Loader

Kuda Terbang

 

Dua gundukan tanah merah itu masih basah, tak ada taburan bunga, tak ada sambutan dan do’a. Hanya sepi dan tancapan kayu keropos sebagai tanda ada mayat di dalamnya. Angin berdesir pelan ketika satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman. Salah satu dari mereka, yang tak lain adalah ibu dari kedua mayat tersebut meyakini, hembusan angin itu adalah kepakan sayap dari kuda terbang yang putih keperakan. Menjemput roh-roh suci yang baru saja meninggalkan jasadnya. Sekilas, bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

Perempuan itu dikawal dua polisi, mereka menghampiri perempuan itu dan mencekal pergelangan tanggannya, memaksa perempuan itu untuk segera meninggalkan area pemakaman. Ia melangkah pasti, tanpa sendu ataupun malu, ia hanya merasa bahwa dia telah melakukan hal yang benar.

Seorang lelaki kurus mengahadang dua polisi yang menyeret perempuan itu. Matanya merah dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang menyengat.

“Apa yang kau lakukan?” bentaknya, napsanya naik turun tak beraturan.

“Aku hanya meninggalkanmu sendiri di neraka,” jawab perempuan itu pasti, sembari melangkah karena kembali diseret polisi.

***

Perempuan itu menatap kedua putranya yang terlelap terpaut oleh mimpi. Di atas risbang keropos yang sering berdenyit, berbagi kasur lapuk untuk ditempati berdua, anak-anak itu tetap nikmat dalam tidurnya, tidak lagi menghiraukan nyamuk-nyamuk kota yang menggerayam kulit mereka dengan ganas. Tubuh-tubuh kurus itu terlalu terbiasa bersahabat dengan duka, sehingga dalam situasi apapun, sesakit apapun, mereka tak pernah menumpahkan air mata. Bahkan menurut cerita yang beredar, ketika perempuan melahirkan anak-anaknya, bayi yang baru lahir tersebut tidak menangis sebagaimana biasanya, seolah-olah kesulitan telah memaksa mereka untuk bungkam semenjak terlahir.

Anak-anak itu tumbuh dalam kebisuan, mereka mampu bersuara namun enggan menggunakannya. Di sekolah, mereka memilih diam ketimbang melawan anak-anak lain yang mengolok-oloknya. Mereka juga diam ketika guru meracau mengutuk kebodohannya. Bahkan kepada bapaknya sendiri, yang setiap subuh datang membangunkan tidur mereka dengan makian, bapaknya yang datang dalam kesadaran yang hampir hilang, dengan mulut hitam pekat beraroma alkohol, anak-anak itu tak pernah menggubris sama sekali, meskipun pukulan bertubi-tubi menghujani tubuh mereka.

Hanya perempuan itu, Ibu yang selalu mereka andalkan. Perempuan itu pandai bercerita, setiap malam menjelang tidur, menjadi pendongeng hebat untuk anak-anak itu. Bercerita apa saja, istana, kerajaan, bahkan surga. Anak-anak itu tidak pernah disuguhi cerita yang menuai air mata atau ketakutan, cukup dunia nyata yang menyiksa mereka. Dalam tidurnya, kedua anak itu hidup, menari di atas permadani hijau, berlari-lari di lorong-lorong istana, bahkan terbang ke Surga menaiki kuda bersayap, yang putih keperakan.

Seperti malam-malam sebelumnya, perempuan itu menjadi penghibur bagi kedua anaknya tentang cerita surga, tentang kehidupan kedua yang akan berpihak kepada mereka yang tabah mengadapi dunia.

“Aku suka cerita itu, Ma,” puji si anak yang memiliki tubuh lebih tinggi, perempuan itu mengalihkan pandangannya kepada anak sulungnya tersebut. Seketika kening perempuan itu mengerut menyaksikan mata si sulung yang mulai basah, bibirnya bergetar menahan butiran air mata yang hendak terjatuh. Di samping kirinya, kedua pipi si bungsu telah basah. Untuk pertama kali perempuan melihat kesedihan dan ketakutan dari kedua anaknya. Tubunya bergetar, menggigil.

