Loader

Israeli Hardcore Punk: Api di antara Berangkal dan Mortar

Pernah mendengar nama Rachel Aliane Corrie? 16 Maret 2003 adalah ahad terakhir yang dilewati perempuan berusia 23 tahun asal Olympia, Washington DC, Amerika Serikat itu. Corrie sendiri adalah mahasiswa The Evergreen State Collage yang juga tergabung dalam International Solidarity Movement (ISM). Peristiwa yang telah merenggut nyawa Corrie terjadi satu hari sebelum serangan Amerika Serikat pada Irak di Rafah. Ketika tentara Israeli Defense Forces (IDF) yang hendak menghancurkan rumah warga Palestina di sekitaran Rafah, Corrie memasang badannya di hadapan buldozer sembari terus berupaya menghalang-halangi. Dengan berbalutkan jaket oranye yang menyala, Corrie tak bergeming. Namun nahas, meski kehadirannya telah disadari oleh para tentara IDF, juru kemudi buldozer tanpa ampun tetap melindas Corrie.

Tak ayal sosok Rachel Corrie acapkali dijadikan simbol oleh masyrakat Palestina serta Israel sendiri yang menentang segala bentuk imperialisme. Tidak terkecuali dengan skena hardcore-punk Israel yang juga mempunyai semangat anti-imperialisme yang sama dengan Rachel Corrie. Dengan segala upaya maupun kerja-kerja artistik yang dilakukan, marwah skena hardcore-punk Israel tak ubahnya Rachel Corrie di hadapan buldozer pasukan IDF.

Hal itu tak terlepas dari ekosistem organik yang terbentuk di lingkar skena hardcore-punk Israel; lahir dari elan perlawanan akan invasi, represi, genosida, serta diskriminasi rasial negara mereka terhadap rakyat Palestina yang telah berlangsung sistematik dan masif. Elan perlawanan itu tak hanya berdentam di setiap gigs akhir pekan, maupun cukup menjadi entitas auditif yang umurnya hanya berkisar dua pekan di tangga lagu radio-radio setempat. Kendati sorot lampu panggung hanya berkutat pada orang-orang semacam Sharon Cohen, Gad Elbaz, atau Boaz Mauda; dalam posibilitas terjauhnya, suara-suara anak muda di lingkar skena hardcore-punk Israel telah berhasil merangsek pada ruang-ruang publik yang selama ini menjadi sagang kultural rezim. Tak hanya menjadikan musik sebagai ampalan bersenang-senang, namun juga mereka menakiknya ke hadapan wajah bengis imperialisme.

Jika di skena DC punk dibentuk kolektif Positive Force, serta komplotan hardcore-punk komunis Belanda mengelola Red Rock Collective, maka skena hardcore-punk Israel pun mempunyai musisi-kombatannya yang tergabung di Anarchists Against the Wall (AAtW). Adalah Jonathan Pollack yang pertama kali menginisiasi terbentuknya afinitas para anarkis dan pentolan dari beberapa band hardcore-punk Israel itu. Kolektif AAtW yang terbentuk pada Desember 2003 itu biasa dikenal juga dengan nama Anarchists Against Fences (AAF) atau Jews Against Ghettos (JAG). Kendati kolektif ini lekat irisannya dengan komunitas musik, namun justru momen pembentukannya lahir dari aksi demonstrasi di sekitar pemukiman Mas’ha, tepatnya manakala pasukan IDF menembak Gil Na’amati, seorang paratrooper dari lingkaran kawan-kawan AAtW. Dalam aksi itu, terjadi insiden pemberondongan tembakan bertubi pada massa AAtW. Salah satu pentolan AAtW merekam aksi itu, lantas kemudian videonya disiarkan di tiap stasiun televisi Israel. Siaran itulah yang kemudian menjadi markah awal AAtW sebagai kolektif yang sangat dibenci IDF dan publik pro rezim.

Kiprah AAtW dan juga simpul jejaring komunitas di skena hardcore-punk Israel tak bisa terlepas dari Nekhei Naatza serta Dir Yassin. Nekhei Naatza dan Dir Yassin sendiri adalah band yang menjadi cikal bakal berkembangnya skena hardcore-punk Israel. Dibentuk pada awal 1991 oleh Federico Gomez, kedua band itu menjadi motor skena dalam upaya pengorganisiran massa. Bukan hanya menyebarkan pembangkangan kultural maupun elan hidup sehat straight-edge (untuk selanjutnya disingkat sxe), kedua band itu pada akhirnya menuntun pula banyak kawan untuk terlibat di AAtW dengan agenda-agenda pergerakannya. Di tahun yang sama, skena hardcore-punk sxe politikal memang tengah menunjukkan suar apinya di titik lain. Di Brazil, skena hardcore-punk sxe politikal mengibarkan panjinya bersama Clear Heads et al.; di Belanda, skena hardcore-punk sxe komunis semakin menyeligi tajam bersamaan dengan kemunculan Manliftingbanner; di Belgia, muncul Nation of Fire dan Blindfold; begitu pula di Portugal dan Polandia yang melahirkan para eksponen hardcore-punknya masing-masing.

Dalam Rock in a Hard Place: Music and Mayhem in the Middle East (Zed Books. 2017), Orlando Crowcroft memetakan dampak musik pada remaja yang tumbuh di kibbutz (komune terpencil di perbatasan) Israel selama tahun 1990-an. Crowcroft juga memaparkan sejumput kisah Federico Gomez beserta keluarganya ke Israel—serta bagaimana Federico bersama saudaranya bisa melebur dengan skena hardcore-punk Israel. Federico berasal dari keluarga keturunan Argentina yang memutuskan pindah ke Israel pada awal 1980-an bersama keluarganya. Saudaranya, Santiago Gomez turut serta pula, dan yang nantinya bermain bass juga di Nekhei Naatza, Urban Skate Fanatics, serta Smartut Kahol Lavan.

Federico dan Santiago beralih mukim ke Israel pada usia 11 tahun dari Argentina menuju sebuah kibbutz yang bernama Lehavot Habashan di Upper Galilee, dekat perbatasan dengan Lebanon dan Suriah. Di tengah kondisi kibbutz yang kala itu cukup terisolasi, Federico ingat bahwa sebagian besar anak-anaknya masih mendengarkan musik rock tahun 1960-an dan 1970-an seperti Pink Floyd dkk. Manakala anak-anak muda yang berada di pemukiman kota mulai mendengarkan The Cure dan The Smiths, ia justru mendapatkan asupan nutrisi musikalnya dari fanzine-fanzine berbahasa Spanyol, yang disirkulasikan di antara anak muda lainnya di sekitaran kibbutz. Lewat fanzine -fanzine itu, Federico dan Santiago mengenal Ramones, Sex Pistols, hingga Crass. Dari situ juga kemudian Federico dan Santiago mempunyai ide menggagas sebuah newsletter untuk dikirimkan pada kawan-kawan mereka berdua di berbagai negara.

Keterbatasan distribusi newsletter di kibbutz betul-betul tidak menjadi kendala berarti bagi Gomez bersaudara. Kendati kibbutz tempat mereka berdua bermukim adalah sebuah desa terpencil yang jauh dari kota Haifa dan Tel Aviv—atau katakanlah, akses mobilitas mereka jauh dari pusat kota—namun mereka nekad untuk terus menulis newsletter dan menyebarkannya. Gomez bersaudara lahir dari keluarga yang sangat sadar politik. Hal itu yang melecut Federico dan Santiago untuk menulis mulai dari kondisi sosio-kultural di kibbutz-kibbutz Israel, ketegangan politik antara Israel-Palestina yang berimbas pada banyak lini, hingga berbagai bentuk penindasan yang dilakukan oleh pasukan IDF kepada milisi Palestina. Bahkan laporan setara mata dari secret gigs hingga press release band hardcore-punk Israel yang baru merilis album tak luput mereka tuliskan.

Alhasil, newsletter mereka ternyata sampai pada seorang John Yates, sang pemilik label Alternative Tentacles. Dari situ kemudian newsletter mereka segera dibalas dengan buletin yang memuat puluhan band punk Inggris lainnya. Federico dan Santiago mengirim surat ke hampir setiap alamat jejaring kawan di sana, dan sebagian besar menjawab. Tak ayal, Federico dan Santiago pun dikirimi kembali sebagian besar rilisan musik, fanzine, dan bertumpuk leaflet seputar skena. Bentuk korespondensi itu dilakukan Gomez bersaudara hingga akhir tahun 1990-an. Seakan energi mereka tak pernah mengenal kata tandas, sudah hampir berlembar-lembar newsletter telah mereka garap. Apa yang dilakukan Gomez bersaudara berhasil membuka cakrawala dan medan distribusi yang lebih luas lagi. Skena hardcore-punk Israel pun terus berkembang dengan suplai audio, visual, dan literatur yang lebih beragam lagi dari banyak skena hardcore-punk kota maupun negara lain.

Dalam wawancara Gabriel Kuhn bersama Federico Gomez yang termaktub di Sober Living for the Revolution: Hardcore Punk, Straight Edge, and Radical Politics (PM Press. 2010), Federico mengungkapkan bahwa awal pertemuannya dengan Jonathan Pollack maupun kolektif AAtW betul-betul murni karena musik. Yang lebih menarik adalah Gomez bersaudara dan Pollack sama-sama menyemai gaya hidup sxe. Tentu saja hal itu tak terbantahkan mengingat begitu besarnya pengaruh kolektif Positive Force di DC. Sulit pula untuk tidak menyebutkan Minor Threat dan Ian MacKaye sebagai katalis yang membuat Pollack dan Gomez mantap menempuh jalan itu. Dari mulai Jello Biafra hingga Mark Andersen, mengakui bahwa kerja Gomez bersaudara dan Pollack bersama AAtW-nya telah banyak mempengaruhi perkembangan skena hardcore-punk lain untuk tidak hanya berkutat di wilayah kultural, namun menyeretnya juga di hadapan armamen peperangan.

Di hadapan narasi hegemoni penindas, politik kebudayaan yang dilancarkan kolektif AAtW betul-betul menjadi upaya yang menggantang ancaman, bahkan telah siap apabila mesti mengkavling kuburan. Semenjak tahun 1948 hingga tragedi Gaza yang masih berlangsung saat ini, Palestina selalu menjadi pihak yang disalahkan, atau setidaknya begitulah opini publik yang kerap dibentuk oleh para politisi serta media-media arus utama—terutama di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Eropa. Logika penindas kerap diamini oleh publik karena mempertahankan ilusi penguasa lebih mudah tinimbang mesti membongkar ulang realitas. Hal itu sudah tak asing lagi dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh kerangka hegemoni, yang dikonstruksi maupun dibatasi oleh media yang parsial, kultur patriarki, konsumerisme dan kapitalisme, serta kebijakan politik. Di hadapan itu semua, kerja-kerja pengorganisiran AAtW lewat kantung komunitas musik menjadi sedemikian terjal. Namun elan juang yang menolak padamlah yang akhirnya melanjutkan api perlawanan mereka.

Manakala Nekhei Naatza diinisiasi menjadi sebuah band, mereka mulai kebanjiran surat dari anak muda punk seantero Israel. Federico mengaku bahwa mereka mulai mendapatkan ratusan surat dari anak-anak di Israel yang haus akan informasi mengenai politik radikal dan punk. Banyak anak-anak dari kibbutz maupun kota lain di Israel yang berbondong-bondong menonton penampilan mereka di pertengahan 1990-an. Awalnya Federico berpikir bahwa beberapa remaja-remaja itu memiliki ide yang sama seperti Nekhei Naatza atau kawan-kawan di kolektif AAtW: yakni menentang penindasan Israel terhadap Palestina, mengutuk aksi brutal pasukan IDF pada milisi Palestina, serta melawan fasisme yang begitu kentara hadir di hadapan hidung mereka. Tetapi nyatanya tidak, venue tempat mereka menghelat gigs pernah disusupi belasan intel Israel, rilisan album mereka dibakar saat gigs berlangsung, hingga berpuluh pemuda dari partai sayap kanan pernah melempari para personil Nekhei Naatza setelah tampil di sebuah studio show.

Bukan Federico Gomez namanya jika kehabisan akal. Federico mulai mengajak Useless ID dalam rangkaian tur Nekhei Naatza dari Tel Aviv hingga beberapa venue di Haifa. Termasuk dua gigs di salah satu tempat paling legendaris di Israel, yakni Roxane, yang mampu menampung lebih dari 1.000 orang, tempat Napalm Death, Biohazard, dan Radiohead pernah menggelar konser. Taktik itu ditempuh mengingat mayoritas anak muda apolitis di skena musik Israel tengah begitu gandrung dengan Useless ID. Skate punk dan segala ornamennya adalah hal seksi bagi mereka. Sebagai salah satu siasat pengorganisiran, mereka menyeret massa dari Useless ID itu untuk lantas dikenalkan pada apa yang tengah diperjuangkan kolektif AAtW. Awalnya anak-anak muda itu merasa aneh saat mendapati potongan tiket gigs bergambar kakek-kakek bangkotan serta didominasi oleh logo bendera merah hitam. Ada yang terheran-heran pula saat mendapati fanzine gratis dari AAtW yang berisi terjemahan dari tulisan-tulisannya Bakunin. Hingga tak sedikit pula yang kegirangan kala pulang menenteng novel Orwell sebagai cendera mata dari gigs tur Nekhei Naatza.

Salah satu fakta menarik dari Nekhei Naatza adalah dua dari tujuh anggota band, pernah mengikuti wajib militer Israel sebagai upaya spionase. Ishay, salah satu personil yang kala itu masuk akademi wajib militer Israel, pernah diselidiki oleh aparat intelejen negara, karena ia menulis sebuah fanzine yang berisi tentang kritik atas kebijakan politik-militer Israel. Tak berhenti di situ, Ishay mendistribusikannya pada siswa akademi wajib militer lain sebagai metode pengorganisiran untuk nantinya diajak bergabung dengan AAtW. Kondisi objektif di Israel kala itu, khususnya yang telah memutuskan untuk masuk akademi wajib militer, pantang untuk keluar. Karena hukuman penjara telah menanti mereka apabila keluar di ketika program wajib militer tengah berlangsung. Kesempatan itu dimanfaatkan Ishay dan seorang kawan Nekhei Naatza lain untuk menginfiltrasi siswa akademi wajib militer, serta mengenalkan mereka pada wacana anarkisme yang diemban oleh AAtW.

Kolektif AAtW betul-betul mempunyai peran yang signifikan bagi gerakan di komunitas musik hardcore-punk negara lain. Salah satu yang paling dipengaruhi oleh AAtW adalah skena hardcore-punk sxe sayap kiri Umea, Swedia, di bawah panji Refused, Abinanda, serta Doughnuts. Skena hardcore-punk Umea itu mulai memperlihatkan perkembangan luar biasanya manakala memasuki tahun 1998, empat tahun pasca mulai dibentuknya skena itu. Dukungan dan solidaritas antar jejaring itu semakin terlihat manakala Itay Levinsky, salah satu massa aksi AAtW yang berdemonstrasi menentang IDF di seputar pemukiman Kharbatha pada 12 Maret 2004, tertembak oleh peluru karet di bagian mata. Yang pada akhirnya tembakan itu membuat Itay buta. Atau pada saat Jonathan Pollack tertembak di bagian kepala oleh selongsong M16 manakala AAtW berdemonstrasi di West Bank, tepatnya di pemukiman Bil’in, lagi-lagi kala menghadapi bala tentara IDF.

Solidaritas untuk Itay dan Pollack berhamburan dari banyak skena hardcore-punk negara lain. Mulai dari gigs dukungan solidaritas di Umea untuk kawan AAtW dihelat oleh Lyxzen dkk., hingga kecaman terhadap IDF dari label hardcore-punk kiri, Crucial Response Records. Dari tahun ke tahun, nama Jonathan Pollack dan kolektif AAtW-nya semakin dikenal lingkar kawan di skena hardcore-punk lain. Anak dari aktor Yossi Pollack dan seorang ibu bernama Tami yang berprofesi sebagai seorang psikiater ini, terus merajut simpul kawanan di kantung komunitas hardcore-punk Israel lewat kerja-kerja pengorganisiran yang ditempuh bersama kawan-kawan AAtW lainnya. Seakan menolak mati menjadi setangkup karkas di hadapan meriam IDF, kawan-kawan yang tergabung di kolektif AAtW pun kian hari kian berlipat ganda. Dalam skalanya yang paling luas, pada beberapa aksi di West Bank, mereka berkoalisi juga dengan Intifada.

Simbol resistensi dari AAtW dan segenap pelaku skena hardcore-punk Israel menjadi tak terelakkan. Ia tak dicipta semata oleh intensi heroisme, melainkan semangat kawanan yang menolak bungkam di hadapan penindasan. Seperti halnya yang dilakukan Rachel Corrie saat ia memutuskan untuk berdiri menghadap buldozer IDF. Ia tak punya kekuatan magis dan politik untuk menghentikan gergasi bengis itu, dan ia tahu nyawanya tak berarti di hadapan pion kekuasaan Israel, tapi ia tetap berdiri menantangnya. AAtW pun meyakini bahwa simbolitas perjuangan sekecil apapun, memuat pesan mendalam yang takkan hilang begitu saja. Ia tetap berdiri di tengah narasi kuasa. Logika penindas menjadi dominan karena antagonisme tak hendak muncul. Sampai kapan pun, maut, hardcore-punk, dan armamen pasukan IDF adalah karib terdekat AAtW.

 

___

Pustaka:

  • Crowcroft, Orlando. Rock in a Hard Place: Music and Mayhem in the Middle East. London: Zed Books, 2017.
  • Kuhn, Gabriel. Sober Living for the Revolution: Hardcore Punk, Straight Edge, and Radical Politics. California: PM Press, 2010.

___

Foto: Tadamon.ca

 

 

 

1 Comment
  • Togu Sahat N.
    Posted at 22:09h, 03 February Reply

    It”s a very thoughtful article, Fajar Nugraha. It’s good to know that even the Israel (as a country, not as a religion or tribe) where we still can see that people is very heterogen in way of thinking to the system that they feel and see day by day. Thank you for sharing this post.

Post A Comment