Loader

Karnaval Penderitaan

 

MARI KITA GAMBARKAN suasana danau dalam cerita kita sebagai sebuah danau yang tampak ramai. Keramaiannya terletak jauh di seberang danau. Keramaian sebuah karnaval. Tepatnya, sebuah karnaval penderitaan, tempat semua penderitaan dipersandingkan dan dilombakan.

Tokoh utama kita adalah seorang pemuda yang menginginkan penderitaan. Dan ia memenangkan perlombaan tersebut. Ia adalah pemuda yang tampan dan bahagia, matanya binar sebulat biji delima, senyumnya penuh dengan cerita bahagia, dan kini sedang duduk termenung di ujung danau.

Ada sebuah pemandangan dalam cerita kita ini; kamu akan menemui sebuah kompetisi dimana setiap manusia berlomba-lomba berkata bahwa dirinya adalah makhluk paling menderita. Sebuah upaya untuk menyogok Tuhan agar dapat dimasukkan ke surga secara Cuma-cuma. Gratis laiknya oksigen dan menyebar bebas seperti suara kentut yang berhamburan dalam gelombang udara.

Kompetisi ini diikuti oleh setiap orang dari penjuru ruang dan waktu. Apabila kita jeli memerhatikan suasana di karnaval ujung danau ini, ada banyak orang yang terlihat menderita. Sedikit di antaranya adalah Jugun ianfu; tahanan perang yang dijadikan budak seks oleh tantara Jepang. Banyak juga tantara yang sudah memerkosanya, yang dihantui ketakutan untuk minta maaf dalam setiap detik hidup mereka. Ada juga orang-orang yang terlihat sudah rutin bolak-balik ke neraka. Mulutnya selalu panas tersulut api, dan kadang ia mengeluarkan setrika yang baru dipanaskan untuk kembali memanaskan lidahnya yang mungkin sepintas terlihat mirip komik berjudul “Siksa Neraka” ciptaan Tatang S. yang sering kita beli sewaktu menginjak bangku Sekolah Dasar.

Sekali lagi, tokoh kita adalah seorang bahagia. Ia tak pernah hidup menderita namun ingin mengikuti kontes penderitaan. Hidupnya membosankan; mungkin ia kelebihan hidup, atau mungkin juga ia kekurangan hidup. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang mati muda di usia empat puluh delapan tahun sedangkan ibunya adalah seorang bintang televisi yang wajahnya cukup cantik dan brilian pemikirannya, namun saat ini sedang rapuh. Ia diguna-guna tetangganya karena dituduh telah berkongsi dengan seorang tukang tambal ban tua untuk mencuri mobil milik tetangganya yang kelihatannya sudah melihat potensi harta dari dirinya.

Sekarang, keluarga tokoh kita bangkrut dan dia merasa bahwa dirinya adalah makhluk paling menderita. Namun, derita apalagi yang harus ia terima? Toh, kalau dihitung jumlahnya, hanya ada tiga buah derita yang ia miliki. Ah, bukankah rasa sakit adalah bagian dari penderitaan? Ia tak pernah merasakan kesakitan sebelumnya. Ia hidup bahagia, terlalu bahagia sampai lupa rasa sakit itu apa.

Tokoh kita ini ingat, pernah suatu hari ia teriris sebuah pisau. Ia merasakan sakit, tapi apakah sakit adalah sebuah penderitaan atau bukankah sakit itu sekadar impuls yang diciptakan syaraf sebagai impuls yang nantinya akan dikirimkan menuju otak tengah? Diproses lalu sekadar menjadi rasa kejut untuk menyadarkan kita supaya menghindari penderitaan? Ia iseng mencoba, ia beranjak dari danau, pergi ke toko kelontong dan beli silet cukur. Ia pergi ke atas bukit, ada Tuhan dan domba-dombanya, ia lewati begitu saja. Ada Yesus yang sedang disalib, ia pergi. Ah, bukankah hidup itu terlalu membosankan untuk menanggung penderitaan orang lain?

Di atas bukit, ia menghitung seberapa banyak penderitaan yang ia terima. Tiga, angka terakhir penderitaannya menurut alat penghitung derita yang terdapat di festival tersebut. Orang-orang jijik padanya. Kau terlalu bahagia, mungkin itu yang menjadikan orang-orang begitu kesal padanya. Kau tak pernah merasa dikucilkan, kau cuma sekadar buangan yang hidup bermanja-manja bersama baying-bayang kuda sembrani bertanduk satu yang berjalan di atas bianglala berwarna Cyan, Magenta, Merah, Biru, Hitam, dan Merah, dan Biru, dan Hitam, dan Hitam, Hitam, Hitam, Hitam, karena sudah terlalu banyak warna bahagia yang bercampur dalam palet kehidupannya.

Namun, sehitam-hitamnya bianglala, ia tetap indah juga. Itu yang tokoh kita rasakan, tak pernah ada penderitaan yang begitu signifikan yang pernah ia alami. Dan kini, di atas bukit, ia coba cara curang; ia ambil silet yang dia beli dari toko kelontong tadi dan perlahan menggoreskan silet itu ke urat nadinya. Ia tak mati. Cuma hitam, seperti orang yang belum bisa melihat lalu disoroti cahaya yang menyilaukan. Ia cukup ingat pemandangan ini. Persis seperti saat ia bayi, ketika baru keluar dari rahim lalu entah apa itu rasanya. Mungkin kaget. Mungkin takut. Mungkin bahagia. Mungkin sedih, karena tak bisa lagi makan dari tali plasenta dimana ibumu membagi setiap kilogram asupan nutrisi yang ia makan sejak sarapan pagi hingga makan malam dengan kekasih gelapnya.