“Kenapa kalian?” perempuan itu tidak mengerti dengan apa yang disaksikannya.

“Aku ingin ke Surga, Ma,” perempuan itu  mencoba memahami  maksud ucapan si sulung.

“Aku ingin menaiki kuda terbang itu,” si sulung  terus meracau sedangkan si bungsu tak hentinya menangis bahkan semakin nyaring dan melengking, memecah kaneheningan malam di rumah itu.

“Aku tidak akan bertemu kuda terbang itu, tidak akan mencapai Surga.” Ocehan si sulung semakin tidak dimengerti, perempuan itu mendekap anak-anaknya erat, mencoba menghangatkan ketakutan mereka yang semakin menjadi. Namun perempuan itu tak kuasa, dia sendiri menggigil merasakan ketakukan itu, menyusup melewati daster kumal, menggigit sendi-sendi sisa kekuatannya yang melepuh, rapuh.

“Apa yang telah terjadi?” tanya perempuan itu sela-sela tangisan kedua anaknya yang mulai mereda. Tangan-tangan kering mereka mencoba mengusap matanya yang merah dan basah, si bungsu masih bisu tak mampu menjelaskan, mulutnya membuka mengantup berusaha berkata namun sia-sia.

“Kami tadi lapar,” si sulung dengan terbata-bata mulai bicara kembali.

“Perut sudah sakit,  selama dua hari hanya diisi air mentah di sekolah.” Perempuan itu pun terkadang mengusir dahaga dengan meminum air keran majikannya ketika mencuci pakaian. Air di rumah mereka mengeluarkan aroma menyengat yang tidak menyenangkan.

“Terpaksa kami mencuri, Ma.” Si sulung menunduk dan tangannya menutupi muka sendunya. Perempuan mengangguk pelan, mengerti.

“Mulai besok, kalian tidak akan pernah mencuri lagi, Mama janji.” angin malam menyusup melewati celah-celah dinding, tak ada selimut, mereka terbiasa saling menyelimuti satu sama lain. Sorot mata perempuan itu belum lepas dari kedua anaknya, semakin malam semakin tajam. Matanya menyimpan rencana besar setelah percakapan menjelang tidur mereka.

***

Perempuan itu digiring menuju sel, yang berisi tahanan perempuan lainnya, raut mukanya masih menyiratkan kemenangan besar. Perempuan-perempuan lainnya di buat heran oleh narapidana dengan kasus pembunuhan itu.

“Apa yang membuatmu terus tersenyum?” perempuan berbadan gempal, berambut ikal, bertubuh kumal bertanya penasaran “Tidak kah kau menyesal telah membunuh kedua anakmu?” ejeknya.

“Anak-anakku sudah berada di Surga.” jawabnya puas.

“Bagaimana kau yakin?” tanya perempuan lain yang sama kumalnya.

“Mereka masih suci, mereka belum menanggung dosa.” Jelasnya, selanjutnya perempuan itu menceritakan kuda terbang putih keperakan, seperti kepada anak-anaknya. Kuda terbang yang menjadi kendaraan menuju Surga, kendaraan bagi orang-orang yang suci, yang belum mencicipi dosa. Ia juga menjelaskan alasan mengapa ia membubuhkan diterjen curian dari majikannya pada makanan kedua anaknya, tidak lain hanyalah untuk menghindarkan mereka dari rayuan dosa yang kian hari kian memikat.

“Ya,ya aku setuju, anak-anak mati akan menjadi pelayan di Surga.” sahut tahanan lainnya, kepalanya mengangguk angguk dengan mata berbinar, antusias.

“Anak-anakku sedang bermain di taman surga.” Tegasnya puas, menerawang menyebrangi langit-langit rumah tahanan yang kelam

“Suatu saat, mereka akan berterimakasih atas apa yang aku lakukan, dan akan meminta kepada tuhan supaya aku menemani mereka di Surga.” Perempuan-perempuan yang mendengar cerita itu diam, sebagian ketakutan, sebagian dari mereka bertekad akan mengirim anak-anak mereka ke Surga.

 

Ilustrasi: Mega Rizky Yanes

 

No Comments

Post A Comment