Loader

Kotak Pengakuan

 

“Pastur, aku membunuh Anakku.”

Napasku tersedak dan makanan berhamburan dari mulutku. Aku mencoba mengatur napasku perlahan, lalu kulihat di balik sekat kayu itu seorang perempuan setengah baya dengan wajah sayu tertunduk.

“Kenapa kau membunuhnya?”

“Aku tak tega melihatnya sakit, aku sudah tak sanggup untuk membawanya ke dokter, biayanya sangat mahal, pastur. Dia harus dioperasi, sementara itu dokter bilang padaku walaupun dioperasi, kemungkinannya pasti kecil untuk membuat anakku sembuh. Dan pastur, suamiku meninggalkanku. Aku sudah tak punya uang lagi untuk membeli obat dan membeli makan untuknya.”

“Itu pasti sangat sulit untukmu, tapi mengapa kau harus membunuhnya?”

“Awalnya aku tak sanggup, tapi ia tersenyum seperti meyakinkanku, entah. Sambil menangis kututup wajahnya yang terbaring dengan bantal, ia meronta namun terus saja kubenamkan bantal itu pada wajahhya. Beberapa menit berlalu, badannya mulai melemas sampai akhirnya badan yang layu itu tak bergerak sedikitpun. Aku tak tahu harus apa lagi dengan kondisi anakku. Aku hanya akan membuatnya tersiksa jika kubiarkan dia hidup. Haruskah aku menyerahkan diri pada polisi, Pastur?” Perempuan itu mengusap air matanya yang mengalir seperti sungai.

“Aku tahu itu berat, tapi itu bukan salahmu. Kau tak perlu menyerahkan dirimu pada polisi. Kau telah membebaskannya dari dunia yang keji. Berdoalah kepada Tuhan agar ia diterima dengan kasih sayangNya.” Aku tak punya jawaban yang lebih tepat dari ini.

Perempuan itu masih menangis ketika meninggalkan kotak ini. Aku menghela napasku dalam-dalam. Sungguh kasihan, tapi dia melakukan hal yang benar.

Beberapa menit kemudian datang seorang lelaki bertubuh besar dan berkumis masuk ke dalam kotak, lalu duduk dan meninju sekat pengakuan ini sampai dobol, kepalaku hampir terpukul tangannya yang sebesar penumbuk dodol. Lagi-lagi napasku tersumbat.

“Sabarlah, nak. Silahkan ceritakan kekesalanmu.”

“Bagaimana aku bisa bersabar? Aku membunuh istriku! Tadinya aku mau ke kantor polisi tapi kupikir aku tak sanggup jika harus mendekam di penjara selama bertahun-tahun. Aku bingung pak tua, apa yang harus lakukan?” matanya melotot padaku.

“Ceritakanlah bagaimana kau membunuh istrimu padaku, mengakulah pada Tuhan dan kau akan tenang.”

“Saat itu aku sedang kelimbungan tak punya uang, istriku terus nyerocos sana-sini. Kupingku serasa terbakar setiap kali aku pulang dan tak membawa uang. Aku tahu anakku sedang sakit dan aku butuh uang yang banyak untuk membawanya berobat. Aku tak pernah berhenti berusaha tapi dia tidak pernah mengerti. Pak tua, biasanya aku hanya diam dan langsung keluar rumah lagi, tapi saat itu kesabaranku benar-benar habis. Aku kesal, pak tua. Saat aku pulang lagi kulihat dia sedang menimba air. Sebelum ia melihatku dan nyerocos lagi, dari belakang aku bekam dia, lama sekali, sampai akhirnya aku sadar badannya sudah tak bergerak lagi. Tanganku bergetar, kugoyangkan badannya dan memanggilnya, ia tak bangun. Kudekatkan telingaku dengan hidungnya, ia tak bernapas. Kupegang urat nadinya juga tak berdenyut, aku tak tahu harus berbuat apa. Kuangkat saja badannya dan kucemplungkan ke sumur, cepat-cepat aku berlari keluar rumah dan tak tahu kenapa sampailah aku di sini.” Napas lelaki itu tersenggal-senggal, terlihat mukanya cemas.

“Kau berlari ke tempat yang tepat, memang begitulah seharusnya ketika kau sudah tak tahu harus berbuat apa. Kau datang ke tempat ini dan mengakulah pada Tuhan. Dosamu akan dihapus dan kau akan tenang.”