Sakit. Ah, iya, mungkin sakit. Sakit. Sakit. Apalagi itu, berengsek? Itu bukan derita, betapa bodohnya tokoh kita ini.

Tokoh kita begitu depresif, ah penderitaannya bertambah satu. Lantas, ia mencoba lagi untuk merasakan rasa sakit. Ia silet kulitnya kembali. Satu. Tiga. Lima. Tujuh. Sebelas. Seribuduapuluhtiga. Tigaribusembilanpuluhsatu. Ah, mengapa rasa sakit ini tak muncul lagi?

Ia bingung, tubuhnya berdarah semua, dari ujung rambut hingga ujung kontol penuh dengan darah. Orang mungkin berpikir bahwa ia akan mampus. Tapi setelah diperiksa kembali oleh dokter sewaan yang selalu haus akan uang: “Ia baik-baik saja.” Tekanan darahnya stabil; 120/80, katanya. Mungkin dokter itu bohong, tokoh kita tidak percaya. Mungkin dokter itu bohong. Mungkin dokter itu butuh uang. Ah, kenapa tak ada lagi penderitaan yang datang padaku hingga hari selarut ini? Pikir tokoh kita yang kini sedang depresi.

Apa yang terjadi? Tokoh kita rupanya kebingungan. Ia tampak mengamati wajahnya sendiri di mata orang lain. Ia lari tunggang-langgang ke kampungnya. Ibunya yang kena guna-guna itu bahagia; kau terlihat gemuk hari ini. Sudahkah kau berbahagia? Ah, kenapa seperti itu jawabannya?

Ia kembali berlari. Terus berlari. Ke kuburan, ke persimpangan jalan, ke diskotik, ke karnaval, ke mana pun tetap sama. Kenapa kamu sehat hari ini? Aku tak mau sehat, aku tak mau sehat, aku ingin menderita. Ya, aku ingin.

Ingin. Ingin. Ah, ingin. Iya, ingin. Aku harus ingin menderita. Aku tak bisa lagi hidup bahagia. Iya, aku ingin. Harus punya keinginan. Bahkan, untuk mati sekalipun. Aku ingin. Iya, aku ingin. Ingin mati. Sekali lagi, aku ingin mati! Tapi bagaimana caranya? Ah, kenapa suara ini ada? Mengapa kamu terlihat begitu sehat walafiat di hari yang penuh derita ini?

Tokoh kita ini marah, ingin sekali rasanya ia rampok semua penderitaan yang dialami semua orang seperti Yesus kala menanggung salib menuju Tiang Golgota atau ketika seorang guru Hindu mengucapkan mantranya di atas toa masjid. Namun, apa daya. Ia bukan Yesus, Yesus punya keinginan, begitu pun seorang guru Hindu yang membacakan mantranya keras-keras. Keinginan mereka sama; melalui penderitaan, agar penderitaan semua orang hilang. Hilang dari muka bumi. Sialan sekali, sedang aku sibuk memunguti penderitaan yang tak kunjung aku temukan! Pikir tokoh kita.

Setidaknya, tokoh kita masih mampu berpikir, meski tidak sejernih ketika ia masih waras. Ah, bukannya semua orang selalu punya keinginan? Mengapa ia terus mengejar penderitaan? Ia ingin terus hidup bahagia, tidur bersama ibunya, menikmati masa-masa Oedipus itu. Tertidur di pangkuan ibunya sendiri, memegangi payudaranya dan mengisap perlahan-lahan darah dan keringat yang telah tercampur menjadi susu dari putingnya yang terlampau kecil.

Namun, ia sendiri memertanyakan kembali. Kenapa ia merampok? Apakah cuma karena ingin menderita? Sialan bukan? Hanya karena lomba itu, ia terpaksa mengurangi waktu yang mungkin ia gunakan untuk kembali bekerja. Mungkin dalam sehari ini ia bisa memberi makan ibunya di rumah dengan secangkir beras –bukan. Ah, bukan itu. Sial. Pikiran apa ini?

Ia membolak-balik pikirannya: mengapa ia merampok bank tadi?

Pernah, sewaktu kelas 3 Sekolah Dasar ia bermimpi tentang bagaimana dirinya di masa depan nanti. Tokoh kita ini sempat bermimpi menjadi seorang perampok. Entah apa alasannya, dan ia bermimpi membuang hasil rampokannya ke sungai lalu mengikutinya hingga arus air tersendat-sendat di sebuah desa. Desa yang miskin, tak punya tani, tak punya alat berburu, namun akhirnya mendapatkan uang buangan dari tokoh kita ini. Tokoh kita bahagia. Ah iya, mimpi. Apa artinya mengejar penderitaan apabila punya mimpi? Bukankah mimpi lahir dari penderitaan? Penderitaan tanpa mimpi bukanlah penderitaan, ia tak pernah hidup menjadi sebuah derita. Ia menggumpal terus-menerus dan menjadi semakin borok apabila dipelihara.

Sang tokoh kita pusing. Ia tinggalkan karnaval dan polisi-polisi yang nampaknya lelah mencarinya. Ia pergi ke puncak gunung, ambil sekop, lalu angkat perlahan- lahan. Ia buat sebuah lubang. Ah, ia ingat mimpinya; Tokoh kita ingin mati di antah berantah. Ia kubur dirinya sendiri. Tak ada lagi mimpi, tak ada karnaval, tak ada penderitaan. Bukankah mati jauh lebih baik?

 

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment