Loader

Laporan Awal dari Titik Api: Tamansari Memanas!

Selasa 6 Maret, telah terjadi tindakan represif berupa pengejaran dan pemukulan terhadap tiga orang massa solidaritas ARAP (Aliansi Rakyat Anti Penggusuran) di daerah Tamansari, Bandung. Kejadian ini bermula dari pengoperasian alat berat ekskavator yang diduga dilaksanakan atas mandat pengembang. Ekskavator tersebut menghancurkan bangunan warga yang setuju rumahnya digusur, dan diganti dengan program Rumah Deret Pemkot Bandung.

Pengoperasian alat berat tersebut kontan mendapat perhatian massa solidaritas. Sebab pada waktu yang sama, agenda hukum warga RW 11 dengan berita acara menggugat Pemkot terkait ketimpangan program Rudet (Rumah Deret) di PTUN Bandung, masih berlangsung.

Pengoperasian alat berat itu pun telah merusak jalan setapak, yang tak ada sangkut pautnya dengan agenda warga yang setuju bangunannya dirubuhkan. Terlebih, jarak ekskavator yang membentur-benturkan moncongnya ke bangunan warga yang setuju Rudet, amat dekat dengan properti warga yang menolak Rudet.

Dialog yang berujung provokasi

Salah seorang massa aksi, Ilo, telah mengupayakan dialog baik-baik dengan operator alat berat beserta organ terkait. Namun, dialog tersebut tidak disambut baik, “Saya coba sampaikan baik-baik, bahwa kita juga harus menghormati proses hukum yang saat ini sedang ditempuh warga Tamansari,” papar Ilo. Upaya komunikasi santun itu malah dibalas teriakan provokasi dari sekelompok preman dan ormas, yang notabene bukan sama sekali bagian dari warga RW 11.

Usaha massa solidaritas untuk mencegah pengoperasian alat berat adalah upaya bersama untuk menghormati hukum. Bagi warga yang setuju rudet, dan warga yang menolak rudet. Terlebih, selebaran dari DPKP 3 yang beredar pada hari ekskavator beroperasi, adalah surat dengan nada sosialisasi Rudet, bukan penghancuran bangunan. Tapi upaya dialogis ini, yang tujuannya hendak mensosialisasikan kesepakatan legal-formal, malah disambar dengan provokasi dan penolakan yang tidak masuk akal dari sekumpulan orang yang diduga tergabung ke dalam ormas.

Terdapat 26 bangunan (rumah) dari 92 jiwa yang masih mempertahankan huniannya. Namun, paparan santun dari massa solidaritas malah dibalas dengan teriakan, “Warga yang mana!?” tiru Ilo. Padahal sudah jelas, proses hukum sedang berlangsung, dan sudah menapaki persidangan yang kali kedelapan, dan bukti demi bukti yang menguatkan gugatan warga RW 11 Tamansari penolak Rudet semakin banyak terkumpul.

Diteriaki maling, dikejar, dan dipukul

Secara mengejutkan, organ penjaga becho naik pitam dan mengancam massa solidaritas. Mereka mulai meneriaki massa solidaritas, bahkan diteriaki ‘maling’ dan mulai mengejar massa solidaritas dengan membabibuta. Massa solidaritas menyelamatkan diri hingga ke bawah jembatan layang Pasopati, tepatnya di daerah Cikapayang. Namun, tiga orang massa solidaritas yakni Babaw, Oki, dan Feru, mendapati wajahnya memar karena tak dapat luput dari bogem mentah.

Yang patut dicatat, upaya ‘sosialisasi’ Rudet dengan mengoperasikan alat berat, menghancurkan jalan, dan menganiaya elemen solidaritas, adalah suatu tindakan yang secara jelas melanggar hukum. Bukan hanya mencederai langkah hukum yang sedang ditempuh warga RW 11, aksi penganiayaan para bodyguard becho terhadap elemen solidaritas ini pun menambah satu lagi daftar hitam tentang bagaimana proyek pemerintah, lagi-lagi, merugikan rakyat secara moral, materi, dan jiwa.

Konsolidasi

Kini elemen solidaritas tengah melakukan konsolidasi terkait “sosialisasi brutal” tersebut. Terutama menyampaikan kepada warga Tamansari yang baru saja kembali dari PTUN. Kondisi di lapangan berangsur-angsur kondusif, meski beberapa titik area di RT 7 Tamansari sudah hancur akibat becho.

Dukungan dan solidaritas kawan-kawan amat dibutuhkan. Satu kepalan akan terus berlipat-ganda, seiring tensi tegangan di Tamansari yang juga berlipat ganda di hari-hari mendatang.

Lawan!

___

Disusun Oleh Syawahidul Haq, F. Ilham Satrio

No Comments

Post A Comment