Loader

Kita Semua Adalah Penyintas, Kita Semua Adalah Pelaku

Berbicara tentang Kekerasan Seksual di Dalam Komunitas

Diskusi tentang bagaimana menghadapi kekerasan seksual di dalam komunitas radikal terus berkembang dan syukurnya, setidaknya di beberapa lingkar komunitas, topik ini mulai diangkat ke permukaan. Banyak yang bisa kita ambil dan terapkan, sampai ke cara-cara bagaimana konflik lainnya ditangani; tetapi pada saat yang sama, ada banyak yang masih perlu dibenahi. Kami akan membahas kembali penggunaan bahasa yang biasa dipakai pada isu ini: apa maksud dari istilah-istilah, apa tujuan efektif penggunaan istilah-istilah tersebut dan apa saja kekurangannya.

*

Dalam menjalin relasi, kita seringkali menetapkan batasan-batasan dan terkadang bahkan saling meminta izin satu sama lain. Hampir pada semua relasi, batasan-batasan ini tak terucapkan, misalkan batasan seperti: Saya tidak akan duduk di pangkuan pasangan teman saya. Saya hanya akan memeluk teman ini untuk mengucapkan kata ‘halo’ dan ‘selamat tinggal’. Dalam relasi romantik, kita cenderung menetapkan batasan yang lebih tegas dengan pasangan kita: Saya tidak mau melakukan hubungan seks tanpa kondom. Pasangan saya keberatan untuk mencium saya di depan orang tua saya. Dalam segala jenis relasi, dari platonik hingga seksual, kita bisa melanggar batas-batas orang lain dan menyakiti mereka, atau membuat mereka merasa tidak nyaman. Hal ini kerap kali terjadi, terutama dalam hubungan di mana batasan itu hanya tersirat.

Kekerasan seksual adalah sebuah manifestasi akut dari pelanggaran batas-batas tersebut. Ketika kekerasan seksual terjadi, orang yang melanggar batas diberi label sebagai pelaku (perpetrator) dan pihak yang dilanggar batasnya disebut penyintas (survivor)—istilah yang lebih memberdayakan ketimbang ‘korban’. Ini adalah peristilahan yang kuat, dan bisa sangat berguna untuk membantu penyintas dalam mengidentifikasi dan mengolah suatu pengalaman. Secara sederhana, memiliki sebutan yang dapat memecah keheningan yang dipaksakan karena pengalaman-pengalaman sulit, dapat menjadi hal yang menguatkan kita.

Sebutan ini juga berguna saat berurusan dengan orang-orang yang tidak mau bertanggung-jawab atas tindakan mereka, yang tidak mau diajak berdiskusi dan kabur dari masalah yang mereka perbuat. Dicap sebagai pelaku kekerasan seksual adalah beban berat; menyebut satu tindakan sebagai kekerasan seksual artinya masalah itu dianggap serius dan menuntut perhatian semua pihak yang mendengarnya. Untuk kasus penolakan tanggung jawab di atas, pelabelan ‘pelaku’ dapat langsung diberikan jika si pelaku tidak kooperatif dan tidak punya itikad untuk berdialog sama sekali.

Namun, selain untuk situasi di atas, bahasa pelaku atau penyintas memiliki banyak keterbatasan. Spektrum interaksi yang tidak sehat dan tidak konsensual amatlah luas, tapi istilah kekerasan seksual hanya menggambarkan sebagian kecil saja dari spektrum tersebut. Bayangkan jika begini; kita menarik garis interaksi kita, mulai dari yang paling konsensual sampai ke yang paling tidak konsensual.

Bagian yang paling konsensual, di mana tidak ada batasan yang dilanggar, menempati bagian kecil di satu sisi. Sementara interaksi yang dapat langsung kita kenali sebagai kekerasan seksual, menempati bagian kecil di sisi sebaliknya. Sementara di tengah-tengahnya, di antara kedua kutub ekstrim tersebut, masih banyak sekali bagian di mana batasan-batasan yang kita miliki sering dilanggar dalam berbagai bentuk dan cara. Bahasa yang kita punya tidaklah cukup untuk mendeskripsikan kekerasan seksual dengan spesifik, yaitu interaksi yang berada ‘di tengah-tengah’ tadi.

Bahasa pelaku dan penyintas juga dapat memberi kesan keliru bahwa kekerasan seksual adalah satu-satunya bentuk pelanggaran batas yang layak dibahas. Memisahkan kekerasan seksual, dan penyintas dan pelaku yang terlibat di dalamnya, dengan pengalaman seksual lain yang tidak dilabeli ‘kekerasan seksual’, sering terjadi. Padahal pengalaman-pengalaman tersebut bukan berarti kemudian bebas dari kekerasan dan paksaan. Sebaliknya, dalam masyarakat otoritarian kita, dominasi telah menginfeksi segala hal, dampaknya adalah bahkan dalam relasi yang paling intim dan kita cintai pun dengan halusnya—kadang tidak terlalu halus juga—dicemari oleh dorongan kuasa yang tak setara. Pemisahan antara “kekerasan seksual” dan “hal lainnya” membiarkan siapa pun yang tidak dilabeli sebagai ‘pelaku kekerasan seksual’ melenggang dengan bebas; ini justru menjauhkan perhatian kita dari fokus utama, yaitu memperbaiki relasi-relasi yang kita miliki dan juga sensitivitas kita kepada orang lain.

