural dan kebangsaan tidak akan luntur dalam karya seorang sineas. Berbeda dengan sutradara film asal Hungaria yang menetap di negara asalnya, Sir Alexander Korda (1883-1956), Michael Curtiz (1886-1962) dan Peter Lorre (1904-1964) memutuskan untuk bermigrasi dan berkarya di negara lain. Meskipun demikian, ketiga sosok tersebut tidak bisa sepenuhnya menanggalkan identitas Yahudi serta Hungaria mereka dalam karya-karya film yang mereka buat. Dalam artikel Hollywood on the Danube: Hungarian Filmmakers in a Transnational Context yang dimuat dalam AHEA: E-Journal of the American Hungarian Educators Association, Volume 5 (2012), Catherine Portuges membahas bagaimana trio ini masih memasukan identitas kultural, kebangsaan, serta status pengasingan yang mereka sandang ke dalam karya-karya film mereka.

Sebelum bekerja untuk Paramount Inggris, Korda memiliki karir yang bisa dibilang cemerlang di negara asalnya dan Jerman. Ia meninggalkan akar Yahudinya dan menetap di London setelah menghabiskan masa kecil yang sangat kental akan kultur Yahudi. Di samping Korda, Michael Curtiz pun memiliki latar belakang Yahudi yang tak kalah kental. Ia lahir di keluarga Yahudi Hungaria yang sangat ortodoks dan lama tinggal di Budapest. Dalam film unggulannya Casablanca (1942), Curtiz melibatkan kru yang merepresentasikan 35 negara berbeda dan mayoritas merupakan pengungsi Yahudi dan pengasingan dari Nazi yang dicekal dari industri perfilman Eropa karena aturan hukum dari Hitler. Dalam film ini, Curtiz mengedepankan tema anti-fasis dan merepresentasikan bagaimana realita kehidupan para pengungsi saat itu. Sejak saat itu, ia memproduksi puluhan film dan mulai merambah karir Hollywood. Film-filmnya tak lagi melulu soal isu ‘kering’, melainkan mengangkat tema horor, komedi, sampai musikal.

Sebagian besar film yang Curtiz buat mengangkat sosok heroik yang bisa menaklukan lingkungan baru dengan mudah. Tokoh-tokoh protagonis yang ia karang cenderung harus berjuang keras demi mendapatkan kesuksesan dan sangat sedikit yang memang ditakdirkan menjadi sukses. Menurut Portuges, hal ini dipengaruhi oleh kepribadian Curtiz yang masih kental dengan dengan kultur Eropa Tengah.

Selain kedua sosok tadi, Peter Lorre merupakan sosok dalam industri film yang berasal dari Hungaria. Ia memulai debutnya di Zurich, pada awal 1920-an. Setelah merasakan karir di Austria, Jerman, dan Swiss, ia kembali ke Jerman sebagai penulis, sutradara, dan aktor untuk drama psikologi Der Verlorene/The Lost One (1951). Debutnya sebagai sutradara ia mulai dengan film yang menceritakan tentang Jerman dan mencaritahu penjelasan tentang apa yang terjadi dengan kaumnya di masa silam. Peran Lorre dalam film Hollywood masih lekat dengan identitasnya sebagai seorang Yahudi. Menurut Portuges, Hollywood tidak menerimanya sebagai ‘orang asing’. Hingga saat ini, Hollywood masih mengingkari etnis, agama, serta latar belakang kultur dari para pencetusnya.

Geliat para sutradara dan aktor asal Hungaria tidak berhenti sampai era Korda, Curtiz, dan Lorre saja. Industri perfilman Hungaria sendiri mulai bergeliat setelah memasuki abad ke-20. Selama awal abad ke-20, pihak Hungaria terus membangun infrastruktur guna mendukung keberadaan industri perfilman. Kehadiran sutradara asal Hungaria seperti István Szabó, Béla Tarr, dan Miklós Jancsó menjadi penanda dari pergerakan ini. Hungaria mulai menguatkan basis perfilman di negaranya sendiri, dengan karya-karya dari sutradara negara asalnya yang juga membahas isu lokal. Eksplorasi genre film yang dilakukan pada abad ke-20 ini bisa dikatakan cukup beragam jika dibandingkan dengan era sebelum komunisme berakhir di Hungaria.

Kejatuhan komunisme pada tahun 1989 di Hungaria tidak dipungkiri menjadi faktor penting yang mempengaruhi banyak aspek, termasuk film. Setelah era baru dimulai, persoalan politik dan sosial menjadi topik-topik yang diangkat dalam industri perfilman Hungaria. Melalui hal tersebut, para pembuat film Hungaria nampaknya ingin mencoba menyampaikan betapa sejarah sangat memengaruhi Hungaria hingga menjadi negara yang seperti sekarang ini. Meski demikian, ada pula film-film Hungaria yang menghindari muatan spesifik sejarah di dalamnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Profesor Clara Oban dalam artikel ilmiah Contextualizing History in Hungarian Films of the New Millennium, film-film Hungaria yang diproduksi setelah tahun 2000 membentuk realitas dari sejarah kejatuhan komunisme dan bagaimana hal ini mengantarkan Hungarian bergabung ke dalam Uni Eropa. Dalam artikel tersebut, Oban membandingkan enam film yang mengambil referensi sejarah Hungaria, di antaranya Colossal Sensation [Világszám – Dodó és Naftalin] (2005), Children of Glory [Szabadság, szerelem] (2006), The District! [Nyócker!] (2005), Miracle in Krakow [Csoda Krakkóban] (2004), Werkmeister Harmonies [Werkmeister harmóniák] (2000) dan Nimród Antal’s Control [Kontroll] (2003). Meski sama-sama mengambil latar belakang sejarah Hungaria, masing-masing film mengambil topik dan fokus yang berbeda.

Sutradara Béla Tarr termasuk sosok yang mampu mengangkat topik filosofis dalam film-film yang digarapnya. Ia pun mengangkat wilayah-wilayah di Hungaria sebagai lokasi film-filmnya. Dalam film Weckmeister Harmonies, ia membuat metafora dalam film, dengan memunculkan sirkus misterius yang memengaruhi sebuah kota. Elzbieta Buslowska dalam artikelnya yang berjudul Cinema as Art and Philosophy in Béla Tarr’s Creative Exploration of Realitydanya menyebutkan, representasi non-realistis dalam film Tarr sengaja dimunculkan untuk membuat persepsi dari penonton. Tarr sengaja menampilkan Hungaria dengan simbol-simbol yang harus diterjemahkan sendiri oleh para penonton. Adanya bangunan-bangunan kekurangan cahaya, hujan, serta jalanan berlumpur dalam film yang digarap Tarr sendiri merupakan simbol akan dunia yang terlupakan. Tarr pun memasukan unsur pembunuhan dan kekerasan lewat film ini. Beberapa di antara hal-hal yang coba Tarr sampaikan dalam film ini menyangkut realitas pos-komunis yang terjadi di Hungaria, yakni masih adanya image ketakutan dan kerusakan moral.

Dalam film The District! terdapat figur para pemegang kekuasaan yang tidak memiliki banyak wewenang dalam menjalankan tugas. Berbagai solusi politik pun tidak bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Film ini merupakan parodi dari figur-figur historis, namun tidak dibuat dalam konteks yang realistis. Di samping The District! yang mengangkat persoalan politik, dalam Miracle in Krakow penonton akan mendapatkan gambaran mengenai bagaimana seorang murid seni asal Budapest menelusuri identitas Yahudinya sampai ke Krakow, Polandia, melalui buku yang ia miliki.

Apa yang dilakukan tokoh utama dalam film tersebut cukup menarik, mengingat Hungaria dan Polandia memang sama-sama pernah melalui masa lalu kelam berkaitan dengan Holocaust. Peristiwa pembantaian ini memang seringkali dijadikan inspirasi dan diangkat dalam berbagai karya seni dan sastra. Danilo Kiš adalah salah satu penulis pemenang Hadiah Nobel yang mengangkat topik Holocaust dalam karya sastranya. Meski bukan berasal dari Hungaria, melainkan Serbia, Kiš fasih berbahasa Hungaria dan banyak mengangkat topik tentang negara ini dalam karya-karyanya. Dalam karya-karya Kiš, sejarah Hungaria yang tak terlepas dari kekerasan dan politik sangat lekat dan kental menjadi topik utama.

Topik Holocaust pun Kiš ambil untuk novel Psalm 44, yang menceritakan kamp Auschwitz di masa Perang Dunia II. Karakter utama dalam novel tersebut merupakan Marija dan Jakob, dua dokter muda Yahudi yang dipenjara di sebuah kamp di Auschwitz. Kiš banyak menceritakan tentang betapa kejamnya perlakuan terhadap wanita di kamp tersebut, bagaimana para tahanan mencoba untuk berkomunikasi dari dunia luar, bahkan sampai berencana untuk melarikan diri. Dalam novel ini, Kiš pun menceritakan bagaimana Marija dan Jakob pada akhirnya harus memiliki bayi dan membesarkannya di dalam kamp.

Apa yang disampaikan Kiš dalam karya fiksi ini memiliki relasi dengan sejarah Hungaria, di mana 2/3 dari masyarakat Yahudi dibantai pada tahun 1941-1945. Beberapa kaum Yahudi pada masa itu melarikan diri ke Jerman. Padahal, sebetulnya Perdana Menteri Miklós Kállay tidak mengijinkan adanya deportasi kaum Yahudi Hungaria ke kamp pembantaian Jerman di Polandia yang saat itu sedang mereka duduki. Situasi tersebut tidak berlangsung lama, mengingat Jerman akhirnya berhasil menduduki Hungaria pada 19 Maret 1944.

Dalam artikel Necropolitics and Contemporary Hungarian Literature and Cinema yang ditulis oleh Ryan Michael Kehoe, sinema dan literatur kontemporer Hungaria tidak bisa luput dari pengaruh situasi sebelumnya. Masa transisi yang dialami oleh negara-negara di sekitar Soviet menimbulkan pengaruh dari segi kultural, ekonomi, dan politik. Tema-tema yang diangkat dalam sinema Eropa Tengah termasuk Hungaria, masih mencerminkan status Hungaria sebagai negara bekas jajahan serta bagaimana mereka di masa lalu juga termasuk peran mereka sebagai negara komunis.

Literatur dari negara-negara Eropa Tengah kadang masih dipusingkan dengan perkembangan kultur dari yang sebelumnya pernah ada. Saat ini, negara-negara Eropa Tengah telah berjalan melalui langkah yang cukup panjang dari tradisi literatur baru. Namun, masih ada pengambilan referensi karakter yang diambil dari masa-masa sebelum revolusi terjadi. Ini juga merupakan efek dari lieratur klasik yang sebelumnya pernah ada. Hingga saat ini, Hungaria masih fokus dalam menginterpretasikan berbagai teks klasik dari abad ke-19. Dua karya kontemporer yang berhasil mendobrak pakem-pakem tersebut di antaranya novel dari Krasznahorkai War and War, serta film Kontroll dari Antal.

Kedua karya tersebut telah menggunakan unsur naratif postmodern yang membuat adanya mode komunikasi baru yang lebih kontemporer. Cara bertutur naratif secara visual yang dilakukan Antal memberikan penonton pada akses untuk melihat lebih jauh bagaimana konflik yang terjadi pada masyarakat Hungaria, mencakup ranah sosial, politik, ekonomi, dan kultural. Film garapan Antal pun mampu mengungkap problematika yang menghubungkan Hungaria dengan kontrol imperial dari Uni Soviet.

 

Daftar Referensi

  • Orban, Clara. “Contextualizing History in Hungarian Films of the New Millennium.” Hungarian Cultural Studies. e-Journal of the American Hungarian Educators Association, Volume 6 (2013). http://ahea.pitt.edu DOI: 10.5195/ahea.2013.111
  • Cox, John K. “Danilo Kiš and the Hungarian Holocaust: The Early Novel Psalm 44.” AHEA: E-journal of the American Hungarian Educators Association, Volume 5 (2012). http://ahea.net/e-journal/volume-5-2012
  • Portuges, Catherine. “Hollywood on the Danube: Hungarian Filmmakers in a Transnational Context”. AHEA: E-journal of the American Hungarian Educators Association, Volume 5 (2012). http://ahea.net/e-journal/volume-5-2012
  • Kehoe, Ryan Michael. “Necropolitics and Contemporary Hungarian Literature and Cinema”. Purdue University Press Volume 11 Issue 4 (December 2009) Article 8. http://docs.lib.purdue.edu/clcweb/vol11/iss4/8
  • Buslowska, Elzbieta. ”Cinema as Art and Philosophy in Béla Tarr’s Creative Exploration of Reality”. Acta Univ. Sapientiae, Film, and Media Studies, 1 (2009) 107-116. http://www.acta.sapientia.ro/acta-film/C1/film1-8.pdf

 

Lana Syahbani

Penulis, ilustrator (terkadang), dan pemusik. Suka sayuran, kantung mata, warna pastel, angka ganjil, dan percakapan seksi. Bisa ditemui di kedai/warung kopi seputaran Bandung.

No Comments

Post A Comment