Loader

Kecoa

 

MATAKU sepat. Jarum di jam dinding kabur. Aku kapok tak menggubris pesan ibu agar kencing dahulu sebelum tidur malam. Sekarang aku harus menahan kencing yang rasanya melilit perut. Celana dalamku mungkin basah. Aduh…

Aku berjingkat keluar kamar, sempoyongan, melewati ruang tengah dan kamar ibu. Pintu kamar ibu rupanya tak tertutup rapat. Terdengar derit dan bisik di sela hening, pasti sudah lewat tengah malam. Tapi aku sudah tak tahan. Buru-buru aku masuk kamar mandi dan kupelorotkan celana, lalu berjongkok; serrrr……

Lega rasanya. Suaranya pun merdu sekali. Kubuka keran kamar mandi. Di bak airnya kosong. Kencing harus selalu disiram biar tak bau, sebab kalau bau akan mengundang kecoa dan ibu benci kecoa, benci bau pesing. Aku tak mau dimarahi ibu malam-malam begini. Setelah air cukup, kusiram lantai bekas kencing tadi. Empat gayung sudah bikin bau pesingnya hilang.

Kututup rapat pintu kamar mandi dan berjalan melewati ruang tengah. Layar televisi hitam memantulkan bayanganku. Sejenak aku teringat kecoa dan pintu kamar ibu. “Awas, kecoa jangan masuk ke kamar. Nanti mereka malah tidur sama kamu.” Kata ibu suatu hari. Aku pun selalu tidur dengan pintu kamar tertutup. Aku tak mau binatang kotor ikut tidur dan bersarang di kamarku.

Aku hampiri pintu kamar ibu. Kutarik perlahan pintu kamarnya. Di sisa jarak sejengkal untuk pintu tertutup, kepalaku tak sengaja menoleh ke dalam kamar. Mataku yang masih likat menahan kantuk memandang ibu terduduk memunggungiku. Rambutnya hitam tergerai. Ia sungguh cantik. Aku mau rambut seperti ibu, yang panjang dan mengkilat-kilat, yang selalu wangi dan tertata rapi. Punggung ibu pun tampak luas dan kuat, sementara kedua tangannya mencekal sprei, menopang badannya.

“Ah, yes… di situ. Teruskan; perlahan,” desah ibu. Gerak tubuhnya seperti ulat, sementara kecoa di hadapannya membuat gerakan seolah ia belum minum selama bertahun-tahun lamanya.

“Ibu,” panggilku.

“Yah.”

“Selamat tidur, bu.”

“Ya, S—arah, y—ah.”

Kututup pintu kamar ibu perlahan hingga terdengar bunyi “klek”. Bersijingkat aku kembali ke kamar. Kepalaku langsung jatuh di atas bantal empuk. Kecoa-kecoa hilir-mudik sejenak di pikiranku. Mereka menjadi lusinan domba, loncat dan terbang melewati pagar, hinggap di dinding, dengan kedua sungutnya yang bergoyang-goyang, atau berlarian ke celah-celah perabot dapur menuju sarangnya. Kuhitung mereka satu-persatu, sampai mataku memejam, dan aku terlelap.

KAU tidur nyenyak, Sarah?” tanya ibu saat aku sedang mengunyah roti berisi telur untuk sarapan. Aku tak ingat menjawab apa. Hingga ibu mengantarku sekolah –di mobil ia bernyanyi-nyanyi dengan gembira dan sesekali kutimpali di bagian refrain yang kuhapal—barulah kujawab, “Aku tidur nyenyak.” Kami pun bernyanyi lagi sampai aku tiba di gerbang sekolah dan mobil ibu menjauh.

Sungguh tak ada yang istimewa hari ini. PR-ku mendapat nilai 100. Ibu di rumah akan mengelus kepalaku, kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Ibu pernah bilang, “Ini nih, Sarah, grup bbm di ponsel kita yang bikin kita bisa makan. Hkhkhaha…” Aku hanya mengangguk. Ibu menjual bensin dari ponsel? Begitulah. Aku tak ingin mengganggu bisnisnya itu. Lewat ponsel, bibir ibu juga kerap dimajukan, disusul bunyi “klik” dari ponsel. Kata teman-temanku di sekolah, begitu itu namanya selfie. Tapi itu bukan nama ibuku, dan aku tak ingin berdebat tentang itu.

“Ibu masak apa hari ini?” tanyaku, tiba-tiba perutku terasa berangin. Aku lapar. Sejenak kemudian ibu turunkan lengannya yang sedang menggenggam semacam tongkat, mirip tongkat yang biasa digunakan pemulung untuk memungut plastik.

“Aduhh sayang, ibu sibuk. Makan di luar saja, seperti kemarin, mau?”

“Aku bosan, bu.”

“Lho? Bukankah kamu lapar? Sudah. Orang lapar harus makan sebelum ia sakit.”

“Ya. Tapi aku bosan, bu. Teman-temanku makan masakan ibunya.”

“Setiap pagi kumasakkan telur. Kamu pikun, Sarah? Kamu pikun?”

Kujawab itu dalam hati saja. Aku lapar dan aku butuh makan. Kuturuti kemauannya kembali makan masakan orang lain, membeli sebungkus nasi atau makan di restoran cepat saji, seperti kemarin-kemarin.

Kami pun pulang dengan perut kenyang. Ibu beringsut menuju kamar mandi lalu kembali dengan handuk dan rambut panjangnya yang tergerai. Aku tahu, ibu akan masuk ke kamarnya lama sekali, dan jika waktunya dipakai untuk mengelilingi komplek perumahan dengan sepeda roda tiga dan kembali lagi ke rumah pun, ibu masih berada di kamarnya, di depan cermin tepatnya. Ibu akan keluar dengan rona muka boneka barbie. Wangi parfumnya bisa terjamah hidung satpam di gerbang komplek, bahkan lebih. Entah kenapa ibu suka sekali wanginya, yang bagiku mirip wangi cairan pembersih keramik.

Melihat rambutnya yang masih agak basah, aku semakin ingin rambut hitam panjang itu. Rambut yang tergerai lurus, yang jatuh dengan sempurna sampai setengah punggung mewangi. Tetapi, ibu tak mengizinkan aku punya rambut panjang. Ibu juga tak mengizinkan aku memakai parfum, dan ibu juga tak mengizinkan aku berteman dengan laki-laki. Pernah suatu kali aku berteman dekat dengan seseorang, teman laki-lakiku satu-satunya, yang nyaris menyentuh bibir teras rumah sebelum ditatap mata ibu dari pintu masuk dan bertanya, “Wah wah wah… Memangnya, Sarah mau bergaul sama kecoa model kamu? Buruan minggat sebelum kusiram kau dengan kopi panas ini. Minggat sia, coro!

Aku bersedih hari itu sampai keesokan harinya. Temanku itu tak bisa lagi kujumpai di sekolah dikarenakan harus pindah ke luar kota, dan aku tak punya seseorang pun yang boleh kusebut teman.

DENGAN GESIT ibu menjawab ketukan di pintu lalu membukanya perlahan. Mereka agak lama berpelukan. Sadar aku mematung di belakang ibu, kecoa itu melepaskan lengan ibu yang menggelantung di bahunya. Ia membungkuk, menyodorkan lengannya dan bersalaman, “Halo Sarah,” katanya, senyumnya mewah, disusul bau pesing khas kecoa yang mulai menguar, yang memaksa masuk ke dalam rongga hidung dan kepalaku.

Ibu memperkenalkanku dengannya. Sungguh tak jelas betul suaranya, ia seperti mengigau. Tapi biarlah, toh, nama yang kudengar memang jelek sekali. Kami hanya bersegera duduk bersama di ruang tengah, saling bertanya-jawab mirip kuis di tv atau cerdas cermat di sekolah yang menegangkan. Beruntung bosanku datang tepat waktu dan aku memilih menamatkan tetris di ponsel.

“Aih, wahai bulanku, aku kemalaman. Tak bisa bersamamu terlalu lama, sayang,” pelan sekali suara kecoa itu kudengar. Mungkin kuping ibu pun tak mampu menangkap suaranya, sehingga ibu perlu mendekatkan wajahnya lekat-lekat ke hadapan sumber suara. Kemudian, dengan gerakan perlahan, kecoa itu malah merebahkan bahunya di senderan sofa yang empuk. Ibu lalu menyingkap kedua pahanya, duduklah ia di pangkuan kecoa dan memeluknya, mendekapnya.

“Hhhkh… Aku tahu. Kapanpun kau boleh mengunjungiku, tampan,” balas ibu, suaranya lembut, halus, tenang.

“Ah, sayang, apa anakmu tahu?” kali ini paman berbisik. Aku pura-pura tak mendengarnya, tetap menundukkan kepalaku ke ponsel.

“Aduh, tampan, ia kan sudah terlelap saat kau kemari.”

“Eh… Maksukdu, hubungan ini, sayang, hubungan kita?”

“Hhhkk… Apa yang harus kukatakan pada gadis kelas 2 SMP? Ayolah, ia akan paham dengan sendirinya kan… sayang, tampan.”

Kecoa itu tersenyum. Kecoa itu menyeringai. Ia mendekatkan moncongnya pada bibir ibu yang cantik, yang merah apel, yang padat dan penuh, yang rupawan. Kecoa itu menempelkan moncongnya pada bibir ibu perlahan, lalu melumatnya. Seolah-olah, congor kecoa itu sendal jepit kumal penuh daki yang tengah menginjak-injak lumpur sehabis hujan. Berisik, kotor, menjijikan.

Kuletakkan ponsel dan kulayangkan pandang, kutujukan mataku pada tingkah kecoa itu. Sadar kuperhatikan, isapannya berhenti mendadak.

“Ah… Hehehe. Maaf, Sarah. Kamu kok tak mengerjakan PR? Ayo lho..” tanyanya.

“Oh, ya. PR,” kujawab.

“Aih aih, Sarah, ayolah. Hhhhkkhh… Sana masuk kamarmu!” perintah ibu.

Baiklah. Aku di kamar. Dan kututup pintu rapat-rapat. Kuhempaskan badan di atas ranjang, lama aku terdiam, lama aku teringat suara-suara kecoa dan ibu. Hoaaammm… Seiring kepalaku terkulai di atas bantal, kelopak mataku bertambah berat. Aku mulai menghitung kecoa. Aku menguap. Delapan puluh ekor sudah mereka berlompatan, beterbangan. Sembilan puluh. Sembilan satu. Sembilan du—

“Sialan! Aku bilang di luar, ya di luar! Tanggung jawab, sia, bangsat!”

Apakah ibu berteriak? Oh, betulkah itu ibu?

Badanku melompat dari kasur dan berlari ke luar kamar. Kecoa itu terduduk lemas, sementara ibu menunjuk-nunjuk kepala kecoa yang kecil itu. Keduanya telanjang bulat, dan rambut ibu masih tergerai, panjang, hitam, indah.

“Mm—maaf, barusan itu kecelakaan, sungguh,” suara kecoa serak, setengah merintih. Seketika remot tv meluncur membentur kepalanya dan memantul ke lantai bagai baling-baling, prak! remot pun pecah terbelah. Kemudian, tangan ibu meraih asbak marmer, dan kembali melayangkannya namun meleset mengenai senderan sofa yang empuk dan memantul dekat kakiku. Kecoa itu berdiri dan meloncat ke hadapan ibu, mencekal lengannya dan merengkuhnya, memeluknya. Ibu meronta-ronta, terus meronta-ronta, sehingga paman tersungkur setelah dihempaskan oleh ibu.

Kecoa melangkah masuk ke kamar ibu. Ibu duduk di sofa, tapi mulutnya terus berteriak. Kecoa muncul ke luar dari kamar mengenakan celananya dan berjalan gontai. Mata kami saling pandang sejenak. Tapi, ia malah diam saja. Ia hanya berdiri tegak di hadapanku, tak berkutik. Sementara ibu berteriak-teriak, lalu hening. Aku malah tak bisa menangkap dengan jelas ibu bicara, atau berteriak apa, dan diam karena apa. Aku hanya mendekat, meraih lengan kecoa itu, mengelus telapak tangannya yang kasar dan agak basah berkeringat.

Aku pernah menyaksikan ibu melakukan hal ini pada beberapa ekor kecoa, dan kupikir aku pun boleh mencobanya. Maka kutempatkan kedua telapak tangannya ke dadaku, ke pinggangku, dan meluncur ke pantatku. Kubiarkan kecoa itu mengelus-elus, perlahan meremas, hingga ia akhirnya bersuara, “Ohhh, Sarah, berbaringlah,” disusul matanya yang kemudian memejam.

Aku pun berbaring. Kecoa itu kini berada di atas badanku, dengan congor yang hanya berjarak tak lebih dari sebuku jari, yang mendengus memburu tepi bibirku. Ia haus menjilat, mencecap leherku. Sementara ia meringis, mataku menyasar benda pejal dekat kedua kakiku yang tengah mengangkang, tertindih pinggang kecoa. Entah mengapa, kuraih saja asbak yang tergeletak tak jauh dekat kakiku itu. Kugenggam ia erat-erat, dan kuayunkan ia secepat kilat. Kutumbukkan asbak marmer itu ke kepala kecoa. Aku suka sekali suara tumbukkan itu. Maka kutumbukkan lagi, kuhantamkan lagi, dan kulesatkan lagi ke kepalanya setelah ia menjauh dari tubuhku. Sampailah ia terkapar, ia terlentang bersimbah darah.

“Nah, nah, nah. Kau tahu pelajaran penting hari ini, Sarah? Jangan biarkan kecoa-kecoa ini masuk ke kamarmu dan merusak hidupmu. Camkan itu!” kata ibu, sambil menatapku tajam. Aku mengangguk. Jumlah kecoa berkurang seekor.

 

Ilustrasi: Annisa Rizkiana Rahmasari

 

No Comments

Post A Comment