Salah satu konsekuensi paling bermasalah dari kurang tepatnya bahasa yang kita gunakan adalah orang sering enggan dan tak mau membahas rumitnya pelanggaran batas dengan lebih mendalam. Sebutan ‘pelaku-penyintas’ ini sangatlah serius sehingga dalam kasus-kasus yang kurang dramatis—misalnya, dalam situasi di mana kekerasan atau paksaan fisik tidak ada—penyintas bahkan mungkin bertanya-tanya apakah yang dia rasakan mempunyai legitimasi sebagai ‘masalah serius’ yang layak ditelusuri dan ditangani. Jika seseorang memilih tidak menggunakan sebutan ‘kekerasan seksual’ untuk menggambarkan pelanggaran yang dialaminya, apakah itu lantas dianggap tidak penting? Dapat dipahami jika banyak orang ragu-ragu untuk menuduh orang-orang tercinta atas kekerasan seksual yang mereka lakukan atau memberi mereka label ‘pelaku’ karena stigma yang melekat pada istilah-istilah ini dan drama yang sering terjadi kemudian hari ketika hal tersebut dibahas. Namun, bukan karena itu kita lantas tidak mau membahasnya.

Kemungkinan seperti ini juga sering terjadi: di satu sisi sebutan ‘pelaku-penyintas’ berguna ketika dialog diabaikan, tapi di sisi lain itu justru menghentikan perjalanan kita ke arah dialog meski dialog itu mungkin dilakukan. Karena, sebutan tersebut menciptakan kategorisasi orang dibanding deskripsi perilaku mereka, mereduksi seorang individu berdasarkan satu tindakan saja. Hal yang membuat kecenderungan menempatkan orang-orang di posisi defensif, yang sering membuat mereka sulit menerima kritik. Implikasi nyata dan nada menuduh dari bahasa ini dapat mengendapkan situasi; alih-alih berfokus pada rekonsiliasi atas pengalaman realitas yang berbeda, orang-orang di sisi yang saling berlawanan berjuang membuktikan bahwa penafsiran mereka tentang realitas adalah satu-satunya yang paling “benar”. Ketika hal itu terjadi, diskusi yang ada bukan lagi tentang bagaimana menyelesaikan masalah dan berupaya saling memahami dan menghargai pengalaman unik setiap orang, tapi malah jadi sebuah investigasi tentang realitas “objektif” dimana semua pihak diadili.

Tidak boleh ada seorang pun yang harus dipaksa untuk membuktikan apa yang dia rasakan, terutama seseorang yang telah dilanggar batasannya (penyintas). Terlepas dari “apa yang sebenarnya terjadi”, pengalaman individu adalah miliknya sendiri dan layak divalidasi. Untuk memutuskan realitas mana yang “benar”, kita dipaksa untuk menghargai nilai satu pihak dan tidak yang lainnya: ini adalah validasi ala “model kelangkaan” (scarcity model). Ketika konflik kekerasan seksual muncul, komunitas sering dipaksa untuk berpihak, membuat masalah ini menjadi kontes popularitas; begitupun juga, individu-individu lantas merasa berkewajiban mendukung satu orang dan mengorbankan yang lain.

Andaikan kita dapat mengembangkan cara menangani situasi tersebut, yang berfokus pada komunikasi dan pemahaman ketimbang memantapkan posisi siapa sesungguhnya yang salah, mungkin akan lebih mudah bagi siapapun yang melanggar batasan untuk mendengar dan belajar dari kritik, dan lebih meringankan stress bagi siapapun yang batasannya telah dilanggar. Ketika seseorang merasa keinginannya tak dihargai—terlepas apakah pengadilan hukum menilai bukti yang ada layak untuk pengenaan pasal kekerasan seksual atau tidak—semua yang terlibat dalam situasi ini harus menyadari bahwa mereka ikut berperan jika pelanggaran batasan itu terjadi karena mereka tidak mengkomunikasikannya atau tidak menghargai satu sama lain dan mesti berupaya untuk memastikan bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi lagi.

