Metaruang | Kristiani Irak
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16884
post-template-default,single,single-post,postid-16884,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Kristiani Irak

 

Oleh Hassan Blasim

 

KAMI HENDAK BERKEMAH dalam bangunan tua yang dulunya adalah gedung asrama wanita. Beberapa pasukan memutuskan melewati malam di dalam sebuah ruang belajar sebagai tempat terbaik untuk berlindung dari serangan udara. Daniel, seorang Kristiani, membawa selimut beserta perlengkapan tidur lainnya dan bergegas pergi menuju halaman terbuka. “Si Kristen pengunyah permen karet itu sudah gila,” ucap salah seorang dari pasukan tersebut, lelaki jangkung setinggi pohon palem, dengan mulut dipenuhi roti kering.

“Mungkin dia enggan tidur bersama kita, orang muslim,” ucap seorang lainnya.

Anak muda itu bak seekor kera. Mereka sama sekali tidak mengetahui siapa Daniel sebenarnya. Para kera itu terlalu asyik masturbasi di bangku tempat duduk siswa perempuan. Satu tembakan misil saja dan mereka seketika  terhempas menjadi seonggok arang. Perang selalu tampak konyol sebagaimana yang terjadi saat ini, setiap kali Daniel memberikan pendapat, usulnya kerap menghindarkan kita dari maut. Kita telah bersama-sama sejak pertempuran perang Kuwait, dan jika bukan karena kemampuan ajaibnya, kita sudah sejak lama terbunuh. Di balik bakat misterius bawaannya, Daniel pun tidak bisa begitu saja digolongkan sebagai orang biasa. Dia memiliki bakat alami sebagai prajurit.

Aku menghamparkan selimut dekat di sisinya dan berbaring dengan tangan diletakkan di belakang kepala sebagai penyanggah lalu, sebagaimana dia, menatap ke angkasa.

“Tidurlah, Ali, sahabatku. Segeralah tidur. Tak ada pertanda apa pun malam ini. Beristirahatlah,” lalu mendengkur tak lama kemudian, setelah mengatakan itu padaku.

Daniel selalu mengunyah permen karet. Para prajurit membaptisnya sebagai si Kristen Pengunyah Permen Karet. Aku seringkali membayangkan bahwa mengunyah permen karet adalah sumber energi bagi Daniel, yang mengisi kembali daya baterai monitor yang ada di dalam kepalanya. Impian hidupnya adalah bekerja sebagai satuan khusus operator radar. Dia telah menamatkan sekolah menengahnya dan mengajukan diri sebagai relawan untuk bergabung dalam pasukan udara, namun lamarannya ditolak, mungkin ayahnya yang dikenal sebagai salah satu tokoh komunis berpengaruh di tahun tujuh puluhan menjadi penyebab angkatan militer menolaknya. Dia mencintai radar sama halnya seperti lelaki mencintai sepak bola atau wanita. Dia mengoleksi gambar sistem radar dan membicarakan perihal sinyal dan frekuensi begitu antusias bagaikan membicarakan adegan seks dengan kekasihnya di atas tumpukan jerami kering. Pada perang sebelumnya, aku ingat dia mengatakan, “Ali, dibandingkan dengan binatang apapun, manusia adalah penerima radar terbaik. Kau hanya perlu melatih arwahmu agar keluar dan membawanya masuk lagi ke dalam tubuhmu, seperti menghembuskan nafas dan menghisapnya kembali.” Dia memiliki tato rumus persamaan radar pada lengan kanannya:

Setelah harapanya untuk bergabung dengan pasukan udara kandas, dia bergabung menjadi relawan dalam pasukan medis. Namun ketertarikannya terhadap radar sama sekali tidak berkurang, dan siapapun yang telah mengenalnya tak akan merasa aneh dengan obsesinya itu, karena dia sendiri telah menjelma bagai radar terkonyol yang ada di dunia. Aku ingat suatu malam yang mencekam saat bertempur melawan Kuwait. Para pasukan serupa anak itik, yang karena saking ketakutannya membuntuti Daniel kemanapun dia bergegas. Pesawat tempur koalisi hendak meledakkan parit tempat kita berlindung, dan kita sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menyerang balik. Kita seakan berperang melawan pasukan Tuhan, yang kekuatannya tak terhingga. Segala yang bisa kita lakukan hanyalah menggali banyak parit dan lari tunggang langgang dari satu parit berpindah ke parit lainnya. Saat serangan berhenti, kita membuat perkemahan di sekitar gurun. Apa yang tersisa dari kami hanyalah iman kepada Tuhan dan kepada kekuatan ajaib Daniel si Kristen. Suatu malam, ketika sedang makan di dalam parit bersama pasukan lainnya, Daniel mengeluhkan perutnya yang terasa mulas. Para pasukan seketika  menghentikan makannya, mereka bersiap dengan senjata masing-masing, hendak berdiri, dan semuanya memperhatikan bibir Daniel.

“Aku akan pergi dulu sebentar ke kakus di tangki penampungan air,” Akhirnya dia berkata.

Seluruh pasukan segera mengikutinya meninggalkan parit, berdesakan untuk bisa berada sedekat mungkin dengannya seakan-akan dia adalah perisai pelindung dari serangan misil. Mereka duduk mengitarinya di dalam kakus. Selang tiga puluh lima menit kemudian tiga buah bom meledak tepat pada parit. Hal itu terjadi tidak hanya satu kali. Isyaratnya telah menyelamatkan banyak pasukan dari kematian. Dalam kompi yang dipimpinnya, pertempuran seakan menyerupai alur dalam film kartun. Dalam satu kedipan mata, realitas kehilangan kepaduannya. Segalanya runtuh dan kau mulai berhalusinasi. Orang bisa menebak, misalkan, saat Daniel tiba-tiba merasa gatal pada selangkangannya sebagai isyarat bahwa helikopter Amerika akan meledakkan markas besar? Masuk akal kah saat bersin tiga kali berturut-turutnya meramalkan bahwa sebuah roket mengerikan tengah diluncurkan? Mereka menembaki kami dari laut. Kami, seluruh pasukan, bagaikan domba dalam cerita perang di buku komik.

Kudengar desas-desus tentang dia telah disampaikan pada pimpinan tertinggi. Namun kekacauan yang terjadi saat itu ditambah kekalahan pasukan militer kami, menyerupai segerombolan lalat yang digebahkan, membuat otoritas samasekali tak menggubris hal tersebut. Cerita tentang sang presiden yang mengandalkan para penyihir, paranormal, dan orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural tersebar luas. Mereka menyatakan bahwa saran tersebut diajukan oleh sang presiden setelah di luar dugaan banyak sekali buku parapsikologi diterjemahkan ke dalam bahasa Irak di sekitar tahun delapan puluhan; sang presiden mendengar rumor bahwa negara-negara adidaya mengembangkan ilmu telepati untuk digunakan sebagai alat spionase. Sang presiden beranggapan bahwa sains dan ilmu klenik adalah sebuah kesatuan dan memiliki persamaan; hanya saja metode yang digunakan berbeda dalam caranya menyingkapkan rahasia.

Daniel tidak merasa kemampuannya menebak masa depan sebagai suatu kelebihan yang patut dibanggakan. Dia sering menceritakan kisah orang-orang pada masa lalu yang memiliki kemampuan untuk meramal masa depan. Aku menyimpulkan bahwa karena sifatnya yang selalu murung membuat Daniel merasa tidak ada yang patut dibanggakan dari kelebihan yang ia miliki. Bahkan ketertarikannya pada radar samasekali tidak memberinya kesenangan apapun. Pendapatnya mengenai kebahagiaan tidak lumrah. Aku merasa bahwa ia sangat ketakutan dengan sisi kelam dari lubuk hati manusia.  Ia menganggap kelebihannya hanyalah salah satu tanda yang menegaskan ketidakberdayaan kita dan betapa tidak berartinya manusia di tengah kehidupan yang penuh misteri. Ia bercerita bahwa pada masa kecilnya ia pernah membaca buku cerita dari seorang penulis asal Irak yang memiliki kepribadian sarkastik sekaligus penakut. Tokoh pahlawan di dalam ceritanya ditelan oleh hiu setelah sebelumnya terlibat dalam sebuah perang besar-besaran di lautan waktu dalam imajinasinya. Sang pahlawan terjebak dalam kegelapan pekat di perut hiu, dan bergumam sendiri. “Bagaimana bisa aku merasa tentram saat aku menyadari bahwa dunia, tepat di depan mataku, telah porak-poranda?” Pertanyaan yang senantiasa menghantui kehidupanku. Seperti luka yang menganga, hal tersebut kerap-kali memaksaku untuk tetap terjaga.” Ucapnya.

Saat kami terbangun, pasukan Amerika telah sampai di perbatasan Baghdad. Lalu beberapa jam kemudian mereka merobohkan patung sang diktator. Semuanya terasa bagaikan mimpi. Kami bersalin menggunakan pakaian rakyat biasa dan bergegas pulang ke keluarga masing-masing. Perang tersebut hanyalah salah satu dari serangkaian perang gerilya di mana tak ada satu pun dari kami yang tertembak.

Setelah semuanya berakhir, aku bertemu beberapa kali dengan Daniel. Ia memutuskan untuk kembali tinggal bersama ibunya yang sudah tua renta. Saat kekacauan meletup kembali, aku mengunjungi Daniel di rumahnya yang terletak di Baghdad. Aku hendak membicarakan dengannya perihal bergabung kembali dalam kesatuan. Ia berkata bahwa ia membenci sang diktator, namun ia tak sudi untuk bergabung bersama pasukan yang disokong oleh penjajah. Setelah itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Aku memutuskan untuk bergabung kembali dalam kesatuan, sedangkan Daniel tinggal di rumah untuk merawat ibunya. Ia memiliki dua saudara perempuan yang telah bermigrasi ke Kanada beberapa tahun lalu, dan sanak saudara lainnya satu per satu terpaksa meninggalkan negara karena tak tahan dengan kecamuk perang yang didalangi oleh para kelompok sekte fanatik. Hanya ibunya yang tetap tinggal. Daniel menghabiskan waktunya dengan membaca novel dan ensiklopedia, mengikuti berita teraktual dan merawat ibunya yang telah kehilangan pendengaran, penglihatan, juga ingatannya. Masa tua telah membuatnya terisolasi dari realitas. Wanita tua yang sifatnya kembali seperti anak kecil. Setiap beberapa jam sekali Daniel mesti mengganti popoknya. Kematian ibunya akan membebaskan tanggung jawab yang mengikatnya untuk tetap tinggal di tempat ini. Ia tak berencana untuk bermigrasi. Dalam satu surat yang panjang, kakak perempuannya memohon agar ia pergi meninggalakan negara, namun sama halnya dengan ibunya, Daniel tetap bersikeras untuk tetap tinggal. Mereka berdua menolak godaan setan—untuk meninggalkan tanah surga mereka yang telah dilupakan.

Di hari minggu, setelah demonstrasi besar-besaran, Daniel membawa ibunya ke sebuah restoran yang kebabnya sangat tersohor. Ia menyukai kebersihan di tempat itu dan bagaimana mereka menyediakan tempat duduk khusus bagi anak-anak di setiap penjuru ruangan. Restoran tersebut telah berubah drastis. Ia tak dapat mengingat kapan terakhir kali dia mengunjungi restoran ini. Daniel memilih meja kosong di sebuah sudut restoran dan membantu ibunya untuk duduk. Seorang pelayan dengan humor yang menyenangkan menghiburnya. Dia menggabungkan nama-nama hidangan dengan nama perkakas yang biasa digunakan untuk menyembelih. Para pelanggan tertawa, mereka menyukainya. Dia menamai pesanan dengan sebutan “Kebab lengkap dengan peledak, pikiran kalut, dan usus yang terburai. Cincangan daging rebus. Dua porsi nasi dan kacang proyektil.”

Daniel memesan satu setengah porsi kebab dengan bubuk merica, segelas dadih, dan jus dingin. Pelayan mengantarkan pesanan sembari menceritakan lelucon tentang orang-orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Daniel tersenyum ramah. Ia menjamah jemari ibunya dengan lembut dan menyentuhkannya pada hidangan agar merasakan hangat kebab dan potongan tomat, lalu ia letakkan kembali jemari ibunya di tepian meja. Ia memotong kebab lezat itu dan menyuapkannya ke mulut sang ibu sambil menyematkan senyum yang amat tulus di bibirnya.

Seorang anak remaja meminta ijin untuk duduk di meja Daniel. Dia terlihat berumur sekitar dua puluhan, perawakannya pendek dan perutnya gendut, dan ekspresi di wajahnya terlihat garang. Dia memesan kebab dengan bawang ekstra. Dia sebenarnya cukup tampan jika saja di lehernya tak ada luka bekas garukan yang menyerupai penyakit kudis. Dia berpindah dari satu meja ke meja lain. Daniel mendekatkan salad ke jemari ibunya dan membiarkan sang ibu untuk merasakan sayur-mayur yang disajikan di piring. Ia kembali menyuapkan makanan pada ibunya. Si anak remaja memperhatikan dengan seksama. Dia tampak nyentrik. Remaja itu terus saja mengunyah potongan daging dan berusaha untuk menelannya bersama air mata menetes dari matanya yang indah. Daniel merasa ada yang tak beres dengan remaja itu. Dia mencondongkan badannya dan bertanya apakah Daniel bisa menolongnya. Dia terus mengulangi pertanyaannya, namun matanya terpaku memandang ke arah piring di hadapannya, seakan dia tidak berusaha untuk mendapatkan jawaban dari Daniel. Dia terus saja mengunyah, dan air matanya makin deras mengalir. Diambilnya saputangan, lalu ia saput air mata yang mengalir dari matanya dan mengelap hidungnya. Pandangannya menyusuri sekeliling restoran, lalu menatap mata Daniel. Roman mukanya berubah drastis, seakan-akan baru saja melepaskan topeng yang dia gunakan sebelumnya. Dia membuka resleting jaket dan membukanya lebar seperti seseorang yang hendak memamerkan dadanya.

“Ini adalah sabuk yang ditempeli bom. Jika kau mengucapkan satu patah kata saja maka aku akan meledakan diri,” remaja itu berkata, dengan tatapan mengancam yang sekilas mengarah pada ibu Daniel.

 

AKU mati ditembak oleh pasukan yang seregu denganku. Saat itu kami sedang berpatroli bersama tentara Amerika setelah sebelumnya melancarkan invasi. Seseorang menembaki kita dari sebuah rumah di pedesaan. Pasukan Amerika merespon dengan membabi buta, mereka menyangka bahwa kita lah yang memberondong tembakan tersebut. Mereka menembak kepalaku tiga kali. Aku bertemu dengan si Kristen di sebuah dunia setelah kematian, di mana kita merasa sangat bahagia berada di dalamnya. Ia bercerita padaku tentang bagaimana ia terjebak dalam suatu pertaruhan yang tak wajar di sebuah restoran kebab. Yang membuatnya lumpuh saat itu tidak hanya teror, namun juga sebuah hasrat tak terduga untuk melakukan sebuah penyelamatan. Ia menatap mata si anak remaja itu beberapa saat. Remaja itu mencondongkan tubuh ke arahnya dan meminta agar ia berdiri dan bergegas ke toilet bersama remaja itu. Ia tidak langsung beranjak dari tempat duduknya, seakan-akan seluruh tubuhnya menjadi batu. Lalu ia mencium kening ibunya dan segera bergegas. Anak remaja itu mengawalnya menuju toilet. Dia menutup pintu sambil jarinya tetap dilekatkan ke tombol pemicu pada sabuk peledak. Tangan satunya lagi mengambil pistol dari sabuknya dan menodongkan pistolnya ke kepala Daniel.

Remaja itu lalu memeluk si Kristen setelah beberapa saat, melingkarkan tangannya pada tubuh si Kristen karena ruang di toilet itu sangat sempit. Lalu dia mengutarakan apa yang sebenarnya dia inginkan; Daniel mesti mengenakan sabuk peledak itu, dan sebagai gantinya, nyawa ibu Daniel akan selamat. Remaja itu menyatakan penawarannya sambil histeris dan lepas kontrol. Dia berkata bahwa di luar restoran ada seseorang yang sedang merekam peledakan ini, jika dia tak meledakkan diri mereka akan membunuhnya. Daniel tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk meresponnya. Mereka mulai bermandikan keringat. Salah satu pengunjung membuka pintu ruangan istirahat. Remaja itu mendeham untuk membersihkan tenggorokannya. Lalu mengulangi janjinya pada si Kristen bahwa dia akan memastikan wanita tua itu keluar dari restoran dengan selamat, sebaliknya jika Daniel tidak meledakkan diri dia akan segera membunuh ibunya. Tiga puluh detik berlalu bersama kesunyian yang mencekam, lalu ia sepakat dengan menganggukkan kepalanya dan menatap mata remaja itu dengan tatapan kosong. Remaja itu meminta Daniel agar melepaskan sabuk dan menggunakannya di pinggang Daniel. Bagian yang paling merepotkan mengingat mereka tengah berada di ruangan yang sempit. Remaja itu dengan hati-hati meninggalkan si Kristen di kamar mandi dengan sabuk peledak di pinggangnya. Kemudian dia dengan cepat bergegas menuju wanita tua yang sedang duduk di sudut restoran. Menepuk pundaknya dengan perlahan lalu menggenggam tangannya. Wanita tua itu berdiri dan mengikuti si remaja seperti anak kecil. Restoran mulai penuh dan semakin gaduh dengan gelak tawa para pengunjung dan suara gemerincing alat makan serupa dua pedang beradu dalam sebuah peperangan.

Si Kristen berlutut tak berdaya. Nafasnya megap-megap, dan ia ngompol di celana. Ia tertatih-tatih melangkah keluar dari kamar mandi menuju ke tengah ruang restoran. Seseorang melihatnya saat ia melangkah di pintu lalu bergegas berbalik arah sambil berteriak.

“Seseorang akan melakukan bom bunuh diri. Seseorang akan melakukan bom bunuh diri!”

Di tengah kepanikan, para lelaki, wanita, dan anak-anak saling berdesakan berusaha melarikan diri, setelah memastikan bangku tempat duduk ibunya kosong, ia lalu meledakkan diri.

 

 

Catatan:

Diterjemahkan oleh Yagus Prasetyo dari judul “The Iraqi Christ” karya Hassan Blasim yang termuat di kumcer “The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq” (Penguin Books, 2014)

HASSAN BLASIM adalah seorang eksil kelahiran Baghdad, 1973. Ia menamatkan studinya tentang film di Baghdad Academy of Cinematic Arts. Karena kritiknya pada rezim Saddam Hussein, ia mengalami intimidasi dan pada 1998 memutuskan untuk bermigrasi dari Baghdad ke Kurdistan, Iraq.  Di tempat barunya ia, dengan menggunakan nama samara Ouazad Osman, giat membuat film dan mengajar perihal perfilman. Tahun 2004 ia kembali bermigrasi ke Finlandia, tempat saat ini ia menetap. “The Corpse Exibhition and The Others Story of Iraq” adalah buku teranyarnya yang dialih bahasakan dari bahasa Arab ke Inggris oleh Jonathan Wright.

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Penerjemah partikelir | Bergiat di komunitas Anak Semua Bangsa | prasetyodamnagus@gmail.com

No Comments

Post A Comment