“Lalu, aku harus melapor pada polisi atau tidak?”

“Jangan, kau telah mengakui kesalahanmu pada Tuhan. Tuhanlah hakim yang paling baik dari semua hakim. Kau hanya harus rajin berdoa pada Tuhan agar dia mengampunimu.”

“Tapi apakah dia akan mengampuniku, pak tua?”

“Dia maha pengasih anak muda, kau akan diampuni.”

“Baiklah, pak tua. Terima kasih.”

Dia bergegas keluar, aku yakin dia akan baik-baik saja setelah pengakuan ini.

Hari minggu berikutnya, antrian di kotak pengakuan ini semakin panjang, hampir semua orang mengakui dosa yang sama. Membunuh. Entah itu dengan meracuni, menusuk dengan golok, menenggelamkan, menggorok, atau merasa bersalah karena membuat orang lain bunuh diri. Pokoknya hampir semua mengaku membunuh. Aku memberikan jawaban yang sama. Aku yakin itulah jawaban dari persoalan pelik ini dan mereka akan baik-baik saja.

Tapi, ada seseorang yang dari tadi hanya memandangku sambil menyapu lorong-lorong gereja. Ia tidak berdoa ataupun mengantri untuk masuk ke kotak pengakuan ini. Ia tersenyum padaku dan terus menyapu, padahal gereja ini sudah bersih, tak ada debu sedikitpun. Mungkin dia gila, tapi biarlah, aku tak peduli. Aku harus mengurus mereka yang sedang gusar agar mendapatkan ampunan dari Tuhan.

Setelah beberapa lama, antrian sudah tak ada. Mereka sudah pulang dan pasti merasa tenang. Aku sedikit lelah, aku harus menghirup udara segar agar badanku bugar lagi. Lagipula, sudah lama aku tidak keluar dari gereja ini.

Hari itu aku keluar, saat dilorong gereja aku bertemu orang yang tadi memandangku, masih sambil menyapu dia bertanya padaku, “Ada yang bisa saya bantu?” katanya sambil tersenyum. Aku malas menjawabnya, orang gila itu pasti tidak akan mengerti udara segar. Dia pasti hanya mengerti menyapu. Dari tadi dia hanya menyapu, padahal lantainya sudah bersih. Gila. Aku tinggalkan saja lantas keluar dari gereja ini.

Aku berjalan di antara pohon-pohon yang berbaris rapi. Aku menutup mataku, angin berhembus sangat pelan menggelitik kupingku, bau tanah yang sepertinya sudah dibanjur hujan menempel di hidungku. Segar sekali. Aku merasa muda lagi.

Setelah beberapa lama aku menutup mataku. Aku mendengar suara anak menangis, entah dari mana. Suara itu melengking memekakan telingaku, kemudian terdengar anak-anak berteriak kesakitan. Tiba-tiba panas menaikan suhu badanku, dahiku berkeringat. Aku membuka mata dan dari jauh kulihat api menjalar dari satu rumah ke rumah yang lain, anak-anak kecil berhamburan dari rumah itu dengan api yang berkobar melahap tubuhnya.

Aku terus berjalan. Di sisi lain, kulihat ada seorang bapak sedang menggorok anaknya sambil menangis dengan golok yang sudah berkarat, darah muncrat dari lehernya, kemudian si bapak itu menggorok lehernya sendiri dengan wajah melotot, urat-urat lehernya putus, menganga dan  mengeluarkan darah seperti air mancur.

Di depan mataku ada seorang anak kecil dan perempuan dengan darah yang berlumuran di sekujur tubuhnya. Mereka sedang memakan usus yang terurai dari perut lelaki yang sudah tergeletak tak berdaya. Matanya melotot ke arahku, seakan ia tak puas dengan jeroan yang sedang di makannya. Bau daging busuk itu menyengat hidungku dan membuat isi perutku keluar, kuning.

Aku berbalik, dan berlari sekencangnya menuju gereja. Tiba-tiba, tepat didepanku seorang perempuan dan anak kecil jatuh dari pohon dengan tali melilit di lehernya, matanya melotot mengeluarkan darah, mulutnya menganga dan lidahnya terjulur keluar. Aku semakin takut dan entah mendapat kekuatan dari mana kurasa lariku semakin kencang. Semakin kencang lagi ketika kulihat orang-orang mulai berjatuhan satu persatu dari pohon yang berjajar rapi dengan tali yang melilit leher mereka. Darah keluar dari setiap matanya. Mereka semua adalah perempuan dan anak kecil.

Akhirnya aku sampai di Gereja, lantas kukunci pintu. Aku masuk kembali ke dalam kotak pengakuan, duduk dan menggigil. Terdengar suara gemuruh angin bersamaan dengan derap langkah kaki mendekati gerejaku. Sayup-sayup kudengar rintihan seorang anak sambil menggaruk-garuk pintu gereja. Keringat membasahi sekujur tubuhku. Aku menggumam berdoa kepada Tuhan, namun gumaman itu tidak membuat telingaku berhenti mendengar suara mengerikan itu.

***

Sudah beberapa minggu aku merawat gereja yang tak terpakai ini. Setiap hari kusapu dan kubersihkan, namun seadanya saja, karena bayaranku sedikit dan gereja ini entah kapan akan direnovasi dan dipakai lagi. Aku terpaksa menerima pekerjaan ini karena tak ada pekerjaan lain yang mau mempekerjakan perempuan tua sepertiku. Lagipula, aku hanya disuruh untuk menjaganya agar tidak terlalu kelihatan kotor, itu tidak akan menghabiskan tenagaku yang sudah sisa ini.

Dulu aku sangat kesepian karena beberapa minggu ini aku hanya bekerja sendirian. Sampai suatu ketika ada seorang lelaki tua datang dan masuk ke dalam kotak pengakuan. Aku rasa dia mungkin sedang lewat dan hanya mau berdoa.

Keesokan harinya ketika aku datang lagi ke gereja ini, lelaki tua itu sudah ada di kotak pengakuan. Mungkin dia lewat dan berdoa lagi di sini, pikirku. Tapi, sampai aku selesai bekerja dan mau pulang, lelaki tua itu masih saja terus mendekam di situ. Keesokan harinya aku datang lagi ia masih tetap mendekam di kotak itu.

Saat itu seperti biasa aku sedang menyapu, tiba-tiba ia keluar dengan tergesa-gesa. Aku memanfaatkan  kesempatan ini untuk bertanya padanya.

“Ada yang bisa saya bantu, pak?”

Ia tak menjawabnya. Ia hanya berpaling dan menatapku sebentar dengan raut muka yang kusut dan terlihat murung.

Beberapa menit kemudian ia kembali lagi sambil berlari dan berteriak-teriak minta tolong, matanya merah dan mukanya terlihat ketakutan. Ia masuk dan mendekam lagi di dalam kotak itu.

Di dalam kotak itu terkadang ia berbicara sendirian, seperti sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Ia berlaga seperti seorang pastur yang sedang mendengarkan pengakuan. Terkadang ia menangis dan bergumam seperti sedang berdoa. Terkadang ia berteriak histeris ketakutan dan mengatakan, “Tuhan maafkan aku, maafkan aku Tuhan.”

Aku penasaran kenapa dengan orang ini.

Beberapa hari kemudian aku menceritakan pada tetanggaku tentang lelaki tua itu. Ternyata, tetanggaku bilang dulu dia adalah seorang pastur, istri dan anaknya dibunuh. Anaknya yang sedang sakit mati kehabisan napas, istrinya ditemukan sudah mengambang di sumur. Entah sebab apa dan siapa yang membunuhnya. Ketika polisi mencarinya untuk memintai keterangan, lelaki tua itu sudah tak ada dan menghilang bertahun-tahun.

Aku merasa kasihan padanya. Setiap hari sebelum berangkat kerja aku membeli makanan dan menyimpannya di dekat kotak pengakuan itu, berharap dia memakannya. Aku tak berani memberikannya langsung.

Di satu sisi aku juga senang karena setidaknya aku tak kesepian lagi, tapi kesenangan itu hanya sementara karena tadi pagi ketika aku sampai di gereja dan langsung menyimpan makanan di tempat biasa, ia sudah tidak ada.

Di luar sayup-sayup terdengar suara sirine ambulan menjauh. Aku menyapu, dan kesepian lagi.

 

Ilustrasi: Adinda Rizki Primafera

No Comments

Post A Comment