Kita juga membutuhkan suatu istilah yang dapat dipakai untuk situasi saat terdapat ketidakjelasan mana pelaku dan yang mana penyintas. Mengidentifikasi seseorang sebagai pelaku amatlah tidak masuk akal jika kedua belah atau seluruh pihak yang terlibat dalam interaksi tersebut saling melanggar dan dilanggar batasannya. Bahasa yang kita punya saat ini telah membentuk pembagian dunia yang keliru antara pelaku dan penyintas—seperti halnya penindas dan yang ditindas—kebanyakan orang terjebak dalam dikotomi ini. Pandangan biner macam ini menyebabkan adanya sekelompok orang yang seluruhnya ‘benar’ dan sekelompok lainnya adalah total ‘salah’, dengan anggapan bahwa ada satu pihak yang paling bertanggung-jawab atas terjadinya kekerasan seksual, sementara yang lainnya tidak berperan sama sekali dalam kejadian tersebut, atau bahwa tak ada cara untuk membuat relasi keduanya lebih konsensual. Pada kasus ekstrim hal ini terjadi, tapi kita juga harus mampu menghadapi bentuk kasus lainnya, termasuk kasus dimana kedua belah pihak mampu memperbaiki kemampuan berkomunikasi dan sensitivitas mereka.

Kita butuh cara baru untuk membangun konsep dan berkomunikasi tentang bentuk-bentuk interaksi kita, cara yang menghargai berbagai batasan yang berbeda—baik interaksi seksual, romantis, maupun platonis—dan bagaimana batasan itu dilanggar. Melatih consent (izin atau persetujuan) dan menghargai batasan orang lain sangatlah penting, baik dalam relasi seksual maupun dalam setiap aspek hidup kita lainnya: mengorganisir acara bersama, hidup berkolektif, merencanakan aksi langsung dengan aman. Relasi konsensual dan non-hirarkis adalah substansi dari anarki dan sudah saatnya kita mengedepankan consent dalam semua interaksi kita.

Karena setiap pengalaman adalah unik, mestinya kita menggunakan bahasa yang spesifik untuk setiap pengalaman tersebut, daripada memaksakan seluruh pengalaman tersebut menjadi kategori-kategori abstrak; kita dapat melancarkannya dengan melakukan deskripsi secara individual: misalnya sebagai ‘pelanggaran batas yang disengaja’, atau sebagai ‘keputusan yang diambil ketika consent tidak diterapkan dengan jelas atau ambigu’.

Kita dapat mendobrak stigma dan rasa malu yang melingkupi isu kekerasan seksual dengan membuka dialog tentang segala bentuk interaksi non-konsensual. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi kita tentang sejarah kekerasan yang kita alami dan kita lakukan, sejarah seksual kita, hasrat kita, dan kita dapat menciptakan ruang untuk kita bisa membicarakan area abu-abu consent. Kita harus membangun satu budaya yang mengakui fakta bahwa, meskipun kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap baik kepada orang-orang yang kita cintai, adakalanya kita melakukan kesalahan, tidak bisa dipercaya, dan melanggar batasan. Kita harus mendukung baik penyintas dan pelaku: bukan untuk menyetujui aksi-aksi non-konsensual, melainkan karena kita harus membuang borok masyarakat yang hirarkis dan kapitalistik ini, dan karenanya, kita harus bekerja bersama-sama.

Memunculkan bahasan-bahasan di atas bukan berarti menyangkal adanya kekerasan seksual, bukan pula menerimanya. Sebaliknya, ini adalah tuntutan bagi kita untuk mengakui bahwa kita hidup dalam budaya perkosaan (rape culture): suatu budaya yang mana kekerasan seksual telah menjalar pada seluruh aspeknya, juga kuasa dan dorongan yang ikut mendukungnya. Kekerasan seksual adalah bagian dari hidup kita semua yang dibesarkan dalam masyarakat ini; kita tak bisa mengabaikannya, atau berpura-pura bahwa karena kita pernah mengalaminya atau karena kita menjadi anarkis dalam setiap aspek hidup kita, bukan lantas kita tidak mungkin melakukan kekerasan seksual. Satu-satunya cara untuk membuang kekerasan seksual dalam hidup kita adalah dengan membuka isu ini. Ini berarti seorang pelaku dapat mengakui kekerasan yang diperbuatnya tanpa perlu ketakutan, kita pun sanggup pula mengakuinya dengan terbuka, jujur, tanpa rasa takut, mulai dari tindakan kecil yang tak dihitung, hingga pelanggaran batas yang paling serius. Karena kita semua adalah penyintas; kita semua adalah pelaku.[]

 

 

Diterjemahkan dari artikel “We Are All Survivors, We Are All Perpetrators”, Rolling Thunder #1 (Crimethinc.com). CrimethInc. adalah kolektif desentralis anarkis, aliansi pemberontak, jejaring internasional para revolusioner yang bersemangat, sel-sel otonom aksi kolektif, untuk tatanan yang lebih merdeka dan gembira.

___

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Icarus Labyrinth dan Malika, diedit oleh Arci Arfian

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment